Ditemukan 24108 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Aldisa Ayu Pratiwi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Helen Andriani, Kurnia Sari, Balgis Alzagadi, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:
Read More
Pengukuran kinerja tingkat unit organisasi perlu diperhatikan karena alasan kualitas, efisiensi operasional ataupun keberlanjutan stabilitas pertumbuhan ekonomi. Dimensi “Produktivitas” merupakan salah satu pendekatan pengukuran kinerja yang membandingkan antara output (luaran layanan) terhadap input (sumber daya). Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kinerja melalui dimensi “Produktivitas” pada Unit Fisioterapi RSU Hermina Bekasi, dengan tujuan menilai “apakah kapasitas sumber daya telah menghasilkan capaian luaran layanan yang optimal” atau “apakah target luaran layanan telah seimbang dengan kapasitas yang tersedia”. Penelitian ini merupakan analitik observasional cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif terhadap data retrospektif periode November 2023 hingga April 2026. Variabel analisis berupa 4 Variabel Input (indikator kapasitas sumber daya unit fisioterapi) dan 6 Variabel Output (indikator luaran layanan unit fisioterapi). Analisis data sesuai pemodelan ekonometrika deret-waktu multivariat khususnya Vector Error Correction Model (VECM). Hasil penelitian menyatakan total kunjungan fisioterapi relatif paling tinggi dan stabil pada hari Senin – Kamis, sedangkan pelayanan hari Minggu/ Libur Nasional belum optimal. Jumlah kunjungan merupakan demand pipeline layanan fisioterapi yang perlu dikonversi menjadi jumlah tindakan aktual sebagai throughput dan konversi pada jumlah pendapatan unit sebagai nilai ekonomi layanan. Kapasitas tenaga klinis berperan sebagai determinan dominan jumlah kunjungan dan jumlah jam praktik dokter rehabilitasi medik bergerak sebagai korektor ketika terjadi dieskuilibrium capaian jumlah tindakan fisioterapi. Produktivitas tenaga fisioterapis telah mencapai optimal ±81,1% dari total FTE klinis. Service-mix indeks sebagai determinan kompleks, sebagai penyeimbang luaran layanan sekaligus mampu menurunkan throughput layanan jika tidak diimbangi kenaikannya terhadap kapasitas sumber daya unit. Private payer-mix saat ini berperan sebagai determinan high-value low-volume. Nilai proyeksi luaran layanan tidak menunjukkan adanya pertumbuhan. Produktivitas unit fisioterapi merupakan konsep multidimensional yang tidak hanya dinilai dari jumlah luaran layanan, melainkan interaksi dinamis dengan kapasitas sumber dayanya. Penentuan target luaran layanan perlu menyeimbangkan kapasitas sumber daya yang tersedia.
Performance measurement at the organizational-unit level requires particular attention due to its relevance to service quality, operational efficiency, and the sustainability of economic growth. “Productivity” is one approach to performance measurement that compares output (service outputs) to input (resources capacity). This study was conducted to evaluate performance through the productivity dimension in the Physiotherapy Unit of Hermina Bekasi General Hospital. Specifically, it aimed to assess whether the available resource capacity has generated optimal service-output achievement and whether service-output targets are balanced with the existing capacity. This study employed a cross-sectional observational analytic design with a quantitative approach using retrospective data from November 2023 to April 2026. The analysis included four input variables, representing resource-capacity indicators of the physiotherapy unit, and six output variables, representing service-output indicators. Data were analyzed using multivariate time-series econometric modeling, specifically the Vector Error Correction Model (VECM). The findings showed that total physiotherapy visits were relatively highest and most stable from Monday to Thursday, whereas services on Sundays and national holidays remained suboptimal. The number of visits represents the demand pipeline of physiotherapy services, which must be converted into actual treatment volume as service throughput and subsequently into unit revenue as the economic value of service delivery. Clinical workforce capacity emerged as the dominant determinant of visit volume, while rehabilitation physician practice hours acted as a corrective factor when disequilibrium occurred in the achievement of physiotherapy treatment volume. Physiotherapist productivity had reached an optimal level of approximately 81.1% of total clinical FTE. The service-mix index functioned as a complex determinant, serving as a balancing factor for service outputs while potentially reducing service throughput when its increase was not accompanied by adequate resource-capacity adjustments. The current private-payer mix functioned as a high-value, low-volume determinant. Projection results indicated no evidence of growth in service outputs. Overall, physiotherapy unit productivity is a multidimensional concept that should not be assessed solely by the volume of service outputs, but rather through its dynamic interaction with resource capacity. Therefore, the determination of service-output targets must be aligned with the available resource capacity.
B-2612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bambang Wisnubroto; Pembimbing: Hafizurachman; Penguji: Suprijanto Rijadi, Yuli Prapanca Satar, Djoni Darmadjaja
Abstrak:
Read More
Pelayanan pembedahan rawat sehari (One Day Surgery) di Rumah Sakit Umum Tangerang sudah dijalankan selama 4 tahun sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan fungsional sebagai konsekuensi sebuah rumah sakit unit swadana daerah. Hasil selama ini menunjukkan kecenderungan jumlah pasien yang memanfaatkan pelayanan ini meningkat dari tahun ke tahun, tetapi dari segi pendapatan rumah sakit, kontribusi pelayanan ini kepada seluruh pendapatan swadana rumah sakit masih rendah. Selama ini belum ada upaya pemasaran yang dilaksanakan untuk meningkatkan cakupan pelayanan ini. Pasien yang memanfaatkan pelayanan Pembedahan Rawat Sehari ini kebanyakan datang atas arahan dokter spesialis yang menanganinya pada tingkatan konsultasi di Poliklinik Rawat Jalan. Penelitian ini dilakukan secara eksploratif untuk menganalisa faktor -- faktor pada lingkungan eksternal dan lingkungan internal yang berpengaruh terhadap pelayanan Pembedahan Rawat Sehari di Rumah Sakit Umum Tangerang.
B-792
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arinahaq; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Helen Andriani, Sri Dyah Indherawati, Sri Mulyani
Abstrak:
Tesis ini membahas bagaimana penyusunan SPO di departemen PT Medikaloka Hermina Tbk dan persepsi pengguna SPO di RS Hermina Kemayoran. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa perlunya menstandarkan atau membakukan panduan penyusunan SPO di departemen PT Medikaloka Tbk sesuai prinsip penyusunan SPO agar terdapat acuan bagi tim penyusun di departemen menghasilkan SPO sesuai dengan prinsip penyusunan SPO yaitu efisiensi dan efektifitas, berorientasi pada pelanggan, kejelasan dan kemudahan, keselarasan, keterukuran dan dinaamis; mengembangkan Document Management System yang sudah ada (Alfresco) agar lebih informatif dalam menyajikan informasi dan data produk SPO yang berlaku yang selalu diperbarui.
Read More
B-2130
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
HR. Herri Harianto; Pembimbing: Sandi Iljanto
B-704
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
HR. Herri Harianto; Pembimbing: Sandi Iljanto
B-704
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Insan Mulyardewi; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Endang Adriyani
Abstrak:
Riset operasi ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan dan pengendalian obat di RSU Zahirah tahun 2010. Sebagai pendahuluan dilakukan penelitian kualitatif mengenai siklus logistik obat, terutama perencanaan dan pengendaliannya. Dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Langkah kedua, melakukan analisis ABC dan analisis ABC indeks kritis. Langkah ketiga, melakukan peramalan pemakaian obat kelompok A indeks kritis, dengan menggunakan 10 metode time series yang terdapat pada program WinQSB Versi 2.0, metode terbaik dipilih berdasarkan parameter bias terkecil. Hasil peramalan dari metode tersebut menunjukkan perkiraan pemakaian obat di tahun 2010. Berdasarkan informasi ini, jumlah pesanan ekonomis (EOQ) dan titik pesan kembali (ROP) dapat dihitung. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa RSU Zahirah telah melakukan perencanaan obat, tetapi pelaksanaannya belum baik. Pengendalian obat yang dilakukan oleh RSU Zahirah menggunakan sistem minimum dan maksimum untuk semua jenis obat. Dari analisis ABC indeks kritis diperoleh 60 item obat dalam kelompok A, 433 kelompok B, dan 884 kelompok C. Kelompok A memiliki 14,86% dari jumlah investasi obat keseluruhan dan 12,27% dari seluruh pemakaian obat. Dari 10 metode time series hanya 7 yang dapat di terapkan di RSU Zahirah. Melalui hasil peramalan didapat EOQ (Economic Order Quantity), ROP (Reorder Point) dan OI (Order Interval). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertama, perencanaan obat di RSU Zahirah belum dilaksanakan secara optimal. Kedua, pengelompokan obat berdasarkan analisis ABC indeks kritis dapat membantu pengendalian obat. Ketiga, peramalan menggunakan metode time series yang akurat dapat membantu RSU Zahirah memperkirakan investasinya pada tahun berikutnya. Keempat, pemesanan obat setiap dua minggu merupakan yang terbaik bagi RSU Zahirah.
This operation research is to find out drug planning and controlling at Zahirah General Hospital in 2010. The first step of this research was qualitative one, about drug logistic cycle of Zahirah General Hospital, mainly on planning and controlling. It was done by deep interviews and observations. The second step was conducting ABC and ABC critical index analyses. The third step was forecasting the use of group A Critical Index drugs in 2010 by using the 10 time series method of WinQSB 2.0 Version program, the best method is chosen by the smallest bias parameter. Based on this information, Economic Order Quantity (EOQ) and Re Order Point (ROP) were calculated. The result of this research showed that Zahirah General Hospital had conducted drug planning but it was not done satisfactorily. The drug controlling carried out by Zahirah General Hospital was using maximum and minimum method for all kind of drugs. ABC critical index analysis showed 60 drug items in group A, 433 drug items in group B, and 884 drug items in group C. Group A had 14.86% of all the drug investment value and 12.27% of all drug usage value. From the 10 time series methods only seven could be applied to Zahirah General Hospital, the result of which showed EOQ, ROP and OI. It could be concluded that firstly, drug planning of Zahirah General Hospital has not been carried out optimally. Secondly, drug grouping based on ABC critical index analysis can help controlling the drug. Thirdly, accurate time series forecasting can help Zahirah General Hospital estimate their investment for the following year. Fourthly, drug order every two weeks is the best time span for Zahirah General Hospital.
Read More
This operation research is to find out drug planning and controlling at Zahirah General Hospital in 2010. The first step of this research was qualitative one, about drug logistic cycle of Zahirah General Hospital, mainly on planning and controlling. It was done by deep interviews and observations. The second step was conducting ABC and ABC critical index analyses. The third step was forecasting the use of group A Critical Index drugs in 2010 by using the 10 time series method of WinQSB 2.0 Version program, the best method is chosen by the smallest bias parameter. Based on this information, Economic Order Quantity (EOQ) and Re Order Point (ROP) were calculated.
B-1224
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Razni Carnandy Zanir; Pembimbing: Amal C. Sjaaf
B-783
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nanda Diana Sari; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi, Yuli Prapancha Satar
B-1231
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Badriah; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Purnawan Junadi, Sandi Iljanto, Maman Hilman, Lely Setiawan
Abstrak:
ABSTRAK Dalam menjalankan fungsi manajerial, farmasi harus mampu melakukan pengelolaan dan pengendalian logistik secara efektif dan efisien. Perencanaan yang dimulai dari pemilihan obat melalui standar formularium rumah sakit yang dibentuk oleh panitia farmasi terapi menjadi unsur penting dalam operasional rumah sakit. Pemilihan jenis obat mengacu pada formularium nasional berbasis generik menjadi hal mutlak. Dalam proses perencanaan, analisis ABC merupakan cara untuk memilah jenis obat dari sisi jumlah dan nilai investasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh gambaran tentang proses perencanaan obat di RS HGA dan membuat analisis kebutuhan obat berdasarkan analisis ABC dengan membandingkan performance 2017 terhadap rencana standar formularium 2018 sehingga menghasilkan Formularium yang tepat Kendali Mutu dan Kendali Biaya . Penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis ABC investasi dan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menggambarkan sepanjang 2017 terdapat 1.136 merek obat yang terpakai di RS HGA dengan komposisi generic 209 merek (18,6 %). Melalui analisis ABC pemakaian, didapat kelompok A (70 % ) terdiri dari 92 merek obat, kelompok B (20 %) terdiri dari 156 merek obat dan kelompok C ( 10 % ) terdiri dari 1193 merek obat. Melalui analisis ABC investasi, didapatkan hasil kelompok A (70 %) menghabiskan Rp 12.566.822.138,- terdiri dari 170 merek obat, kelompok B ( 20 % ) menghabiskan Rp 3.578.135.799,- terdiri dari 262 merek obat dan kelompok C ( 10 % ) menghabiskan Rp 1.786.798.527,- terdiri dari 1009 merek obat. Jika dibandingkan ke dua kriteria tersebut terdapat 26 merek obat saja ( 2 %) yang paling sering dipakai dan paling mahal. Evaluasi efisiensi jika pemakaian obat BPJS berbasis generik akan menghemat Rp 7.217.642.703,- atau setara dengan 40,25 % dari anggaran belanja rumah sakit. Perombakan formularium yang mengacu pada fornas berbasis generik perlu dilakukan pada formularium 2018. Kata kunci: Formularium obat, formularium nasional, ABC analisis To perform the management function, pharmacy must be able to manage and control logistics effectively and efficiently. It is started from planning the selection of drugs through standard hospital formulary established by the pharmaceutical therapeutic committee becomes an important element in hospital operations. Selection of drug type refers to generic national based formulary to be absolute. In the planning process, ABC analysis is a way of sorting out drugs in terms of quantity and value of investment so as to meet the needs of the hospital. This study aimed to obtain an overview of the process of drug planning in HGA Hospital and made the analysis of drug requirements based on ABC analysis by comparing the performance of 2017 to the 2018 formulary standard plan so as to produce the appropriate Formularium Quality Control and Cost Control. Cross sectional study with quantitative approach through ABC investment analysis and qualitative approach with in-depth interviews. The results of the study illustrated throughout 2017 there were 1313 brands of drugs used in HGA Hospital with generic composition of 209 brands (18.6%). Using ABC analysis, group A (70%) consisted of 92 drug brands, group B (20%) consisted of 156 brands of drug and group C (10%) consisted of 1193 drug brands. Through the analysis of ABC investments, the result of group A (70%) spent Rp 12,566,822,138, - consisting of 170 drug brands, group B (20%) spent Rp 3,578,135,799, consisting of 262 drug brands and group C (10% ) spent Rp 1,786,798,527, - consisting of 1009 drug brands. When compared to the two criteria there were only 26 brands of drugs (2%) the most frequently used and most expensive. Evaluation of efficiency if we used to generic BPJS-based drugs will the hospital would save Rp 7,217,642,703, - or equivalent to 40.25% of the hospital budget. Formulary reforms that refer to generic based fornas should be done on the 2018 formulary. Keywords: Formulary medicine, national formulary, ABC analysis
Read More
B-1970
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kamarus Zaman Sedjati; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amila Megraini, Hendrianto Trisnowibowo, Wachyu Sulistiadi
B-843
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
