Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37502 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hermin Suyoso; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi
S-711
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cecep Hidayaturrohman; Pembimbing: Purnawan Junadi
S-743
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Dewa Ketut Kerta Widana; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Tata Soemitra, Hendra
T-2239
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Yusuf Wibisono; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf
S-4035
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Myranti; Pembimbing: Dewi Susanna, Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Ikron, RBA. Widjanarko
T-2751
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pimanih; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
T-1056
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Huzairi; Pembimbing: Anhari Achadi
S-799
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hilmi Wiratama; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Medi Rachman, Renaul Koswiranagara
Abstrak:
Operasional pesawat tempur F-16 menghasilkan tingkat kebisingan tinggi yang berpotensi menimbulkan risiko gangguan pendengaran akibat kerja (Noise Induced Hearing Loss/NIHL) pada personel ground crew. Selain karakteristik sumber bunyi, geometri shelter diduga memengaruhi pola distribusi kebisingan melalui mekanisme refleksi dan penyebaran energi bunyi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perbedaan geometri shelter terhadap tingkat dan distribusi kebisingan aktual pada operasi pesawat F-16 di Lanud Iswahjudi sebagai dasar pengendalian risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif komparatif melalui pengukuran tingkat kebisingan pada Shelter Skadron Udara 3 dan Shelter Skadron Udara 14. Parameter yang dianalisis meliputi Equivalent Continuous Noise Level (LAeq) dan Maximum Noise Level (Lmax) pada fase start engine, taxi out, take off, taxi in, dan shutdown engine. Pengukuran dilakukan menggunakan Sound Level Meter yang telah terkalibrasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan divisualisasikan menggunakan contour mapping dengan perangkat lunak Surfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada kedua shelter berada pada rentang LAeq 104–118 dBA dan Lmax 115–125 dBA. Nilai LAeq tertinggi ditemukan pada fase shutdown engine di Shelter Skadron Udara 3 sebesar 116,198 dBA, sedangkan nilai Lmax tertinggi ditemukan pada fase start engine sebesar 125,4 dBA. Shelter Skadron Udara 3 menunjukkan distribusi kebisingan yang lebih terkonsentrasi, sedangkan Shelter Skadron Udara 14 memperlihatkan distribusi yang lebih merata. Sebagian besar fase operasional melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) berdasarkan Permenaker Nomor 5 Tahun 2018. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan geometri shelter memengaruhi pola distribusi kebisingan dan tingkat paparan yang diterima personel ground crew. Pengendalian kebisingan perlu diprioritaskan melalui pendekatan rekayasa teknis, pengendalian administratif, serta penggunaan alat pelindung pendengaran yang sesuai

F-16 fighter aircraft operations generate high noise levels that may increase the risk of Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) among ground crew personnel. In addition to the characteristics of the noise source, shelter geometry is presumed to influence noise distribution patterns through sound reflection and energy propagation mechanisms. This studi focused to evaluate the influence of shelter geometry differences on actual noise levels and distribution during F-16 operations at Iswahjudi Air Force Base as a basis for Occupational Health and Safety (OHS) risk control. A descriptive comparative observational design was employed. Noise measurements were conducted at the shelters of the 3rd Air Squadron and the 14th Air Squadron. The parameters analyzed were Equivalent Continuous Noise Level (LAeq) and Maximum Noise Level (Lmax) during the start engine, taxi out, take off, taxi in, and shutdown engine phases. Measurements were obtained using calibrated Sound Level Meters and analyzed descriptively. Noise distribution was visualized through contour mapping using Surfer software. The results showed that noise levels in both shelters ranged from 104–118 dBA for LAeq and 115–125 dBA for Lmax. The highest LAeq value was observed during the shutdown engine phase at the 3rd Air Squadron shelter (116.198 dBA), while the highest Lmax value occurred during the start engine phase (125.4 dBA). The 3rd Air Squadron shelter exhibited a more concentrated noise distribution pattern, whereas the 14th Air Squadron shelter demonstrated a more dispersed distribution. Most operational phases exceeded the occupational exposure limits specified in the Indonesian Ministry of Manpower Regulation No. 5 of 2018. This study concludes that shelter geometry influences noise distribution patterns and the level of exposure received by ground crew personnel. Noise control measures should prioritize engineering controls, supported by administrative controls and appropriate hearing protection devices.
Read More
T-7670
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primus Mitaran; Pembimbing : Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Renti Mahkota, Achmad Farchanny Try Adriyanto
Abstrak: Gangguan pendengaran akibat bising masih menjadi masalah kesehatan baik didunia maupun Indonesia. Data WHO (2005) melaporkan bahwa 278 juta (4.2%)penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran, 50% di Asia Tenggaratermasuk Indonesia. Tingkat kebisingan di pelabuhan udara El Tari Kupang tahun2010 mencapai 92,2 dB pada pagi hari dan 95,2 dB pada siang hari. Pada tahun2011 tingkat kebisingan di area apron atau area udara mencapai rata-rata 90,48dBdengan interval 74,5-120 dB dan di area terminal rata-rata 89,2 dB. Pada tahun 2013mencapai 91,5 dB di area apron dan 97,2 dB di ruangan check in, di ruangankeberangkatan mencapai 97 dB (Data Tahunan KKP Kupang). Penelitian inibertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kebisingan dengan gangguanpendengaran pada pekerja di pelabuhan udara El Tari Kupang. Penelitian inidilakukan menggunakan desain studi cross sectional analitik. Populasi studi padapenelitian ini adalah pekerja berjenis kelamin laki-laki yang bekerja padaperusahaan ground handling di pelabuhan udara El Tari Kupang tahun 2016. Hasilpenelitian menemukan prevalensi gangguan pendengaran sensorineural padapekerja di pelabuhan udara El tari Kupang sebesar 39,5%. Hasil estimasi risikomenemukan PR=1,80: 95%CI 1,01-3,19) artinya risiko gangguan pendengaransensorineural pada pekerja ground handling yang terpapar tingkat kebisingan > 85dBA 1,80 kali dibandingkan dengan pekerja ground handling yang terpapar tingkatkebisingan ≤ 85 dBA selama 8 jam TWA sehari di pelabuhan udara El Tari Kupang.Kesimpulan: ada perbedaan risiko kejadian gangguan pendengaran antara pekerjayang terpapar tingkat kebisingan > 85 dBA dengan pekerja yang terpapar tingkatkebisingan ≤ 85 dBA selama 8 jam TWA sehari. Upaya pencegahan pentingdilakukan yaitu mewajibkan semua pekerja menggunakan APD (ear plug atau earmuff) terutama yang bekerja di area apron pelabuhan udara El Tari Kupang.Kata Kunci: GroundHandling, Tingkat Bising, Gangguan Pendengaran.
Read More
T-4816
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suroso Retsopramono; Pembimbing P.M.H. Sinaga
A-03
Jakarta : FKM UI, 1975
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive