Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30655 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Budi Haryanto; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: I Made Djaja; Penguji: Budi Utomo, Julie Soemirat, Johanna S.P Rumawas, Ratna Djuwita, Sumengen Sutomo
D-221
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erni Yusnita Lalusu; Promotor: Ratna Djuwita Hatma; Kopromotor: Mondastri Korib Sudaryo, Dwiana Ocviyanti; Penguji: Pradana Soewondo, Endang L. Achadi, Besral; Rimbawan, Anang S. Otoluwa
Abstrak:
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah selama kehamilan diantara ibu hamil yang diberikan suplemen MGM sejak periode prakonsepsi (Grup 1.), yang diberikan suplemen MGM sejak awal kehamilan (Grup 2.), dan yang diberikan Fe+Folat sejak awal kehamilan (Grup 3.) setelah mengendalikan berbagai kovariat. Metode: Ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan non-randomize community trial with pre and post-test control group design, yang melibatkan 25 orang pada grup 1, 41 orang pada grup 2, dan 37 orang ibu hamil pada grup 3. Kadar glukosa darah diperiksa pada baseline studi, minggu ke-12, 24, dan 28 kehamilan. Pengukuran dan pengambilan data menggunakan instrument terstandar. Pengukuran dan analisis glukosa darah dilakukan di laboratorium dengan metode terstandar. Analisis multivariat menggunakan Regresi Linear Generalized Estimated Equation (GEE). Hasil penelitian: Pada minggu ke-24 kehamilan antara grup 1 dan grup 3 menunjukkan perbedaan rerata kadar glukosa darah yang signifikan (p<0.001). Demikian pula antara grup 2 dan grup 3 (p<0.001). Grup 1 dan 2 lebih rendah (87 (53-111) mg/dl dan 86 (65-110) mg/dl) dibandingkan dengan grup 3 yaitu 115 (68-204) mg/dl. Pada minggu ke-28 juga menunjukkan perbedaan (p<0.001). Rerata kadar glukosa darah grup 1 = 91(53-141) mg/dl, grup 2 = 93 (62-146) dan grup 3 = 137 (74-244) mg/dl. Analisis multivariat menunjukkan pada minggu ke-24 rerata GDS ibu hamil pada grup 3 lebih tinggi 26 mg/dl dari grup 1 (p<0.001). Demikian pula pada minggu ke-28, rerata glukosa darah grup 3 lebih tinggi 48mg/dl dibandingkan grup 1 (p<0.001). Sedangkan antara grup 2 dan grup 1 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan baik pada minggu ke-24 (p=0.891) maupun pada minggu ke-28 (p=0.762). Pemberian suplemen MGM sejak periode prakonsepsi maupun sejak awal kehamilan menunjukkan kadar glukosa darah yang lebih rendah dibandingkan pada pemberian Fe+folat. Namun demikian, antara pemberian MGM sejak prakonsepsi dengan pemberian sejak awal kehamilan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kadar glukosa darah. Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat bukti temuan ini dengan menggunakan parameter yang lebih spesifik dan menerapkan prosedur randomisasi.

This study was conducted to determine the difference in Blood Glucose Level (BGL) during pregnancy between pregnant women who were given MMS since the preconception period (Group 1.), given MMS since early pregnancy (Group 2.), and those who were given iron-folic acid (IFA). early in pregnancy (Group 3.) after controlling for various covariates. This is a quasi-experimental study with a non-randomized community trial with a pre and post-test control group design, involving 25 people in group 1, 41 people in group 2, and 37 people in group 3. BGLs The examination is carried out at the 12th, 24th, and 28th weeks of pregnancy. Measurement and data collection using standardized instruments. BGL measurements and analyzes were performed in a standardized laboratory. Multivariate analysis using Generalized Estimated Equation Linear Regression (GEE). Results: At the 24th week of gestation, group 1 and group 3 showed a significant difference in the mean of BGL (p<0.001). Similarly, between group 2 and group 3 (p<0.001). Groups 1 and 2 were lower (87 (53-111) mg/dl and 86 (65-110) mg/dl) compared to group 3 at 115 (68-204) mg/dl. 28th Week also showed a difference (p<0.001). The mean blood glucose levels in group 1 = 91(53-141) mg/dl, group 2 = 93 (62-146) and group 3 = 137 (74-244) mg/dl. Multivariate analysis showed that at the 24th week the mean BGL of pregnant women in group 3 was 26 mg/dl higher than in group 1 (p<0.001). Similarly, at the 28th week, the mean BGL of group 3 was 48mg/dl higher than group 1 (p<0.001). Meanwhile, there was no significant difference between group 2 and group 1 at week 24 (p=0.891) or at week 28 (p=0.762). The administration of MMS supplements since the preconception period and since the beginning of pregnancy showed lower blood glucose levels than the administration of IFA. However, the administration of MMS since preconception and early pregnancy did not show a significant difference in blood glucose levels. Further research is needed to strengthen the evidence of these findings by using more specific parameters and applying randomization procedures.
Read More
D-469
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Arminsih Wulandari; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko-Promotor: Sumengen Sutomo, Harun Asyiq Gunawan; Penguji: Retno Hayati, Ratna Djuwita, Julie Soemirat, Johny Wahyuadi
D-236
Depok : FKM-UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Venny Lisvita; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-3349
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Subiakto; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Nurhayati A. Prihartono, Mohamad Sadikin; Penguji: Purwantyastuti, Sabarinah B. Prasetya, Meily Kurniawidjaja, Carmen M. Siagian, Wawan Mulyawan
Abstrak: Dengan Vitamin E 200 mg Terhadap Penurunan Stres Oksidatif Dan Peningkatan Antioksidan Pada Teknisi Awaak Pesawat Terbang Militer. Stres oksidatif merupakan kondisi patologis tubuh yang disebabkan oleh terjadinya ketidakseimbangan antara oksidan dengan antioksidan tubuh, yang menghasilkan radikal bebas yang dapat mengakibatkan kerusakan sel secara dini. Radikal bebas akan berikatan bahan penyusun sel meliputi lemak, protein dan DNA akibatnya sel mengalami kerusakan, sehingga sel tidak dapat beregenerasi yang berdampak timbulnya penyakit degeneratif. Teknisi awak pesawat terbang militer sebagai personel khusus dalam melakukan pekerjaan bersinggungan langsung dengan bahan-bahan oksidan, sehingga berisiko tinggi mengalami stres oksidatif. Vitamin C dan vitamin E merupakan antioksidan non enzim dari luar luar tubuh yang memiliki peran menghambat stres oksidatif, sehingga stres oksidatif tidak terjadi. Desain penelitian studi eksperimental dengan intervensi (intervention study) dengan randomized double blind controled trial. Besar sampel 206 orang terbagi dua kelompok yaitu kelompok intervensi besar sampel 103 orang diberikan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dan kelompok kontrol besar sampel 103 orang diberikan placebo selama 40 hari tanpa putus. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, pola dan jumlah konsumsi vitamin C, vitamin E dan nutrien makanan, yang diperoleh dari food frequecy questionnaire (FFQ) dan 24 jam recall, pemeriksaan stres oksidatif berdasarkan pemeriksaan kadar malondialdehyde (MDA) dan antioksidan berdasarkan pemeriksaan kadar glutathione (GSH) dalam serum darah pada pre dan post intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan stres oksidatif pada kelompok yang mendapatkan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan placebo, secara bermakna dengan p value 0,04 dengan besar efek - 0,089 nmol/mL, selang kepercayaan 95% (-0,17875 – 0,00095). Tidak terjadi peningkatan antioksidan pada kelompok yang mendapatkan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan placebo, secara tidak bermakna dengan p value 0,81 dengan besar efek -0,019 ug/mL, selang kepercayaan 95% (-0,140 – 0,180). Kata kunci : Suplemen Kombinasi Vitamin C dan Vitamin E, Stres Oksidatif, Antioksidan, Teknisi Awak Pesawat Terbang Milite
 

500 mg with Vitamin E 200 mg to Decrease Oxidative Stress and Increase Antioxidant on Technician Crew Military Aircraft. Oxidative stress is pathological condition body that is caused by imbalance between oxidants with antioxidants body, which produces free radicals that can lead cell damage early. Free radical will bind building blocks cell covering of fat, protein and DNA will result damage cell, so cell can not regenerate that affect onset of degenerative diseases. Technicians crew military aircraft as specialized personnel with activity job direct contact with material oxidant, thus high risk of oxidative stress. Vitamin C and vitamin E are antioxidant enzyme exogen outside body which has role inhibiting oxidative stress, so oxidative stress does not occur. The design study experimental studies with intervention randomized double blind controled trial. Sample size 206 people divided into two groups are intervention group with sample size 103 people are given supplements combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg and control group with sample size 103 people are given placebo for 40 days without break. Data collected include are characteristics of respondent, pattern and amount of consumption of vitamin C, vitamin E and nutrient food, derived from food frequecy questionnaire (FFQ) and 24-hour recall, examination of oxidative stress by checking levels malondialdehyde (MDA) and examination of antioxidant by checking levels glutathione (GSH) in blood serum in pre and post intervention. The results showed decrease oxidative stress in group intervention who are received suplement combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg compared with control group who are received placebo, are significant with p value 0.04 with effects size -0.089 nmol/mL, confidence interval 95 % (-0.17875 - 0.00095). No increase antioxidants in group intervention who are received supplement combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg compared with control group who are received placebo, are not significant with p value 0.81 with effects size -0.019 ug/mL, 95% confidence interval ( -0.140 - 0.180).
Read More
D-350
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoga Tri Wijayanti; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ahmad Syafiq, Mieke Savitri, Imran Pambudi, Damajanti
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian berdesain kohort retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh KIH terhadap perilaku dalam perawatan Bayi Baru Lahir yang meliputi pelaksanaan IMD, pemberian ASI saja, pencegahan hipotermi dan perawatan tali pusat dilakukan di 9 Kelurahan di Kota Metro. Jumlah sampel 86 responden ibu yang memiliki bayi umur < 1 bulan terdiri dari 2 kelompok, yaitu terpapar KIH dan tidak terpapar KIH masing-masing 43 responden. Data yang terkumpul dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan berpengaruh pada perawatan bayi baru lahir yaitu; KIH pada perilaku IMD dan pemberian ASI saja, pengetahuan pada perilaku pencegahan hipotermi dan dukungan nakes pada perawatan tali pusat. Disarankan bagi penentu kebijakan untuk memasarkan program KIH sesuai dengan segmentasi pasar, meningkatkan kualitas penyampaian materi pencegahan hipotermi dan perawatan tali pusat. Kata Kunci : Kelas Ibu hamil, perawatan bayi baru lahir


 ABSTRACT This retrospective cohort study aims to determine the effect of pregnancy class on behaviour in newborn care, including implementation of the immediate breast feeding, breastfeeding only, hypothermia prevention and the umbilical cord care. This study use to 86 respondent from mother which have newborn as a sample, consisting of exposed by pregnancy class and unexposed groups respectively 43 respondents. The Collected data were analyzed by univariat analysis, bivariate analysis and multivariate analysis by logistic regression using the prediction model. The result of study showed that the most dominant factors that are influential are; pregnancy class on immediate breastfeeding behaviour and breastfeeding only, the knowledge on the behaviour of hypothermia prevention and health workers support in umbilical cord care. Recommended for policy makers to make the role of pregnant mothers in the Pregnancy class activities becomes better, as the pregnancy class affect the behaviour of the well newborn care. Key Words : The Pregnancy Class, Newborn care

Read More
T-3545
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renti Mahkota; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Y. Kisyanto, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Lukman Hakim Makmun
Abstrak:

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran penggunaan obat antihiperlipidemia terhadap penurunan kadar kolesterol total.Penelitian analitik dengan rancangan Nested Case Control ini memanfaatkan data sekunder dari studi prospektif CARES (Cardiovascular Risk Estimation and Screening) tahun 2000 pada kelompok Crystal Club dan data primer untuk melengkapi kekurangan pada data. Dengan menggunakan total error laboratorium Prodia sebesar 10% maka kasus adalah mereka yang mengalami penurunan kadar kolesterol total 10% atau lebih selama kurang lebih satu bulan sedangkan kontrol adalah yang mengalami penurunan kadar kolesterol total kurang dari 10% atau mengalami peningkatan selama kurang lebih satu bulan juga.Dari 227 responden pada awal pemeriksaan terdapat 83,7% yang memiliki kadar kolesterol total > 200 mg/dl. Pada pemeriksaan yang kedua jumlah responden berkurang menjadi 191 responden. Untuk mengetahui peran penggunaan obat antihiperlipidemia dilakukan wawancara kembali. Dari 82 responden berhasil diwawancarai. Dari 82 responden 44 responden tidak menggunakan obat dan 38 responden menggunakan obat anttbiperlipidemia. Rata-rata penurunan terbesar diperoleh pada mereka yang menggunakan obat jenis atorvastatin yaitu sebesar 23,19%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar kolesterol total > 10% berhubungan dengan menggunakan obat antihiperlipidemia (OR = 5,91, 95% Cl 2,07 ; 16,88) dan pendidikan tinggi (OR = 5,28, 95% CI 1,59 ; 17,54) . Probabilitas penurunan kadar kolesterol total tertinggi pada mereka yang menggunakan obat antihiperlipidemia dan berpendidikan tinggi (75%). Bila dilihat dari jenis obat yang dikonsumsi maka penurunan kadar kolesterol total > 10% berhubungan dengan penggunaan obat jenis lain (OR = 1,35, 95% CI 0,28 ; 6,54), obat jenis statin lain (OR = 4,58, 95% CI 0,80 ; 26,04) dan obat jenis atorvastatin (OR = 19,93, 95% CI 4,21 ; 94,43) serta pendidikan tinggi (OR = 5,31, 95% Cl 1,40 ; 20,25). Probabilitas penurunan kadar kolesterol total tertinggi pada mereka yang menggunakan obat jenis atorvastatin dan berpendidikan tinggi (91%). Dan bila dilihat dari jumlah obat yang digunakan maka penurunan kadar kolesterol total berhubungan dengan penggunaan obat kurang dari 30 butir (OR = 3,36, 95% CI 0,75 ; 15,01) dan penggunaan obat sebanyak 30 butir selama satu bulan (OR = 7,47, 95% CI 2,33 ; 23,91) serta pendidikan tinggi (OR = 5,15, 95% CI 1,53 ; 17,30). Probabilitas penurunan kadar kolesterol total tertinggi pads mereka yang menggunakan obat antihiperlipidemia sebanyak 30 butir dan berpendidikan tinggi (80%).Berdasarkan hasil penelitian maka perlu dilakukan penelitian leblh lanjut untuk melihat efek dari penggunaan obat antihiperlipidemia terhadap penurunan risiko penyakit jantung koroner maupun risiko penyakit kardiovaskular lainnya.Daftar Pustaka : 64 (I982-2002)


 

The Role of Using Antihyperlipidernic on The Lowering of Total Cholesterol Level.The objective of this study is to examine the role of using antlhyperlipidemic on the lowering of total cholesterol level.This study is an analytical study with nested case control designed by using secondary data from prospective CARES (Cardiovascular Risk Estimation and Screening) study in 2000 and by using primary data to complete it. By using 10% total error from Prodia laboratory, the cases is people who get >10% decrease of total cholesterol level in one month, and control is people who get <10% decrease or increase of total cholesterol level as the same time.From 227 respondents in the early examination there are 83.7% who have X200 mg/dl total cholesterol level. In the second examination the number of respondents were decreased to 191 respondents. In order to examine the role of antihyperlipidemic, re-interview was conducted to 82 respondents. In which 38 respondents used the drugs whereas 44 didn't. Respondents who used atorvastatin had highest decrease of cholesterol level (23.19% on average).The result indicates that X10% decrease of total cholesterol level was related to the using of antihyperlipidemic (OR = 5.91, 95% CI 2.07 ; 16.88) and high educational level (OR - 5.28, 95% CI L59 ; 17.54). The highest probability of the decrease of total cholesterol level is people who take antihyperlipidemic and have high educational level (75%). According to the variety of drugs that being consumed, ?l0% decrease of total cholesterol level related to other drugs (OR = 1.35, 95% CI 0.28 ; 6.54), other statin drugs (OR = 4.58, 95% CI 0.80 ; 26.04), atorvastatin (OR = 19.93, 95% CI 4.21 ; 94.43), and people with high educational level (OR = 5.31, 95% CI 1.40 ; 20.25). The highest probability of decrease of total cholesterol level is people who take atorvastatin and high educational level (91%). According to the number of drug that being consumed, ?10% decrease of total cholesterol level was related to the use of < 30 pills antihyperlipidemic in one month (OR = 3.36, 95% CI 0.75 ; 15.01), the use of 30 pills in one month (OR = 7.47, 95% CI 2.33 ; 23.91), and who have high educational level (OR = 5,15, 95% CI 1,53 ; 17,30). The highest probability of the decrease of total cholesterol level is people who take 30 pills antihyperlipidemic in one month and high educational level (80%).Based on these results, it is very important to conduct several follow-up studies to confirm the effect of antihyperlipidemic on the decrease of coronary heart disease's risk or other cardiovascular diseases.References : 64 (1982-2002)

Read More
T-1289
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ati Sukmaningsih; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Laila Fitria, Dini Wardiani, Wawan Kurniawan
T-3139
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Laila; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Laila Fitria, Zakianis, Cucu Cakrawati, Heri Nugroho
Abstrak: Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah salah satu penyebab kematian padaanak di negara berkembang. Anak-anak adalah salah satu dari kelompok yangpaling berisiko. Selama dua tahun terakhir, ISPA merupakan sepuluh penyakitterbesar di Kecamatan Jatinegara.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PM10 dalam udara ruangkelas dengan kejadian ISPA pada siswa SD di Jakarta dengan desain studi crosssectional. Jumlah sampel 353 siswa dan 10 SDN di Kecamatan Jatinegara.Variabel yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada siswa SD yaitukonsentrasi PM 10 dalam ruang kelas, lubang udara di dapur, perilaku merokokdalam rumah, penggunaan obat anti nyamuk bakar, dan anggota keluarga sakitISPA. Siswa SD dengan konsentrasi PM 10 dalam ruang kelas yang tidakmemenuhi syarat (>70 μg/m3 ) berisiko 1,7 kali mengalami ISPA setelah dikontrololeh variabel lingkungan fisik kelas lainnya. Upaya yang perlu dilakukandiantaranya menjaga kebersihan kelas dan perawatan secara rutin, menanampohon di halaman sekolah sebagai filter udara, berperilaku hidup bersih dan sehat,dan membuat ventilasi udara yang cukup agar sirkulasi udara dalam ruang lancar.Kata kunci : konsentrasi PM10, ISPA, Siswa SD
Acute Respiratory Infection (ARI) is one of cause of death in children indeveloping countries. Children have the highest risk in increased dose of PM10exposure. In last two years, ARI is one of the top ten diseases in Jatinegara. Thisstudy aimed to analyze the relationship of PM 10 in air in classroom with ARI inthe elementary school students in Jakarta. Study design was cross-sectional with353 students as sample, taken from 10 SDN in Jatinegara area. Variablesassociated with ARI in elementary school students are PM10 concentrations inclassrooms, ventilation in the kitchen, smoking behavior in house, uses ofmosquito repellent, and family members with ARI. Students with PM10concentrations in classrooms which not qualify the standards (> 70 ug / m3 ) hasthe risks 1,7 times in causing ARI after the controlled physical environmentalclass variables. Efforts should be made to prevent ARI include maintaining theclass cleanliness and regular maintenance, planting trees in school yard as air filter,clean and healthy life behavior, and make adequate ventilation for air circulationin rooms.Keywords: concentration of PM10 , ARI , Elementary School Students.
Read More
T-4583
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Zaenal Mustofa; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Nasrin Kodim
T-1996
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive