Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24436 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurifansyah; Pembimbing: Ronnie Rivany, Pujiyanto; Penguji: Ikhsan, Maya A. Rusady
T-2485
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismawiningsih; Pujiyanto; Penguji: Amila Megraini, Ronnie Rivany, I Wayan Agus Suyadi, H. Wikandono
T-2387
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurrahmawati; Pembimbing: Amal C. Sjaaf, Mardiati Nadjib; Penguji: Ede Surya Darmawan, Rina Fitriani Bahar
Abstrak: Latar Belakang : Jenis Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama yang diberikan oleh suatu Puskesmas berupa Pelayanan kesehatan Dasar (Yankesdas), pelayanan persalinan, dan revitalisasi posyandu (Revipos); Proposi kunjungan Keluarga miskin (gakin) terhadap jumlah keluarga miskin yang terdaftar pada masing-masing puskesmas; maupun kebijakan yang ditetapkan, diduga berhubungan dengan pemanfaatan dana kesehatan program Jaminan Pemeliharaan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) untuk pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) pada Puskesmas. Hal ini tergambar pada penelitian tentang Analisa Kesesuaian Pemanfaatan Dana Kesehatan Program JPK-Gakin untuk Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) pada 6 (Enam) Puskesmas di kota Depok, tahun 2004.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemanfaatan dana Program Jaminan Pemelihaan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) di Puskesmas sudah sesuai dengan peruntukannya atau tidak, dan bagaimana pengaruh kebijakan yang berlaku.

Disain : Penelitian ini adalah riset evaluasi (evaluative research). Populasi adalah 27 Puskesmas yang menyampaikan Laporan Pelaksanaan Kegiatan dan Keuangan PKPS BBM Bidang Kesehatan kepada Dinas Kesehatan kota Depok untuk tahun 2004, yang secara purposif di pilih 6 (Enam) puskesmas yang merupakan sample penelitian. Enam Puskesmas yang di pilih adalah 3 (tiga) Puskesmas dengan jumlah Keluarga miskin (Gakin) tertinggi dan 3 (tiga) Puskesmas dengan jumlah Keluarga miskin (Gakin) terendah di kota Depok, dan di lakukan kajian pada data sekunder yang bersifat kuantitatif, serta di lakukan penelusuran kepada data primer (wawancara, dan diskusi dengan pihak puskesmas) yang bersifat kualitatif. Pengolahan data kuantitatif menggunakan analisis univariat, analisis bivariat (uji T Independent).

Hasil : penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dana pada jenis pelayanan kesehatan dasar (yankesdas) dan revitalisasi posyandu (revipos) tidak terkait dengan jumlah keluarga miskin (gakin) yang terdaftar pada masing-masing puskesmas, karena sebagian besar pemanfaatan dana dialokasikan kepada biaya yang bersifat non pelayanan medis kepada pasien Jaminan Pemeliharaan Keluarga Miskin (JPK-Gakin). Sementara untuk persalinan, di ketahui bahwa dari laporan yang di sampaikan oleh masing-masing puskesmas kepada Dinas Kesehatan kota Depok masih belum sesuai dengan standar cost yang ditetapkan untuk setiap ibu bersalin (bulin) dari keluarga miskin yang di tolong bidan, yakni Rp. 200.000,-.

Kesimpulan : Dalam analisa kesesuaian pemanfaatan dana kesehatan program JPK-Gakin untuk Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) pada 6 (Enam) Puskesmas di kota Depok tahun 2004, masih belum sesuai dengan kebijakan yang di tetapkan, proporsi kunjungan terhadap jumlah peserta keluarga miskin (gakin) pada masing-masing puskesmas belum optimal, hal ini di tunjukkan oleh adanya perbedaan yang signifikan expenditure per unit kunjungan untuk pelayanan kesehatan dasar pada masing-masing puskesmas yang di teliti.

Kata Kunci : RJTP, JPK-GAKIN, Expenditure, Yankesdas, Revipos, riset evaluasi.

Background : First Level Outpatient Services provided by a community health center are Primary Health Care (Yaskandes), giving birth services, and revitalization of community-based integrated service posts (Posyandu) (Revipos). The proportion of poor family visit to the number of poor families registered at each community health center and the policies established are expected to be related to the utilization of the Poor Family Care Guarantee Program (JKP-Gakin) health funds for first level outpatient services in the health centers. This is revealed by the research on Analysis of the Conformity of Health Fund Utilization of Poor Family Care Guarantee Program for First Level Outpatient Services at six community health centers in Depok, in 2004.

Aim : This research is aimed at knowing whether the utilization of the fund at health centers has conformed to what it is meant for or not, and how the policy influences are.

Design : This research is an evaluative research. The population is 27 community health centers giving the Report of Activity Implementation and Subsidy Reduction Compensation Program Finance (PKPS BBM) in health to Health Office in Depok in 2004. Six community health centers were purposively selected as research samples. Three of the health centers are the highest poor family number's health centers and the rest are the lowest in Depok. The secondary data were analyzed quantitatively, while the primary one (interview, discussion with health center personnel) were studied qualitatively. The quantitative data were processed using univariate and bivariate analyses (Independent T test).

Result : The results show that the fund utilization for Primary Health Care and revitalization of community-based integrated service posts is not related to the number of poor families registered in each health center because the funds are mostly allocated to finance non-medical services for poor family care guarantee outpatients. Meanwhile, for giving birth, it was known from reports given by each of the health centers to Depok Health Offices that the utilization has still not conformed to the standard cost determined for every giving birth mother of poor families helped by midwives, namely Rp 200,000.

Conclusion : Hence, it is concluded that the utilization of the health funds has not complied with the policy determined; the proportion of visit to the number of poor family participants at each health center has not been optimum. This is indicated by significant difference of expenditure per unit of visit for primary health care at every community health centers studied.
Read More
T-2157
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Pradipta Wijayanti Hapsari Putri; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujianto, Sandi Iljanto, Fajar Ariyanti, Fika Ekayanti
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ayu Pradipta Wijayanti Hapsari Putri Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Ekonomi Kesehatan Judul : “Analisis Perhitungan Kapitasi pada Klinik Pelayanan Kesehatan Masyarakat (KPKM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” Universal Health Coverage merupakan sebuah target berskala nasional yang bertujuan agar tercapainya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. KPKM Renijaya merupakan klinik pratama yang bertujuan tidak hanya sebagai layanan kesehatan tetapi juga sebagai saran pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dibidang kesehatan, untuk itu KPKM Renijaya perlu untuk ikut serta pada program JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung biaya investasi, biaya operasional  dan biaya pemeliharaan KPKM Renijaya, menghitung output pelayanan yang ada di KPKM Renijaya, menghitung besaran satuan aktual dan normatif, menghitung besaran kapitasi KPKM Renjaya serta upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi di KPKM Renijaya, saat bergabung dengan JKN. Penelitian ini dilaksanakan di KPKM Renijaya pada Januari – Juni 2018. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analisis yaitu dengan menggunakan data sekunder yaitu data keuangan KPKM Renijaya dan data rate utilisasi dari BPJS Kesehatan. Analisa biaya dalam penelitian ini menggunakan doubel distribution. Hasil dari penelitian ini di dapatkan total biaya investasi sebesar Rp. 786.221.689, biaya operasional Rp. 974.854.775 dan biaya pemeliharaan Rp. 25.000.000. Jumlah output pelayaan yang ada dalam penelitian ini disesuaikan dengan Permenkes No. 52 Tahun 2016 diantaranya konsultasi, obat, pembersihan luka, inject, hecting, premedikasi, tambal gigi dan scalling. Besaran kapitasi di KPKM Renijaya berdasarkan jenis layanan sebesar Rp. 11.131, tarif kapitasi tersebut diatas tarif kapitasi KPKM Renijaya, untuk itu perlu uapaya agar KPKM Renijaya dapat bertahan di era JKN dengan cara rate utilisasi KPKM Renijaya mencapai 155-160 perbulan dengan peserta 178.700 peserta. Upaya lainnya dengan mengoptimalkan aset medis melalui bermitra dengan institusi lain atau menyewakan alat investasi. Kata Kunci : Kapitasi, Biaya Satuan Aktual, Biaya Satuan Normatif.


ABSTRAK Name : Ayu Pradipta Wijayanti Hapsari Putri Study Program: Public Health Sciences Specialization : Health Economics Title : "Capitation Calculation Analysis at Public Health Service Clinic (KPKM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta" Universal Health Coverage is a national-scale target that aims to achieve equitable health services for all levels of society. KPKM Renijaya is a pratama clinic that aims not only as health services but also as education advice, research and community service in the field of health, therefore KPKM Renijaya need to participate in JKN program. This study aims to calculate the investment cost, operational cost and maintenance cost of KPKM Renijaya, calculate the output of services available in KPKM Renijaya, calculate the actual and normative units, calculate the capability of KPKM Renjaya and what efforts can be done to improve efficiency in KPKM Renijaya, when joining JKN. This research was conducted at KPKM Renijaya in January - June 2018. This research type is descriptive analysis that is by using secondary data that is financial data of KPKM Renijaya and data rate utilization from BPJS Health. Cost analysis in this research using doubel distribution. The results of this study in obtaining the total investment cost of Rp. 786.221.689, operating expenses Rp. 974,854,775 and maintenance cost Rp. 25,000,000. The number of enrichment outputs in this study is adjusted according to Permenkes. 52 of 2016 including consultation, medicine, wound cleaning, inject, hecting, premedication, patching of teeth and scalling. The amount of capitation in KPKM Renijaya by type of service is Rp. 11.131, the above mentioned capitation tariff is KPKM Renijaya's capitation tariff, therefore it is necessary for the KPKM Renijaya to survive in the era of JKN by means of the utilization rate of KPKM Renijaya reaching 155-160 per month with 178,700 participants. Other efforts by optimizing medical assets through partnering with other institutions or leasing investment tools. Keywords: Capitation, Actual Cost of Unit, Normative Unit Cost.

Read More
T-5309
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ujang Anwar; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wachyu Sulistiyadi, Pujianto, Ismail Hs. Bairizal
Abstrak:

Kerugian ekonomi akibat adanya gangguan kesehatan yaog dialami seseorang berdampak terhadap pembiayaan kesehatan pemerintah dao pengeluaran rumah tangga. Dalam periode tahun 2005-2006, jumlah kasus penyakit infeksi akut lain saluran pernafasao atas menempati posisi teratas dalam proporsi sepuluh penyakit terbesar di kota Jambi. Tahun 2005 sebaoyak 108.292 kasus (34,51 %) dao pada tahun 2006 sebaoyak 99.332 (32,75%). Untuk mencapai kesembuhan, seseorang yaog menderita sakit memerlukan tindakan pengobatan. Layaoao pengobatan yang dilakukan terhadap pasien, akao menimbulkao biaya pada provider selaku penyedia jasa layanan dan juga pada pasien yaog memanfaatkan jasa layanan. Biaya yang timbul pada sisi provider maupun pasien masing-masing diklasifikasikan sebagai biaya laogsung (drect cost) dan biaya tak langsung (indirect cost). Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang besarao biaya yaog ditimbulkan akibat sakit (cost of illness) untuk rawat jalao ISPA. Tujuao khusus penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang : karakteristik responden dan pasien rawat jalao ISPA, besaran biaya langsung (direct cost) dan biaya tak langsung (indirect cost) pada sisi provider dan pasien yang melakukao kunjungan berobat untuk mencapai kesembuhan dalam satu periode sakit. Penelitian ini menggunakao desain studi analisis biaya, yaog dilaksanakao di wilayah kerja Puskesmas Simpaog rv Sipin pada bulao Jaouari s/d. Maret 2007, dengao jumlah sampel penelitiao 96 responden. Data yaog digunakao dalam penelitiao ini adalah data sekunder yaog diperoleh dari lokasi penelitiao serta data primer yaog diperoleh dari basil interview kepada responden. Hasil penelitian menunjukkao bahwa jumlah responden terbaoyak berusia kuraog dari atau sama dengao 31 tahun. Sebagiao besar responden berjenis kelamin perempuao dao berstatus sebagai ibu rumah tangga yaog tidak memiliki penghasilao. Berdasarkao jenis kelarnin, pasien terbaoyak adalah laki-laki. Jumlah pasien terbanyak pada kelompok umur 13 - 36 bulao. Untuk mencapai kesembuhan dalam satu periode sakit, 80,21 % dari seluruh pasien masing-masing melakukan 1 kali kunjungan berobat, sisanya 19,79 % masing-masing melakukan 2 kali kunjlUlgan berobat. Jumlah klUljlUlgan berobat dalam satu periode sakit yang dilakukan oleh setiap pasien lUltuk mencapai kesembuhan, sangat berpengaruh terhadap besaran biaya yang menjadi tangglUlgan provider mauplUl biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien. Semakin banyak jumlah klUljlUlgan berobat yang di1akukan oleh pasien maka akan semakin besar biaya yang timbul pada sisi provider mauplUl pada sisi pasien. Opportunity cost tetap ada pada biaya yang dikeluarkan oleh repondenlpasien dalam memanfaatkan layanan rawat jalan ISPA. Untuk kese1uruhan pasien, total biaya pada provider lebih besar dari total biaya pada pasien. Cost of illness pasien rawat jalan ISPA adalah Rp 2.316.259,45 dengan rata-rata Rp 24.127,70. Untuk pasien yang melakukan 1 kali kunjungan berobat, total biaya pada provider lebih besar dari total biaya pada pasien. Cost of illness pasien rawat jalan ISPA adalah Rp 1.597.144,85 dengan rata-rata Rp 20.742,14. Untuk pasien yang melakukan 2 kali kunjlUlgan berobat, total biaya pada provider lebih besar dari total biaya pada pasien. Cost of illness pasien rawat jalan ISPA adalah Rp 719.114,60 dengan rata-rata Rp 37.848,14. Saran yang dapat disampaikan adalah : Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten serta sarana kesehatan pemerintah yang memberikan layanan pengobatanl perawatan perlu melakukan perhitlUlgan dan analisis biaya secara menyeluruh berdasarkan kegiatan dalam memberikan pelayanan. Puskesmas seyogyanya mempertahankan dan meningkatkan penerapan pola pelayanan pengobatan sesuai standar. Perlu dilakukan pengembangan model perhitlUlgan biaya ini ke dalam bentuk perangkat lunak komputer. Kepada peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian serupa terhadap jenis penyakit lainnya.


Economic loss due to health disorder experienced by patient have an impact to governmenthealth financing and household health expenditure. From 2005 to 2006 period, acute respiratory infection disease was in first place of top ten diseases in Jambi City. In 2005 there were 108.292 cases (34,51%) and in 2006 were 99.332 cases (32,75%). The patient needs medical care to recover from the illness. Medical service for patient will incur the cost upon the provider who provides the service and the patient who uses the service. The cost incurred upon both the provider and the patients are classified into direct cost and indirect cost. The aim of this study was to describe the amount of the cost of illness for acute respiratory infection disease outpatient. The particular objectives were to describe characteristics of the participant and patient of acute respiratory infection disease outpatient, the amount of direct cost and indirect cost upon provider and the patient who performed medical visit to get recovery from the illness period. This study used cost analysis design, carried out in Simpang IV Sipin Public Health Centre from January to March2007, with 96 participants. Datawere secondary data collected from study area and primary data obtained from interviewed participants. The findings demonstrated that most patients were less or equal to 31 years old. Majority of them female and housewives. Base on gender the most patients were male. The most patients were in 13 -36 months age group. To get recovery in one illness period, 80,21% of total patients performed once medical visit, the remaining patients did twice medical visit. The medical visit patient performs in one illness period to get recovery from the illness highly influence the amount of cost upon provider and the patient. The more visits patient has, the higher the cost required upon provider and the patient. Opportunity cost I remains upon the patients expenditures in using acute respiratory infection outpatient services. For all patients, the total costs upon provider were higher than the total costs uponpatient. Cost of illness for acute respiratory infection out patient was. Rp 2.316.259,45 with Rp 24.127,70 on average. For the patients who did once medical visit, the total costs upon provider were higher than total costs upon patients. Cost of illness foracute respiratory infection out patient were Rp1.597.144,85withRp. 20.742,14 on average. For the patients who did twice medical visit, the total costs upon provider were higher than total costs upon patients. Cost of illness for acute respiratory infection outpatient were Rp 719.114,60 with Rp. 37.848,14 on average. It is suggested that District Health and government health facilities that provide medical/nursing care are required to calculate and conduct cost analysis as a whole based on activities in providing services. Public Health Centre must maintain and improve medical service pattern application by standard. It is need to develop this cost calculation model into computer software. Further researchers are needed to do the similar study for other diseases.

Read More
T-2500
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurlaili Isnaini; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Ronnie Rivany, Wachyu Sulistiadi, Purwadi, Chusun
Abstrak:

Kecenderungan peningkatan penggunaan antibiotika di Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan penggunaaan obat yang tidak rasional dan akan menghambat penurunan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Pemberian antibiotika yang berlebihan akan meningkatkan resistensi terhadap bakteri, sehingga pembiayaan obat akan menjadi lebih tinggi di masa mendatang. Ada dua indikator utilisasi obat yang diteliti yaitu rata-rata biaya obat perlembar resep dan rata-rata R/ per-lembar resep. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran utilisasi obat antibiotika pada dua indikator diatas dan faktor faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian menemukan bahwa persentase resep obat pasien RJTP yang berisi antibiotika 37,74 %. Proporsi terbesar pemanfaatan obat antibiotika pada pasien RJTP di Puskesmas Tebet tahun 2005 ditemukan pada kelompok usia dewasa (12-65 tahun) yaitu sebesar 56,5 %, pasien yang bayar sendiri yaitu sebesar 89,8 %, penyakit infeksi lain selain ISPA yaitu sebesar 61,6% dan rata-ratal hari pemberian obat antibiotika adalah 4 hari dimana nilai ini tidak sesuai dengan pedoman pengobatan antibiotika yang belaku. Rata-rata harga obat per-lembar resep adalah Rp. 6.226,01,- sedangkan rata-rata jumlah R/ nya adalah 3 R/. Hasil analisis bivariat dari ke dua indikator utilisasi obat terhadap variabel independen didapatkan adanya perbedaan yang signifikan menurut usia, status pembayaran pasien dan jenis penyakit. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, status pembayaran, jenis penyakit (ISPA) dan lama hari pemberian obat secara signifikan mempengaruhi rata-rata harga obat dan rata-rata jumlah R/ per-lembar resepnya. Disarankan perlu dilakukan upaya peresepan pengobatan sesuai dengan standar pengobatan yang berlaku terutama lama hari pemberian obat. Analisa lebih lanjut mengenai rata-rata harga obat per-lembar resep yang lebih spesifik yaitu dengan hanya menganalisa rata-rata harga obat antibiotika.


 

The tendency of overused of antibiotics in primary health care indicate the irrational used and inhibit lowering morbidity and mortality of diseases and hence increase bacterial resistance and so that elevate drug expenditure at future. There were two drug utility indicators examined named average drug cost per encounter and average drug per encounter. The objective of this research was to know the description of antibiotics drug utilization on two indicators mentioned above and the factors influence it. Results of this research were the percentages of encounter containing antibiotics was 37,74 %. The biggest proportion of antibiotics utilization based on adult patients (12 -65 year old) was 56,5 %. Based on payment status of self payer patients was 89,8 %. And based on type of diseses at other infection beyond UTI was 61,6 %. The average number of days antibiotics dispensed was 4 days, that the values incompatible with Antibiotics drug guidelines. The average of single encounter was Rp. 6.226,01 where the average R/ per encounter was 3 items. Bivariate analysis of two drug utilization indicators, with independent variable showed significant differences among age, payment status and type of diseases. The result of multivariate analysis indicated age (except elderly), payment status, diagnosis of UTI and number of days antibiotics dispensed significantly able to predict variable of drug price per encounter and the average R/ per-encounter. It was Suggested the treatment prescription that compatible with standard treatment guidelines that usually used, the length of therapy. More specific continuing of the analysis about average drug price per-encounter with analyzing average antibiotic drugs price.

Read More
T-2477
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roxanna Kuswandhani; Pembimbing: Budi Hidayat, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Hana Johan, Imam Ruliawan
Abstrak: POSTGRADUATE PROGRAM PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDIES HEALTH ECONOMIC AND INSURANCE THESIS, August 2005 Roxanna Kuswandhani SELF-EXPENSE (OUT-OF-POCKET) VARIATION DETERMINANT OF IN-PATIENT SERVICES FOR COMPULSORY HEALTH INSURANCE MEMBERS IN CILEGON GENERAL HOSPITAL IN 2004 xv + 77 pages + 12 tables + 1 appendix ABSTRACT Based on the Government Regulation No. 69/91, PT (Persero) Askes is permitted to charge cost sharing to health insurance (Askes) members. The mistake in financing system implemented is that all premiums are carried on by the members. However, in practice, guarantees provided for the members are emphasized more on medical treatment and recovery by charging quite lots of cost sharing, though the services are delivered in Health Service Provider (PPK) net appointed. Consequently, civil servants still have to pay quite lots of self-expense (out-of-pocket). This causes chronic problem for social health insurance in Indonesia, which lead to complaints and blasphemies. Cilegon General Hospital implements health service tariff based on Cilegon Administrative Regulation. The tariff is higher than tariff packet released by PT (Persero) Askes based on a Joint Decree. To avoid more subsidies, compulsory health insurance members who utilize health services in the hospital have to pay by themselves (out-of-pocket) amounting the rest of health service tariff reduced by expense guaranteed by Askes plus Non-DPHO drug cost. This research was carried out in Cilegon General Hospital. The research object is Self-expense (Out-of-Pocket) Variation Determinants of In-Patient Services for Compulsory Health Insurance Members in Cilegon General Hospital in 2004. Data are from the 2004 in-patient register of compulsory health insurance members of Cilegon General Hospital, the 2004 compulsory health insurance member in-patient payment bill, at Cilegon General Hospital finance division, and the 2004 drug usage and prescription report of compulsory health insurance member in-patients of Cilegon General Hospital This research is an analytical survey using quantitative cross sectional approach. Dependent and independent variables are measured simultaneously. The result indicates that of 240 patient populations, self-expense (out-of-packet) variable has an average value of 671,719 rupiahs, with deviation standard 842,414 rupiahs and median 265,143 rupiahs. Meanwhile, the lowest self-expense (out-of-pocket) is 0 rupiahs and the highest is 5,683,925 rupiahs. Using bivariate analysis, variables related to self-expense (out-of-pocket) are age, officialdom level, education level, medical treatment pattern, medical care class choice, and length of care. The last modeling in multivariate analysis using double linear regression analysis yielded self-expense (out-of-pocket) =4.908+0.06*length of care + 0.156*local administration subsidies – 0.683*medical treatment pattern + 0.579*medical care class choice + 0.472*education 2(D3)-0.323 level (officialdom level II). It is recommended that PT Askes evaluate the determination of packet tariff and DHPO drugs periodically, disseminate medical treatment packets and medical care classes appropriate for their level/right and advocate PPK the proportional medical treatment days. It is also recommended for the next research to obtain more complete information on how much the expense for non-DHPO drugs is from respondents. It is hoped that Cilegon General Hospital provide qualified services in spite of different medical service class, upgrade their data so that they can help education, research and development of health. References: 42 (1985—2005)
Read More
T-2174
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nancy JH Nainggolan; Pembimbing: Hasbullah Thabrany, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Faiq Bahfen, Sukotjo
T-2130
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Sri Lestari; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Mardiati Nadjib, Ismandiya Wirasugena
T-3049
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sundoyo; Pembimbing: Jaslis Ilyas, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Bulan Rachmadhi, Riati Anggriani
Abstrak: Kesehatan adalah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia, suatu saat pasti akan mengalami resiko sakit sehingga membutuhkan biaya besar. Banyak metode untuk mengatasi resiko, tetapi asuransi adalah cara yang paling tepat untuk dipergunakan dalam mengatasi resiko pembiayaan kesehatan.Baru sekitar 18 persen masyarakat Indonesia yang ikut asuransi kesehatan. PT. Askes adalah penyelenggara asuransi social, namun dalam perjalanannya PT. Askes juga menyelenggarakan program asuransi sukarela. Peserta PT Askes saat ini baru mencapai 15,38 juta orang terdiri dari 13,98 juta peserta wajib dan 1,4 juta peserta sukarela. PT.Askes cabang Bogor adalah salah satu cabang PT.Askes yang ada diseluruh Indonesia. Jumlah peserta asuransi sukarela PT.Askes cabang bagor sampai saat ini mencapai ………………………, Untuk pelayanan gigi berlubang peserta askes sukarela PT. Askes cabang Bogor berkerja sama dengan dokter gigi keluarga dengan system pembayaran Fee For Service (FFS). Sampai saat ini belum ada mekanisme dan tenaga verifikator untuk melakukan antisipasi terjadinya over utilisasi dalam pelayanan kesehatan gigi berlubang, sehingga belum diketahui jumlah kerugian PT.Askes Cabang Bogor akibat over utilisasi pelayanan gigi berlubang. Yang menjadi pertanyaan penelitian adalah berapa besar over utilisasi dalam pelayanan kesehatan gigi berlubang dan berapa besar kerugian PT.Askes akibat over Utilisasi. Penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian menggunakan crsoss-sectional, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap dokumen klaim selama periode Januari – Juni 2005 terdapat 1354 kunjungan dengan over utilisasi 129 kali atau 9,53 %. Sementara PT.Askes Cabang Bogor telah melakukan pembayaran klaim sebesar Rp. 46.592.000,00 dari jumlah tersebut kerugian akibat over utilisasi adalah sebesar Rp. Rp.4.307.500,00 atau 9,25 %. Setelah diadakan uji statistik, dokter gigi laki-laki lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 68,99% , dengan kerugian PT.Askes sebesar Rp. 3.100.000. Sedangkan perempuan 31,01 % dengan kerugian PT.Askes sebesar Rp. 1.207.500.Dokter yang praktek di luar kota lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 58,91 % dengan jumlah kerugian PT.Askes sebesar Rp. 2.745.000. Dari segi lulusan dokter gigi tidak terjadi perbedaan terhadap over utilisasi baik dokter gigi yang lulusan PTN mapun PTS. Dokter gigi dengan umur > 50 tahun lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 72,09 dengan jumlah kerugian PT.Askes sebesar Rp. 3.170.000 Namun setelah diadakan uji statistik antara perbedaan rata-rata karakteristik dokter gigi keluarga ( Umur, Gender, Lokasi Praktek dan Lulusan) terhadap Over Utilisasi dan Kerugian PT.Askes Cabang Bogor tidak signifikan pada taraf signifikansi 0.05. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan, PT.Askes Cabang Bogor perlu mengembangkan suatu siatem dan mendidik tenaga verifikator guna mendeteksi terjadinya Over Utilisasi, sehingga kerugian PT.Askes Cabang Bogor akibat over utilisasi dapat di cegah. Daftar Pustaka : 23 ( 2000-2005)
Read More
T-2115
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive