Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41183 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vinda Miranda; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Adhi Dharmawan Tato
S-4892
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purnama Betty Rosalyna Sitorus; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Baiduri, Soehatman Ramli
S-5169
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ludy Febriyanto; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Imam Panudju
S-5073
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Azizah Sofia; Pembimbing: Hendra; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Eko Pudjadi
S-6538
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Irwan Pramudia; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Soehatman Ramli
S-5053
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Martanti; Pemb. Abdur Rahman; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Setyadi
S-5215
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Subhania; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra
Abstrak: Tinggi badan merupakan salah satu pengukuran antropometri yang penting, salah satunya untuk mengetahui status gizi individu. Ketika pengukuran tinggi badan secara berdiri tidak dapat dilakukan seperti pada pasien di rumah sakit dan individu dengan kondisi tertentu disabilitas , maka dibutuhkan pengukuran antropometri pengganti agar hasil yang diperoleh akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model prediksi tinggi badan berdasarkan panjang ulna, panjang telapak kaki dan tinggi lutut pada kelompok usia dewasa muda. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indoesia berusia 21 ndash; 30 tahun, sebanyak 58 orang laki-laki dan 78 orang perempuan. Desain studi pada penelitian ini menggunakan desain cross-sectional.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara tinggi badan dengan panjang ulna kiri laki-laki r=0.853, perempuan r=0.76 , panjang ulna kanan laki-laki r=0.865, perempuan r=0.726 , panjang telapak kaki kiri laki-laki r=0.799, perempuan r=0.708 , panjang telapak kaki kanan laki-laki r=0.791, perempuan r=0.862 , tinggi lutut kiri laki-laki r=0.862, perempuan r=0.841 , tinggi lutut kanan laki-laki r=0.87, perempuan r=0.833 . Panjang ulna, panjang telapak kaki dan tinggi lutut merupakan prediktor tingi badan yang baik karena memiliki korelasi yang kuat pada laki-laki dan perempuan serta mudah dalam melakukan pengukuran.
 

Height is one of the important anthropometry measurements to determine nutritional status. When the measurement of height is difficult to conduct especially on patient in hospital or individual with disabilites, an alternative measurement is needed to define an accurate height. The purpose of this study was to develop a prediction model of height based on ulna length, foot length and knee height for young adults. A cross sectional design study was used in this study. Participants were 58 men and 78 women aged 21 30 years who were currently studying at Faculty of Public Health Universitas Indonesia.
 
Strong correlations were found between height and left ulna length men r 0.853, women r 0.76, height and right ulna length men r 0.865, women r 0.726, height and left foot lenght men r 0.799, women r 0.708, height and right foot length men r 0.791, women r 0.862, height and left knee height men r 0.862, women r 0.841 , height and right knee height men r 0.87, women r 0.833 . Ulna length, foot length and knee height are good predictors of height because they have strong correlations either for men or women and also they can be measured easily.
Read More
S-9385
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni`mat Hikmatillah; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Baiduri; Johan Franedie
S-5051
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.3, Maret. 2005: hal. 181-186
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luh Putu Ari Dewiyanti; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Yoslien Sopamena, Suhesti Dumbela, Irfani Nugraha
Abstrak:
Intervensi pre-exposure prophylaxis (PrEP) di Indonesia telah diimplementasikan sejak tahun 2021, namun cakupan penggunaannya masih rendah. Di DKI Jakarta sebagai provinsi dengan capaian PrEP tertinggi secara nasional, masih terdapat kesenjangan antarwilayah, di mana Jakarta Selatan telah melampaui target capaian (131%), sementara Jakarta Timur masih berada di bawah target (61%). Penelitian ini bertujuan memahami perilaku pengambilan keputusan penggunaan PrEP pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan analisis tematik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada LSL pengguna dan non-pengguna PrEP, serta tenaga kesehatan dan petugas lapangan sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan penggunaan PrEP merupakan proses yang dinamis dan tidak linear, dipengaruhi oleh interaksi antara informasi, persepsi kerentanan, persepsi hambatan, sikap, norma subjektif, motivasi, dan keterampilan perilaku. Pengguna dan non-pengguna PrEP sama-sama memiliki kesadaran terhadap HIV dan sikap positif terhadap PrEP, namun berbeda dalam memaknai risiko, kebutuhan penggunaan, dan kemampuan mengintegrasikan PrEP dalam kehidupan sehari-hari. Pengguna PrEP menunjukkan pemahaman risiko yang lebih reflektif serta keterampilan perilaku yang mendukung navigasi layanan, kepatuhan, dan adaptasi terhadap hambatan penggunaan. Sebaliknya, non-pengguna cenderung merasionalisasi risiko melalui rasa aman subjektif dan strategi pencegahan lain sehingga PrEP belum dipandang sebagai kebutuhan yang relevan. Temuan juga menunjukkan bahwa perbedaan capaian penggunaan PrEP antarwilayah berkaitan dengan pengalaman layanan, fleksibilitas program, dan dukungan komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan PrEP pada kelompok LSL tidak hanya dipengaruhi akses informasi dan kesadaran risiko HIV, tetapi juga proses pemaknaan risiko, dukungan sosial, pengalaman layanan, dan keterampilan perilaku. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan PrEP perlu dilakukan melalui pendekatan berbasis tahapan pengambilan keputusan, komunikasi risiko yang lebih kontekstual, serta penguatan kualitas layanan dan pendampingan berbasis komunitas.

Pre-exposure prophylaxis (PrEP) has been implemented in Indonesia since 2021, however, its uptake remains low. In DKI Jakarta, which has the highest national PrEP coverage, disparities persist across regions, with South Jakarta exceeding its target coverage (131%) while East Jakarta remains below target (61%). This study aimed to explore the decision-making behavior related to PrEP use among men who have sex with men (MSM) in East and South Jakarta. This study employed a qualitative approach with a phenomenological design and thematic analysis. Data were collected through in-depth interviews and observations involving MSM PrEP users and non-users, supported by healthcare workers and outreach officers as key informants. The findings showed that decision-making regarding PrEP use is a dynamic and non-linear process influenced by the interaction of information, perceived susceptibility, perceived barriers, attitudes, subjective norms, motivation, and behavioral skills. Both PrEP users and non-users demonstrated awareness of HIV and positive attitudes toward PrEP; however, they differed in how they interpreted risk, perceived the need for PrEP, and integrated PrEP into their daily lives. PrEP users showed more reflective risk perceptions and stronger behavioral skills related to service navigation, adherence, and adaptation to barriers. In contrast, non-users tended to rationalize risk through subjective feelings of safety and reliance on alternative prevention strategies, leading PrEP to be perceived as less relevant to their needs. The findings also indicated that disparities in PrEP uptake across regions were associated with differences in service experience, program flexibility, and community support. This study concludes that PrEP use among MSM is influenced not only by access to information and HIV risk awareness, but also by risk interpretation, social support, service experience, and behavioral skills. Therefore, efforts to increase PrEP uptake should incorporate decision-making stage-based approaches, more contextualized risk communication, and strengthened service quality and community-based support
Read More
T-7539
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive