Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24647 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hendro Darmawan; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Dede Kusmana, Slamet Suyono; Penguji: Budhi Setianto, Djanggan Sargowo, Ratna Djuwita, Irawan Yusuf
D-215
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Zubir; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Ratna Djuwita, Nasrin Kodim, Ekowati Rahajeng, Setyadi
Abstrak:

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian di dunia yang akan terus meningkat dan menjadi pandemi tanpa memandang batas negara. Setiap tahun di dunia sebanyak 3.8 juta laki-laki dan 3.4 jiwa wanita meninggal karena penyakit jantung koroner. Perubahan daya hidup, peningkatan usia harapan hidup dan urbanisasi mendorong timbulnya abnormalitas metabolisme seperti obesitas, dislipidemia, resistensi insulin dan hipertensi. Kumpulan abnormalitas metablik ini disebut dengan sindroma metabolik pada akhirnya akan meningkatkan kemungkinan menderita penyakit jantung koroner tiga kali lipat Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuinya hubungan sindroma metabolik dengan penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang Tahun 2008 setelah dikontrol dengan variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol dan aktivitas fisik. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Kasus adalah penderita baru penyakit jantung koroner berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter, penyakit tersebut baru terdiagnosis pada Bulan Januari sampai Mei 2008. Kontrol adalah semua pengunjung ang dinyatakan sebagai bukan penderita penyakit jantung koroner, pada Bulan Januari sampai Mei 2008 berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter. Sindroma Metabolik menurut AHA/NHLBI 2005 ditegakkan diagnosis bila terdapat empat kriteria dibawah ini: tekanan darah > 130/85 mmHg, kadar trigliserida darah >150mg/dl, kolesterol HDL pada laki-laki < 40 mg/dl dan wanita < 50 mg/dl dan kadar gula darah puasa > 100mg/dl Telah dilakukan panelitian terhadap 300 orang responden terdiri dari 150 pada kelompok kasus dan 150 pada kelompok kontrol. Hasil analisis multivariat didapatkan kejadian penyakit jantung koroner (PJK) berisiko 4,67 kali lebih besar pada orang yang mengalami sindroma metabolik dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami sindroma metabolik setelah dikontrol dengan variabel jenis kelamin (95% CI:1,20-18,06). Pada hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sindroma metabolik dengan kejadian penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang tahun 2008.

Read More
T-2921
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fariha Ramadhaniah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Woro Riyadina, Dian Meutia Sari
Abstrak:
Indonesia memiliki beban yang serius terhadap penyakit kardiovaskular, terutama PJK. Di Asia Tenggara, Indonesia memiliki angka kematian tertinggi akibat penyakit jantung. Prevalensi PJK berbasis diagnosis dokter tidak mengalami kenaikan, meski begitu, berdasarkan data Riskesdas 2013-2018, terjadi kenaikan terhadap prevalensi faktor risiko PJK. Beberapa faktor risiko PJK yang terjadi bersamaan menyebabkan sindrom metabolik, prevalensinya cukup tinggi di Indonesia dan meningkatkan risiko PJK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko sindrom metabolik terhadap terjadinya PJK di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, dengan median masa pengamatan 6,8 tahun, data skunder IFLS4 tahun 2007 dan IFLS5 tahun 2014 pada 6.571 responden usia 40-69 tahun. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi sindrom metabolik 20%, berdasarkan kriteria Joint Interim Statement. Kasus baru PJK 2,72%, dengan insiden rate 34 per 100.000 orang tahun. Analisis multivariat dengan uji cox regression mendapatkan HR 2,16 (95%CI 1,564-2,985), bahwa seseorang dengan sindrom metabolik memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami PJK dibanding tanpa sindrom metabolik setelah mengontrol variabel jenis kelamin, umur, status merokok, dan aktivitas fisik.

Indonesia has a serious burden of cardiovascular disease, especially CHD. In Southeast Asia, Indonesia has the highest death rate from heart disease. The prevalence of CHD based on doctor's diagnosis did not increase, however, based on the Riskesdas 2013-2018, there was an increase in the prevalence of CHD risk factors. Several risk factors for CHD that occur together cause metabolic syndrome, the prevalence is quite high in Indonesia and increases the risk of CHD. The purpose of this study was to determine the risk of metabolic syndrome on the incidence of CHD in Indonesia. This retrospective cohort study, was followed up with a median of 6.8 years, secondary data from IFLS4 in 2007 and IFLS5 in 2014, population study 6,571 respondents, aged 40-69 years. The results of the study found that the prevalence of metabolic syndrome was 20%, based on the Joint Interim Statement criteria. New cases of CHD are 2.72%, with an incidence rate of 34 CHD per 100,000 person years. Multivariate analysis with cox regression test found HR 2.16 (95% CI 1.564-2.985), that someone with metabolic syndrome had a twice higher risk of developing CHD after adjusting gender, age, smoking status, and physical activity
Read More
T-6269
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Sari; Pembimbing: Gayati Dwi; Penguji: Krisnawati Bantas, Ratna Djuwita, Anies Irawati
Abstrak: Sindroma metabolik merupakan kombinasi kelainan metabolik yang meliputi komponen obesitas sentral, hipertensi, hipertrigliserida, rendahnya kolesterol HDL, dan hiperglikemia. Pada penduduk dewasa (≥ 18 tahun) telah terjadi peningkatan dari beberapa komponen sindroma metabolik pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2007. Kejadian hipertensi meningkat sebesar 9,5% lebih besar dibandingkan tahun 2007 (7,6%). Prevalensi diabetes melitus meningkat sebesar 2,1% dibandingkan tahun 2007 (1,1%). Sementara itu, prevelensi obesitas sentral meningkat sebesar 26,6% dibandingkan tahun 2007 (18,8%). Konsumsi sayur dan buah ≥ 5 porsi/hari pada penduduk Indonesia juga masih rendah (3,3%). Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan konsumsi sayur dan buah terhadap kejadian sindroma metabolik pada penduduk dewasa (≥ 18 tahun) di Indonesia. Penelitian yang menggunakan desain studi cross sectional ini menggunakan data Riskesdas 2013. Sampel adalah seluruh dewasa (≥ 18 tahun) di Indonesia tahun 2013 yang terdaftar dalam survei Riskesdas 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis menggunakan cox regression untuk mendapatkan hubungan dari konsumsi sayur dan buah dengan sindroma metabolik. Hasil penelitian diperoleh prevalensi sindroma metabolik sebesar 28,2% dan konsumsi sayur dan buah cukup sebesar 1,5%. Konsumsi sayur dan buah tidak memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian sindroma metabolik (PRR = 0,987; 95%CI: 0,790-1,233) setelah dikontrol oleh variabel aktifitas fisik, jenis kelamin, umur, dan wilayah tempat tinggal. Diperlukan pencegahan pada komponen sindroma metabolik dan peningkatan konsumsi sayur dan buah yang cukup. Kata Kunci: Dewasa, Konsumsi sayur dan buah, Riskesdas 2013, Sindroma metabolik
Read More
T-4476
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danastri Widoningtyas; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Rofingatul Mubasyiroh
S-10407
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Johan Harlan; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo, Kopromotor, Sooemarmo Markam
D-80
Depok : FKM UI, 2003
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlinggom Silitonga; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-863
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutantik Endang Kasunjatan; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah, Renti Mahkota; Penguji: Sidartawan Soegondo, Kusharisupeni; Ratna Djuwita
T-2380
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riska Desti Ayu; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Muhammad Sugeng Hidayat, Misti
Abstrak:
enyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian secara global dengan angka mortalitas hampir 17,5 juta setiap tahunnya. Merokok menyumbang 33% dan Hipertensi menyumbang 31% dari semua kematian akibat cardiovascular disease. Merokok dan Hipertensi merupakan faktor risiko utama PJK yang menjadi masalah serius yang perlu ditangani di Indonesia maupun dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko merokok dan hipertensi dengan kejadian penyakit jantung koroner di Indonesia. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif. Data yang digunakan yaitu data sekunder Indonesian Family Life Survey (Data IFLS-4 dan IFLS-5 tahun 2007-2014) dengan total sampel 19.486 responden penduduk yang berusia ≥18 tahun. Analisis data dengan cox regression dan besar risiko dinyatakan dalam risk ratio (RR) dengan confidence interval (CI) 95%. Data analisis menggunakan software pengolah data. Hasil analisis multivariat setelah di kontrol berdasarkan jenis kelamin dan riwayat DM didapatkan bahwa merokok secara individual tidak berhubungan dengan PJK di Indonesia tahun 2007-2014 dengan nilai (RR 1,08 ; 95% CI = 0,70-1,67). Hipertensi secara individual meningkatkan risiko PJK (RR 1,19 ; 95% CI = 0,92-1,53). Merokok dan hipertensi secara bersama meningkatkan risiko PJK dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan tidak mempunyai hipertensi di Indonesia tahun 2007-2014 (RR 1,66 ; 95% CI = 1,11-2,48) artinya responden yang merokok dan hipertensi berisiko mengalami PJK 1,66 kali (95% CI; 1,11-2,48) dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan tidak hipertensi.

Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of death globally with a mortality rate of nearly 17.5 million annually. Smoking accounts for 33% and hypertension accounts for 31% of all deaths from cardiovascular disease. Smoking and hypertension are major risk factors for CHD, which are a serious problem that needs to be addressed in Indonesia and the world. The purpose of this study was to determine the greater risk of smoking and hypertension with the incidence of coronary heart disease in Indonesia. The study used a retrospective cohort design. The data used are secondary data from the Indonesian Family Life Survey (IFLS-4 and IFLS-5 data for 2007-2014) with a total sample of 19,486 population respondents aged ≥18 years. Data analysis with cox regression and the amount of risk is expressed in risk ratio (RR) with a confidence interval (CI) of 95%. Data analysis using data processing software. The results of multivariate analysis after being controlled by sex and DM history showed that smoking individually was not related to CHD in Indonesia in 2007-2014 with a value (RR 1.08; 95% CI = 0.70- 1.67). Hypertension individually increases CHD risk (RR 1.19; 95% CI = 0.92-1.53). Smoking and hypertension together increase the risk of CHD compared to people who don't smoke and don't have hypertension in Indonesia in 2007-2014 (RR 1.66; 95% CI = 1.11-2.48) meaning that respondents who smoke and hypertension are at risk of experiencing CHD 1.66 times (95% CI; 1.11-2.48) compared to nonsmokers and those without hypertension.

Read More
T-5958
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grace Debbie Kandou; Promotor: Nuning M.K Masjkuri; Ko.Promotor: Ratna Djuwita, Budhi Setianto, Sudarto Ronoatmojo; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Sudijanto Kamso, Kusharisupeni, Nuning MK Maskjuri, Ratna Djuwita, Budhi Setianto
D-224
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive