Ditemukan 15227 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tri Saptono; Pembimbing: Sumengen Sutomo; Penguji: Rachmadi Purwana, Junediyono
4202
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tri Saptono; Pembimbing: Sumengen Sutomo; Penguji: Rachmadhi Purwana, Junediyono
S-4202
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Joko Warsito; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Sussana, Muhadi
S-5690
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Indah Iriana; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Yulia fitria
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang bisa menimbulkan kematian di Indonesia. Salah satu wilayah Puskesmas di Banyuwangi yang mengalami peningkatan kasus DBD tahun 2022 yang signifikan adalah Puskesmas Purwoharjo yakni lebih dari 7 kali lipat. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit DBD yakni dengan mengendalikan pertumbuhan jentik yakni melalui program Pemberantsan Sarang Nyamuk 3M Plus. Untuk mengetahui apakah program PSN berjalan dibutuhkan evaluasi. Tujuan : Mengevaluasi program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Demam Berdarah di Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluasi CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) dengan pemilihan informan penelitian menggunakan metode purposive sampling serta pengambilan data menggunakan metode telaah dokumen, observasi, dan wawancara yang akan divalidasi dengan triangulasi. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan fisik, termasuk masyarakat dan kebersihan lingkungan, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap program pemberantasan sarang nyamuk di lokasi pedesaan. Tujuan program ini sesuai dengan petunjuk teknis Kementerian Kesehatan, dengan sasaran utama program adalah masyarakat. Meskipun input petugas yang terlibat sudah mencukupi untuk menjalankan program ini dan dana berasal dari bantuan operasional kesehatan, anggaran yang ada belum secara spesifik dialokasikan untuk program pemberantasan sarang nyamuk. Meskipun sarana dan prasarana yang digunakan sudah cukup, namun belum ada standar operasional prosedur yang ditetapkan. Proses pemilihan kader jumantik dilakukan secara langsung dengan hambatan tugas yang tumpeng tindah, sedangkan penyuluhan kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas. Pemberantasan jentik nyamuk terkendala oleh kurangnya kesadaran masyarakat, dan pencatatan jentik oleh masyarakat belum terlaksana karena kurangnya sosialisasi dan peraturan yang mengikat. Selain itu, cakupan pemeriksaan rumah dan Angka Bebas Jentik (ABJ) belum memenuhi target sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu, diharapkan agar Puskesmas Purwoharjo dapat meningkatkan koordinasi, partisipasi, dan pemberdayaan kepada masyarakat guna mencapai optimalisasi program ini.
Background: Dengue fever (DF) remains a public health problem in Indonesia that can lead to fatalities. One of the areas served by a Community Health Center (Puskesmas) in Banyuwangi that experienced a significant increase in DF cases in 2022 is Puskesmas Purwoharjo, which saw a seven-fold rise. One way to control DF is by managing mosquito breeding sites through the 3M Plus Mosquito Nest Eradication Program. An evaluation is needed to assess the implementation of the DF Mosquito Nest Eradication Program (PSN) in Puskesmas Purwoharjo, Banyuwangi Regency. Objective: To evaluate the DF Mosquito Nest Eradication Program (PSN) in Puskesmas Purwoharjo, Banyuwangi Regency. Method: This study employed a qualitative research design with the CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) evaluation approach. The selection of research informants was done using purposive sampling, and data were collected through document review, observation, and interviews, which were validated through triangulation. Results: The findings of this study indicate that the social and physical environment, including the community and environmental hygiene, significantly influence the mosquito nest eradication program in rural areas. The program's objectives align with the technical guidelines provided by the Ministry of Health, with the primary target being the community. Although the input of the involved personnel is sufficient to carry out the program and funding comes from operational health assistance, there is no specific budget allocated for mosquito nest eradication. While the facilities and infrastructure are adequate, there is a lack of established standard operating procedures. The selection process of jumantik cadres is done directly, with the challenge of overlapping duties. Health education is conducted by Puskesmas personnel. The eradication of mosquito larvae is hindered by the community's lack of awareness, and the recording of larvae by the community has not been implemented due to insufficient socialization and binding regulations. Additionally, the coverage of house inspections and the Larval-Free Index (LFI) have not met the targets set by the Ministry of Health. Therefore, it is hoped that Puskesmas Purwoharjo can improve coordination, participation, and community empowerment to optimize the program's effectiveness.
S-11409
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kessa Ikhwanda; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Puput Oktamianti, Yahiddin Selian
Abstrak:
skripsi ini membahas tentang evaluasi penyelenggaraan sistem surveilans migrasi di kantor kesehatan pelabuhan kelas III sabang. jenis penelitian ini adalah kualitatif untuk mengetahui gambaran komponen input, proses dan output dari pelaksanaan program. data penelitian ini diperoleh melalui wawancara terhadap informan kunci yang merupakan tenaga kesehatan yang terlibat dalam program tersebut yaitu Kepala KKP, Kepala Seksi PRL&KLW, Pelaksana JFT Entomolog Kesehatan, dokter, Perawat, dan Tenaga LAB. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih adanya evaluasi terkait dengan komponen input dan juga proses dalam pelaksanaan. saran untuk ke depan perlu diadakannya penyediaan tenaga yang mumpuni, pelatihan spesifik, kerjasama lintas sektor, dan juga pengembangan penelitian lebih lanjut.
Read More
S-9635
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rangga Putra Firnadi; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Zakianis, Agung
S-6178
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mayumi Nitami; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami, Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Hamdani, Intan Widaya
T-4646
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Khansa; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Dewi Susanna, Uli Tiarma Sinaga
Abstrak:
Read More
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan menghasilkan limbah baik limbah medis dan non-medis. Data WHO menyatakan sebanyak 15% limbah yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan kesehatan adalah limbah medis/B3 yang bersifat infeksius, toksik, dan radioaktif. Apabila limbah medis B3 tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan risiko penyebaran penyakit dan pencemaran lingkungan sekitar. Di Indonesia, masih banyak fasyankes termasuk rumah sakit yang tidak melakukan pengelolaan limbah medis sesuai dengan standarnya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan limbah medis padat yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Daerah di wilayah Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus, untuk mengetahui gambaran secara mendalam dan komprehensif dari rumah sakit dalam kegiatan pengelolaan limbah medis padat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara langsung ke rumah sakit. Hasil penelitin menunjukkan secara umum, limbah medis yang dihasilkan di empat RSUD di wilayah Kabupaten Bogor, berupa limbah infeksius, patologis, farmasi, kimia, dan sitotoksik yang berasal dari instalasi pelayanan kesehatan rumah sakit dengan total timbulan yang dihasilkan perbulan sekitar 4000-11000 Kg di empat rumah sakit tersebut. Selain itu, rumah sakit dalam penelitian ini telah melakukan pengelolaan limbah medis padat sesuai Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P56 Tahun 2015 dengan persentase, yaitu RSUD Cileungsi sebesar 75%, RSUD Ciawi sebesar 83,78%, RSUD Leuwiliang sebesar 80,55%, dan RSUD Cibinong sebesar 86,84%. Namun, masih terdapat beberapa kegiatan yang masih belum memenuhi standar peraturan tersebut, yaitu terdapat rumah sakit yang tidak memiliki label dan simbol pada wadah limbah medis dan alat angkut, tidak melakukan kegiatan reuse dan recycle, pengangkutan antara limbah medis dan non-medis tidak dilakukan terpisah, tidak dilakukan pembersihan alat angkut dan TPS B3 setiap hari, fasilitas di TPS B3 yang tidak memenuhi syarat, waktu penyimpanan limbah infeksius yang lebih dari dua hari, dan terdapat petugas limbah yang belum mendapatkan pelatihan pengelolaan limbah medis. Untuk itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap kegiatan pengelolaan limbah medis yang dilakukan rumah sakit dan menyediakan sarana dan prasarana yang lebih baik dan memadai.
Hospitals are one of the healthcare facilities that produce waste, both medical waste and non-medical waste. WHO data states that 15% of the waste generated from health service facilities is medical waste which is infectious, toxic and radioactive. If medical waste is not managed correctly, it can result in the risk of spreading diseases and pollution of the surrounding environment. In Indonesia, there are still many healthcare facilities, including hospitals, that do not manage medical waste according to the standards. For this reason, this study aims to evaluate solid medical waste management in the Regional Public Hospital in Bogor Regency area. This study uses a case study design, to find out an in-depth and comprehensive description of the hospital in solid medical waste management activities. Data collection was carried out through direct observation and interviews at the hospital. The results showed that in general, medical waste generated in four regional public hospitals in the Bogor Regency are infectious, pathological, pharmaceutical, chemical and cytotoxic waste that derived from all health service installations with a total amount of waste generation in that four hospitals around 4000-11000 Kg. In addition, the hospital in this study has carried out solid medical waste management in accordance with Ministry of Environment and Forestry Regulation No. P56 of 2015 with the proportion of Cileungsi Hospital is 75%, Ciawi Hospital is 83.78%, Leuwiliang Hospital is 80.55%, and Cibinong Hospital is 86.84%. However, there are still several activities that do not meet the regulatory standards, namely there are hospitals that do not have labels and symbols on medical waste containers and transportation equipment, do not apply reuse and recycle activities, transport between medical and non-medical waste is not carried out separately, the transportation equipment and the hazardous waste temporary storage are not cleaned every day, the facilities at the hazardous waste temporary storage do not meet the requirements, the storage time for infectious waste is more than two days, and there are waste officers who have not received medical waste management training. For this reason, it is necessary for the hospitals to improves medical waste management activities and provide better and more adequate facilities and infrastructure.
S-11261
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prisilia Oktaviyani; Pembimbing: Budi Hartono, Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Lukman Hakim; Vissia Didin Ardiyani
Abstrak:
Malaria is a disease caused by the Plasmodium parasite and is transmitted by the Anopheles mosquito. Malaria is one of the health problems faced by Indonesia and the world. So that efforts to eradicate malaria are included in one of the goals of the Sustainable Development Goals (SDGs). This study aims to determine the relationship of environmental and population factors to the incidence of malaria in Kapuas District. This study used ecological methods carried out in 17 sub-districts in Kapuas District in 2013 - 2017. The data used in this study were secondary data obtained from relevant agencies, namely the Kapuas District Health Office, Kapuas Regency Central Bureau of Statistics and BMKG Palangkaraya. The independent variables in this study were topography, rainfall, water area, distribution of bed nets, and population density. For the dependent variable is the incidence of malaria. The results of the analysis show that environmental variables, namely topography, rainfall, water area, and population distribution and population variables, namely population density are significantly associated with malaria incidence in Kapuas District in 2013-2017 (p value <0.1). The results of the analysis also showed positive relationships between the topographic, water, and netting distributions with the incidence of malaria. While the rainfall and population density variables showed a negative relationship to the incidence of malaria. Preventive efforts need to be made to prevent the incidence of malaria in the Kapuas Regency, such as maximizing the distribution of mosquito nets to spray in transmigrant homes, providing larvacides and strengthening malaria baseline data by mapping.
Key words: Malaria, Environmental Factors, Demography Factor
Read More
Key words: Malaria, Environmental Factors, Demography Factor
T-5480
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eli Winardi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Dewi Susanna
T-1914
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
