Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42504 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Retno Juli Siswantari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawanti, Laila Fitria, Bambang Setiaji
Abstrak: Diare masih menjadi masalah di Indonesia dan merupakan penyebab kematian pertama pada kelompok umur balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi dan perilaku higiene ibu dengan kejadian diare balita di Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari studi EHRA Kabupaten Sukabumi tahun 2013. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pemilihan sampel metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan chi square dengan sistem regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian didapatkan 25% balita terkena diare. Dari analisis bivariat didapat variabel yang signifikan mempengaruhi diare balita adalah sarana air bersih (p value 0,002) dengan OR 2,669 (CI 95% 1,44-4,93) dan variabel jarak septik tank-sumur gali (p value 0,000) OR 4,84 (CI 95% 2,15- 10,93). Hasil multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur gali-septik tank adalah yang utama mempengaruhi diare balita (p value 0,000) OR 5,22.
Kesimpulan: dalam penelitian ini jarak antara sumur gali-septik tank sangat berpengaruh besar terhadap kejadian diare balita. Balita dalam rumah tangga yang menggunakan sumur gali dengan jarak kurang dari 10 meter dari septic tank memiliki risiko 5,221 kali untuk menderita diare dibandingkan jika jarak ≥ 10 meter. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan atau sosialisasi tentang sarana sumur gali dengan septik tank yang memenuhi syarat. Jika kondisi lahan tidak memungkinkan maka perlu dikembangkan alternatif seperti septik tank komunal atau sistem IPAL terpusat oleh sektor terkait. Kata Kunci : Diare, balita, sanitasi
Read More
T-4405
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raden Nurilma Hidayatullah; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Upi Meikawati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu dan kondisi lingkungan rumah dengan kejadian tuberkulosis paru pada penduduk semua umur di Provinsi Banten Tahun 2018. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 17.846 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan Uji Chi-square.
Read More
S-10817
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cucu Irawan; Pemb: I. Made Djaja, Yovsyah; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Hendri, Juhandi
Abstrak:
Penyakit Tuberkulosis paru mempakan penyakit rnenular yang menjadi masalah kesehatan di dunia karena Mycobacterieum Tuberculosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Pa1da tahun 1993 WHO mencanangkan kcdaruratan Global penyakit Tuberkulosis, Balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai penyakit infeksi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Tuberkulosis Paru karena angka kcsakitan penyakit tersebut pada balita di Kota Bandung cukup tinggi yaitu 205 penderita dari 2374 penderita kasus di Kota Bandung. Panelitian ini bertujun untuk mengctahui hubungan faktor lingkungan fisik rumah dan karakterislik balita dcngan kejadian Tuberkulosis Paru pada balita di Kota bandung tahun 2007. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kasus kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 176 balita yang tcrdiri dari 88 balita Tuberkulosis Paru dengan gambaran klinis dan rdntgen (+) sebagai kasus dan 88 balita Tuberkulosis Paru dengan gambaran klinis dan rontgen Negatifsebagai kontrol. Data penelitian terdiri dari data primer yang diperoleh dengan wawancara dan pengukuran dan data sekunder dengan cara observasi dokumen. Hasil uji Chi-Square mcnunjukan bahwa teldapat beberapa variabei yang berhubungan bcrmakna secara statistik dengan kejadian Tuberkuiosis Paru pada balita yaitu status gizi, kontak penderita, pengetahuan, penghasilan, kebiasaan merokok, ventilasi, kepadatan hunian dan pencahayaan. Sedangkan berdasarkan hasil analisis regresi logisrjk diketahui bahwa variabel ventilasi merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis Paru pada balita di Kota Bandung Tahun 2007 (95CI:26,l26 dan 0R=26,l26). Dari hasil pemodelan variabel penelitian diketahui pula bahwa balita dengan status gizi bl.l.!1.lk, adanya kontak penderita, ventilasi yang tidak mcmenuhi syarat, kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat, dan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat mcmpunyai probabilitas terkena Tuberkulosis Paru sebesar 94% dibandingkan dengan balita yang tidak mempunyai faktor resiko tersebut. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah Penyuluhan tcntang rumah sehat clan hygienisl untuk mencegah penularan Tuberkulosis Pam perlu ditingkatkan kepada masyarakat terutama anggota keluarganya yang positif menderita Taberkulosis Paru, dengan melibatkan tokoh masyamkat, serta lintas sektor lainnya.

TB lungs disease is contagious disease that becomes world health problem because Mycobacterium Tuberculosis has infected one-third world population. In 1993 WHO declared Global emergency of TBC disease. Baby is the most susceptible age group toward various infection diseases. One ofthe most suspicious diseases is TBC Lungs because of quite high disease rate on baby in Bandung City that is 205 patients from 2374 cases of patients in Bandung Regency. This research is aim to recognize relation of house physical environment factor and baby characteristic with TB lungs cases on baby in Bandung Regency year 2007. Research design is using case control design with total sample of 176 babies consist of 88 babies TB lungs with clinical description and x-ray (+) as cases and x-ray (-) as control. Research design consist of primary data that obtained by interview and assessment and secondary data by document observation. Data obtained analyzed with Chi-Square and logistic regression analysis to recognize relation between risk factor and TB lungs cases on babies. Chi-Square test result shows that there are variables significantly* related statistically with Tuberculosis lungs cases on babies that nutrition status, patient contact, knowledge, eaming, smoking habit, ventilation, residence density and lightning. While based on result of logistic regression analysis obtained that ventilation variable is the most dominant variable related with TB lungs cases on babies in Bandung Regency year 2007 (95 CI:26.l26 and 0R=26.l26). From result of research variable model recognized that babies with bad nutrition status, presented patient contact, disqualified ventilation, disqualified residence density and disqualified lightning has probability of infected TB lungs as much as 94% compared to babies with no factors mentioned above. Suggestion based on research result is Counseling toward healthy and hygiene housing to prevent TB lungs infection. It need improved to public especially family members that positively infected TB lungs, by involving public figure and other cross sector.
Read More
T-2580
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melisa Anindita Rahmawati; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Helda, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Pendahuluan: Diare merupakan penyakit pembunuh kedua pada balita dengan prevalensi sebesar 14,3 dan berpotensi terjadi Kejadian Luar Biasa KLB di Indonesia. Lebih dari 100.000 balita meninggal akibat diare dengan estimasi hilangnya biaya ekonomi sebesar Rp. 7,2 Triliun.
 
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Indonesia berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia SDKI 2012.
 
Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Populasi studi pada penelitian ini adalah seluruh balita Indonesia usia 0-59 bulan pada SDKI 2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kemudian dilakukan sampling dengan metodesistem random sampling dengan jumlah sampel 5.961 balita.
 
Hasil: Prevalensi kejadian diare pada balita yang mengalami diare 2 minggu sebelum survei SDKI 2012 adalah sebesar 15,2 907 balita dan secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita 6-35 bulan POR: 1,977; 95 CI: 1,500-2,518; p 0,001, jenis kelamin POR: 1,298; 95 CI: 1,125-1,497; p 0,001, pendidikan ibu POR: 1,365; 95 CI: 1,180 ndash; 1,576; p 0,001 , sosial ekonomi menengah POR: 1,309; 95 CI: 1,064 ndash; 1,610; p 0,011, sosial ekonomi bawah POR: 1,623; 95 CI: 1,376 ndash; 1,913; p 0,001, sumber air minum POR: 1,326; 95 CI: 1,134-1,551; p 0,001, ketersediaan jamban POR: 1,424; 95 CI: 1,228-1,650; p 0,001, ketersediaan tempat cuci tangan POR: 1,248; 95 CI: 1,062-1,465; p 0,008, dan daerah tempat tinggal POR: 1,250; 95 CI: 1,085=1,440; p 0,002 dengan kejadian diare pada balita di Indonesia tahun 2012. Dalam menurunkan angka kejadian diare pada balita, perlu adanya kesadaran bersama baik pemerintah, petugas kesehatan, masyarakat, maupun orang tua dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat PHBS.
 

 
Introduction: Diarrhea is a second killer disease in under five children with a prevalence of 14,3 and have potential to outbreak in Indonesia. More than 100,000 under five children died from diarrhea with an estimated loss of economic costs of 7.2 Trillion Rupiah.
 
Objective: This study aims to determine factors are related to diarrhea occurrence among under five children in Indonesia based on data Indonesia Demographic and Health Survey IDHS 2012.
 
Method: This is a cross sectional study with study population were all Indonesian under five children 0 59 months in SDKI 2012 that meet the criteria of inclusion and exclusion. Then sampling by simple random sampling method with the number of sample is 5.961 responden.
 
Results: The prevalence of diarrhea occurrence in under fives with diarrhea 2 weeks before survey was 15.2 907 and there was a statistically significant relationship between age 6 35 months POR 1,977 95 CI 1,500 ndash 2,518 p 0,001, sex POR 1,298 95 CI 1,125 ndash 1,497 p 0,001, maternal education POR 1,365 95 CI 1,180-1,576 p 0,001, middle socioeconomic POR 1,309 95 CI 1,064-1,610 p 0,011, low socioeconomic POR 1,623 95 CI 1,376 ndash 1,913 p 0,001, drinking water source POR 1,326 95 CI 1,134 ndash 1,551 p 0,001, latrine availability POR 1,424 95 CI 1,228 ndash 1,650 p 0,001, handwasher availability POR 1,248 95 CI 1,062 ndash 1,465 p 0,008, and residence area POR 1,250 95 CI 1,085-1,440 p 0,002 on the incidence of diarrhea among under five children in Indonesia 2012. To decreasing the incidence of diarrhea among under five children, need a common awareness of government, health workers, community, and parents to improving sanitation and healthy life.
Read More
S-9764
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Endah Kusumowardani, Ikke Yuniherlina
Abstrak:
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia. Paparan polusi udara rumah tangga, khususnya dari bahan bakar memasak yang menghasilkan asap, serta paparan asap rokok diduga berperan dalam meningkatkan risiko kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara polusi udara rumah tangga dan paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia pada balita di Indonesia.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan pada balita usia 12–59 bulan dengan variabel dependen kejadian pneumonia, serta variabel independen utama berupa bahan bakar memasak dan paparan asap rokok. Variabel kovariat dipilih berdasarkan nilai    p < 0,25 pada analisis bivariat dan pertimbangan teoritis. Analisis data dilakukan secara bertahap menggunakan regresi logistik berganda dengan pendekatan survei (svy) untuk mengontrol variabel perancu serta menguji interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia pada balita sebesar 1,92%. Pada analisis bivariat, penggunaan bahan bakar memasak yang menghasilkan asap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,64; p = 0,030). Pada analisis multivariat model akhir, bahan bakar memasak tetap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,65; p = 0,027). Selain itu, status gizi akut (wasting) juga berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,41; 95% CI: 1,04–1,91; p = 0,028). Paparan asap rokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan baik pada analisis bivariat (OR = 0,86; p = 0,215) maupun multivariat (OR = 1,22; p = 0,306), namun ditemukan adanya efek modifikasi oleh status imunisasi (p = 0,037), dengan efek protektif imunisasi lengkap terhadap dampak paparan asap rokok. Tidak ditemukan interaksi bermakna antara asap rokok dengan variabel lain. Variabel lain seperti jenis kelamin, usia balita, pendidikan ibu, dan status ekonomi menunjukkan hubungan yang bervariasi, dengan sebagian tetap signifikan dalam model akhir. Meskipun tidak ditemukan variabel confounder berdasarkan kriteria perubahan OR ≥ 10%, seluruh variabel tetap dipertahankan berdasarkan pertimbangan statistik dan teoritis. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian pneumonia pada balita bersifat multifaktorial, dengan faktor utama yang berperan adalah bahan bakar memasak dan status gizi akut. Efek bahan bakar memasak juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pendidikan ibu, sementara paparan asap rokok tidak berhubungan langsung dengan kejadian pneumonia namun dipengaruhi oleh status imunisasi sebagai efek modifikasi. Upaya pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada pengendalian polusi udara rumah tangga, pengurangan paparan asap rokok, perbaikan status gizi, serta penguatan program imunisasi dan edukasi kesehatan.

Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Household air pollution, particularly from smoky cooking fuels, and secondhand smoke exposure are suspected risk factors. This study aims to analyze the relationship between household air pollution and secondhand smoke exposure with pneumonia incidence among toddlers in Indonesia. Using a cross-sectional design, this study analyzed secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) focusing on children aged 12–59 months. Data were analyzed using multiple logistic regression with a survey (svy) approach. The results showed a pneumonia prevalence of 1.92%. Bivariate analysis indicated that smoky cooking fuels were significantly associated with pneumonia (OR = 1.30; 95% CI: 1.03–1.64; p = 0.030). In the final multivariate model, cooking fuel remained significant (OR =1.30; 95% CI: 1.03–1.65; p = 0.027), alongside acute nutritional status/wasting (OR = 1.41; 95% CI: 1.04–1.91; p = 0.028). Secondhand smoke exposure showed no direct significant association in bivariate (OR = 0.86; p = 0.215) or multivariate analysis (OR = 1.22; p = 0.306). However, immunization status acted as a significant effect modifier (p = 0.037), providing a protective effect against smoke exposure. Other variables such as gender, age, maternal education, and economic status showed varying associations. In conclusion, pneumonia incidence is multifactorial, primarily driven by cooking fuel and nutritional status. The impact of cooking fuel is influenced by maternal education, while the effect of smoke exposure is modified by immunization. Prevention efforts should focus on controlling household air pollution, reduced exposure to cigarette smoke, improving nutrition, and strengthening immunization and health education programs.
Read More
T-7506
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kezia Andini Bu'ulolo; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Trisari Anggondowati, Holisoh
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksius yang menjadi masalah kesehatan masyarakat baik secara global, maupun secara nasional. Kelompok balita adalah salah kelompok paling rentan terhadap penyakit ini. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi keluarga karena ketergantungan balita pada orang tua mereka. Meskipun begitu, masih didapatkan inkosistensi penemuan mengenai signifikansi variabel-variabel tersebut terhadap kejadian ISPA pada balita. Peneliti bermaksud untuk mengetahui hubungan faktor kondisi keluarga dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menurut SKI tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi potong lintang atau cross-sectional dan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan chi-square. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa 6,3% balita didiagnosis dengan ISPA. Persentase ISPA terbesar ditemukan pada balita berumur 0-24 bulan (7,3%), balita dengan riwayat BBLR (8,8%), balita dengan status imunisasi tidak lengkap (10,8%), balita dengan ibu yang tidak bekerja (6,5%), balita dengan ayah perokok (8,1%), dan balita dengan ayah yang merokok di rumah (12,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa balita dengan status imunisasi yang tidak lengkap memiliki kemungkinan 2,8 kali untuk mengalami ISPA (POR: 2,8, 95% CI: (0,92 – 8,47)). Selain itu, balita dengan ayah yang merokok di rumah memiliki kemungkinan 1,9 kali untuk mengalami ISPA (POR:1,9, 95% CI: (0,71 – 5,13)). Uji statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan, kemungkinan dipengaruhi oleh kecilnya sampel karena missing data. Perlunya ada intervensi berkaitan dengan status imunisasi yang tidak lengkap dan perilaku merokok ayah untuk mencegah ISPA pada balita secara efektif, sekaligus peningkatan kualitas data untuk meningkatkan kekuatan statistik penelitian selanjutnya.

Acute Respiratory Infections (ARIs) are infectious diseases that pose a public health problem both globally and nationally. Toddlers are among the groups that are most vulnerable to this diseases. Said vulnerability is influenced by various factors, one of which is the family conditions due to the toddler’s dependence on their parents. However, findings regarding the significance of these variables among toddlers remain incosistent. The researchers aimed to determine the association between family circumstances and the incidence of ARI among toddlers in DKI Jakarta based on data from SKI 2023. This study uses a cross-sectional design through univariate and bivariate methods and uses chi-square tests. Based on the results, it was found that 6,3% of toddlers were diagnosed with ARI. The highest percentage of ARI cases was found among toddlers aged 0-24 months (7,3%), toddlers with a history of low birth weight (8,8%), toddlers with incomplete immunization status (10,8%), toddlers whose mothers were not employed (6,5%), toddlers whose fathers smoked (8.1%), and toddlers whose fathers smoked at home (12,7%). Results of the bivariate analysis showed that infants with incomplete immunization were 2,8 times more likely to develop ARI (POR: 2,8, 95% CI: (0,92 – 8,47)). Additionally, toddlers with fathers who smoked at home were 1,9 times more likely to develop ARI (POR:1,9, 95% CI: (0,71 – 5,13)). Statistical tests showed non-significant results, likely influenced by the small sample size due to missing data. Interventions addressing incomplete immunization status and fathers’ smoking behavior are needed to effectively prevent ARI in toddlers, along with improvements in data quality to enhance the statistical power of future studies.
Read More
S-12313
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Myranda Zahrah Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Diare adalah penyakit infeksi saluran pencernaan dengan kondisi BAB lebih dari tiga kali dalam sehari disertai konsistensi tinja yang cair. Prevalensi diare pada balita di Indonesia tahun 2017 yaitu 14,3%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor pejamu dan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Indonesia tahun 2017. Desain penelitian berupa analitik potong-lintang dengan menggunakan data sekunder dari SDKI 2017. Sampel penelitian ini adalah seluruh balita usia 0-59 bulan di Indonesia yang menjadi sampel dalam SDKI 2017. Variabel independen penelitian mencakup faktor pejamu yang terdiri dari usia, berat badan lahir, status imunisasi campak, suplementasi Vitamin A dan perilaku cuci tangan serta faktor lingkungan yang terdiri dari fasilitas jamban dan sumber air minum. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian diare pada balita. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor pejamu yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita adalah usia (p=0,000; 95% CI=1,92-2,72); status imunisasi campak (p=0,004; POR=1,17; 95% CI=1,05-1,32); ASI Eksklusif (p=0,000; POR=1,39; 95% CI=1,231,58) dan suplementasi Vitamin A (p=0,000; POR=1,37; 95% CI=1,24-1,52).
Read More
S-9937
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hariyanto; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Nuning Nugrahini, Didik Supriyono
T-4306
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive