Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36800 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eko Setyo Pambudi; Pembimbing: Toha Muhaimin, Tris Eryando; Penguji: Iwan Ariawan, Siti Nurul Qomariyah, Lukas Hermawan
Abstrak:

Angka kematian Ibu di Indonesia sebesar 307 per 100,000 kelahiran hidup. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan teratas di ASEAN. Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Kehamilan yang aman atau Making Pregnancy Safor (MFS), salah satu tujuan MPS adalah menurunkan AKI sebesar 75% pada tahun 2015. Dari berbagai metode pengukuran AKI yang ada, belum terdapat metode yang mampu mengestimasi AKI sampai pada level kabupaten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah analisa capture-recapture dapat digunakan sebagai metode yang dapat mengestimasi AKI pada level kahupaten. Metode: Analisis capture-recapture menggunakan pendekatan model loglinear, dengan menggunakan 3 sumber data yaitu catatan kematian ibu rumah sakit, audit maternal perinatal dan register puskesmas di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang tahun 2004-2005. Validasi hasil estimasi dilakukan dengan membandingkan estimasi hasil analisa capture-recapture dengan estimasi hasil studi MIMF yang dilakukan di kabupaten dalam periode yang sama. Hasil: Estimasi jumlah kematian ibu untuk Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang pada tahun 2014-2005 sebesar 612 (95%CI:399;811), Kabupaten Serang 403 kasus (95%CI:217;1050), dan Kabupaten Pandeglang sebesar 209 kasus (95%CI:162;303). Hasil estimasi pada ketiga level menunjukkan adanya kemiripan dengan hasil studi MIMF, dimana ketiga level memiliki nilai derajat kepercayaan yang saling tumpang tindih. Estimasi angka kematian Ibu di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang pada tahun 2004-2005 adalah sebesar 427 per 100000 kelahiran hidup (95%CI:278;565). Kabupaten Serang sebesar 440 (95%Cl:237;1146) dan Kabupaten Pandeglang sebesar 398 (95%CI:309;517). Hasil analisa capture-recapture menunjukkan hasil yang serupa dengan studi MIMF, dengan demikian bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mempertimbangkan metode ini sebagai salah satu alternatif metode analisis untuk mengestimasi angka kematian ibu pada level kabupaten.


Maternal mortality in Indonesia was 307 per 100.000 live births in 2003. This situation made Indonesia as a country with high level of maternal mortality in ASEAN countries. Indonesia has been deployed Making Pregnancy Safer (MPS) program, which has a goal to reduce maternal mortality by 75% from year 1990 to 2015. Various methods have been developed to measure maternal mortality, such as survey method. Survey method requires a huge sample size since maternal mortality is a rare event. Thus conducting such survey would requires high cost and human resources. Another approach should be considered, such as capture-recapture analysis which only need two or more available data sources to estimate maternal mortality at district level. The aim of this study is to estimate maternal mortality in Serang and PandegJang DistrIct, Banten Province, in 2004-2005 using capture-recapture analysis. Method: Three Independent data sources from hospital, health center and maternal perinatal audit have been used to estimate maternal mortality using capture-recapture analysis based on loglinear approach. The result of the analysis will be compared with the result from MIMF study, a study which has been done in the same district and in the same period, to validate the result of the analysis. Result: The estimate of maternal death both Serang and Pandeglang District in 2004-2005 was 612 death (95%CI:399;811), in Serang District was 403 deaths (95%CI:217;1050), and Pandeglang District was 209 deaths (95%CI:162;303). The estimation shows the same estimation compared with MIMF study which is used as a gold standard. Capture-recapture analysis produce the same result as MIMF study, which can be interpreted that this method has capability to be one of tools to measure maternal mortality, Therefore. this method should be considered by district health office and ministry of health as an alternative method to measure maternal mortality at district level.

Read More
T-2882
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Undang Supriatna; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Besral. Indang Trihandini, Neng Ulfah, Setyani
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dan gambaran konflik pekerjaankeluarga, konflik keluarga-pekerjaan, kelelahan kerja dan kinerja perawat RSUD. Jenis Penelitian ini analisa kuantitatif dengan desain penelitian crossectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 118 orang perawat wanita rawat inap RSUD Pandeglang yang sudah menikah. Peneliti menggunakan alat ukur workfamily conflict scale untuk mengukur konflik peran ganda, MBI untuk mengukur kelelahan kerja dan performance scale untuk mengukur kinerja perawat. Ketiga alat ukur tersebut telah diadaptasi dan merupakan hasil dari penelitian sebelumnya. Analisa pada penelitian ini menggunakan SEM dengan software LISREL 8.54. Berdasarkan hasil output LISREL diperoleh hasil bahwa konflik pekerjaankeluarga dan konflik keluarga pekerjaan tidak berhubungan signifikan dengan kinerja, nilai T-value < 1,96. Konflik pekerjaan-keluarga dan keluarga-pekerjaan berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja dengan nilai T-value 6,27 dan 5,34. Kelelahan kerja berhubungan signifikan dengan kinerja dengan nilai T-value 3,63. Tidak ditemukan hubungan karakteristik dengan ke empat variabel laten tersebut. Sebagian besar responden mengalami konflik pekerjaan-keluarga rendah 60 orang (50,8%), dan tinggi 13 orang (11.0%). Responden konflik keluarga-pekerjaan yang mengalami konflik rendah 62 orang (52,5%), dan yang tinggi 8 orang (6,8%). Responden yang mengalami kelelahan kerja rendah ada 78 orang (66,1%), dan tinggi 4 orang (3,4%). Distribusi responden menurut kinerja sebanyak 6 orang mengatakan rendah (5,1%), dan tinggi 77 orang (65,3%). Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan untuk manajerial adalah membuat program redesain pekerjaan, pengurangan jam kerja, dan program benefit yang didalamnya termaktub family friendly policies. Selain itu organisasi rumah sakit agar dapat membangun strategi coping untuk individu karyawan agar mereka mampu bertahan dalam tekanan dan konflik

Abstract This study aims to see the picture of the work-family conflict; family-work conflict, burnout, and nurses performance of Pandeglang Hospital. This type of analysis of quantitative research with crossectional research design. Respondents in this study amounted to 118 female nurses inpatient Pandeglang hospitals has been married. Researcher use a measuring tool work-family conflict scale to measure the dual roles conflict, MBI to measure burnout and performance scale to measure the performance of nurses. The three tools measurement has been adapted and is the result of previous research. The analysis in this study using SEM with LISREL 8.54 software. Based on the LISREL output results obtained that work-family conflict and family conflict did not associated significantly with performance, T-value < 1.96. Work-family conflict and family-work conflict associated significantly with work fatigue, with T-value 6.27 and 5.34. Burnout is significantly associated with performance, Tvalue 3.63. No found relationship between the variable characteristic of the four latent variables Most respondents experienced work-family conflict low 60 people (50.8%), and high 13 men (11.0%). Respondents work-family conflict experienced low conflict 62 people (52.5%), and high of 8 people (6.8%). Respondents who experienced low burnout there 78 people (66.1%), and high of 4 people (3.4%). Distribution of respondents according to performance as much as 6 people say low (5.1%) and high 77 people (65.3%). Based on research results, the suggestions for the managerial job is to make the redesigned program, the reduction of working hours, and programs that benefit family friendly policies contained therein. In addition hospital organization in order to build coping strategies to individual employees to enable them to survive the pressure and conflict.

Read More
T-3489
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lailatun Nazilah; Pembimnbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Nida Rohmawati, Enny Ekasari
Abstrak: Penelitian ini menggunkan Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia(SDKI) tahun 2012. Bertujuan untuk mengetahui kontribusi faktor ibu, bayi danakses pelayanan kesehatan ANC dan persalinan terhadap kematian neonatal diIndonesia. Desain dalam penelitian ini Crossectional dengan populasinya bayiyang lahir hidup pada tahun 2007 sampai tahun 2012 anak terakhir dari wanitausia subur (15-49 tahun) di Indonesia dengan jumlah sampel 12.766. Hubunganditentukan dengan analisis multiple logistic regression. Hasil penelitian kontribusifaktor ibu kurang berisiko 2,6 kali dan faktor ibu buruk berisiko 2,5 kalidibandingkan faktor ibu baik setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan, statusekonomi, status pekerjaan dan wilayah tempat tinggal. Kontribusi faktor bayikurang berisiko 1,9 kali dan faktor bayi buruk berisiko 7,8 kali dibandingkanfaktor bayi baik setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan, status ekonomi, statuspekerjaan dan wilayah tempat tinggal. Kontribusi akses pelayanan kesehatan ANCdan persalinan kurang berisiko 1,8 kali dibandingkan akses pelayanan kesehatanbaik setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan, status ekonomi, status pekerjaandan wilayah tempat tinggal, akses pelayanan kesehatan buruk tidak ada pengaruhterhadap kematian neonatal. Menggerakkan continuum of care untuk calonpengantin, peningkatan program KB, dan peningkatan persalinan di fasilitaskesehatan.Kata kunci : faktor ibu, bayi, akses pelayanan kesehatan ANC dan persalinan,Indonesia, SDKI 2012.
This study uses Data Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012.The aims of this study to determine contribution Factors of maternal, infant andhealth care access antenatal care and childbirth of the Neonatal Death inIndonesia. Designs in this study was population Crossectional of infant born alivein 2007 until 2012 the last son of a woman of childbearing age (15-49 years) inIndonesia with sample of 12 766. The relationship is determined by multiplelogistic regression analysis. Results of research contributing result less riskmaternal factors were 2.6 times and bad maternal risk factor of 2.5 timescompared to the maternal factors well after being controlled by the level ofeducation, economic status, employment status and region residence. Thecontribution factors babies less risk factor of 1.9 times and bad babies risk factorof 7.8 times compared to well after the baby factor controlled by the level ofeducation, economic status, employment status and region of residence. Thecontribution access to health services ANC and childbirth less risk than 1.8 timesbetter access to health care after being controlled by the level of education,economic status, employment status and region of residence, poor access to healthservices no effect on neonatal deaths. Moving the continuum of care for the bride,the increase in family planning programs, and an increase in childbirth in healthfacilities.Keywords: Maternal, Babies, Health Care Access Antenatal Care and Childbirth,Indonesia, IDHS 2012.
Read More
T-4820
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nova Muhani; Pembimbing: Besral; Penguji: Iwan Ariawan, Tri Yunis Miko Wahyono, Jefri Tobing
Abstrak: Preeklampsia berat merupakan salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia. Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, preeklampsia berat merupakan penyebab kematian ibu tertinggi (47,25%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prediktor preeklampsi berat (PEB)yang dinilai dari tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, proteiunuria, kejang, sindrom HELLP dan hubungan jumlah prediktor PEB dengan kematian ibu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2010- 2014. Desain penelitian yang digunakan kasus kontrol dengan jumlah sampel 60 kasus dan 120 kontrol. Sindrom HELLP meningkatkan kematian ibu OR (Odds Ratio) 12,5 (95% CI= 2,9-53,7), eklampsi OR 12,1 (95% CI= 3,8-38,6). Tekanan darah diastolik 110-119 OR 7,4 (95% CI=1,8-29,2), tekanan darah diastolik ≥120 mmHg OR 5,5 (95%CI 1,1-23,1) setelah dikontrol oleh usia ibu, gravida, usia kehamilan, jenis persalinan,pemberian diasepam, pendidikan, tempat tinggal pekerjaan.Prediktor PEB berjumlah 4 atau 5meningkatkan risiko kematian OR 90 (95%CI=13,7-591,3), prediktor berjumlah 3 OR16 (95%CI=3,9-66,7) dan prediktor berjumlah 2 OR6,3 (95% CI= 1,4-22,2). Meningkatkan pelaksanaan auditmaternal untuk mengkaji kasus kematian ibu akibat preeklampsia berat. Kata Kunci:Kematian ibu , Preeklampsia Berat.
Severe preeclampsia is one of the causes of maternal mortality in Indonesia. At Province public hospitalDr. H. Abdul Moeloek, Severe preeclampsia is the highest cause of maternal mortality (47,25%). This research aimed to know the relation of predictor severe preeclampsiaassessed by systolic blood pressure, diastolic blood pressure, proteiunuria, eclampsia and HELLP syndromeand total predictor severe preeclampsiawith maternal mortality at public hospital Dr. H. Abdul Moeloek in the year of 2010-2014. The design used case control by using 60 samples for case and 120 for controlers. HELLP syndrome increase risk of maternal mortality with OR (odds ratio) of 12.5 (95%CI= 2.90 to 53.72), eclampsia OR 12.1 (95% CI = 3.80 to 38.65), diastolic blood pressure 110-119 OR 7,4 (95% CI=1,8-29,2), diastolic blood pressure ≥120 mmHg OR 5,5 (95%CI 1,1-23,1) after controlled by maternal age, gravida, gestational age, type of delivery, giving diazepam, residence, employment and education.Predictorswhichconsists of 4or5increase risk of maternal mortalityOR90(95 % CI = 13.7 to 591.3), predictors totaling 3 OR 16(95 % CI = 3.9 to 66.7) and predictors 2 OR 6.3 (95% CI = 1.4 to 22.2). Improve maternal audit to assess the implementation of maternal deaths due to severe preeclampsia. Keywords :Maternal Mortality, Severe Preeclampsia.
Read More
T-4318
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nova Muhani; Pembimbing: Besral; Penguji: Iwan Ariawan, Tri Yunis Miko Wahyono, Jefri Tobing
Abstrak: Preeklampsia berat merupakan salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia. Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, preeklampsia berat merupakan penyebab kematian ibu tertinggi (47,25%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prediktor preeklampsi berat (PEB)yang dinilai dari tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, proteiunuria, kejang, sindrom HELLP dan hubungan jumlah prediktor PEB dengan kematian ibu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2010- 2014. Desain penelitian yang digunakan kasus kontrol dengan jumlah sampel 60 kasus dan 120 kontrol. Sindrom HELLP meningkatkan kematian ibu OR (Odds Ratio) 12,5 (95% CI= 2,9-53,7), eklampsi OR 12,1 (95% CI= 3,8-38,6). Tekanan darah diastolik 110-119 OR 7,4 (95% CI=1,8-29,2), tekanan darah diastolik ≥120 mmHg OR 5,5 (95%CI 1,1-23,1) setelah dikontrol oleh usia ibu, gravida, usia kehamilan, jenis persalinan,pemberian diasepam, pendidikan, tempat tinggal pekerjaan.Prediktor PEB berjumlah 4 atau 5meningkatkan risiko kematian OR 90 (95%CI=13,7-591,3), prediktor berjumlah 3 OR16 (95%CI=3,9-66,7) dan prediktor berjumlah 2 OR6,3 (95% CI= 1,4-22,2). Meningkatkan pelaksanaan auditmaternal untuk mengkaji kasus kematian ibu akibat preeklampsia berat. Kata Kunci:Kematian ibu , Preeklampsia Berat.
Severe preeclampsia is one of the causes of maternal mortality in Indonesia. At Province public hospitalDr. H. Abdul Moeloek, Severe preeclampsia is the highest cause of maternal mortality (47,25%). This research aimed to know the relation of predictor severe preeclampsiaassessed by systolic blood pressure, diastolic blood pressure, proteiunuria, eclampsia and HELLP syndromeand total predictor severe preeclampsiawith maternal mortality at public hospital Dr. H. Abdul Moeloek in the year of 2010-2014. The design used case control by using 60 samples for case and 120 for controlers. HELLP syndrome increase risk of maternal mortality with OR (odds ratio) of 12.5 (95%CI= 2.90 to 53.72), eclampsia OR 12.1 (95% CI = 3.80 to 38.65), diastolic blood pressure 110-119 OR 7,4 (95% CI=1,8-29,2), diastolic blood pressure ≥120 mmHg OR 5,5 (95%CI 1,1-23,1) after controlled by maternal age, gravida, gestational age, type of delivery, giving diazepam, residence, employment and education.Predictorswhichconsists of 4or5increase risk of maternal mortalityOR90(95 % CI = 13.7 to 591.3), predictors totaling 3 OR 16(95 % CI = 3.9 to 66.7) and predictors 2 OR 6.3 (95% CI = 1.4 to 22.2). Improve maternal audit to assess the implementation of maternal deaths due to severe preeclampsia. Keywords :Maternal Mortality, Severe Preeclampsia.
Read More
T-4318
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutviah Sari; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Besral; Rahmadewi
Abstrak: Penelitian ini membahas mengenai faktor yang berhubungan dengan kematian perinatal di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kematian perinatal dan faktor apa saja yang memengaruhi kematian perinatal di perkotaan dan pedesaan di Indonesia. Desain studi yang digunakan adalah desain studi potong lintang (cross-sectional). Data dianalisis menggunakan analisis chi-square dan regresi logistik.
Read More
S-10556
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Oktifia Yostyadiananda; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Tris Eryando, Hafizah Jusril
Abstrak:
Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan kesehatan dan perlu memastikan kesehatan rakyat terpenuhi melalui penyediaan pelayanan kesehatan dan sosial yang memadai, yaitu melalui Jaminan Kesehatan Nasional. Tren penyebab kematian yang berbasis data terkini di tingkat nasional sangat penting untuk mencerminkan efek kebijakan kesehatan masyarakat dan pemberian perawatan medis terhadap pembangunan kesehatan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren penyebab kematian di Indonesia menurut ICD-10 pada tahun 2016 dan 2021. Metodologi penelitian yang digunakan adalah desain studi potong lintang dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan, dan kemudian dilakukan analisis univariat dan bivariat. Populasi penelitian adalah seluruh pasien JKN di Indonesia dan sampel yang digunakan adalah 1% dari pasien JKN dengan status kepulangan 'meninggal'. Hasil penelitian menunjukkan penyakit pada sistem peredaran darah tetap menjadi penyebab kematian tertinggi, peningkatan penyakit pernapasan, penurunan penyakit infeksi dan parasitik, serta peningkatan penyakit neoplasma sebagai penyebab kematian. Tren penyebab kematian mengalami perbedaan berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan jenis kepesertaan.

Indonesia is currently facing various health challenges and needs to ensure that people's health is met through the provision of adequate health and social services, namely through the National Health Insurance. Trends in causes of death based on the latest data at the national level are very important to reflect the effects of public health policies and the provision of medical care on national health development. This study aims to analyse trends in causes of death in Indonesia according to ICD-10 in 2016 and 2021. The research methodology used was a cross-sectional study design using sample data from BPJS Kesehatan, and then performed univariate and bivariate analysis. The study population was all JKN patients in Indonesia and the sample used was 1% of JKN patients with 'deceased' discharge status. The results showed that diseases of the circulatory system remained the highest cause of death, increased respiratory diseases, decreased infectious and parasitic diseases, and increased neoplastic diseases as a cause of death. Trends in causes of death differ by year, age group, sex, region, and type of membership.
Read More
S-11378
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eri Nasution; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, R. Setiawan, Ria Maria Theresa, Fatcha Nuraliyah
Abstrak: Saat ini transmisi seksual merupakan faktor utama penyebaran penyakitHIV-AIDS di Indonesia. Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan bagian yangberkontribusi didalamnya. Wanita Pekerja Seks Langsung adalah wanita yangmemberikan layanan seksual yang tujuan utama transaksinya mempertukarkanpelayanan seksual dengan uang. Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung adalahwanita yang memberikan layanan seksual tapi bukan merupakan sumber utamapendapatan, pelayanan yang diberikan dapat memberikan penghasilan tambahan.Program promosi pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko telahdilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penularan. Namun hinggasaat ini konsistensi pemakaian kondom pada WPS masih rendah.Penelitian ini menggunakan data hasil Survey Terpadu Biologi danPerilaku (STBP) 2013 dengan memilih 2714 responden yang memenuhi kriteriainklusi dan eksklusi. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan karakteristik,perilaku pemakaian kondom dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan pemakaian kondom. Penelitian menggunakan desain cross sectional.Hasil penelitian ditemukan bahwa konsistensi pemakaian kondom pada WPSL37,7% dan WPSTL sebesar 35.6%, konsistensi untuk semua WPS sebesar 36.9%.WPSL cenderung lebih tua, pendidikan lebih rendah, lebih banyak yang berstatuscerai, lebih lama menjadi WPS, lebih dini memulai hubungan seks, lebih banyakmemiliki riwayat IMS, lebih merasa berisiko, lebih terpapar program, lebh banyakyang punya kondom dan jumlah pelanggan yang lebih banyak dibandingkanWPSTL.Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaian kondom padaWPSL adalah status perkawinan, riwayat IMS, keterpaparan program, dankepemilikan kondom. Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaiankondom pada WPSTL adalah status perkawinan, riwayat IMS, pengetahuan HIV,keterpaparan program, kepemilikan kondom dan jumlah pelanggan.Disarankan untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif pada WPSdengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik WPS.
Kata kunci : Konsistensi, kondom, WPSL, WPSTL.
Read More
T-4558
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendi Setiadi; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita Paulina Budiharsana, Besral, Toha Muhaimin, Prapanca Nugraha
Abstrak: HIV terus menjadi masalah utama kesehatan global dan sejauh ini telah merenggut lebih dari 32 juta jiwa. Salah satu penyebab terjadinya HIV AIDS adalah faktor resiko seksual diantaranya adalah biseksual, homoseksual, dan heteroseksual. Faktor penularan HIV-AIDS di Kota Bandung tertinggi melalui heteroseksual sebesar 38,4% yang cenderung meningkat 2-3% pertahun, sedangkan homoseksual sebesar 15,7%. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui distribusi kasus HIV dan AIDS menurut umur, jenis kelamin dan status kematian berdasarkan kelompok orientasi seksual di Kota Bandung. Penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional menggunakan data sekunder Surveilans HIV dan AIDS tahun 2019 yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah semua populasi kelompok faktor resiko seksual yang terdiri dari biseksual, homoseksual dan heteroseksual. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Total sampel dalam penelitian ini adalah 609 responden yang terdiri kelompok biseksual (32 responden), homoseksual (287 responden) dan heteroseksual (290 responden). Responden dengan AIDS lebih banyak terjadi pada kelompok heteroseksual (30,3%) dibandingkan dengan homoseksual (22,3%) dan biseksual (18,8%). Sedangkan HIV lebih banyak terjadi pada kelompok biseksual (81,3%) dibandingkan dengan kelompok homoseksual (77,7%) dan heteroseksual (69,7%). Umur berhubungan secara signifikan pada kelompok homoseksual. Faktor umur dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan pada kelompok heteroseksual. Penelitian lebih lanjut terutama pada variabel demografi yang lebih luas dibutuhkan untuk menjelaskan pengaruh faktor sosio-demografi terhadap kejadian HIV dan AIDS pada kelompok orientasi seksual.

HIV has created major global health problem and so far it has claimed more than 32 million lives. One of the causes of HIV/AIDS was sexual risk factors including bisexual, homosexual, and heterosexual. The highest HIV-AIDS transmission through heterosexuals was 38.4% which tends to increase by 2-3% in a year, while homosexuals was 15.7% in Bandung. Based on this, the researcher wants to know the distribution HIV and AIDS cases by age, sex and died based on sexual orientation groups in Bandung. This research is a quantitative study using a cross-sectional design with secondary data on HIV and AIDS surveillance in 2019 conducted by the Public Health Office in Bandung. The inclusion criteria in this study were all populations of sexual risk factor groups consisting of bisexual, homosexual and heterosexual. Data analysis in this study used the chisquare test with a confidence level of 95%. Total sample in this study were 609 respondents consisting of bisexual groups (32 respondents), homosexuals (287 respondents) and heterosexuals (290 respondents). Respondents with AIDS were more common in the heterosexual group (30.3%) compared to homosexuals (22.3%) and bisexuals (18.8%). HIV was more common in the bisexual group (81.3%) compared to the homosexual group (77.7%) and heterosexual (69.7%). Age is significantly related to the homosexual group. Age and sex factors do not have a significant with HIV and AIDS in the heterosexual group. Further research especially on demographic variables is needed to explain the effect of socio- demographic factors with the incidence of HIV and AIDS based on sexual orientation groups.
Read More
T-5875
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yety Intarti; Pembimbing: Indang Trihandini, Pandu Riono
T-1881
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive