Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34521 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Susanti, Imelda; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
S-2559
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nugraha Puteraniasa; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Hanny Harjulianti
S-6651
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selli Sriyama; Pembimbing: Erwandi, Dadan; Siregar, Ramadansyah
L-225
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M Daveny Soufyan; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Tata Soemitra, Farida Tusafariah
Abstrak:

The International Agency for Research on Cancer (IARC) estimates that in year 2020 the rate of new cancer cases will increase up to 300% to an estimated 27 million people with 17 million estimated to die. At that time, there will be approximately 75 million people in the world who suffer from cancer where 70% of the cancer patients will be from developing countries. With the increasing amount of cancer patients throughout the world, the usage of radiotherapy will also increase. In reality, although the process has been very tightly controlled and supervised, accidents caused by an overdose of radiation exposure still occurs. From a number of radiation accidents, it has been found that the cause is not only due to technical factors, but that planning and administration also plays a role. This factor will be magnified with the increasing work load the radiotherapy operators have to handle with the total patients exceeding the capacity of the available equipment. The purpose of this research is to develop a work health and safety program at XYZ hospital, not only for the safety of the radiation technicians (occupational exposure) and public safety (public exposure) but also and especially for the patients safety (medical exposure). The development of the program is done by identifying all the dangers as well as conducting a risk analysis on each step of the process of providing radiotherapy services. To get an overall picture of the implementation of the health management and safety system, the evaluation is made against the OHSAS 1800:2007 and the IAEA Safety Requirement GS-R-3. Based on the risk analysis and the "gap" analysis with OHSAS 18002:2007 and the IAEA GS-R-3, to reduce the risks identified, the risk management recommendations made are more for the procedural management as well as the continuous development of the manpower competency.


Berdasarkan estimasi dari International Agancy for Research on Cancer (IARC) diperkirakan pada tahun 2020, kasus baru penyakit kanker akan meningkat hingga mencapai 300% yaitu sekitar 27 juta penderita dengan jumlah kematian sekitar 17 juta jiwa. Pada saat itu didunia akan terdapat sekitar 75 juta orang yang menderita penyakit kanker dimana 70 % dari penderita kanker tersebut akan terjadi dinegara yang sedang berkembang. Dengan meningkatnya jumlah penderita kanker diseluruh dunia maka jumlah pemanfaatan terapi radiasi juga semakin meningkat. Tapi kenyataannya, walaupun pengendalian dan pengawasan telah dilakukan dengan sangat ketat, kecelakaan yang disebabkan oleh paparan radiasi disebabkan dosis yang berlebih terhadap pasien masih tetap saja terjadi. Dari beberapa kasus kecelakaan radiasi, faktor penyebabnya tidak saja desebabkan oleh faktor teknis, faktor perencanaan maupun administrasi juga mempunyai peran. Faktor ini akan bertambah lagi dengan beban kerja operator radioterapi dalam menangani pasien yang jumlahnya melebihi kapasitas peralatan yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu program kesehatan dan keselamatan kerja di RS XYZ tidak saja untuk keselamatan pekerja radiasi (occupational exposure), keselamatan publik (public exposure) tetapi juga yang terutama untuk keselamatan pasien (medical exposure). Pengembangan program tadi dilakukan dengan mengidentifikasi seluruh bahaya yang ada dalam proses pelayanan radioterapi beserta kajian risiko untuk mengetahui level bahaya dari setiap tahap kegiatan. Evaluasi sistem yang ada juga dilakukan terhadap standar OHSAS 18001:2007 maupun IAEA Safety Requirement GS-R-3 untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dari penerapan sistem manajemen kehatan dan keselamatan kerja. Dari hasil analisa Risiko dan hasil evaluasi OHSAS 18001:2007 dan Standard IAEA GS-3-R, dalam hal mengurangi risiko radiasi yang telah diidentifikasi, maka usulan pengendalian risiko lebih banyak diusulkan pada pengendalian secara prosedural disertai pengembangan kompetensi sumber daya manusia secara terus menerus.

Read More
T-3030
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Armatul Marhamah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Tubagus Hedi Saepudin
Abstrak: Skripsi ini membahas aplikasi kesehatan kerja yang sudah dilakukan oleh PT.Bridgestone Tire Indonesia Bekasi pada tahun 2012 yang dibandingkan denganKemenkes nomor 1758 tahun 2003 dan Kep Dirjen P2K nomor 22 tahun 2008.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan disain deskriptif. Hasil penelitianmenyarankan bahwa PT. Bridgestone Tire Indonesia Bekasi harus melakukanpengukuran lingkungan kerja selama 8 jam terutama pada pengukuran kebisingandan kuallitas udara; melakukan test Spirometri pada pekerja area Banbury, FinalInspection dan Tube; harus menambah pelatihan P3K sebanyak 6 orang; harusmelakukan pemeriksaan kesehatan pra mutasi dan pra mutasi intern; harusmelakukan recruitment 1 orang dokter S2K3, 1 orang Perawat hiperkes, 1 oranglaborat, 1 orang industrial hygien; harus melengkapi peralatan seperti alat P3K,Komputer, buku panduan, personal dust sampler; juga harus membuat insidentrate penyakit akibat kerja (PAK) dan kecelakaaan kerja (KK), prevalensi ratePAK dan KK, serta angka absensi sakit akibat penyakit umum, PAK dan kecelakaan kerja.Kata kunci : Kesehatan kerja, penyakit akibat kerja, kecelakaaan kerja
This minithesis discusses the application of occupational health that have beenconducted by PT. Bridgestone Tire Indonesia Bekasi in 2012 compared withDecision of the Health Ministers No. 1758 of 2003 and Decision of the DirectorGeneral of Labour Inspection Guidance No. 22 of 2008. This research is aqualitative descriptive design. The results suggest that PT. Bridgestone TireIndonesia Bekasi have to take measurements for 8 hours of work environments,especially in the measurement of noise and air quality, perform spirometry test inBanbury area workers, Final Inspection and Tube, should add as many as 6 peopleFirst Aid training, need a medical examination pre-mutation and pre-mutationinternal, should do recruitment 1 Physician with Magister Of Occupational Healthand Safety, 1 Nurse with training of Hiperkes, 1 lab, 1 industrial hygienist, mustcomplete tools such as First Aid equipment, computers, manual of occupationalhealth services, personal dust sample, should also make insident rate ofoccupational diseases and occupational accidents, the prevalence rate ofoccupational diseases and occupational accidents, as well as the number ofsickness absence due to common diseases, occupational diseases and occupationalaccidents.Key Word:Occupational health, occupational diseases, occupational accidents
Read More
S-7647
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusni Adiniah; Pembimbing: Sjaff, Ridwan Z.
M-2191
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mieke Agustin; Pembimbing: Peter A.W. Pattinama; Penguji: Anwar Hasan, Endang Suryatno, Bob Susilo Kusumobroto
Abstrak:
Promosi Kesehatan adalah upaya pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. Program unggulan promosi keehatan adalah PHBS yang mencakup lima tatanan diantaranya tatanan Institusi Kesehatan yang disebut PKRS, dengan sasaran masyarakat rumah sakit dan lingkungan sekitarnya. Tujuan PKRS adalah mengembangkan pemahaman pasien dan keluarganya tentang penyakit yang diderita serta hal-hal yang perlu dilakukan oleh keluarganya, dalam membantu penyembuhan dan mencegah terserang kembali oleh penyakit yang sama. Apabila dilaksanakan dengan baik PKRS dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu dan citra pelayanan kesehatan. PK Saint Carolus merupakan salah satu rumah sakit swasta tipe utama yang telah melaksanakan program PKRS, dirintis sejak tahun 1991 hingga saat ini, namun pelaksanaannya masih dalam pembenahan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, dengan menggunakan metode wawancara mendalam, FGD dan analisa data sekunder. Dengan informan penentu kebijakan, ketua pelaksana PKRS, koordinator bidang, petugas di rawat inap dan pasien. Hasil dan Kesimpulan dari penelitian dapat diketahui bahwa: Jumlah tenaga PKRS di PK Saint Carolus untuk tingkat rumah sakit berjumlah 15 orang dan cukup memadai, dengan pendidikan minimal S1 di Bidang Kesehatan dan telah mengikuti lokalatif tentang PKRS. Selain sebagai panitia PKRS, seluruhnya telah mempunyai tugas pokok dan fungsi utama. Untuk PKRS tingkat pasien, petugas belum terlatih dan jumlahnya dirasa masih perlu ditambah. Dana untuk pelaksanaan PKRS dibebankan pada anggaran Direksi P.K. Saint Carolus. Sarana dan prasarana, telah ditetapkan SK Panitia PKRS dan telah tersedia ruang sekretariat, lengkap dengan peralatan meja, kursi, lemari buku, media cetak dari beberapa sumber, komputer, OHP, Wireless, VCD berada di Unit kebidanan serta multimedia berada di biro direksi, box-box PKRS terletak di setiap bidang. Televisi yang ada disetiap ruang tunggu dan ruang perawatan belum digunakan secara maksimal. Perencanaan kegiatan PKRS, menggunakan sistem bottom up, yaitu unit-unit kerja membuat rencana kemudian dibicarakan dengan seluruh panitia dan diusulkan kepada Direksi. Pengorganisasian PKRS dalam bentuk kepanitiaan, dilengkapi dengan uraian tugas yang belum dapat dilaksanakan sepenuhnya, PKRS di unit perawatan dilakukan secara perorangan antara petugas dan pasien, jarang diadakan penyuluhan kelompok, kecuali unit kebidanan. Di tingkat Rumah Sakit PKRS dilaksanakan berupa penyuluhan, seminar, lokalatif dan telah direncanakan studi banding PKRS di RS Dr. Soetomo Surabaya. Belum pernah dilakukan tindak lanjut penilaian/evaluasi, baik dari manajemen RS, Depkes. maupun Dinkes provinsi DKI. Langkah-langkah pengelolaan kegiatan PKRS, jika dilihat dalam buku Panduan Promosi Kesehatan, pada umumnya PKRS PK Sint Carolus telah melaksanakan sesuai tahapan. Saran penulis untuk meningkatkan kualitas PKRS di PKSC yaitu Sarana televisi agar dimanfaatkan lebih maksimal sebagai sarana PKRS dengan menambah alat berupa sentral audio, PKRS diusulkan mendapat dukungan dari pihak pengelola program yaitu Depkes khususnya Ditjen Yanmed dan Pusat Promosi Kesehatan serta rencana PKRS masuk sebagai salah satu komponen akreditasi RS supaya ditindak lanjuti. Bagi peneliti lain, agar bisa menindaklanjuti penelitian ini khususnya untuk pelaksanaan PKRS yang di luar rumah sakit.

Analysis on Implementation of Health Promotion in Hospital at Saint Carolus Health Service, Jakarta 2003Health Promotion is an empowerment effort of community in preserving, increasing, and protecting their health and environment. The prime program of health promotion is PHBS that covers 5 (five) arrangements: among others is Health Institution which called Health Promotion in Hospital (HPH), with the community of hospital and its surrounding as the targets. The objective of HPH is to develop the comprehension of patients and their families regarding the disease suffered and things that need to be done by the families themselves in helping the recovery and preventing the relapse condition of the same disease. If it is done well, HPH can give its contribution towards the increase of quality and health service image. Saint Carolus Health Service is one of prime-type private hospital that has conducted the program of HPH. It has begun in 1991 up to now; nevertheless the implementation is still in straightening-up. It is a qualitative research using in-depth interview method, FGD and secondary data analysis. By the informant of policy maker, the chief of Implementation HPH, the officers for hospital treatment, and patients. Based on the result and conclusion of this research, it can be found that: The amount of HPH officers at Saint Carolus is 15 people for the hospital level, which it is quite sufficient. The have minimum education of Master Degree majoring in health and have followed HPH training. Besides as committee of HPH, they all have had main duties and functions. For HPH in the patient level, the officers have not been trained yet, and the amount is felt need to be added. The budget for implanting HPH is from Saint Carolus Direction Board budget. The equipment and infrastructure have been determined in Decree Letter of HPH committee; they are a secretariat room which is completed with table, chairs, book shelf, printed-media from several sources, computer, OHP and wireless, VCD which is in obgin Unit, multimedia that is direction bureau, boxes HPH located in every field, and television that exists in each waiting room and nursery room used in maximal yet. The planning of HPH uses bottoms-up system which is each working units has made the plan that will be discussed next entire committee and will be proposed to the Direction. The organization of HPH is in the form of committee that is completed by the job description that has not been fully conducted. HPH in nursery unit is done personally between officer and patient. It is rarely done in-group expect for obgin unit. In the hospital level of HPH is done education, seminar, training and has been planned a comparison study on HPH at Dr. Soetomo Hospital in Surabaya. It has never been done an evaluation follow up from Ministry of Health (MOH), Hospital management or provincial Health Office of DKI. The organizing steps of HPH can be seen in the Health Promoting Guideline which Saint Carolus generally has been done based on its steps. The suggestion of the writer to increase the quality of HPH in Saint Carolus Health Service is the means of television is better to be used in maximal as the means of HPH by adding audio central. HPH is proposed to get support from program implementers which is MOH, especially Directorate General of Medical Service and Central of Health Promotion as well as the plan of HPH that is included as one of hospital accredited component so that it can be followed up next. Other researchers need to pay their attention in following up this research particularly the implementation of HPH that is done Outreach hospital.
Read More
T-1617
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransisca May Henita; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji; Hendra, Gunawan Widjaja, Suparlan Hadi
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan prinsip dasar dari pelayanan kesehatan yangmemandang bahwa keselamatan merupakan hak bagi setiap pasien dalammenerima pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan disain penelitian cross sectional yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sample 100 tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja tenaga kesehatan dalam upaya pelaksanaan program keselamatan pasien(patient safety). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja tenaga kesehatan dalam pelaksanaan program keselamatan pasien (patient safety) antara lain ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatankeamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,tepat-pasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan pengurangan risiko pasien jatuh sudah tercapai secara optimal. Kata kunci : Kinerja Tenaga Kesehatan, Keselamatan pasien.
Read More
T-4177
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Johny Sumbung; Pembimbing: I Made Djaja
S-757
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ami Kesumaningtyas; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Ridwan Zahdi Syaaf, Syahrul Efendi, Nur Ani
Abstrak: Di Indonesia masih banyak terdapat usaha informal yang belum memilliki aksesmendapatkan pelayanan kesehatan kerja. Permasalahan program kesehatan kerjaseringkali terjadi dikarenakan pergantian dokter puskesmas, kurangnyapengetahuan dari petugas dan kader kesehatan kerja. Di Kabupaten PesawaranPropinsi Lampung terdapat empat puskesmas yang menjadi percontohan programupaya kesehatan kerja dimana sudah diberikan pelatihan kepada dokter danpemegang program tentang kesehatan kerja serta sudah pernah dilakukanbimbingan teknis serta monitoring. Akan tetapi, program upaya kesehatan kerja dipuskesmas belum berjalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kendala apa sajayang ada dalam implementasi program upaya kesehatan kerja pada tahapperencanaan, pelaksanaan dan juga evaluasi.Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan fungsi manajemenmenggunakan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Informandalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran,Kepala Seksi Kesehatan Khusus dan Matra, Kepala Puskesmas, Pemegangprogram dan perwakilan dari sasaran. Hasil dari penelitian ini yaitu programupaya kesehatan kerja belum menjadi prioritas dikarenakan bukan merupakanprogram pokok di puskesmas namun ada juga yang mengemukakan bahwa tidakada perbedaan antara program prioritas dan program pengembangan. Masihkurangnya pengetahuan, jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalamprogram upaya kesehatan kerja. Dari segi anggaran, program upaya kesehatnankerja memiliki alokasi anggaran baik sehingga program upaya kesehatan kerjamasih terintegrasi dengan program kesehatan lain.Selain itu, program upaya kesehatan kerja juga tidak didukung oleh peralatanyang memadai serta tidak ada rencana kerja. Dan juga keterlibatan sasaran yangkurang aktif serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung dari sisi keamanan.Penelitian ini menyimpulkan bahwa program upaya kesehatan kerja di KabupatenPesawaran belum menjadi prioritas dikarenakan masuk kedalam programpengembangan dan belum diukung adanya sumber daya manusia yang memadai,tidak ada alokasi anggaran, tidak ada peralatan serta rencana kerja, keterlibatanmasyarakat masih kurang aktif serta lingkungan yang kurang mendukung.Oleh karena itu, program upaya kesehatan kerja perlu dimasukkan dalam rencanakerja baik itu di dinas kesehatan dan puskesmas. serta adanya alokasi anggaranuntuk program serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dan juga peralatanyang menunjang program serta di butuhkan kerjasama lintas sektor untuk lebihmemaksimalkan implementasi program upaya kesehatan kerja di puskesmas.Kata kunci: upaya kesehatan kerja, kesehatan kerja di puskesmas, kebijakan,manajemen program, puskesmas
In indonesia there are still many informal businesses who have not have accessoccupational health services. Occupational health problems program oftenoccurred due to the doctor puskesmas, the lack of knowledge of officers and kaderoccupational health. In Pesawaran District, there are the four be pilot programshealth effort work where already provided training to medical doctors and holderprogramme about occupational health and is has been done technical training andmonitoring.But, program health effort work at puskesmas not run. This study aimsto identify the constraints all that is for the implementation of program healtheffort work in the planning stages, the implementation and also evaluating.This research qualitative by using function management uses the method in-depthinterviews and review of documentation .Informants in this research was head ofdistrict health pesawaran , head of specific health and matra , the head ofpuskesmas , holders the program and representatives of the target .The result ofthis research namely the program health effort work had not been priority becausenot is a program basic puskesmas but some are suggested that there is nodifference between priority programs and development program .There is a lackof knowledge , the number of human resources involved in the program healtheffort work .On the budgeting side , program efforts kesehatnan work are budgetallocation good and the health effort work still integrated with other healthprogram .In addition , health effort program work also are not supported by properequipment and had no work plan .And also the involvement of a target that is lessactive as well as environmental conditions that not in favor of security side .Thisresearch concluded that the program working health effort in kabupatenpesawaran had not been a priority because entered into a program to develop andhas not diukung the presence of human resources sufficient , there was no budgetallocation , there is no equipment and the work plan , the involvement of thecommunity is still less active as well as the environment less supportive .In addition , health effort program work also are not supported by properequipment and had no work plan .And also the involvement of a target that is lessactive as well as environmental conditions that not in favor of security side .Thisresearch concluded that the program working health effort in kabupatenpesawaran had not been a priority because entered into a program to develop andhas not diukung the presence of human resources sufficient , there was no budgetallocation , there is no equipment and the work plan , the involvement of thecommunity is still less active as well as the environment less supportive .Hence ,health effort program work will need to be included in the work plan whether it isin health department and public health center . And the existence of the budgetallocation for the program as well as improving the quality of human resourcesand also that support equipment of the program and need cooperation cross-sectors to be more maximize the implementation of health effort program work inpublic health .Key words: Occupational Health Service, Occupational Health in Public HealthCenter, Policy, Management Programmes, Public Health Centers.
Read More
T-4742
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive