Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35304 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putu Dian Wiratmini; Pembimbing: Dadan Erwandi
M-1048
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Utri Perdanita; Pembimbing: Dadan Erwandi
M-1086
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratheh Angrayuni; Pembimbing: Kurniawidjaja, L. Meily;Andriani, Sri
M-2269
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Nopiyanti; Pembimbing: Zulkifli Djuanidi; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Chandra Satrya, Nan Arief
Abstrak: The low back plain is a certain symptom appearance of the plaint sense at the area of lumbosakrak and sakroilika which can appear because of various causes, some time along with creeping of the pain to the leg and foot.
 
 
The body posture mistake consequence of the habit. The bad bocty posture particularly lordosis excessive from the backbone of lumbal pert, with the outstanding movent. and unarranged hold the important character for the occur of the low back plain .
 
 
This research is case study characteristic with the observation approach also using the secondary dam that is found from the employee medic dala and primary data that is found from with the questioner, check list, video recording, a taken picture worker, discordant posture weigh measure.
 
 
The sample of this research result, which for BRIEF survey are the discordant posture worker, whereas for the symptom survey and medic data survey are at the worker at the press shop unit and evacond unit. The research Is delivering in the distribution from an illustration.From the analysis shown that there some ris factor which can cause the low back pain on the worker shering, mould die (job A1), mould and die (job B2) and expander CS/LT. The result mentioned as follow
 
1) BRIEF survey result is found, for kind jobs which under observation had score 3.
 
2) The symptom survey result in found, the usm of the worer that had low back pain mostly on group age > 31 year and excessively on the group of the period work > 10 year.
 
3) The medic data survey result in found.average of the worker sense which suffering low ba£k pain I to 7 day and they still working.
 
4) Total value of EASY is found for fourth type job are 5.
 There for, the company party is advised for completing the standard operating procedure (SOP) with inserting ergonomic aspect, doing the redesign again on the working tools. doing work rotatio14 and doing evaluation of the work activity.
 While on the worker that have sick: of tile low back pain is advice for lie down following the illumination and do the physical training.
Read More
T-1266
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Wulan Sari; Pembimbing: Dadan Erwandi
M-1087
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukardi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Elsye As Safira, Novianti Sulistyowati
Abstrak: Tesis ini membahas Pajanan Penanganan Bahan Kimia Berbahaya Beracun (B3)Benzene dan xylene pada Divisi Industrial Chemical Specialties PT ClariantIndonesia. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pajanan Benzene danxylene serta untuk mengetahui upaya pengendalian yang sudah dilakukan.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Datadikumpulkan dengan membagikan kuesioner terbuka dan melakukan pengukuranlangsung dengan metode personal active sampling untuk mengetahui kadarBenzene dan xylene di tempat kerja . Hasil penelitian menyarankan bahwakaryawan perlu meningkatkan kesadaran dalam menggunakan alat pelindung diripada saat bersinggungan dengan bahan kimia B3. Perusahaan perlu melakukanreview terhadap PPE management khususnya respirator. Perusahaan juga perlumeningkatkan program preventive maintenance terhadap sarana dan prasaranayang terkait dengan penanganan bahan kimia Benzene dan xylene.Kata kunci:Kajian Pajanan B3, Benzene, Xylene
The focus of this study is the exposure assessment of handling Dangerous Goodsbenzene and xylene in Industrial Chemical Specialties Department at PTABCIndonesia. The purpose of this study is to analyze the exposure of benzeneand xylene also to evaluate the control programs of dangerous chemical exposure.This study is a qualitative research with descriptive interpretive. The data werecollected by open questionnaires and environment monitoring by personalsampling method to ensure the level of air quality. From the results, theresearcher suggests that workers need to increase awareness regarding personalprotective equipment used especially when handling dangerous goods chemicals.Company also has to improve management of personal protective equipmentwhich involved all workers who contact with dangerous chemicals. Company alsohas to improve preventive maintenance programs to equipments related withhandling benzene and xyleneKeywords:Exposure Assessment of Dangerous Goods, Benzene, Xylene.
Read More
T-4660
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Pinanti; Pembimbing: Baiduri
M-2160
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Isradi Zainal; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Mila Tejamaya, Haruki Agustina, Sudi Astono
Abstrak: Penelitian bertujuan mengetahui tingkat risiko dari bahan berbahaya dan beracun yang ada di Kota Balikpapan. Metode yang digunakan adalah penilaian risiko dengan melihat potensi bahaya dan tingkat paparannya. Mengacu dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2019 tentang Program Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Limbah B3, data dan informasi yang dibutuhkan untuk penilaian risiko yaitu jenis kegiatan Pengelolaan B3, jenis industri, klasifikasi B3, jumlah B3, potensi ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia; dan potensi ancaman terhadap fungsi lingkungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai risiko kedaruratan B3 di sektor Pertambangan Energi, Minyak, dan Gas Balikpapan dari pendekatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) masing-masing sebesar 32,87 dan 32,81, yang artinya berisiko sedang. Jenis B3 yang dominan adalah mudah terbakar dan korosif. Rata-rata nilai risiko kedaruratan B3 di Sektor Penyedia Air Bersih Balikpapan dari pendekatan KLHK dan Kemnaker masing-masing sebesar 24, yang artinya berisiko rendah. Jenis B3 yang dominan adalah korosif. Rata-rata tingkat risiko B3 di kota Balikpapan untuk sektor pertambangan, energi, minyak dan gas dan PDAM dari pendekatan KLHK dan Kemnaker masingmasing sebesar 31,56 dan 31,51 (sedang). Potensi kedaruratan B3 di Kota Balikpapan meliputi: terjadinya tumpahan B3, kebakaran, ledakan, paparan terhadap manusia dan pencemaran lingkungan. Program kedaruratan B3 meliputi tersusunnya infrastruktur dan penanggulangan B3 dan Limbah B3
Read More
T-6402
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Kurniawan Pratomo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ahmad Tahta Kurniawan, Alfred Yunandro Markus
Abstrak:
PT XYZ sebagai kontraktor pertambangan batu bara mengelola risiko kritis melalui program Critical Risk Management (CRM) berbasis inspeksi observasi aktivitas. Data tahun 2023–2025 menunjukkan bahwa pendekatan ini belum memadai: tingkat pencapaian observasi hanya 72,1%, sementara 9 dari 13 kejadian fatality dan Lost Time Injury berasal dari aktivitas pengoperasian dan interaksi alat-alat berat (A2B). Persoalan mendasarnya bukan hanya konsistensi pelaksanaan inspeksi, melainkan ketiadaan mekanisme yang secara sistematis memverifikasi apakah pengendalian yang paling krusial terhadap risiko fatal benar-benar andal sesuai standar kinerjanya. Penelitian ini mengaplikasikan kerangka Critical Control Management (CCM) ICMM (2015) pada dua Material Unwanted Events (MUE): kehilangan kendali unit A2B (MUE-1) dan interaksi A2B dengan unit, sarana, atau pekerja (MUE-2). Desain penelitian berupa studi kasus tunggal dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui tinjauan dokumen risk register tiga lini bisnis (156 entri), wawancara mendalam terhadap 18 informan dari 7 klaster peran yang dianalisis secara tematik, dan observasi lapangan melalui Critical Control Verification (CCV). Analisis dilakukan melalui konstruksi bow-tie, seleksi kontrol dengan kriteria ICMM, penetapan critical control melalui BHP Decision Tree, perumusan performance criteria, dan verifikasi lapangan. Dari 156 entri risk register, proses penyaringan menghasilkan 13 critical control (CC-01 hingga CC-13). Hasil CCV menunjukkan 5 critical control memenuhi seluruh performance criteria (Pass) dan 8 tidak memenuhi (Fail). Critical control yang Pass terutama merupakan kontrol dengan siklus pemeliharaan teknis yang stabil, sedangkan yang Fail menunjukkan laju degradasi yang melampaui kecepatan pemulihan. Pembahasan mengungkap dua temuan analitis utama: dominasi kontrol administratif pada risk register konvensional yang menutupi kerentanan pertahanan, serta ketergantungan struktural pada manusia yang tidak terbatas pada kontrol bertipe tindakan tetapi juga melekat pada pemeliharaan kontrol berlabel objek dan sistem. Kontribusi kerangka CCM bukan pada penambahan kontrol baru, melainkan pada transformasi status kontrol yang sudah ada dari diasumsikan hadir menjadi terverifikasi memenuhi atau tidak memenuhi criteria, sehingga memberikan dasar faktual bagi alokasi sumber daya perbaikan.

PT XYZ, a coal mining contractor, manages critical risks through an activity-based Critical Risk Management (CRM) program centred on planned inspections and observations. Data from 2023–2025 revealed that this approach remained insufficient: the observation achievement rate stood at only 72.1%, while 9 of 13 fatality and Lost Time Injury events originated from heavy equipment (A2B) operations and interactions. The fundamental issue was not merely inspection consistency, but the absence of a mechanism that systematically verifies whether the most crucial controls against fatal risk are truly reliable against their performance standards. This study applied the ICMM (2015) Critical Control Management (CCM) framework to two Material Unwanted Events (MUEs): loss of control of an A2B unit (MUE-1) and A2B interaction with other units, infrastructure, or workers (MUE-2). A single embedded case study with a qualitative approach was adopted. Data were collected through document review of risk registers across three business lines (156 entries), in-depth interviews with 18 informants from 7 role clusters analysed thematically, and field observation through Critical Control Verification (CCV). The analytical sequence comprised bow-tie construction, control selection using ICMM criteria, critical control determination through the BHP Decision Tree, performance criteria formulation, and field verification. From 156 risk register entries, the screening process yielded 13 critical controls (CC-01 through CC-13). CCV results showed that 5 critical controls met all performance criteria (Pass) while 8 did not (Fail). Controls that passed were predominantly those with stable technical maintenance cycles, whereas those that failed exhibited degradation rates exceeding their recovery speed. The discussion revealed two principal analytical findings: the dominance of administrative controls in conventional risk registers that masked defence vulnerabilities, and a structural human dependency that extended beyond act-type controls to the maintenance of object- and system-labelled controls. The contribution of the CCM framework lies not in adding new controls, but in transforming the status of existing controls from assumed present to verified as meeting or not meeting criteria, thereby providing a factual basis for corrective resource allocation. Keywords: critical control management, critical control verification, control reliability, bow-tie, heavy equipment, coal mining
Read More
T-7620
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laila Fitri Handayani; Pembimbing: L Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Faisal Parouq, Bernd Nestler
Abstrak:

Setiap tahun, perusahaan penyedia jasa transportasi bahan berbahaya (B3) meningkat. Selain aspek lingkungan dan ekonomis, aspek keselamatan kerja juga merupakan faktor yang penting dalam pemilihan perusahaan jasa transportasi B3. Kerugian yang mungkin timbul karena kecelakaan transportasi B3, yakni nyawa (fatalitas), cedera, pencemaran lingkungan, masalah komersial hingga masalah hukum. PT X, perusahaan multinasional bidang specialty dumical, menggunakan rekanan perusahaan jasa pengangkutan dalam pengiriman produk ke pelanggan. Beberapa specialty chemical yang diproduksi PT X digolongkan sebagai bahan berbahaya (B3). Salah salu kecelakaan transportasi B3 terjadi pada bulan September 2008 di daerah Beli1as, Riau. Tujuan penelitian yakni mengidentifikasi penyebab langsung dan penyebab dasar terjadinya kecelakaan dengan rnetode Fault Tree Analysis (FTA) yang dikombinasikan dengan Loss Causation Model sehingga didapatkan gambaran system evaluasi rekanan kerja di bidang jasa pengangkutan B3. Bagan FTA disusun berdasarkan diskusi, data-data dan dokumentasi lainnya serta wawancara dengan perwakilan PT X dan rekanan kerjanya di bidang transportasi B3. Hasilnya yakni penyebab langsung kecelakaan adalah tindakan tidak selamat pengemudi (berupa pengereman mendadak dan membanting setir ke kiri) yang disebabkan kondisi tidak selamat (berupa keadaan jalan yang berlubang. Adanya kendaraan yang memotong dari kanan dan jarak dengan kendaraan di depan yang terialu dekat), Penyebab dasar kecelakaan tersebut yakni ierjadinya blind spot dan pengemudi tidak mengetahui jarak iring yang aman. Hal ini disebabkan (sub penyebab dasar) oleh tidak adanya pelatihan mengemudi defensif oleh rekanan kerja PT X, kurangnya kontrol manajemen rekanan kerja PT X. Sistem evaluasi rekanan kerja jasa pengangkutan B3 oleh PT X sabaiknya mencakup penilaian tersedianya perlengkapan darurat untuk transportasi B3 sesuai Surat Keputusan Direkorat Jenderal Perhubungan Darat No. 725/2004, kondisi kendaraan, kebugaran pengemudi, data kerusakan/kecelakaan.


There is tremendous growth of hazardous substances transporter company for the last 4 years, Beside economical value and environmental risk consideration. safety matter must be included as important parameter in the selection process of hazardous substances transporter partner. The potential losses that may occur because of the hazardous transportation accident are death (fatality), injury, environment contamination or damaged commercial issues and even law issues. PT X, a multinational company in specialty chemiool.is using transporter service in delivering their products to the costumers. Some of the specialty chemicals are considered as hazardous substances. One of the transportation driver?s right side and the distance to the next vehicle is too close). Furthermore, the root causes are driver's blind spot and the understanding of safe following distances. This is caused by sub root causes such as inadequate defensive driving training and Jack of management control done by the transportation provider company, The evaluation and assessment system of hazardous substances transportation provide must include the assessment to the adequate emergency tools for hazardous transportation as Ministry of Transportation regulation (Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat No. 725/2004), the vehicles liability, the driver condition and recorded previous

Read More
T-3015
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive