Ditemukan 39708 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Elvida Rosyita; Pembimbing: Indang Trihandini
S-3656
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ade Nurlina; Pembimbing: I Made Djaja
S-2993
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulia Desmon; Pembimbing: Luknis Sabri
S-2563
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sofia; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan ketiga dikelurahan Utan Kayu Utara. Wilayah tersebut merupakan sentra industri tahu yang seluruhnya menggunakan bahan bakar kayu sehingga berisiko tinggi terhadap pencemaran udara dan pengaruhnya kepada kejadian ISPA. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik dan karakteristik pekerja terhadap hubungannya dengan kejadian ISPA. Jumlah pekerjayang mengalami ISPA 39 orang (39%). Hasil penelitian menunjukkan pada atap,ventilasi, kelembaban, pencahayaan p=1,000, suhu p=0,999, umur p=0,307,kebiasaan merokok p=0,372 dan masa kerja p=0,254. Tidak terdapat hubungan antara lingkungan fisik dengan kejadian ISPA pada pekerja.
Kata kunci : Lingkungan Fisik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut, Industri Tahu
Acute respiratory tract infections (RESPIRATORY) is the third health problems invillage Utan Kayu Utara. The region is the industrial centers of tahu who are all usingfuel wood that high risk of air pollution and its effects to the occurrence ofRESPIRATORY. The study design used is cross sectional to know the relationship ofthe physical environment and the characteristics of the workers against theassociation with RESPIRATORY. The number of workers who are havingRESPIRATORY 39 people (39%). The results showed on the roof, ventilation,humidity, lighting p = 1.000, temperature p=0.999, aged p=0,307, smoking p=0,372and working period p=0,254. There is no relationship between the physicalenvironment with the occurrence of RESPIRATORY on workers.
Keywords: Physical Environment, Acute Respiratory Infections, Tahu Industry
Read More
Kata kunci : Lingkungan Fisik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut, Industri Tahu
Acute respiratory tract infections (RESPIRATORY) is the third health problems invillage Utan Kayu Utara. The region is the industrial centers of tahu who are all usingfuel wood that high risk of air pollution and its effects to the occurrence ofRESPIRATORY. The study design used is cross sectional to know the relationship ofthe physical environment and the characteristics of the workers against theassociation with RESPIRATORY. The number of workers who are havingRESPIRATORY 39 people (39%). The results showed on the roof, ventilation,humidity, lighting p = 1.000, temperature p=0.999, aged p=0,307, smoking p=0,372and working period p=0,254. There is no relationship between the physicalenvironment with the occurrence of RESPIRATORY on workers.
Keywords: Physical Environment, Acute Respiratory Infections, Tahu Industry
S-7578
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Supardjo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-2061
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ananta Rahayu; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, I Made Djaja; Penguji: Dewi Susanna, Wan Alkadri, Erwan Hidayat
T-2434
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mimi Karminingsih; Pembimbing: Dewi Susanna
S-2616
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rini Handayani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ririn Arminsih, Edy Hariyanto, Ely Setyawati
Abstrak:
Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Bengkulu tahun 2015 menyebabkan adanyapencemaran udara baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal ini juga mengakibatkanmeningkatnya kejadian ISPA pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada balitadi Kota Bengkulu saat kebakaran hutan tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalahcase control. Kasus merupakan balita yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan dan didiagnosamenderita ISPA dan kontrol adalah dua balita tetangga kasus yang ditemui pertama kali.
Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis atap (OR: 2,79; 95% CI: 1,36-5,69), ventilasi (OR: 2,60; 95%CI: 1,39-4,84), kepadatan hunian (OR: 2,14; 95% CI: 1,07-4,28), dan asap bahan bakar memasak(OR: 4,14; 95% CI: 1,56-10,9) memiliki hubungan yang kuat terhadap ISPA. Jadi, ada hubunganantara kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada Balitasetelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Kata kunci:ISPA, Faktor Lingkungan, Balita, Kebakaran Hutan
Read More
Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis atap (OR: 2,79; 95% CI: 1,36-5,69), ventilasi (OR: 2,60; 95%CI: 1,39-4,84), kepadatan hunian (OR: 2,14; 95% CI: 1,07-4,28), dan asap bahan bakar memasak(OR: 4,14; 95% CI: 1,56-10,9) memiliki hubungan yang kuat terhadap ISPA. Jadi, ada hubunganantara kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada Balitasetelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Kata kunci:ISPA, Faktor Lingkungan, Balita, Kebakaran Hutan
T-4727
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amran Buana; Pembimbing: Sandra Fikawati, Diah M. Utari
T-1991
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zihan Kamila Maharani; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Indry Octavia
Abstrak:
Read More
Penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit masih banyak ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kebersihan diri yang rendah, termasuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan pada warga binaan LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 31 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara lama masa tinggal dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan, diare, dan ISPA (p≤0,05). Disarankan adanya peningkatan edukasi terkait kebersihan diri dan perbaikan sanitasi lingkungan di LPKA guna menurunkan risiko penyakit.
Environmental-based diseases are often found in environments with poor sanitation and low personal hygiene, including in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). This study aims to examine the relationship between personal hygiene, environmental sanitation conditions, and housing density with the incidence of environmentally based diseases among the residents of LPKA Kelas II Jakarta. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 participants selected using a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, and analyzed using the chi-square test. The results showed a significant relationship between length of stay and the incidence of environmentally based diseases, including diarrhea and acute respiratory infections (p≤0.05). It is recommended to enhance education on personal hygiene and improve environmental sanitation in LPKA to reduce disease risk.
S-11916
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
