Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41163 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ii Solihah; Pembimbing: Hadi Pratomo, Iwan Ariawan; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Ubaidillah Syathory
Abstrak:
Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia sering dilatar belakangi oleh tiga jenis keterlambatan (3T) yaitu keterlambatan mengenai tanda bahaya gawat darurat dan mengambil keputusan untuk merujuk, keterlambatan mencari fasilitas pclayanan kcschatan dan keterlambatan mempcroleh pcrtolongan memadai di fasilitas pelayanan rujukan (Depkes,2005). Tujuan Penelitian ini adalah diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan suami tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan. nifas dan neonatus, di Kabupaten Garut Jawa Barat, tahun 2007. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari " Survei Data Dasar Pengem-bangan Madel Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial di Kabupaten Garut, Jawa Barat, 2007'; yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan UI & Pusat Kajian Promkcs FKM-UI bekerja sarna dengan Save The Children, pada bulan Juli sampai Oktober 2007, di 40 desa dari 10 kecamatan di Kahupaten Garut. Rancangan penelitian adalah potong lintang (cross sectional). Sampel yang digunakan yaitu suami yang memiliki istri dengan hayi yang berumur 0-11 bulan. Jumlah sampcl sebanyak 209 pasang suami istri. Sumber data berasal dari modul survei suami dan ibu. Data yeng berasal dari suami yaitu pengelahuan tentang tanda bahaya pada masa kebamilan, persalinan. nifas dan neonatus, kererlibatan keanggotaan kegiatan sosial, keterpaparan mdia informasi, keterpaparan terhadap Desa Siaga, kepercayaan/kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan maternal dan neonatal, sedangkan yang berasal dari ibu yaitu umur suami pendididkan suami, pekerjaan suami, jumlah anak, pendapatan keluarga yaitu pendapatan istri, suami dan jumlah tanggunagn keluarga, kepemilikan media elektronik, kepemilikan alat transportasi. Variabel terikat adalah pengetahuan suami tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan neonatus, sedangkan variabel bebas adalah karakteristik. suami (umur, pendidikan, pekeljaan, jumlah anak, jumlah pendapatan keluarga, kepercayaan/kebiasaan terkait kesehatan maternal dan neonatal), kepemilikan media komunikasi elektronik, kepemilikan alat transportasi, keterpaparan terhadap media infonnasi, keterpaparan terhadap Desa Siaga, keterlihatan keanggotaan kegiatan sosial. Berdasarkan hasil analisis multivariat dari regresi model akhir kandidat model multivariat didapatkan bahwa variabel pendidikan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan pengetahuan suami tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan neonatus. Saran bagi Depkes RI. khususnya Bagian Promosi Kesehatan agar meningkatkan kerjasama dalam bidang komunikasi dan inforrnasi khususnya dengan institusi pertelevisian nasional untuk memasukan acara penayangan infonnasi kesehatan tematama tentang tanda bahaya pada masa kehamilan persalinan, nifas dan neonatus. Bagi Dinkes Kabupaten, agar I) melakukan advokasi ke Pemda Kabupaten Garut untuk selanjutnya dilimpahkan ke Diknas untuk melakukan peningkatan pendidikan masyarakat Kabupaten Garut. 2) Menganjurkan kepada petugas kesehatan untuk senantiasa mendorong suami agar dapat berperan serta dalam meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan maternal dan neonatal, khususnya pengetahuan tentang tanda bahaya diatas.; 3) Melakuan sosialisasi Desa Siaga serta uji coba dibentuknya kader kesehatan yang terdiri dari para suami dalarn suatu forum kegiatan sosial.; 4) Melakukan keljasama dengan stasiun radio setempat untuk mernasukan prognm sosialisasikan peningkatan pegetahuan tentang tanda bahaya pada masa keharnilan, persalinan, nifas dan neonatus. dengan acara yang disukai masyarakat; 5) Kerjasama dengan iustitusi pendidikakan kesehatan setempat baik pemerintah maupun swasta melalui kerjasarna pengelolaan daerah binaan kesehatan. Bagi kelompok profesi IDI, PPNI, IBI, agar senantiasa meningkatkan pemberikan informasi kesehatan khususnya tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan neonatus dengan sasaran suami atau keluarga. Bagi masyarakt dan LSM, PKK, Forum Desa Siaga, agar dapat berperan serta aktif yaitu mengikuti kegiatan social yang dibentuk untuk mengatasi maalah maternal dan neonatal, sehingga dimasa yang akan datang kematian ibu dan bayi yang disebabkan karena keterlambatan mengenal tanda bahaya tersebut dapat teratasi.

In Indonesia the high number of both maternal and neonatal death rate frequently has Background which consist of delay?s in recognizing emergency danger signs, making decision where to refer the emergency case to the health service facilities and in getting adequate treatment from referral services facilities. (Depkes,2005). This research used aimed to aim factors related wife husband's knowledge about danger sign at pregnancy time,partus, pcstpartus and neonates in Ga:rut West Java, 2007. This research usad secondary data from "Baseline Survey of Neonatal Essential Health Services Improvement Model in Garut Districk West Java, 2007' which was conducted by the Center of Health Research University of Indonesia & Center of Health Promotion Study FKM-UI in cooperation with Save the Children. It third July until October 2007, at 40 covered from 10 district in Garut Distrek. The research design was cross sectional. The selected sample was the husband whose wife matter having infant age 0..11 months. Total sample was 209 couples. The data instrument was take from the modules survey of husband and wife matter infant 0..11 moun infant. The data taken from husbands were knowledge about danger sign at pregnancy time, partus, postpartus and neonates, involvement in the of social organization exposure to information media, exposur towards ? Desa Siaga ?, Aler village program wich related to maternal and neonatal health, while data taken from the mothers were husband?s age, last education, work state job, number of children, family income consist with wife?s and husband?s income and number of family burden, electronic media partnership, vehicles partnership. The independent variable was husband's the knowledge,about danger sign at pregnancy time, partus, postpartus and neonates, while dependent variable was husband characteristic (age, education, job, number of children, family income, trust/habits related with maternal and neonatal health), electronics media communication partnership, vehicles possession, exposures towards information media, exposures towards "Desa Siaga" involvement in social organization activity. The multivariate analysis result showed that from regression of the last candidate model, education variable was the most dominant factor which related with husband knowledge about danger sign at pregnancy time, pregnancy delivery, postpartum, and neonates periode. Suggestions for the Health Department of the Republic Indonesia especially to the latter of Health Promotion is to improve the cooperation in communication and information especially with national television exident status to eximined health information speclatly about danger sign at pregnancy time, partus, postpartus and neonates. sub-province Health Department shall; (1) advocate to the Garut local government especially to ide to improve of level education the people, (2)Emergency health personal always to support the husband to develop their role in increasing knowledge of health maternal and neona!al, especially the above knowledge of danger sign, (3) conduct socialization of Desa Siaga and tryout health cadre formation which coos lists of the husbands , (4) establish cooperation with local radio station to create program of socialization of danger sign in pregnancy time, pregnancy delivery, postpartum, and neonates periode, with event or agenda that interest the society, (5) make cooperation with local health educational institution not only government but also private institution trough cooperation in establish pilot project such at IDI, PPNI, IBI could asistant socially, especially about danger sign in pregnancy time) pregnancy delivery, postpartum, and neonates periode with husband or family as target program.
Read More
T-2828
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noralisa; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Mularsih Restianingrum, Intan Endang S. Damanik
Abstrak: Angka kematian ibu dikalangan Suku Anak Dalam (SAD) sangat tinggi. Setiap tahun sejakTahun 2012 sampai Tahun 2017 terjadi satu kematian ibu. Penyebab utama adalah perdarahan daninfeksi, penyebab tidak langsung adalah faktor budaya dimana persalinan ditolong oleh dukun beranakdan tempat persalinan di pondok. Tujuan penelitian adalah untuk memotret keselarasan peran bidan dandukun dalam pandangan SAD pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Metode penelitian kualitatifdengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat tiga aktifitas SAD pada masakehamilan, persalinan, dan nifas yaitu cara perawatan diri dan cara mencegah terjadi bahaya kehamilan,persalinan, dan nifas, pemilihan tenaga penolong, serta upacara ritual, hal dominan yang mempengaruhiaktifitas selama kehamilan ,persalinan, dan nifas adalah pengalaman yang lalu, perasaan Saat Ini, anjurandan Pantangan , pusat kekuatan pengambilan Keputusan. SAD menyatakan bahwa bidan hanya memilikiperhatian yang positif dalam memberikan pelayanan kesehatan, sedangkan dukun mampu memberikantiga unsur inti pertolongan. Bidan menyatakan Sulit berkomunikasi dan jarang melakukan interaksidengan SAD, sedangkan dukun mampu berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan SAD. Dukunmenyatakan SAD memiliki kepatuhan terhadap tradisi dalam pemilihan penolong, sedangkan bidanmenjaga jarak dengan SAD. Menurut temenggung SAD akan memilih bidan sebagai penolong, apabiladukun tidak mampu lagi memberikan pertolongan.Kata kunci: peran bidan;peran dukun;Suku Anak Dalam (SAD);kehamilan;persalinan;nifas
view Suku Anak Dalam (SAD) in Pregnancy, Delivery, and Postpartumat Tebo, Jambi 2018Maternal mortality rate among Suku Anak Dalam (SAD) is very high. Every year from 2012to 2017 there is one maternal death. The main cause is bleeding and infection, indirect cause is a culturalfactor where labor is helped by traditional birth attendants (TBA) and place of birth in the lodge. Theobjective of the study was to photograph the harmony of the role of midwives and TBA in the view ofSAD during pregnancy, maternity, and childbirth. Qualitative research method with ethnographyapproach. The results showed that there were three SAD activities during pregnancy, maternity, andchildbirth, namely self-care and how to prevent the occurrence of danger of pregnancy, maternity, andchildbirth, the selection of rescue workers, as well as ritual ceremonies, dominant things that affectactivities during pregnancy, maternity, and childbirth are past experiences, current feelings, suggestionsand abstinences, centers of decision-making power. SAD states that midwives have only positiveattention in providing health services, whereas TBA are able to provide three core elements of relief.Midwives say Difficult to communicate and rarely interact with SAD, while TBA are able tocommunicate and interact well with SAD. TBA claim SAD has adherence to tradition in helper election,while midwife keeps distance with SAD. According to the Chief of SAD the midwife will choose as ahelper, if the TBA is unable to provide help.Keywords: midwife's role;TBA's role; Suku Anak Dalam (SAD); pregnancy; maternity; childbirth.
Read More
T-5435
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yani Haerani Nuriyah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Artha Prabawa, Roji Suherman
S-6847
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Nurul Fadhilla; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Mario Ekoriano
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menelaah faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan tidak diinginkan pada wanita usia subur di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan data hasil Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP KKBPK) Tahun 2019 yang menggunakan desain potong lintang. Data dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan persentase kehamilan tidak diinginkan di Indonesia tahun 2019 adalah 17,5%.
Read More
S-10695
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Handayani; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Anggi Anggarini
Abstrak:
Latar Belakang: Industri seni mengalami lonjakan popularitas yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Melalui demand yang tinggi, pekerja seni rentan terhadap risiko Carpal Tunnel Syndrome dengan peningkatan durasi kerja. CTS memiliki prevalensi tahunan sebanyak 3,3-3,5 kasus per 100 orang. Program studi Desain Komunikasi Visual yang melibatkan unsur seni rupa dan komunikasi menjadikan mahasiswanya sebagai salah satu populasi rentan. Oleh karena itu, studi ini hendak menelusuri faktor yang berhubungan dengan kejadian risiko CTS pada mahasiswa DKV di Pulau Jawa. Metode: Studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juli 2025 melibatkan 190 responden untuk meneliti hubungan faktor keturunan, perilaku, serta lingkungan terhadap risiko CTS menggunakan kerangka teori H.L Blum. Hasil: Mayoritas responden berisiko terhadap CTS (89%). Durasi dan frekuensi kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan risiko CTS (p-value = 0,008 dan p-value = 0,002). Kesimpulan: Durasi dan frekuensi kerja mahasiswa DKV berpengaruh terhadap risiko CTS. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan manajemen waktu dan beristirahat selama 10-15 menit setiap 2 jam dalam lingkup kampus untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi risiko terhadap CTS.

Background: The art industry is experiencing a surge in popularity that contributes to economic growth. Due to high demand, artists are vulnerable to the risk of CTS with increased work duration. CTS has an annual prevalence of 3.3-3.5 cases per 100 people. The DKV study program, which involves elements of fine arts and communication, makes its students one of the vulnerable populations. Therefore, this study aims to explore factors related to the risk of CTS among DKV students in Java. Methods: A cross-sectional study conducted in July 2025 involving 190 respondents examined the relationship between hereditary, behavioral, and environmental factors and the risk of CTS using H.L. Blum's theoretical framework. Results: The majority of respondents were at risk of CTS (89%). Duration and frequency of work had a significant relationship with the risk of CTS (p-value = 0.008 and p-value = 0.002). Conclusion: The duration and frequency of work for DKV students influence the risk of CTS. Students are expected to manage their time and take a 10-15 minute break every two hours on campus to increase awareness and reduce the risk of CTS.
Read More
S-12181
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khansa Abistha; Pembimbimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Eni Ernawati
Abstrak:
Rendahnya cakupan imunisasi MR di Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah kasus PD3I dan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB PD3I) seperti campak dan rubella di beberapa wilayah. Oleh sebab itu kemenkes RI merancang program BIAN untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi. Namun, masih banyak wilayah yang masih belum mencapai cakupan imunisasi MR pada BIAN. Salah satunya adalah Kelurahan Harjamukti dengan cakupan sebesar 75%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian imunisasi MR di UPTD Puskesmas Harjamukti Kota Depok Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden penelitian berjumlah 110 orang dengan kriteria ibu yang berdomisili di Kelurahan Harjamukti Jawa Barat. Penelitian dilakukan secara langsung menggunakan lembar kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta analisis menggunakan uji chi-square untuk melihat antara hubungan 7 variabel independen dengan pemberian imunisasi MR pada BIAN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pendidikan (p value=0,049), pekerjaan (p value=0,031), pengetahuan (p value=0,006) , sikap (p value=<0,001), jarak ke sarana kesehatan (p value=<0,001), dukungan keluarga (p value=0,005), dan dukungan petugas kesehatan (p value=<0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan pemberian imunisasi MR pada BIAN. Pemberian edukasi dan promosi kesehatan melalui berbagai metode yang sesuai sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi MR pada BIAN.

The low coverage of MR immunization in Indonesia has resulted in an increase in the number of PD3I cases and the occurrence of Extraordinary Events (KLB PD3I) such as measles and rubella in several regions. Therefore, the Indonesian Ministry of Health designed the BIAN program to close the immunization coverage gap. However, there are still many areas that have not reached MR immunization coverage in BIAN. One of them is Harjamukti village with a coverage of 75%. The purpose of this study was to identify the factors associated with the provision of MR immunization at Harjamukti UPTD Health Center, Depok City, West Java. This study used a cross-sectional study design with a quantitative approach. The study respondents totaled 110 people with the criteria of mothers who live in Harjamukti Village, West Java. The research was conducted directly using a questionnaire sheet that had been tested for validity and reliability and analyzed using the chi-square test to see the relationship between the 7 independent variables with the provision of MR immunization in BIAN. The results showed that the variables of education (p value=0.049), occupation (p value=0.031), knowledge (p value=0.006), attitude (p value=<0,001), distance to health facilities (p value=<0.001), family support (p value=0.005), and health worker support (p value=<0.001) had a significant relationship with the provision of MR immunization in BIAN. Providing education and health promotion through various appropriate methods is needed to increase MR immunization coverage in BIAN.
Read More
S-11440
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ubaidilah; Pembimbing: Zulazmi Mamdy; Penguji: Anwar Hasan, Ismoyowati, Yulita Evarini
T-2745
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delri Soni; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Anwar Hasan, Luknis Sabri, Abdurrahman
T-2737
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiurlan Lubis; Pembimbing: Ella N. Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Wahyuni Khaulan, Eti Rohati
Abstrak: Cakupan persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas Nulle 40,8%, masih dibawah target Standar Pelayanan Minimum bidang kesehatan. Penelitian ini merupakan studi cross sectional terhadap 141 ibu yang bersalin tahun 2013, dengan tujuan untuk menganalisis faktor- faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Nulle Tahun 2013. Pengumpulan data dengan metode wawancara menggunakan kuesioner.

Hasil penelitian mendapatkan hubungan yang signifikan antara pendidikan, ketersediaan faskes dan riwayat kehamilan dengan pemilihan penolong persalinan. Pendidikan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan (p=0,001; OR=9,92) artinya ibu yang berpendidikan tinggi berpeluang 10 kali memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dibanding ibu dengan pendidikan rendah, setelah dikontrol oleh ketersediaan fasilitas kesehatan, riwayat kehamilan dan jarak tempuh.

Kata Kunci : Penolong Persalinan, Tenaga Kesehatan
Read More
T-4496
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hangestiya Dyah Utami; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Siti Nurliah
Abstrak: Penanganan kasus diare pada balita di Kota Bekasi baru mencapai 28,5%. Padahal menurut KEPMENKES RI NOMOR 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Standar Pelayanan Minimal untuk kasus balita dengan diare ditangani yaitu sebesar 100%. Untuk itu adanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan pada balita diare di Kota Bekasi tahun 2020. Penelitian ini yaitu merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Total sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 163 ibu yang memiliki anak balita di Kota Bekasi. Dengan hasil penelitian bahwa sebanyak 83,4% ibu telah melakukan pencarian pengobatan ke fasilitas kesehaan dengan persentase terbanyak melakukan pengobatan ke klinik dan rumah sakit. Adapun beberapa faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencarian pengobatan seperti umur balita didapatkan nilai p sebesar 0,025, pengetahuan ibu didapatkan nilai p sebesar 0,036, dan persepsi keseriusan penyakit didapatkan nilai p sebesar 0,035. Perlunya adanya peningkatan edukasi mengenai diare, hal ini bertujuan agar dapat meningkatkan perilaku pencarian pengobatan ke fasilitas kesehatan pada ibu yang memiliki anak balita.
Kata kunci: Perilaku, Perilaku Pencarian Pengobatan, Diare, Balita

Handling of diarrhea cases in infants in Bekasi City has only reached 28.5%. In fact, according to the Republic of Indonesia Ministry of Health Regulation No. 1457/MENKES/SK/X/2003 concerning Minimum Service Standards for Health in Districts/Cities, it is stated that the Minimum Service Standards for cases of toddlers with diarrhea are handled at 100%. For this reason, this study aims to determine what factors are associated with treatment seeking behavior in diarrhea infants in Bekasi City in 2020. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The total sample used in this study is as many as 163 mothers who have children under five in the city of Bekasi. With the results of the study that as much as 83.4% of mothers have sought treatment to health facilities with the highest percentage doing treatment to clinics and hospitals. As for several factors that have a significant relationship with treatment seeking behavior such as the age of toddlers, a p value of 0.025, maternal knowledge of a p value of 0.036, and perception of the seriousness of the disease obtained a p value of 0.035. The need for increased education about diarrhea, it aims to improve the behavior of seeking treatment to health facilities in mothers who have children under five.
Keywords: Behavior, Health Care Seeking Behavior, Diarrhea, Children Under Five
Read More
S-10322
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive