Ditemukan 41667 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tujuan: untuk mengetahui karakteristik pasienDM tipe 2 di RSUP NTB tahun 2012-2013, serta mengukur asosiasi sederhana DSME terhadap lama hari rawat pasien di RSUP NTB. Desain dan
Metode: Tinjauan secara retrospektif terhadap 199 rekam medis pasien DM tipe 2.
Hasil: DSME disampaikan oleh perawat dan ahli gizi. Akan tetapi, tidak seluruh pasien mendapat edukasi. Di RSUP NTB, yang tercatat edukasi tentang: diet (53%),aktivitas fisik (33%), tentang obat (8%), komplikasi (1%), edukasi lainnya (6%),dan 27% pasien yang tidak mendapat edukasi apapun oleh perawat. Sebanyak 43.7% pasien yang mendapat konseling gizi oleh ahli gizi. Pasien yang mendapatDSME memiliki lama hari rawat yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak mendapat edukasi.
Kesimpulan: berdasarkan catatan rekam medis DSMEdi RSUP NTB belum optimal dan DSME berperan mempersingkat lama harirawat pasien.
Kata kunci: Diabetes Self Management Education, DM tipe 2, lama hari rawat,rawat inap, RSUP NTB.
Background: Type 2 Diabetes Mellitus (type 2 DM) is a disease that can not becured. An adequate education is one of way management of type 2 DM. DiabetesSelf Management Education (DSME) in hospitals not adequate and impact onlength of stay.
Purpose: this study to describe characteristics of patients withtype 2 DM at General Hospital West Nusa Tenggara 2012-2013, and measuredassociation of DSME to length of stay.
Design and Method: Descriptiveresearch method with retrospective design. Number of samples involved in thisstudy is 199 medical records of patients with type 2 DM.
Result: DSMEdelivered by nurses and nutritionists. But, not all patients get DSME. DSMErecorded was about: diet (53%), exercises (33%), medicines (8%),complications of type 2 DM (1%), other education (6%), and 27% of patients donot get any DSME. Patients with DSME has shorter length of stay than patientwithout DSME.
Conclusion: according to medical records, DSME at GeneralHospital West Nusa Tenggara 2012-2013 is not optimal and DSME role inlength of stay of patients with type 2 Diabetes Mellitus.
Keywords: Diabetes Self Management Education; type 2 DM; length of stay,inpatient, RSUP NTB.
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Individu dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan populasi umum. Namun, penelitian terkait faktor-faktor kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia masih terbatas dan umumnya dilakukan di tingkat rumah sakit, sehingga cakupan populasinya kecil dan tidak merepresentasikan kondisi secara nasional. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. Data berasal dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan menggunakan desain studi potong lintang. Responden terdiri dari 17.186 penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. Analisis menggunakan uji kai kuadrat untuk jenis data kategorik dan uji-t independent untuk jenis data numerik berdistribusi normal/Mann Whitney untuk jenis data numerik yang tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian ini menemukan bahwa prevalensi kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia sebesar 4,5%. Hasil penelitian juga menemukan asosiasi perbedaan proporsi antara beberapa faktor secara individual terhadap kejadian stroke. Pada faktor sosiodemografi, usia ≥ 55 Tahun (POR: 1,768; 95% CI: 1,378 – 2,267), jenis kelamin laki-laki (POR: 1,475; 95% CI: 1,179 – 1,845), tingkat pendidikan rendah (POR: 0,556; 95% CI: 0,416 – 0,743), dan wilayah tempat tinggal di perdesaan (POR: 0,748; 95% CI: 0,576 – 0,972); faktor metabolik, kadar tekanan darah tinggi (hipertensi) (POR: 1,549; 95% CI: 1,203 – 1,995); faktor klinis, usia pertama kali didiagnosis DM ≤ 43 tahun (POR: 0,514; 95% CI: 0,358 – 0,736) dan lama menderita DM 5 – 9 Tahun (POR: 1,363; 95% CI: 1,037 – 1,791) dan ≥ 10 Tahun (POR: 1,322; 95% CI: 1,009 – 1,731); dan faktor perilaku, konsumsi makanan berisiko (POR: 0,603; 95% CI: 0,462 – 0,787) menunjukkan perbedaan proporsi yang berarti antara masing masing faktor terhadap kejadian stroke. Diharapkan pemangku kebijakan dapat mempertimbangkan faktor-faktor tersebut untuk menerapkan kebijakan atau program yang dapat menurunkan prevalensi kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia.
Stroke is one of the leading causes of death in Indonesia. Individuals with type 2 diabetes mellitus are at a higher risk of experiencing stroke compared to the general population. However, research on stroke risk factors among type 2 diabetes mellitus patients in Indonesia remains limited and mostly on hospital-based, resulting in a small population scope that does not represent the national condition. Therefore, this study aims to examine the factors associated with stroke among type 2 diabetes mellitus patients using data from the 2023 Indonesian Health Survey with a cross-sectional design, involving 17,186 respondents. The analysis used the chi-square test for categorical data and the independent t-test for numerical data with a normal distribution, or the Mann-Whitney test for numerical data that are not normally distributed. This study found that the prevalence of stroke among individuals with type 2 diabetes mellitus in Indonesia was 4.5%. The results also showed differences in proportions between several single factors and the occurrence of stroke: sociodemographic factors such as age ≥ 55 years (POR: 1,768; 95% CI: 1,378 – 2,267), male (POR: 1,475; 95% CI: 1,179 – 1,845), low education level (POR: 0,556; 95% CI: 0,416 – 0,743), and residing in rural areas (POR: 0,748; 95% CI: 0,576 – 0,972); metabolic factor was high blood pressure (POR: 1,549; 95% CI: 1,203 – 1,995); clinical factors such as being diagnosed with diabetes at ≤ 43 years old (POR: 0,514; 95% CI: 0,358 – 0,736) and diabetes duration of 5 – 9 years (POR: 1,363; 95% CI: 1,037 – 1,791) and ≥ 10 years (POR: 1,322; 95% CI: 1,009 – 1,731); and behavioral factor was consumption of high-risk foods (POR: 0,603; 95% CI: 0,462 – 0,787). These findings highlight the need for policymakers to consider these factors in developing strategies and programs to reduce the prevalence of stroke among individuals with type 2 diabetes mellitus in Indonesia.
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
This study discusses the completeness of inpatient medical records at Fatmawati Fatmawati in December 2015. The purpose of this study was to analyze the completeness of the contents of the medical records of patients Inpatient as well as the factors relating to the charging of medical records. This research is a quantitative and qualitative methods of observation and in-depth interviews. The results, the average medical records of inpatient patients are 57.8%. The lack of filling medical record training is one of obstacles in filling the completely. Keyword: Medical record, completeness, inpatient
