Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29490 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuyun Mulyani; Pembimbing: Milla Herdayati
S-3284
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shelly Aprilia; Pembimbing: Artha Prabawa; Lilipaly, : Besral, Angela G. Lilipaly
S-6926
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djaka Kusnandar; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Artha Prabawa, Argo Suyono
S-6685
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wan Aisyiah Baros; Pembimbing: Milla Herdayanti; Penguji: Besral, R. Sutiawan, Ondrionas, Dewi Utami
Abstrak:

ABSTRAK Kepuasan pelanggan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan, dapat diukur dan dibandingkan antara pelayanan yang diharapkan dengan pelayanan yang dirasakan oleh peserta. Faktor utama yang mempengaruhi mutu pelayanan kaitannya dengan kepuasan yaitu pelayanan yang diharapkan (expected service) dan pelayanan yang dirasakan (perceived service). Penelitian ini bertujuan mengetahui kontribusi pengetahuan peserta terhadap kontak layanan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) dan Rawat Inap (RI) dengan desain penelitian menggunakan cross sectional. Hasil penelitian rata-rata terendah dimensi mutu pada kontak layanan RJTL adalah dimensi Responsiveness (cepat tanggap/selalu siap melayani) dan tertinggi adalah dimensi Tangible (fasilitas fisik). Sedangkan rata-rata dimensi mutu pada kontak layanan RI terendah adalah dimensi Assurance (jaminan/rasa aman) dan dimensi tertingi adalah Tangible (fasilitas fisik). Tingkat Kepuasan peserta pada kontak layanan RJTL dengan proporsi peserta yang puas 50,8% dan yang tidak puas 49,2%. Sedangkan tingkat Kepuasan peserta pada kontak layanan RI dengan proporsi peserta yang puas 59,1% dan yang tidak puas 40,9%. Pada kontak layanan RJTL peserta dengan jenis kelamin perempuan dengan pengetahuan baik memiliki kepuasan sebesar 1,528 kali dibandingkan dengan peserta jenis kelamin perempuan dengan pengetahuan cukup. Atribut-atribut pengetahuan dengan proporsi terendah pada kontak layanan RJTL dan RI yaitu tentang buku pedoman, pengetahuan tentang pelayanan yang tidak ditanggung oleh Askes dan masih banyak peserta yang belum mengetahui obat-obat yang terdaftar dalam buku daftar obat Askes.


Abstract Customer satisfaction is one of the health service quality indicators that can be measured and can be compare between expected service and perceived service by the participants. Main factor affected quality service related to satisfaction are expected service and perceive service.The objective of this research is to recognize membership knowledge contribution towards saticfaction of outpatient and inpatient services with cross sectional methode approach. Research result of quality dimension lowest average on outpatient contact interaction is Responsiveness dimension and highest is tangible dimension. On the other hand, the lowest average of quality dimension on inpatient contact interaction is assurance and the highest is tangible dimension. Customer satisfaction index on outpatient contact interaction with proportion of satisfy participant 50,8 % and unsatisfy 49,2 %. Meanwhile, Customer satisfaction index on outpatient contact interaction with proportion of satisfy participant 59,1 % and unsatisfy 40,9 %. On outpatient contact interaction with female sex and better knowledge reaching satisfaction index 1.528 times bigger than female sex with adequate knowledge . Knowledge attributes with lower proportion on outpatient and inpatient are guidelines book, knowledges of Askes exclution services and still lots of participants did not aware the medicines which is registered in Askes medicine book.

Read More
T-3562
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahdalena; Pembimbing: Kemal Nazzarudin Siregar
S-3465
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Mauliddin, M.; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Rini Yuliani
S-6185
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainin; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Artha Prabawa, Lastri Kartika Roza Puteri
Abstrak:
Rekam medis rawat inap yang berkualitas akan menghasilkan informasi yang sangat bermanfaat dalam pelayanan dan pengambilan keputusan di RSUD Ciawi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh besarnya kompetensi dan komitmen dokter, petugas pendaftraran dan koder terhadap kualitas rekem medis di RSUD Ciawi tahun 2022. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif , cross sectional dengan analisa regresi logistik multinomial. Diperoleh hasil kompetensi dan komitmen dokter mempengaruhi secara signifikan (p<0,05) terhadap kualitas rekam medis rawat inap. Kecenderungan dokter dengan kompetensi kurang akan menghasilkan rekam medis dengan kualitas kurang 6,7 kali lebih besar dibandingkan dokter dengan kompetensi baik. Begitu pula dokter dengan komitmen cukupmemiliki kecenderungan untuk menghasilkan rekam medis yang kurang berkualitas 4,2 kali lebih besar dibandingkan dokter dengan komitmen baik. Dokter dengan komitmen cukup memiliki kecenderungan untuk menghasilkan rekam medis yang cukup berkualitas 3,7 kali lebih besar dibandingkan dokter dengan komitmen baik.

Quality inpatient medical records will produce information that is very useful in service and decision making at Ciawi Hospital. This study aims to determine the effect of the competence and commitment of doctors, registration officers and coders on the quality of medical records in Ciawi Hospital in 2022. The research design used was a quantitative, cross-sectional study with multinomial logistic regression analysis. The results obtained that the competence and commitment of doctors significantly affect (p<0.05) on the quality of inpatient medical records. The tendency of doctors with less competence will produce medical records with less quality 6.7 times greater than doctors with good competence. Likewise, doctors with moderate commitment have a tendency to produce poor quality medical records 4.2 times greater than doctors with good commitment. Doctors with sufficient commitment have a tendency to produce quality medical records 3.7 times greater than doctors with good commitment.
Read More
S-11161
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Rahmadani; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang menjadi beban utama pada layanan kesehatan mental di Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya kebutuhan rawat inap, dan lamanya perawatan, namun data tren pelayanan masih terbatas. Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan pada fasilitas rujukan tingkat lanjut (FKRTL) tahun 2021–2024. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan tren proporsi dan pola rawat inap, sedangkan uji chi-square membandingkan rawat inap kunjungan skizofrenia dan non-skizofrenia. Dari 1,32 juta kunjungan gangguan kesehatan mental, 40,68% adalah skizofrenia. Proporsi menurun dari 46,52% (2021) menjadi 35,12% (2024), namun jumlah absolut tetap meningkat, terutama pada laki-laki, remaja, peserta PBI, dan kelas rawat III . Pola rawat inap skizofrenia terus meningkat dari 41,59% pada tahun 2021 menjadi 63,56% di tahun 2024. Analisis bivariat menunjukkan risiko rawat inap (RR=3,07; 95% CI: 3,06–3,09) dan lama rawat inap panjang (RR=15,06; 95% CI: 14,61-15,52) pada skizofrenia lebih tinggi dibanding non-skizofrenia. Skizofrenia tetap menjadi beban utama FKRTL, terutama pada kelompok sosial ekonomi rentan. Peningkatan kebutuhan rawat inap menegaskan pentingnya deteksi dini, kesinambungan pengobatan, dan penguatan layanan komunitas.

Schizophrenia is a severe mental disorder and represents a major burden on mental health services in Indonesia. This burden is reflected in high inpatient demand and long treatment durations, yet data on service trends remain limited. A retrospective descriptive study was conducted using BPJS Kesehatan claims data from advanced referral health facilities (FKRTL) between 2021 and 2024. Univariate analysis described trends in proportions and inpatient care patterns, while chi-square tests were used to compare inpatient outcomes between schizophrenia and non-schizophrenia visits. Out of 1.32 million mental health visits, 40.68% were for schizophrenia. Although the proportion declined from 46.52% in 2021 to 35.12% in 2024, absolute visit numbers increased, particularly among males, adolescents, PBI participants (social assistance program), and Class III inpatients. Inpatient care for schizophrenia rose steadily from 41.59% in 2021 to 63.56% in 2024. Bivariate analysis indicated that schizophrenia visits had higher risks of inpatient admission (RR = 3.07; 95% CI: 3.06–3.09) and prolonged inpatient stay (RR = 15.06; 95% CI: 14.61–15.52) compared with non-schizophrenia visits. Schizophrenia remains a primary burden on FKRTL, especially among socioeconomically vulnerable groups. The increasing inpatient demand highlights the importance of early detection, continuity of care, and strengthening community mental health services.
Read More
S-12316
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhalina Sari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Besral, Fitriai
S-7002
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hylmi Zuhayr; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra N
Abstrak:
Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia yang memberikan beban signifikan terhadap sistem pelayanan rawat inap di FKRTL. Lama rawat inap (length of stay/LOS) merupakan indikator efisiensi pelayanan sekaligus cost driver utama dalam pembiayaan JKN, tetapi, bukti empiris mengenai hubungannya dengan tingkat keparahan DM dalam skala nasional masih terbatas. Metode: Penelitian analitik Cross - Sectional menggunakan data sekunder Dataset Sampel Reguler FKRTL BPJS Kesehatan tahun 2023. Setelah cleaning dan merging dengan dataset diagnosis sekunder dan kepesertaan, diperoleh 5.512 observasi kunjungan rawat inap pasien DM peserta JKN. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi variabel, lalu, analisis bivariat menggunakan uji Kruskal-Wallis, Mann-Whitney dengan koreksi Bonferroni, uji Spearman, dan Chi-Square untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil: Dari 5.512 observasi, mayoritas memiliki tingkat keparahan ringan (58,51%), dengan rata-rata LOS 4 hari (SD: 2,76). Tingkat keparahan DM berhubungan signifikan dengan LOS (χ² = 472,145; p < 0,0001), dengan median LOS meningkat seiring tingkat keparahan: ringan (3 hari), sedang (4 hari), dan berat (5 hari). Komorbid/diagnosis sekunder juga berhubungan signifikan dengan LOS (χ² = 209,378; p < 0,0001), dimana pasien dengan komorbid memiliki median LOS lebih panjang (4 hari) dibanding tanpa komorbid (3 hari). Tipe FKRTL (χ² = 274,613; p < 0,0001) dan region tarif INA-CBGs (χ² = 84,694; p < 0,0001) juga menunjukkan hubungan signifikan. Sebaliknya, umur, jenis kelamin, dan kelas rawat tidak berhubungan signifikan dengan LOS. Distribusi komorbid berbeda signifikan berdasarkan jenis kelamin (chi² = 56,635; p < 0,0001) dan kelompok umur (chi² = 114,046; p < 0,0001). Kesimpulan: Tingkat keparahan DM, komorbid/diagnosis sekunder, tipe FKRTL, dan region tarif merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan lama rawat inap pasien DM peserta JKN di FKRTL. Temuan ini dapat menjadi dasar evaluasi efisiensi pelayanan dan kebijakan pembiayaan INA-CBGs, khususnya dalam pengelolaan pasien DM dengan tingkat keparahan tinggi dan profil komorbid yang kompleks.

Introduction: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic non-communicable disease with a high prevalence in Indonesia, placing a significant burden on the inpatient care system at primary health care facilities (FKRTL). Length of stay (LOS) is an indicator of service efficiency and a major cost driver in the National Health Insurance (JKN) financing system (JKN). However, empirical evidence regarding its relationship with DM severity at a national scale is still limited. Methods: This cross-sectional analytical study used secondary data from the 2023 BPJS Kesehatan Regular Sample FKRTL Dataset. After cleaning and merging with secondary diagnosis and membership datasets, 5,512 observations of inpatient visits for DM patients participating in JKN were obtained. Univariate analysis was used to describe the distribution of variables, followed by bivariate analysis using the Kruskal-Wallis test, Mann-Whitney with Bonferroni correction, Spearman test, and Chi-Square test to examine the relationship between variables. Results: Of the 5,512 observations, the majority had mild severity (58.51%), with a mean LOS of 4 days (SD: 2.76). DM severity was significantly associated with LOS (χ² = 472.145; p < 0.0001), with median LOS increasing with severity: mild (3 days), moderate (4 days), and severe (5 days). Comorbidities/secondary diagnoses were also significantly associated with LOS (χ² = 209.378; p < 0.0001), where patients with comorbidities had a longer median LOS (4 days) than those without comorbidities (3 days). FKRTL type (χ² = 274.613; p < 0.0001) and INA-CBGs tariff region (χ² = 84.694; p < 0.0001) also showed significant associations. In contrast, age, gender, and treatment class were not significantly associated with LOS. The distribution of comorbidities differed significantly by gender (chi² = 56.635; p < 0.0001) and age group (chi² = 114.046; p < 0.0001). Conclusion: DM severity, comorbidities/secondary diagnoses, FKRTL type, and tariff region are factors significantly associated with the length of stay of DM patients participating in JKN at FKRTL. These findings can be the basis for evaluating the efficiency of services and financing policies of INA-CBGs, especially in the management of DM patients with high severity and complex comorbid profiles.
Read More
S-12304
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive