Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35254 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Faris Muhammad; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Rahmat Aji Pramono
Abstrak:
Akses terhadap air bersih merupakan salah satu prasyarat penting dalam mewujudkan lingkungan sehat dan mendukung pemenuhan hak anak. Meskipun Provinsi Daerah Khusus Jakarta telah memperoleh predikat Provinsi Layak Anak dan terus meningkatkan cakupan layanan air bersih, masih terdapat kesenjangan akses serta tantangan dalam pemanfaatan layanan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis tata kelola penyediaan air bersih di Provinsi Daerah Khusus Jakarta melalui perspektif collaborative governance dalam upaya mewujudkan lingkungan sehat sesuai kerangka kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif analitik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 12 informan yang terdiri atas aktor pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, serta telaah dokumen. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Collaborative Governance Ansell dan Gash. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi penyediaan air bersih didukung oleh adanya riwayat kerja sama antaraktor, kebutuhan bersama dalam mengatasi permasalahan air bersih, serta pembagian peran yang relatif jelas antar pemangku kepentingan. Keberlangsungan kolaborasi dipertahankan melalui forum koordinasi, komunikasi rutin, dan mekanisme akuntabilitas yang membantu menyelaraskan berbagai prioritas organisasi. Kolaborasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan penyediaan air bersih dan mendukung pencapaian indikator lingkungan sehat dalam kebijakan KLA. Namun demikian, masih ditemukan kesenjangan akses layanan, penggunaan sumber air alternatif oleh sebagian masyarakat, serta keterbatasan pemahaman mengenai keterkaitan air bersih, sanitasi, kesehatan anak, dan kebijakan KLA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa collaborative governance berperan penting dalam mendukung penyediaan air bersih dan lingkungan sehat bagi anak, namun efektivitasnya juga dipengaruhi oleh penerimaan layanan dan pemahaman masyarakat sebagai penerima manfaat.

Access to clean water is a fundamental prerequisite for creating a healthy environment and supporting the fulfillment of children's rights. Although the Special Region of Jakarta has been recognized as a Child-Friendly Province and continues to expand its clean water service coverage, disparities in access and challenges in service utilization remain. This study aims to analyze the governance of clean water provision in the Special Region of Jakarta through a collaborative governance perspective as an effort to support a healthy environment within the framework of the Child-Friendly City (CFC) policy. This study employed a qualitative approach with a descriptive analytical design. Data were collected through semi-structured in-depth interviews with 12 informants representing government institutions, the private sector, and community members, complemented by document review. The analysis was guided by Ansell and Gash's Collaborative Governance framework. The findings indicate that collaboration in clean water provision is supported by a history of inter-organizational cooperation, a shared need to address complex water-related challenges, and a relatively clear distribution of roles among stakeholders. The sustainability of collaboration is maintained through coordination forums, routine communication, and accountability mechanisms that help align differing organizational priorities. The collaboration has contributed to improving clean water provision and supporting the achievement of healthy environment indicators within the Child-Friendly City policy. However, challenges remain, including disparities in service access, continued reliance on bottled and refill drinking water by some communities despite the availability of piped water services, and limited public understanding of the relationship between clean water, sanitation, children's health, and the Child-Friendly City policy. This study concludes that collaborative governance plays an important role in supporting clean water provision and fostering a healthy environment for children in Jakarta. Nevertheless, its effectiveness depends not only on inter-organizational collaboration but also on public acceptance of services and community awareness regarding clean water, sanitation, and children's health.
Read More
S-12427
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.R. Endah Khristanti Wahyu Wijayanti; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Purnawan Junaidi, Vetty Yulianty Permanasari, Ida Ayu Agung, Achwan
T-3428
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Ardani; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Wahy Sulistiadi, Yuslel Usman, Punto Dewo
Abstrak: Tesis ini membahas tentang efektivitas sistem pencatatan kematian dan penyebab kematian di Provinsi DKI Jakarta dalam menghasilkan statistik vital kematian dan penyebab kematian yang akurat, menyeluruh dan sewaktu. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan studi data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki dua sistem yang terpisah dan belum disinkronisasi antara pencatatan kematian dengan pencatatan penyebab kematian. Hal ini menyebabkan statistik vital yang dihasilkan oleh kedua sistem tersebut berbeda satu dengan yang lain sehingga belum efektif menghasilkan statistik vital kematian dan penyebab kematian yang akurat, menyeluruh dan sewaktu. Kata kunci: efektivitas, pencatatan kematian, pencatatan penyebab kematian, statistik vital This study discusses the effectiveness of death and cause of death registration system in DKI Jakarta Province to produce accurate, thorough and timely death and cause of death vital statistics. A qualitative research has been conducted with in-depth interview and secondary data studies as methods for data collection. The results showed that DKI Jakarta Province has two separate systems between the death and the cause of death registration and not yet synchronized. The vital statistics generated differ from one another, so that it has not been effective in generating accurate, thorough and timely death and cause of death vital statistics. Keywords: effectiveness, death registration, causes of death registration, vital statistic
Read More
T-5103
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fashya Amanda Balqis Rachardy; Pembimbing: Puput Oktamiani; Penguji: Helen Andriani, Zakiah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran manajemen tata kelola obat terapi COVID-19 di Kota Depok dalam menghadapi tren pandemi yang fluktuatif. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Validasi data yang digunakan yaitu triangulasi sumber dengan wawancara bersama berbagai macam informan dan triangulasi metode dengan telaah dokumen serta observasi.
Read More
S-10855
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahrina; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Amal Chalik Sjaaf, Enny Ekasari, Kirana Pritasari
Abstrak:
Berdasarkan UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, salah satu pembagian urusan bidang kesehatan yang didesentralisasikan yaitu Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Implementasi UKM esensial yang dilaksanakan Puskesmas memiliki banyak tantangan dan belum diprioritaskan dalam implementasinya. Sejak desentralisasi ada indikasi marginalisasi UKM. Permasalahan kekurangan SDM, keterbatasan dan keterlambatan dana UKM yang berkaitan dengan kebijakan desentralisasi. Sebagai wilayah perkotaan, Puskesmas di Kota Depok seharusnya memprioritaskan UKM. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengevaluasi implementasi UKM esensial dalam konteks kebijakan desentralisasi meliputi politik, fungsi, fiskal dan penguatan kapasitas di Puskesmas Kota Depok. Hasil penelitian menunjukan bahwa indikator kinerja daerah terkait UKM esensial sebagian besar belum mencapai target. Sejumlah 13 dari 20 indikator pada renstra serta 12 dari 14 indikator RPJMD belum tercapai terutama untuk pelayanan kesehatan keluarga, kesehatan lingkungan dan P2P. Desentralisasi politik dalam UKM esensial sudah diberikan kewenangan yang disertai tanggungjawab dan akutabilitas. Pada konteks desentralisasi fungsi sudah tersedia NSPK yang mendukung walaupun masih ditemui sejumlah masalah. Desentralisasi fiskal belum sempurna dilaksanakan dan menjadi tantanangan implementasi UKM esensial. Permasalahannya antara lain kecukupan pembiayaan, keterlambatan anggaran dan realisasi. Penguatan kapasitas daerah di Kota Depok belum optimal dalam SDM, sistem informasi dan sarana prasarana. Pelaksanaan UKM esensial yang belum mencapai target terkendala konteks desentralisasi fiskal dan penguatan kapasitas. Namun hal yang menarik ditemukan bahwa kelembagaan Puskesmas sebagai PPK-BLUD di Kota Depok menjadi best practice yang cukup mendukung pelaksanaan UKM esensial. Kata kunci: Desentralisasi kesehatan, Upaya Kesehatan Masyarakat, Puskesmas

Based on Law Number 23 of 2014 concerning Regional Government, one of the health decentralized is Public Health Efforts (PHE). There are many challenges to PHE implementation, PHE also has not been prioritized. Since decentralization, there are indications of the marginalization of PHE. Problems of lack of human resources, limitations, and delays in public health financing related to the decentralization policy. As an urban area, Puskesmas in Depok City should prioritize Public Health Effort. This study use qualitative method with a case study approach to evaluate the implementation of essential PHE in the context of decentralization policies on politics, functions, fiscal and capacity building in Puskesmas, Depok City. The results of the study show that most of the regional performance indicators related to essential PHE have not reached the target. A total of 13 from 20 indicators in the strategic plan and 12 of the 14 indicators of the RPJMD have not been achieved, especially for family health services, environmental health, and disease prevention and control. Political decentralization have been given authority with responsibility and accountability. In the context of decentralization of functions, there are already available supporting NSPKs (guideline). Fiscal decentralization has not yet been fully implemented and become the challenge. The problems include the adequacy of financing, budget delays, and realization. Regional capacity strengthening in Depok City has not been optimal in terms of human resources, information systems, and infrastructure. The implementation of essential PHE that have not yet reached the target is constrained by the context of fiscal decentralization and capacity building. However, the Puskesmas institution as PPK-BLUD in Depok City has become a best practice could support the implementation of essential PHE. Keywords: Health decentralization, Public Health Efforts, Primary Health Care
Read More
T-6347
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A.A. Dewi Dharmalaksmi Kepakisan; Pembimbing: Suprijanto Rijadi, Mieke Savitri; Penguji: Sandi Iljanto, Kurnia Rita, Lindawati
Abstrak:

Penataan kelembagaan dan kewenangan Pemerintah Daerah merupakan dampak administrasi pembaruan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ternyata dampak tersebut rnenimbulkan banyak masalah diantaranya Pusat belum melimpahkan wewenang pengawasan, pembinaan teknis dan perijinan skala propinsi serta koordinasi antara Dinas Kesehatan Propinsi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota lebih sulit. Penelitian ini tentang penataan kembali kelembagaan dan kewenangan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali saat diberlakukannya pembaruan penyelenggaraan otonomi daerah. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang dilakukan pada bulan Juli sampai dengan bulan November 2005 dengan tujuan untuk memperoleh usulan rancangan struktur organisasi dan tata kerja Dinas Kesehatan Provinsi Bali dalam kebijakan otonomi daerah tahun 2005. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebijakan yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali dalam penataan kelembagaan dan kewenangannya adalah PP No. 84/2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah dan PP No. 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom yang berpedoman pads UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah; Perda Provinsi Bali No. 2/2001 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah; SK Gubernur Bali No. 32/2001 tentang Uraian Tugas Dinas Kesehatan; dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali tahun 1987. Struktur organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang ditata sesuai dengan kebijakan tersebut terdiri atas Kepala Dinas, Wakil Kepala Dinas, Bagian Tata Usaha dengan empat Subbagiannya dan lima Subdinas yang masing-masing Subdinas memiliki empat Seksi. Perencanaan berdasarkan usulan dari bawah sudah dilaksanakan dalam proses penataan dengan pemikiran bahwa yang lebih mengerti keputusan organisasi adalah Dinas Kesehatan Provinsi Bali sendiri. Kebijakan yang diambil dalam melakukan pengurangan satuan organisasi adalah menggabungkan satuan organisasi yang tugas dan fungsinya mirip atau berdekatan sehingga terdapat penambahan beban kerja dan tumpang tindihnya pelaksanaan tugas dan fungsi dari satuan organisasi tersebut. Masih terdapat perbedaan persepsi dalam menentukan tugas dan fungsi organisasi sebagai perangkat daerah otonom. Keterbatasan pengetahuan dan keputusan yang diambil dalam memberdayakan jabatan fungsional menggambarkan bahwa istilah miskin struktur kaya fungsi belum dijadikan acuan. Pemberlakuan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diprediksi akan mengubah pedoman organisasi perangkat daerah tidak diantisipasi segera dengan melakukan pengkajian pada struktur organisasi dan tata kerjanya. Dan basil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah belum matang mempersiapkan kebijakan yang mengatur tentang struktur organisasi dan tata kerja Dinas Kesehatan Provinsi Bali, belum adanya kesamaan persepsi tentang tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Bali serta belum maksimalnya pemberdayaan jabatan fungsional yang dibutuhkan. Rancangan struktur organisasi dan tata kerja Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang diusulkan berdasarkan arah kebijakan Pemerintah Daerah dan Sistern Kesehatan Daerah Provinsi Bali serta LIU No. 32/2004 hanya bersifat umum saja.


Restructurization is a part of the impact of decentralizing governance. Some of the problem of this impact are the Central does not submit its authority to the District Government and coordination among District Government is more difficult than before. This is a qualitative study on institusional and authority restructurization that has been done by Health Office of Bali Province when reformation of decentralization has been obtained. This study had been done on July until November 2005. This study aims to get complete information of organization structure and job administration design in Health Office of Bali Province in the decentralization era in the year 2005. The result of this study showed that the regulation which is implemented in Health Office of Bali Province are Government Regulation Number 8412000 and Government Regulation Number 2512000 under The Law Number 22/1999, Bali Provincal Regulation Number 212001, Bali Governor Regulation Number 3212001 and Number 360/1987, and documents from Internal Affairs Department and Human Resources Department. The organization structure of Health Office of Bali Province which was arranged based on that policy are consist of : official head, vice official head, six division that each of division has four section. The bottom-up planning has been done in the process of restructurization, based on the opinion that Health Office of Bali Province is more understand in organization necessity _ The policy that used to reduce the units of division is to unite them which have similar same function and job administration. The impact of this unity will make overload and overlap in job administration. The perception on task and function of organization are different, The terminology of poor structure but rich function is not to be a reference because the knowledge of the family of health function has not been used yet as a reference. It caused by limitation of knowledge and decision making in using functional position . There is no evaluation about structure and its job administration in Health Office of Bali Province to anticipate the Law Number 3212004, The conclusion of this study showed that Central and district government have an immature planning and organizing in restructurization of structure and job administration, the difference perception in task and function, and using the family of health function is minimal. The proposal of structure and job administration design of Health Office of Bali Province was based on policy direction and health system of Bali Province and also the Law Number 3212004.

Read More
T-2241
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desvanty Rahman; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ascobat Gani, Dumilah Ayuningtyas, Lisa Fantina, Cecep Suhayli
Abstrak: Dalam kebijakan insentif bagi tenaga kesehatan di daerah yang menangani COVID-19 (Innakesda) merupakan bagian dari anggaran kesehatan untuk penanganan COVID-19 yang harus dianggarkan oleh pemerintah daerah yang bersumber dari dana Refocusing 8% DAU/DBH pada Tahun 2021. Hal menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut perbedaan hasil implementasi dari kebijakan Innakesda yang dilakukan oleh Pemerinah Daerah dimana terdapat pemerintah daerah yang berhasil melakukan implementasi kebijakan ini dan ada pula pemerintah daerah yang tidak berhasil melakukannya. Keberhasilan dalam implementasi ini dilihat dari adanya ketersediaan anggaran di daerah serta terlaksananya realisasi anggaran insentif bagi tenaga kesehatan di daerah tersebut. Oleh karena itu, menjadi hal yang menarik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suatu daerah berhasil mengimplentasikan kebijakan ini dari sisi pengelolaan keuangan daerah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam dengan beberapa informan kunci serta kajian literatur. Segitiga kebijakan Walt dan Gilson digunakan dalam menganalisis kebijakan Analisis dilakukan untuk melihat keberhasilan implementasi kebijakan Innakesda dari dimensi aktor, konten, kontek dan proses dalam pengelolaan keuangan daerah. Lokasi penelitian dilakukan pada salah satu daerah yang berhasil melaksanakan implementasi kebijakan Innakesda yaitu Kota Tangerang Selatan. Kesimpulan penelitian memberikan gambaran bahwa terdapat faktor konteks situasional penanganan pandemi bertumpu pada peran tenaga kesehatan sebagai garda terdepan serta faktor struktural pada azas desentralisasi penyelenggaran pemerintah daerah dan faktor kemanusiaan, konteks ini turut mempengaruhi Political Will pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam implementasi kebijakan Innakesda. Konten kebijakan Innakesda dalam keharmonisasi peraturan prinsipnya sudah saling selaras dan serasi dengan peraturan yang lebih tinggi untuk mempayung hukum kebijakan Innakesda dan berbagai upaya evaluasi implementasi kebijakan juga dilakukan oleh pemerintah pusat dan hasilnya digunakan sebagai masukan dalam membuat penyempurnaan konten kebijakan dalam upaya percepatan realisasi Innakesda di Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan. Political Will Walikota Tangerang selatan merupakan peran kunci dalam proses implementasi kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah dari tahapan perencanaan dan penganggaran dalam Integrasi dan koordinasi refocusing dan realokasi anggaran tetap menjaga kesesuaian/keselarasan pencapaian target RPJMD dan tetap fokus dalam program penanganan COVID-19 serta Innakesda dengan melihat kemampuan penganggaran. Untuk tahap pelaksanaan dan penatausahan tetap memperhatikan azas tertib dan patuh dalam pengelolaan keuangan daerah di dukung dengan sistem pelaporan realisasi dengan memanfaatkan teknologi dalam Sistem Informasi Manajemen Perencanaan, Penganggaran, dan Pelaporan (SIMRAL). Penelitian merekomendasikan Pemerintah Kota Tangerang Selatan melakukan penyempurnaan pada Perda Tentang Penanggulangan Bencana. Pemerintah Daerah di Indonesia membuat Perda tentang penangulangan bencana non alam dengan merinci terkait penganggaran, pencatatan dan pelaporan serta memaksimalkan peran APIP. Dalam penetapan pemberian Insentif bagi Tenaga Kesehatan Kementerian Keuangan tetap memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan Kementerian Dalam Negeri terus mendorong Pemerintah Daerah untuk Implementasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dengan baik. dan untuk penelitian selanjutnya penelitian bersifat sumatif dimana fokus penelitian akan lebih diposisikan tataran Outcome, benefit dan impact/dampak dari diimplementasikannya kebijakan Innakesda
In the incentive policy for health workers in regions dealing with COVID-19 (Innakesda) it is part of the health budget for handling COVID-19 which must be budgeted by local governments sourced from the Refocusing 8% DAU/DBH fund in 2021. It becomes interesting to further study the differences in the results of the implementation of the Innakesda policy carried out by the Regional Government where there are local governments that have succeeded in implementing this policy and there are also regional governments that have not succeeded in doing so. The success in this implementation can be seen from the availability of the budget and the realization of the incentive budget for health workers in the area. Therefore, it is interesting to know the factors that influence a region's success in implementing this policy. This research was conducted with a qualitative approach using in-depth interviews with several key informants and literature review. The analysis was conducted to see the success of Innakesda policy implementation from the dimensions of actors, content, context and processes in regional financial management. The location of the research was conducted in one of the areas that have successfully implemented the implementation of incentive policies for health workers in the regions, namely South Tangerang City. The conclusion of the study illustrates that there are situational context factors for handling the pandemic that rely on the role of health workers as the frontline as well as structural factors on the principle of decentralization of local government administration and humanitarian factors, this context also influences Political Will of the South Tangerang City government in implementing the Innakesda policy. Innakesda policy content in the harmonization of regulations in principle is in harmony with higher regulations to underpin the law on Innakesda policies and various efforts to evaluate policy implementation are also carried out by the central government and the results are used as input in making improvements to policy content in an effort to accelerate the realization of Innakesda in the Government South Tangerang City Area. Political Will of the Mayor of South Tangerang is a key role in the policy implementation process in regional financial management from the planning and budgeting stages in the integration and coordination of refocusing and budget reallocation while maintaining conformity/alignment of achieving RPJMD targets and staying focused on the COVID-19 handling program and Innakesda by looking at budgeting ability. For the implementation and administration stages, the principles of order and compliance in regional financial management are supported by a realization reporting system by utilizing technology in the Planning, Budgeting and Reporting Management Information System (SIMRAL). The research recommends that the South Tangerang City Government make improvements to the Regional Regulation on Disaster Management. Local governments in Indonesia make local regulations on non-natural disaster management with details related to budgeting, recording and reporting as well as maximizing the role of APIP. In determining the provision of incentives for Health Workers, the Ministry of Finance continues to pay attention to regional financial capabilities and the Ministry of Home Affairs continues to encourage Regional Governments to implement the Regional Government Information System (SIPD) properly. Keywords: Health Worker Incentives, Regional Financial Management, COVID-19
Read More
T-6495
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iskandar; Pembimbing: Agustin Kusumayati
T-776
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Jundi Khalifatullah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Mungki Rahadian, Fikrotul Ulya
Abstrak:
Introduction: The Provincial Government of West Java has issued Governor of West Java Decree Number: 443/Kep.350-BUMD DAN INVESTASI/2021 concerning Oxygen Command center. An oxygen command center was formed to deal with oxygen emergencies at the peak of the Covid-19 variant of the delta in West Java July-September 2021. Evaluation is very important as lesson learning to prepare for handling emergency medical oxygen needs in the future. Purpose: Evaluate the implementation of the implementation of the oxygen command post based on the tasks contained in the Decree of the Governor of West Java Number 443/Kep.350-BUMD AND INVESTASI/2021 concerning the oxygen command post, especially at the peak of the delta variant. Methods: This research is a non-experimental research with a qualitative case study approach which is expected to answer research questions. This study uses the theoretical approach of George C. Edward III's Policy Implementation Model and William Dunn's Theoretical Decision Evaluation. The methods used in data collection were in-depth interviews with informants and document review. Result: The research shows that the oxygen command center does its job well but not optimal. In the aspect of communication, good communication has been established within the oxygen command center, more consistent communication is needed with partners outside the command center. In the aspect of resources, staff have been fulfilled and given authority, the available budget is sufficient to meet the needs of facilities in the field. The aspect of the bureaucratic structure runs optimally, the mechanism is made very detailed and routine coordination. The disposition aspect is well implemented. In evaluating the task of preparing a needs plan that is running well enough, seen from the availability of data to prepare a needs plan, distribution control by appointing a BUMD is the right choice with a yield of 12.44 tons/day of liquid oxygen and ownership of 1,634 oxygen cylinders. The coordination and synchronization that is carried out must build a common understanding of oxygen so that there are no communication errors that hinder coordination. The command center to form a secretariat/warehouse with centralized information management on the West Java Province Pikobar service is appropriate in accordance with the mandate of the governor's regulations. The monitoring carried out is also quite good and it is better to involve partners outside the oxygen command center so that they can also find out the current situation and condition of oxygen emergencies. So it can be concluded that the oxygen command center carried out its duties properly.Pendahuluan: Pemerintah Prvinsi Jawa Barat telah mengeluarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor: 443/Kep.350-BUMD DAN INVESTASI/2021 Tentang Pos Komando Oksigen. Pos komando oksigen dibentuk untuk mengatasi kedaruratan oksigen pada puncak covid-19 varian delta di Jawa Barat Juli-September 2021. Evaluasi menjadi sangat penting sebagai pembelajaran dalam rangka mempersiapkan penanganan kebutuhan darurat oksigen medis dimasa depan. Tujuan: Mengevaluasi implementasi pelaksanaan pos komando oksigen berdasarkan tugas yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 443/Kep.350-BUMD DAN INVESTASI/2021 tentang Pos Komando oksigen khususnya pada puncak varian delta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus yang diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Model Implementasi Kebijakan George C. Edward III dan Evaluasi Keputusan Teoritis William Dunn. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam kepada informan dan telaah dokumen. Hasil: Penelitian menunjukkan pos komando oksigen menjalankan tugas dengan baik namun belum optimal. Aspek komunikasi, sudah terbangun komunikasi yang baik didalam pos komando oksigen, diperlukan komunikasi yang lebih konsisten dengan mitra di luar posko. Aspek sumber daya, sudah terpenuhi staf dan diberikan kewenangan, anggaran yang tersedia cukup memenuhi kebutuhan fasilitas dilapangan. Aspek struktur birokrasi berjalan cukup optimal, mekanisme yang dibuat sangat detail dan koordinasi rutin. Aspek disposisi diimplementasikan dengan baik. Pada evaluasi tugas penyusunan rencana kebutuhan yang berjalan sudah cukup baik dilihat dari ketersediaan data untuk menyusun rencana kebutuhan, pengendalian pendistribusian dengan menunjuk BUMD adalah pilihan tepat dengan hasil 12,44 ton/hari oksigen cair dan kepemilikan 1.634 tabung oksigen. Pengkoordinasian dan pensikronan yang dilakukan harus membangun kesamaan pemahaman tentang oksigen sehingga tidak terjadi kesalahan komunikasi yang menghambat koordinasi. Pos komando membentuk sekretariat/gudang dengan pengelolaan informasi terpusat pada layanan Pikobar Provinsi Jawa Barat sudah tepat sesuai dengan amanat peraturan gubernur. Monitoring yang dilakukan juga cukup baik dan sebaiknya melibatkan mitra diluar pos komando oksigen agar juga dapat mengetahui situasi dan kondisi terkini kedaruratan oksigen. Sehingga dapat disimpulkan pos komando oksigen melaksanakan tugas dengan baik.
Read More
T-6832
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luh Komang Enggi Lindayani; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Masyitoh, Fajar Manuaba, I Desak Nyoman Yunita Pratiwi
Abstrak:
Latar Belakang: Unit Gawat Darurat (UGD) merupakan unit pelayanan yang membutuhkan tata kelola mutu yang efektif untuk menjamin keselamatan pasien dan kualitas pelayanan. Meskipun sebagian besar indikator mutu UGD RSU Kertha Usada Singaraja telah mencapai target, masih ditemukan beberapa keluhan pasien yang menunjukkan perlunya evaluasi implementasi tata kelola mutu. Tujuan: Menganalisis implementasi tata kelola mutu dalam pencapaian indikator mutu di UGD RSU Kertha Usada Singaraja Tahun 2025–2026 berdasarkan dimensi struktur, proses, dan outcome Model Donabedian. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap informan yang terdiri atas direktur, komite mutu, pimpinan UGD, penanggung jawab mutu, dokter, perawat, dan apoteker. Analisis dilakukan secara tematik berdasarkan dimensi struktur, proses, dan outcome. Hasil: Dimensi struktur menunjukkan bahwa UGD didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, sarana prasarana yang memadai, serta komitmen manajemen yang kuat. Namun, masih terdapat kendala berupa beban kerja ganda PIC mutu, keterbatasan dukungan radiologi, dan sistem pelaporan mutu yang belum terintegrasi dengan SIMRS. Pada dimensi proses, pelayanan telah berjalan sesuai standar melalui penerapan triase ATS dan START, pelayanan klinis yang berorientasi pada keselamatan pasien, serta monitoring indikator mutu secara berkala. Pada dimensi outcome, sebagian besar indikator mutu berhasil mencapai target yang ditetapkan, termasuk waktu tanggap pelayanan, kemampuan tindakan lifesaving, pengendalian mortalitas, dan pengelolaan komplain pasien. Kesimpulan: Implementasi tata kelola mutu di UGD RSU Kertha Usada telah berjalan dengan baik dan mendukung pencapaian indikator mutu pelayanan. Penguatan integrasi sistem informasi mutu, optimalisasi beban kerja petugas mutu, dan peningkatan dukungan layanan radiologi diperlukan untuk mendukung perbaikan mutu secara berkelanjutan. Kata kunci: tata kelola mutu, indikator mutu, Unit Gawat Darurat, Donabedian, rumah sakit

Background: The Emergency Department (ED) is a healthcare service unit that requires effective quality governance to ensure patient safety and service quality. Although most quality indicators at the Emergency Department of Kertha Usada General Hospital Singaraja have achieved their targets, several patient complaints were still identified, indicating the need to evaluate the implementation of quality governance. Objective: To analyze the implementation of quality governance in achieving quality indicators at the Emergency Department of Kertha Usada General Hospital Singaraja during 2025–2026 based on the structure, process, and outcome dimensions of the Donabedian Model. Methods: This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews involving informants consisting of the hospital director, quality committee representatives, emergency department managers, quality coordinators, physicians, nurses, and pharmacists. Data were analyzed thematically according to the structure, process, and outcome dimensions. Results: The structure dimension demonstrated that the Emergency Department was supported by competent human resources, adequate facilities and infrastructure, and strong management commitment. However, several challenges were identified, including the dual workload of the quality coordinator, limited radiology support, and a quality reporting system that was not yet integrated with the Hospital Management Information System (HMIS). In the process dimension, services were implemented in accordance with established standards through the application of the Australasian Triage Scale (ATS) and START triage system, patient safety-oriented clinical services, and regular monitoring of quality indicators. In the outcome dimension, most quality indicators successfully achieved the established targets, including response time, lifesaving performance, mortality control, and patient complaint management. Conclusion: The implementation of quality governance in the Emergency Department of Kertha Usada General Hospital has been effectively carried out and has supported the achievement of service quality indicators. Strengthening the integration of quality information systems, optimizing the workload of quality personnel, and enhancing radiology service support are necessary to sustain continuous quality improvement.
Read More
T-7596
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive