Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36828 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firzawati; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Pujiyanto, Adiani Ayudi Rahmah
Abstrak:

Dalam penulisan resep, pandangan dokter mengenai obat yang cocok bagi pasien adalah obat yang memiliki efikasi dan kualitas yang baik namun kurang mempertimbangkan kemampuan pasien dalam membayar atau membeli obat tersebut. Pada pasien yang memiliki jaminan asuransi, dokter tidak memiliki kendala dan hambatan dalam pola peresepan. Demikian pula dengan hadirya beberapa kebijakan dari PT. Askes yang menerbitkan DPHO (Daiiar Plafon Harga Obat); climana obat yang digunakan untuk pasien peserta Askes PNS, adalah obat yang sesuai dengan DPHO' tersebut, dan bila tidak sesuai dengan DPHO maka pasien membayar sendiri obat yang akan ditangglmg sendiri (Out of Pocket). Oleh karenanya perlu dilakukan analisis, apakah resep-resep yang diberikan kepada peserta asuransi kesehatan PNS memenuhi indikator wnum kerasionalan penulisan resep yang dirumuskan oleh WHO' (World Health Organization) dalam meniiai penggunaan obat rasional' di berbagai institusi pemerintah yakni rata - rata jumlah item per lernbar resep; persentase peresepan dengan nama generik; persentasc peresepan dengan antibiotik; persentase peresepan dengan injeksi; persentase peresepan yang sesuai dengan DOEN dan Formularium Pénelitian ini rnengunakan desain cross sectional dengan menggunakan data primer dan sekundcr berupa resep dan laporan keuangan. Populasi sludi pada penelidan ini adalah resep resep yang ke PT. Askes pada bulan November, dan dengan menggunakan teknik random sampling didapatkan jumlah sample yang diteliti sebanyak 508' responden. Dengan menggunakan analisis statistik regresi linier, didapatkan bahwa biaya obat out of pocket memiliki hubungan yang sigfinikan dengan persentase obat paten per lembar resep; persentase obat yang tidak sesuai dengan formularium dan persentase pemakaian injeksi per lembar resep. Sedangkan pola peresepan yang memiliki hubungan dengan total biaya obat adalah jumlah obat yang dilayani instalasi farmasi; persentase obat paten per lcmbar resep; persentase obat antibiotik per lembar resep dan persentase pemakaian injeksi per lembar resep. Rata rata biaya obat' out of pocket per lembar resep sebcsar Rp. 8.l39;- dan rata rata jumlah biaya total per lembar resep adaiah sebesar Rp. 82.564,-


 

In prescribing a prescription, doctors consider that appropriate medicines for patients are those, which have good effect and quality, but they less consider the ability of patients to pay or buy the medicines. Doctors do not have constraints and difficulties related to prescribing pattern to patients who have insurance guarantee. Through its policy, PT. Askes releases DHPO (Medicines Costs Ceiling Lists) stating that medicines used for patients being insurance members from civil servants are those suitable with the DHPO. If the medicines do not confirm the DHPO, patients will pay the medicines themselves (out of packet). For these reason, whether prescriptions given to health insurance members comply with general indicators of rationality of prescribing formulated by WHO (World Health Organization) should be analyzed. WHO determines indicators to evaluate the rational utilization of medicines in governmental institution as follows: the average of the number of items per prescription sheet, percentage of prescribing with generic name, percentage of prescribing with antibiotic, percentage of prescribing with injection percentage of prescribing in accordance with DOEN (National Essential Medicines List) and formulation. This research used cross sectional design. The research analyzed primary and secondary data. The secondary data were in the lbmr of prescriptions and 'financial report. The populations were prescriptions claimed by PT. Askes in November. By using sampling random technique, the number of samples studied was 508 respondents. By applying linear regression statistical analysis, it was found that out of pocket medicines costs is significantly related with the percentage of patent per prescription sheet, percentage of medicines that is not confirmed with formulation, and percentage of injection utilization per prescription sheet. On the other hand, prescribing pattern which has relation with total medicines cost are the number of medicines provided by pharmaceutical installation, percentage of patent medicines per prescription sheet, percentage of antibiotic medicines per prescription sheet, and percentage of injection utilization per prescription sheet. The cost of out of pocket medicines per prescription sheer is IDR 8,139 on average and the number of total cost per prescription sheet is IDR 82,564 on average.

Read More
T-2640
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Kartika Irnayati; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah; Penguji: Ahmad Helmy
S-5907
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debby Daniel; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Armen Mochtar, Farida Indyastuti
Abstrak:

LATAR BELAKANG : Program pemerintah mengenai penggunaan obat generik sudah dicanangkan sejak tahun 1989, terapi baru sejak krisis moneter orang mulai memperhatikan obat generik. Walaupun demikian penulisan resep obat dengan nama generik yang merupakan indikator penggunaan obat generik, tahun 1994-2000 tetap berkisar 50-60% untuk pasien rawat jalan di RSUP.Fatmawati. Penulisan resep obat merupakan perilaku dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Tetapi jika ingin dilakukan intervensi dalam penulisan resep obat adalah lebih baik jika mengerti terlebih dahulu mengenai masalah perilaku yang berhubungan dengan penulisan resep obat dengan nama generik. TUJUAN: Untuk mengetahui distribusi penulisan resep obat dgn nama generik menurut poliklinik dan kelas terapi serta hubungan antara faktor-faktor perilaku dokter dengan penulisan resep obat dengan nama generik. DESAIN : Studi potong lintang yang dilaksanakan di Poliklinik pagi hari RSUP.Fatmawati dengan observasi resep selama 1 minggu untuk masing-masing poliklinik dan pengisian kuesioner mengenai faktor-faktor perilaku yang diisi oleh 122 dokter sebagai subyek penelitian . Penelitian berlangsung selama 4 bulan dari April - Juli 2001 pada 18 poliklinik di RSUP.Fatmawati-Jakarta dan analisis yang dilakukan menggunakan regresi logislik. HASIL : Proporsi penulisan resep obat dengan nama generik tertinggi pada PoIiklinik Gigi dan mulut sebesar 84,35% dan terendah pada Poliklink Malta sebesar 8,94%. Kelas tempi Diuretik menunjukkan proporsi penulisan resep obat dengan nama generik tertinggi (87,63%) dan terendah pada kelas terapi obat Lain-lain (2,17%). Dari basil analisis multivariat. menunjukkan pada dokter yang setuju dengan program obat generik kemungkinan untuk dapat menuliskan resep obat dengan nama generik hanya 0,28 kali dan dokter yang tidak setuju dengan program obat generik (95% Cl: 0,08-0,95); dan pada dokter yang bekerja di RSUP.Fatmawati < 5 tahun berkemungkinan untuk kurang patuh dalam penulisan resep obat dengan nama generik 3,89 kali lebih besar dart dokter yang telah bekerja > 16 tahun (95% Cl: 1,41-10,78) dan dokter yang bekerja di RSUP.Fatmawati 5-15 tahun berkemungkinan untuk kurang patuh dalam penulisan resep obat dengan nama generik 3,09 kali lebih besar dari dokter yang telah bekerja > 16 tahun.(95% CI: 1,14-9,86) SARAN : 1). secara rutin mengingatkan para dokter untuk melaksanakan program pemerintah penggunaan obat generik baik secara manajerial, edukasi atau regulasi. 2). data ilmiah mengenai obat generik lebih diinformasikan kepada dokter dan masyarakat.


 

The Relation Between Doctor's Behavior Factors With Drug Prescription in Generic Names in Out Patient at Fatmawati Hospital 2001BACKGROUND : The government program about generic drugs in government health care facilities had been conducted in 1989, but after the monetary crisis people interested in generic drugs . Nevertheless the data of drug prescription in generic names for out patient at Fatmawati Hospital from 1994 to 2000 only 50-60%. Drug prescription is a doctor's behavior . There are many factors which influence the prescribing, but if we want to intervene the prescribing we have to understand first the reasons for a problem behavior. OBJECTIVES : This study performed to find out the distribution of drug prescription in generic names according to therapeutic class and out patient clinic; and to identify the relation between doctor's behavior factors with drug prescription in generic names in out patient at Fatmawati hospital. DESIGN : Cross-sectional with total respondents 122 doctors by observing their prescriptions for 1 week for each out patient clinic and filling questionnaire about doctor's behavior factors. The study conducted for 4 months from April to July 2001 in 18 clinics at Fatmawati Hospital and the analysis were performed by logistic regression. RESULTS : The highest proportion of drug prescription in generic names has been found in Denial clinic (84,35%) and the lowest in Eyes clinic (8,94%). Diuretics has the highest proportion of drug prescription in generic names (87,63%) among the class therapy in DOEN and drugs which are not included in 29 therapeutic classes in DOEN (Others) has the lowest proportion (2,17%). The study showed there are significance relation between doctor' attitude and drug prescription in generic names and also significance relation between working e:qserience of the doctor and drug prescription in generic names .The multivariate odds ratio was 0.28 (95% CI: 0,08-0,95 ) in doctors who agree with the government program about generic drug. 3.89 (95% Cl: 1.41-10,78) in doctors who works for less than 5 years and 3,09 (95% Cl: 1,14-9.86) who works for 5 to 15 years. RECOMMENDATIONS : 1). To remind the doctors periodically to run this government program and can be characterized as managerial, educational and regulatory. 2. Giving more information about the evidence based of generic drugs to the doctors and community.

Read More
T-1182
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bintang Sukma Dhea Fransisca Enjellita; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Dewi Kristanti
Abstrak:
Latar belakang: Hipertensi menjadi penyebab kematian dini tertinggi di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular termasuk di Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan angka prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 34,4% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan sebesar 10,7% berdasarkan diagnosis dokter yang menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi terbesar ketiga dengan prevalensi hipertensi terbanyak pada penduduk berusia ≥ 18 tahun. Dalam penanganan penyakit hipertensi, indikator terkait terapi atau pengobatan hipertensi merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan. Data terbaru yang diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi di Jawa Barat mencapai 53,8% dengan 35,5% pasien tidak teratur minum obat dan 18,3% tidak minum obat sama sekali. Rendahnya kepatuhan pasien hipertensi untuk konsumsi obat antihipertensi masih menjadi masalah dalam penanganan hipertensi di Indonesia terutama di Jawa Barat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi berusia ≥ 18 tahun di Jawa Barat.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Prevalensi ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi usia ≥ 18 tahun di Jawa Barat adalah 53,1% dengan “merasa sudah sehat” menjadi alasan tertinggi ketidakpatuhan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi meliputi berusia 18 - 59 tahun (PR = 1,23; 95% CI = 1,06 - 1,47), memiliki tingkat pendidikan rendah (PR = 1,17; 95% CI = 1,09 - 1,27), tidak memiliki jaminan kesehatan (PR = 1,26; 95% CI = 1,18 - 1,36), merokok (PR = 1,12; 95% CI = 1,04 - 1,21), tidak memiliki pengetahuan terkait konsumsi obat antihipertensi (PR = 1,88; 95% CI = 1,72 - 1,97). Kesimpulan: Pemerintah perlu meningkatkan edukasi kesehatan dan menekankan pentingnya rutin mengonsumsi obat antihipertensi meskipun tidak merasakan gejala. Selain itu, diperlukan kerja sama lintas sektor untuk mendukung pencegahan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi.
Background: Hypertension is the leading cause of premature death worldwide and is a major risk factor for cardiovascular diseases, including in Indonesia. West Java is the province with the highest prevalence of hypertension in Indonesia, with a rate of 34.4% based on blood pressure measurements and 10.7% based on doctor diagnoses. This makes West Java the third largest province in terms of hypertension prevalence among individuals aged ≥ 18 years. In managing hypertension, indicators related to hypertension therapy or medication are crucial factors that need attention. Recent data from the Indonesia Health Survey (SKI) shows that non-adherence to antihypertensive medication in West Java reaches 53.8%, with 35.5% of patients taking medication irregularly and 18.3% not taking medication at all. The low level of adherence among hypertensive patients to taking antihypertensive medication remains a significant issue in hypertension management in Indonesia, particularly in West Java. Objective: This study aims to identify the factors associated with non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java. Methods: This research used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analyses. Results: The prevalence of non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java is 53.1%, with “feeling healthy” being the most common reason for non-adherence. Significant factors associated with non-adherence to antihypertensive medication include: being aged 18–59 years (PR = 1.23; 95% CI = 1.06–1.47), having a low education level (PR = 1.17; 95% CI = 1.09–1.27), lacking health insurance (PR = 1.26; 95% CI = 1.18–1.36), smoking (PR = 1.12; 95% CI = 1.04–1.21), and lacking knowledge related to antihypertensive medication (PR = 1.88; 95% CI = 1.72–1.97). Conclusion: The government needs to enhance health education and emphasize the importance of regularly taking antihypertensive medication, even when no symptoms are present. Additionally, cross-sector collaboration is necessary to support the prevention of non-adherence to antihypertensive medication.
Read More
S-12011
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Regina Loprang; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Tri Yunis Miko Wahyono, RR Diah Handayani, Sulistyo
Abstrak:
Tuberkulosis resisten obat (TBC RO) tetap menjadi hambatan utama dalam eliminasi tuberkulosis, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam beban TBC RO secara global. Dari perkiraan 30.000 kasus baru setiap tahun, hanya 39% yang terdiagnosis dan dilaporkan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah sebesar 57%. Penelitian ini menganalisis faktor risiko kematian pada pasien TBC RO yang menggunakan paduan pengobatan jangka pendek (STR) di Indonesia selama 2020–2022 dengan desain kohort retrospektif dan analisis survival menggunakan data SITB. Temuan utama mengidentifikasi usia lanjut (≥65 tahun), koinfeksi HIV tanpa ART, riwayat pengobatan ulang, keterlambatan memulai pengobatan (>3 bulan), dan rejimen berbasis suntikan STR sebagai faktor risiko kematian yang signifikan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi (87,37%) ditemukan pada pasien yang memulai pengobatan dalam 2–4 minggu setelah diagnosis dan terendah (77,36%) pada mereka yang menunda pengobatan lebih dari tiga bulan. Koinfeksi HIV tanpa ART menjadi faktor risiko terkuat, meningkatkan risiko kematian hingga sepuluh kali lipat, sementara usia lanjut meningkatkan risiko 3,67 kali dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis dan pengobatan tepat waktu, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.

Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a critical barrier to tuberculosis elimination, with Indonesia ranking third globally in DR-TB burden. Despite an estimated 30,000 new cases annually, only 39% are diagnosed and reported, with a low treatment success rate of 57%. This study analyzed mortality risk factors among DR-TB patients treated with shorter treatment regimens (STR) in Indonesia from 2020 to 2022 using retrospective cohort and survival analyses of SITB data. Key findings identified older age (≥65 years), HIV co-infection without ART, re-treatment history, delayed treatment initiation (>3 months), and STR injection-based regimens as significant mortality risk factors. Survival was highest (87.37%) among patients starting treatment within 2–4 weeks of diagnosis and lowest (77.36%) for those delaying beyond three months. HIV co-infection without ART posed the strongest risk, increasing mortality tenfold, while advanced age raised the risk 3.67 times compared to younger cohorts. These findings underscore the need for timely diagnosis and treatment, particularly for high-risk groups
Read More
T-7436
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anastasha Cassandra Ko; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian global, dengan kasus hipertensi diproyeksikan meningkat dari 639 juta pada 2000 menjadi 1,5 miliar pada 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi meningkat dan menjadi penyebab kematian utama ketiga, namun hanya kurang dari 10% penderita yang memiliki kontrol tekanan darah baik. Penelitian ini menganalisis hubungan karakteristik pasien hipertensi dengan konsumsi obat antihipertensi pada responden Riskesdas 2018. Desain penelitian cross-sectional ini menggunakan data Riskesdas 2018 dengan responden berusia 18 tahun ke atas. Survei oleh Kementerian Kesehatan RI menggunakan stratified multistage random sampling untuk representasi nasional. Karakteristik pasien yang dianalisis meliputi jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal. Analisis statistik chi-square bivariat dengan signifikansi p < 0.05 digunakan untuk menentukan hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik pasien hipertensi yang signifikan terkait konsumsi obat antihipertensi guna merancang intervensi pengendalian hipertensi yang lebih efektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa responden perempuan (OR = 0,78; 95%CI= 0,75-0,81), kelompok umur berisiko (≥31 tahun) (OR = 0,32; 95%CI= 0,30-0,35), individu dengan pendidikan rendah (OR = 1,27; 95%CI=1,22-1,33), tidak bekerja (OR = 1,30; 95%CI= 1,26-1,35), dan tinggal di perdesaan (OR = 0,95; 95%CI= 0,92-0,99) berhubungan dengan konsumsi obat antihipertensi. Temuan ini menekankan perlunya peningkatan kesadaran dan kepatuhan terhadap pengobatan antihipertensi terutama di kalangan kelompok berisiko tinggi, untuk mengurangi beban hipertensi di Indonesia.

Non-communicable diseases (NCDs) account for 71% of global deaths, with hypertension cases projected to increase from 639 million in 2000 to 1.5 billion by 2025. In Indonesia, the prevalence of hypertension is rising and is the third leading cause of death, but less than 10% of patients have good blood pressure control. This study analyzes the relationship between the characteristics of hypertensive patients and the consumption of antihypertensive drugs among respondents of the 2018 Riskesdas. This cross-sectional study design uses data from the 2018 Riskesdas with respondents aged 18 years and older. The survey by the Indonesian Ministry of Health used stratified multistage random sampling for national representation. The analyzed patient characteristics include gender, age group, education, occupation, and place of residence. Bivariate chi-square statistical analysis with significance set at p < 0.05 was used to determine these relationships. The aim of this study is to identify significant characteristics of hypertensive patients related to the consumption of antihypertensive drugs to design more effective hypertension control interventions. The analysis results show that female respondents (OR = 0.78; 95%CI = 0.75-0.81), at-risk age group (≥31 years) (OR = 0.32; 95%CI = 0.30-0.35), individuals with low education (OR = 1.27; 95%CI = 1.22-1.33), unemployed (OR = 1.30; 95%CI = 1.26-1.35), and living in rural areas (OR = 0.95; 95%CI = 0.92-0.99) are associated with the consumption of antihypertensive drugs. These findings highlight the need to increase awareness and adherence to antihypertensive treatment, especially among high-risk groups, to reduce the burden of hypertension in Indonesia.
Read More
S-11782
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Pujiwati Permata Rima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Rakhmad Hidayat, Tiersa Vera Junita
Abstrak:
Stroke adalah penyakit penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung di dunia. Analisis faktor yang mempengaruhi lama perawatan pada rawat inap dengan populasi Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk mengevaluasi hubungan antara hiperglikemia dan hiperkloremia dengan lama perawatan pada pasien stroke iskemik akut di unit rawat inap RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Data sekunder rekam medis dari pasien stroke iskemik akut yang dirawat antara 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022 digunakan untuk analisis. Metode non-probability sampling tipe purposive digunakan untuk merekrut sampel. Analisis statistik yang dilakukan termasuk analisis deskriptif, bivariat, stratifikasi, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan stroke iskemik akut yang masuk ke unit rawat inap RSUD Pasar Minggu adalah 84.5%. Proporsi hiperglikemia pada pasien tersebut adalah 27%, sedangkan proporsi hiperkloremia adalah 10.2%. Median lama perawatan pasien adalah 5 hari. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara durasi perawatan ≥ 5 hari dengan lama perawatan setelah dikontrol dengan variabel kovariat, (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00). Sementara hubungan antara hiperkloremia dan lama perawatan tidak signifikan secara statistik (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56) setelah dikontrol dengan variabel kovariat. Diperlukannya kampanye kesehatan publik, program pemeriksaan berkala, serta penyediaan sistem monitoring pengobatan bagi pasien dengan gangguan metabolik seperti diabetes. Penting untuk memberikan edukasi, mengembangkan protokol penanganan yang jelas, dan melakukan pemantauan glukosa darah serta elektrolit secara teratur pada pasien stroke iskemik akut.

Stroke is the leading cause of death after heart disease in the world. Analysis of factors affecting the length of hospital stay among the Indonesian population is still rarely conducted. This study employed a cross-sectional design to assess the association between hyperglycemia and hyperchloremia with the length of stay in acute ischemic stroke patients at the inpatient unit of RSUD Pasar Minggu Hospital, South Jakarta, Indonesia. Secondary data from acute ischemic stroke patients admitted between January 1, 2022, and December 31, 2022, were analyzed. A purposive non-probability sampling method was used to recruit the sample. Statistical analyses included descriptive, bivariate, stratification, and multivariate analyses. The results revealed that 84.5% of patients admitted to the RSUD Pasar Minggu Hospital had acute ischemic stroke. The proportion of hyperglycemia among these patients was 27%, while hyperchloremia was 10.2%. The median length of stay was 5 days. After controlling for covariates, the association between hyperglycemia and length of stay remained statistically significant (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00), while the association between hyperchloremia and length of stay remained not statistically significant (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56). There is a need for public health campaigns, regular screening programs, and integrated treatment monitoring systems for patients with metabolic disorders such as diabetes. It is essential to provide education, develop clear treatment protocols, and regularly monitor blood glucose and electrolytes in acute ischemic stroke patients.
 
Read More
T-6923
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Agustina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Rizka Maulida, Sulistyo
Abstrak: Kasus TB RO menyebabkan beban pengendalian penyakit TB menjadi bertambah. Adanya penurunan angka keberhasilan pengobatan dari tahun 2010 (67,9%) menjadi 51,1% tahun 2013 dan peningkatan kasus pasien putus berobat mendorong Indonesia menerapkan pengobatan jangka pendek untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB RO dan menurunkan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini melihat hasil pengobatan TB RO dan faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek di Indonesia tahun 2017 menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Menggunakan data pasien TB RO yang tercatat dalam e-TB manager berusia ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatan regimen pendek maksimal pada bulan November 2018. Didapatkan 223 kasus dengan 46,6% sembuh, 26,5 % putus berobat, 4,9% pengobatan lengkap, 14,2 meninggal, 6,3% gagal dan 1,3% lainnya. Usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis resistensi, status HIV, status diabetes mellitus dan status kavitas paru secara statistik tidak berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek ialah resisten terhadap amikasin (RR 7.4; 95% CI 4.68- 17.29), ofloksasin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), dan kanamisin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), dan interval inisiasi pengobatan > 7 hari (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Kata kunci: hasil pengobatan; pengobatan jangka pendek; TB RO

The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply shortterm treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others.. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Key words: treatment outcomes; short-term treatment; DR-TB
Read More
S-9891
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive