Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35551 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dyah Sobariyati; Pemb. Nuning Naria Kiptiyah, Tri Yunis Miko; Penguji: Fidiansyah, Mondastri Korib, Salimar Salim
T-2743
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Banonah Rivai; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Ratna Djuwita, Indang Trihandini, Janto G. Lingga, Dyah Erty Mustikawati
T-3032
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Hanifah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia
yang merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Tahun 2023 di DKI Jakarta terjadi peningkatan insiden TBC sebesar 31,75% dibandingkan tahun sebelumnya dan bahkan melebihi target insiden 2023 yang ditetapkan (>54.175 kasus). Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang memanfaatkan data Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK), dengan tujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC paru di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023. Sampel penelitian adalah seluruh kontak terduga TBC di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023 yang memiliki hasil pemeriksaan TBC. Hasil penelitian menunjukkan lansia (PR = 1,56; 95% CI: 1,473–1,653), laki-laki (PR = 1,37; 95% CI: 1,314–1,441), perokok (PR = 1,28; 95% CI: 1,206–1,367), penderita DM (PR = 1,85; 95% CI: 1,585–2,171), dan pengobatan TBC tidak tuntas (PR = 2,24; 95% CI: 2,121–2,365) merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian TBC paru. Sementara itu kontak serumah (PR = 0,6; 95% CI: 0,538–0,678) memiliki hubungan signifikan yang bersifat protektif terhadap kejadian TBC paru. Sosialisasi upaya berhenti/mengurangi rokok, penyuluhan pencegahan TBC kepada lansia dan penderita DM serta pendampingan pengobatan pasien TBC merupakan upaya yang dapat mencegah terjadinya insiden TBC paru di DKI Jakarta.


Tuberculosis is a major public health threat in Indonesia, which is the second-highest TB burdened country in the world. In 2023, the incidence of TB in Jakarta increased by  31.75% compared to the previous year and even exceeded the 2023 incidence target  (>54,175 cases). This study is a cross-sectional study utilizing data from the Community  Tuberculosis Information System (SITK), aimed at identifying risk factors associated  with pulmonary TB cases in Jakarta Province from 2022 to 2023. The study sample  consisted of all suspected TB contacts in Jakarta Province from 2022 to 2023 who had  undergone TB testing. The study results showed that older adults (PR = 1.56; 95% CI:  1.473–1.653), males (PR = 1.37; 95% CI: 1.314–1.441), smokers (PR = 1,28; 95% CI:  1,206–1,367), DM patients (PR = 1.85; 95% CI: 1.585–2.171), and incomplete TB  treatment (PR = 2.24; 95% CI: 2.121–2.365) were significant risk factors for pulmonary  TB incidence. Meanwhile, household contacts (PR = 0.6; 95% CI: 0.538–0.678) have a  significant protective association with the occurrence of pulmonary TB. Efforts to  promote smoking cessation/reduction, TB prevention education for the elderly and DM  patients, and patient accompaniment during TB treatment are measures that can prevent  the occurrence of pulmonary TB in Jakarta. 

Read More
S-11960
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Perdana; Pembimbing: Nuning MK. Masjkuri, Mondastri Korib Sudaryo, Biomed Yuwono M.; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko, Erni J. Jelwan, Zen Hafy
Abstrak: Disertasi ini membahas hubungan varian genotip alel G gen CD209 titik promoter -336 terhadap kejadian Infeksi oportunistik TB Paru Pada ODHA, dengan rancangan potong lintang. Data infeksi oportunistik TB Paru  diperoleh dari catatan rekam medik RSPI Sulianti Saroso, sedangkan adanya penentuan varian genotip alel A/G gen CD209 titik promoter-336 dari pemeriksaan PCR dan analisis sekuensing. Analisis data menggunakan regresi cox.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan alel G gen CD209 titik promoter-336 terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 1,57 p=0,235, CI: 0,74-3,32). Alel G gen CD209 titik promoter -336 merupakan faktor risiko pada perempuan terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 1,75 p=0,11, CI;0,97-3,14). Alel G gen CD209 titik promoter-336 pada malnutrisi terdapat hubungan terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 2,1 p=0,22, Cl; 0,68-6,39). Alel G gen CD209 titik promoter-336 pada kelompok umur diatas 50 tahun  berisiko 3,5 kali mengalami kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 3,5 p=0,07, Cl;1,09-11,3). Adanya riwayat kontak TB Paru serumah dengan alel G gen CD209 titik promoter-336 juga berisiko 1,5 kali dapat mencetuskan kejadian infeksi oportunistik TB Paru, walaupun tidak signifikan (PR 1,5 p=0,36, Cl 0,85-2,73).
Read More
D-409
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Pradipta; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Adria Rusli
S-10310
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovella Medhira Pujiasti; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Modastri Korib Sudaryo, Laura Hotdiana
S-9430
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Hafsari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Esti Nurwidiyanti
Abstrak: Jumlah kasus HIV / AIDS setiap tahunnya mengalami peningkatan, dan salah satu faktor yang menyebkan peningkatan kasus HIV adalah dengan adanya peningkatan jumlah penularan di kalangan pengguna NAPZA suntik. Masalah tersebut mendorong dilakukannya penelitian ini untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan status HIV pada pengguna NAPZA suntik di Klinik PTRM Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur Tahun 2014. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel 46 pasien NAPZA suntik di Klinik PTRM. Hasil penelitian menunjukkan status HIV ( + ) sebesar 63%, diketahui 87% penasun adalah laki-laki, 58.7% berusia 34 tahun, 71,7% memiliki tingkat pendidikan SMA, 58.7% menikah, 69.6% memiliki tingkat pengetahuan HIV yang baik, 63% penasun telah menyuntik 9 tahun, 50% penasun pertama kali menyuntik di usia < 19 tahun, 69.6% penasun menyuntik 3 kali sehari, 87% penasun berbagi jarum suntik, 43.5% penasun melakukan sterilisasi dengan air bersih, 60.9% penasun melakukan seks berisiko rendah, 80.4% penasun memanfaatkan LJSS, 52.2% telah mengikuti terapi metadon 4 tahun, 58.7% penasun mendapatkan NAPZA dari 2 sumber yang berbeda. Hasil uji Chi Square menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara usia pertamakali menyuntik (PR 1.8; P Value = 0.02), berbagi jarum suntik (PR 4.2; P Value =0.02), dan sterilisasi jarum menggunakan air bersih (PR 5.5; P Value = 0.006) dengan status HIV. Oleh karena itu perlu dikembangkan lagi akses terhadap jarum suntik steril bagi penasun.
Kata kunci: Status HIV, Pengguna NAPZA Suntik
Number of HIV/AIDS cases has increased every year, and one of factor that cause this rapid increases is the rise prevalence among injecting drug user.That problem encourage this study to observe the factors associated HIV status among Injecting Drug Users at Methadone Maintenance Treatment Program RSKO Jakarta in 2014. This study using cross sectional study with 46 sample of IDUs in methadone maintenance treatment program. The results shows that proportion of HIV ( + ) is 63%, most respondents (87%) are male, 58.7% aged 34 year, 71.7% have less or secondary high school, 58.7% married, 69.6% have good knowledge about HIV, 63% had injecting for 9 years, 50% first injecting drugs in < 19 years old, 69.6% injected drugs 3 times a day, 87% sharing needles, 43.5% rinsed needles with clean water, 60.9% having low risk sexual activity, 80.4% had utilize Needle and Syringe Program (NSP), 52.2% had join methadone maintenance treatment program for 4 year. The results of Chi-square test stated there are significant relationship between age of first injecting drugs(PR 1.8; P Value = 0.02), sharing needles (PR 4.2; P Value = 0.02) and rinsed needle with clean water (PR 5.5; P Value = 0.006) with HIV status. The results suggest that access of needle exchange programs should be developed.
Key words: HIV Status, Injecting Drug Users
Read More
S-8466
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setya Thamarina; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Diana Magdalena Pakpahan
S-9020
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.A. Della Patrisia Pramesti; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Andri Mursita
Abstrak: latar belakang: prevalensi stunting di provinsi dki jakarta dan beberapa kabupaten/kota di dalamnya masih berada di atas 20% berdasarkan beberapa riset berbeda di tahun 2013, 2015, dan 2016. stunting masih menjadi masalah gizi di wilayah tersebut.
tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita 6-59 bulan di provinsi dki jakarta tahun 2016.
metode: penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder yaitu data pemantauan status gizi 2016. penelitian ini menggunakan sampel sejumlah 1562 balita untuk menganalisis 10 faktor risiko stunting.
hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting dalam penelitian ini sebesar 21.1%. hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stunting diantaranya adalah usia balita (por = 1.62, 95% ci = 1.23-2.12), jumlah balita dalam rumah tangga (por = 3.24, 95% ci = 1.08-9.71), dan pendidikan ibu (por = 1.52, 95% ci = 1.18-1.95).
kesimpulan: prevalensi stunting di provinsi dki jakarta dalam penelitian ini masih diatas 20% dan hanya ada tiga faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting.
kata kunci : stunting, gizi, balita.
Read More
S-9604
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.

There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
Read More
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive