Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33263 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Selni Paressa Masakke; Pembimbing: Tris Eryando, Artha Prabawa, Penguji: Meiwita Budiharsana, Yunita, Rinni Yudhi Pratiwi
Abstrak:

Kesehatan reproduksi adalah “keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh (tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan) dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya”. Masa remaja menjadi sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena masa remaja (10-19 tahun) merupakan saat dimana organ reproduksi manusia mengalami pematangan atau pubertas, terjadi perubahan fisik secara cepat yang tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan. Jika perubahan-perubahan ini tidak disertai dengan perhatian dan bimbingan yang tepat pada remaja maka akan membawa pada masalah-masalah yang dapat merugikan masa depan remaja sendiri. Masalah-masalah tersebut seperti hubungan seks pra nikah, kehamilan tidak diinginkan, PMS, anemia. Penelitian di Sumatera Selatan, Jawa Barat bagian timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa sebesar 4,7% remaja laki-laki pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah dan pada remaja perempuan sebesar 3,2%. Prilaku beresiko lainnya seperti merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat terlarang. Masalah kesehatan reproduksi seperti yang telah diuraikan diatas dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kurangnya pengetahuan remaja tentang masalah tersebut yang disebabkan oleh kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Salah satu pemberian informasi kepada remaja dapat dilakukan melalui internet. Internet merupakan media elektronik yang sudah memasyarakat yang dapat digunakan dan penting dalam bertukar informasi salah satunya informasi kesehatan. Minat remaja untuk mencari informasi lewat situs yang menyajikan informasi mengenai dunia remaja cukup tinggi. Namun situs-situs yang menyediakan informasi bagi remaja khususnya kesehatan reproduksi masih kurang dibandingkan dengan situs-situs lainnya, karena itu perlu dibangun suatu jaringan terintegrasi yang memberikan informasi kesehatan reproduksi remaja melalui internet. Membangun jaringan terintegrasi untuk informasi kesehatan reproduksi remaja ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Bogor dengan ruang lingkup pada pelaksanaan program Kesehatan Reproduksi Remaja di Klinik Konsultasi Remaja Puskesmas Bogor Timur serta pemanfaatan internet sebagai media informasi kesehatan reproduksi remaja. Metode yang digunakan dalam membangun jaringan terintegrasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja ini adalah dengan metode incremental dengan tahaptahap analisis, perancangan, pengkodean dan uji coba prototipe. Jaringan terintegrasi yang terbentuk adalah website Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja yang memberikan informasi kesehatan reproduksi remaja yang mencakup proses reproduksi sehat yang bertanggung jawab, organ reproduksi dan fungsinya, menstruasi, kehamilan, metode kontrasepsi, penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, dan gizi remaja. Daftar Pustaka : 52 (1999 – 2007)


Reproductive health is “a state of complete physical, mental and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to the reproductive system and to its functions and processes”. Meanwhile, adolescence is known as a crucial period of time on its reproductive health. Since adolescence (10-19 years old) is also the time when human reproductive system is going to be matured (puberty) and the development of rapid changes physically (growth spurt), are occurred. In which sometimes the changes are imbalance with its psychological changes. When the changes are not properly led and guided, it can be lead to problems that can ruin their own futures, such as pre-marital sex, unwanted pregnancy, STD, and anemia. Data shows that 4.7% of boys and 3.2% of girls in Sumatera Selatan, Jawa Barat bagian timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur has have experience in pre-marital sex. Another risk behavior which adolescents used to engage are smoking, drinking, and drug abuses. Problems in reproductive health that have mentioned above are mostly due to lack of knowledge regarding to reproductive matters because they have less or no exposures on the information of adolescent reproductive health. One of approaches of information to reach the adolescent is through internet. Since is have known that internet is an electronic media that broadly known and used well for searching and exchanging information, as well as information on health. There is a quite high figure on adolescent who looking for the sites providing information about youth matters. However, there are only few internet sites which provides information on adolescent reproductive health compare to other information. Therefore, there is a need to develop an integrated networking on providing information on reproductive health toward adolescent through the internet. The Health Authority Office of Kota Bogor is carrying out the developing of the integrated networking as part of the implementation of the program on the adolescent reproductive health at the Consultation Clinic for Adolescent of Puskesmas Bogor Timur with its internet utilization as the media of the information on the adolescent reproductive health. The incremental method is used in developing the networking which has the stages on analysis, designing, coding, and prototype testing. The integrated networking that established is a website on the Information of the Adolescent Reproductive Health that provide any information regarding to the adolescent reproductive health, namely reproductive organs and function, menstruation, pregnancy process, contraception, sexually transmitted diseases include HIV/AIDS, and nutrition problems in youth.. Reference: 52 (1999-2007)

Read More
T-2964
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ryza Jazid Baharuddin Nur; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Tris Eryando, Artha Prabawa, Hakimi, Yuliandi
Abstrak: ABSTRAK Imunisasi merupakan program kesehatan paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah PD3I. Agar berhasil dalam mencegah PD3I program imunisasi harus menjaga cakupan imunisasi dan efikasi vaksin. Sistem informasi sangat penting dalam meningkatkan dan mengevaluasi keberhasilan program imunisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data dan informasi yang berguna bagi program imunisasi melalui pengembangan sistem informasi vaksin (SiVaksin). Pengembangan sistem informasi ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kota, salah satu Puskesmas dan Bidan Praktik Mandiri yang ada di Kota Depok, menggunakan metode pengembangan sistem dengan pendekatan prototyping untuk menghasilan sistem informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program imunisasi di Kota Depok menghadapi masalah lemahnya sistem informasi dalam mendukung kegiatan perencanaan, pemantauan dan evaluasi. Hasil akhir penelitian ini berupa prototipe sistem informasi yang mampu menyediakan data dan informasi untuk mendukung kegiatan pemantauan suhu rantai dingin vaksin, sistem manajemen stok vaksin dan pelayanan imunisasi. Prototipe sistem informasi ini berbasis website responsive online yang dapat digunakan pada berbagai macam platform dan terintegrasi secara internal antar unit pelayanan imunisasi dan dinas kesehatan kota. Sistem informasi ini menyediakan panel informasi yang dibutuhkan bagi pelaksana imunisasi, pemegang program imunisasi, pengelola vaksin dan penentu kebijakan di dinas kesehatan kota untuk melakukan pengambilan keputusan yang lebih baik. Rekomendasi yang ditawarkan agar sistem ini dapat diimplementasikan ialah menyiapkan dana dan sumber daya, menyiapkan standar operasional prosedur, dan melakukan pelatihan kepada pengguna. Kata Kunci: Sistem Informasi, Imunisasi, Manajemen Stok Vaksin, Rantai Dingin Vaksin. Immunization is the most effective and cost-effective health program to prevent PD3I. An effective immunization program in preventing PD3I is achieved if immunization coverage and vaccine efficacy are maintained. Information systems are critical in improving and evaluating the ongoing success of immunization programs. This study aims to provide useful data and information for immunization programs through the development of vaccine information systems (SiVaksin). This information sistem was developed at Depok City Health Office, Pancoran Mas Health Center and one of Midwife Independent Practices in Depok City, using prototyping approach to develop information system according to user needs. The results showed that immunization program in Depok City faced the problem of weakness of information system in support of planning, monitoring and evaluation activities. The final product of this study is a prototype of information system which is able to provide data and information to support vaccine cold chain temperature monitoring activities, vaccine stock management system and immunization services. This prototipe of information system is based on an online responsive website that can be accessed on a variety of platforms and it is integrated between immunization service units and public health office. This information system provides dashboard for immunization officer, immunization program managers, vaccine managers and policy makers in public health office to make a better decisions. Recommendations offered to implement this information systems are prepare funds and resources, set up standard operating procedures, and conduct training to users. Keywords: Information System, Immunization, Vaccine Stock Management, Vaccine Cold Chain.
Read More
T-5357
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih; Pembimbing: Iwan Ariawan, Rita Damayanti; Penguji: Mieke Savitri, Sukarno, Vita Yulia Dewi
Abstrak: ABSTRAK Tesis ini membahas hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi, penggunaan NAPZA dan keikutsertaan remaja dalam pusat informasi konseling remaja (PIK-R/M) dengan perilaku seks pranikah remaja di indonesia dengan menggunakan data survei indikator RPJMN remaja 2015 dengan desain cross sectional dimana sampel dalam penelitian ini berjumlah 42.243 remaja usia 15-24 tahun dan belum menikah. Hasil penelitian menyarankan dibutuhkkan informasi tentang masalah perilaku seksual pranikah remaja dengan memberikan informasi terutama tentang pengetahuan tentang masa subur dan perempuan dapat hamil meskipun sekali melakukan hubungan seks, serta instansi terkait diharapkan melakukan aktivitas pencegahan, pemberatasan dan rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA sehingga perilaku seks pranikah tidak meningkat. Kata kunci: Seks Pranikah, Pengetahuan KRR, PIK-R/M, NAPZA The focus of this study is Relationship Knowledge about Adolescent Reproduktive Helath, The Participation of Adolescent in the Information Center Counseling and The Use of Drugs with Premarital Sex in Indonesia using the data survey of Indicator of Long Term Develpoment 2015. This study used cross sectional design and got 42.243 respondents 15-24 years old and unmarried.. The study results suggest it takes information about premarital sexual behavior problems by providing information the fertile period knowledge and a woman can get pregnant even though once having sex. In Addition, relevant agencies are expected to perform the activities of prevention, eradication and rehabilitation in the case of misuse of Drugs, so that the behaviou of premarital sex is not increased. Key words: Premarital se Knowledge, Center for Adolescent, Drugs
Read More
T-5362
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Moemoe Karmoedi; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Tris Eryando, Sunuhardo, Rokim Hamdani
Abstrak:
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) merupakan bagian dari SIK, yang telah diakui sebagai sumber data yang berasal dari Puskesmas. SP3 telah diberlakukan tahun 1981 dengan SK Menkes No.63/Menkes/SK/II/1981 dengan Petunjuk pelaksanaan SK dari Dirjen Binkesmas No.143/Binkesmas/Dj/III/1981. Dalam perjalanannya sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas (SP3) mengalami pemantapan, hasilnya tertuang dalam SK. Dirjen Binkesmas No. 590/BM/DJ/Info/V/96 tanggal 10 Mei 1996 dengan dua komitmen terpenting menurut penulis yaitu menghindari format lain diluar SP3 dan pembinaan SP3 berjenjang. Hasil penjajakan awal di lapangan di Kab. Karawang, tenyata ditemukan beberapa kendala pemanfaatan SP3 belum berjalan seperti yang diharapkan, diantaranya tumpang tindihnya laporan SP3 dengan laporan program lain, mekanisme alur pelaporan SP3 dan UPTD Puskesmas ke Dinas Kesehatan belum tertata dengan baik, ketidak tahuan tentang system operation prosedur (SOP), tidak adanya bimbingan SP3 secara berjenjang. Penulis meneliti apakah yang menyebabkan hambatan alur pelaporan dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan dan tidak adanya proses analisa data, umpan balik serta pembinaan teknis secara berjenjang. Tujuan penulisan ini diharapkan tersedianya jaringan informasi kesehatan untuk kelancaran dan kelangsungan SP3 dan tersedianya SOP. Rancangan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan evaluatif terhadap aspek review program SP3 yang saat ini berjalan di Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. Cara pengukurannya yaitu melalui hasil observasi langsung dengan menggunakan "Cheklist" dan melalui hasil olahan brain storming, wawancara mendalam serta work shop. Hasil yang diperoleh penelitian yaitu tersedianya mekanisme alur pelaporan SP3 dan SOPnya. Tersedianya tenaga pengelola SP3 dan sarana komputer di lingkungan Dinas Kesehatan maupun di UPTD Puskesmas, sangat memungkinkan untuk dikembangkannya jaringan informasi kesehatan pada SP3. Restukturisasi Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kabupaten Karawang, memacu untuk menata kembali TUPOKSI para pengelola SP3 di tingkat Kabupaten maupun di tingkat UPTD Puskesmas. Untuk mengoptimalkan jaringan informasi kesehatan pada SP3 maka penulis menyarankan: Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang dalam mengoptimalkan pelaksanaan SP3 dengan sistem jaringan informasi berbasis komputer maka diperlukan adanya peningkatan dan penambahan tenaga operator, teknisi komputer serta peningkatan kualitas komputer. Dan untuk para peneliti lain diharapkan adanya penelitian lanjutan tentang kebutuhan data esensial SP3 dan pembuatan software SP3 untuk tingkat Puskesmas yang langsung akses ke tingkat Kabupaten dan ke tingkat Propinsi.

Health Information Network Design on Recording and Reporting System of Public Health Care at Karawang Regency Government Health ServiceThe recording and reporting system of Public Health Care (SP3) is a part of Health Information System (SIK) which has been accepted as data resource of the public health care. SP3 has been accepted legally in 1981 by health minister deuce No. 63/Menkes/SK/II/1981 completed with operational direction from Public Health Guide General Directorate No.143/Binkesmas/Dj/III/1981. The application on recording and reporting system of Public Health Care has been developed and its result written in Public Health Guide General Directorate Decree No. 590/BM/DJ/Info/V/96 dated on May, 10, 1996. According to writer the last decree consists of two commitments i. e. to avoid other forms and to practice Recording and Reporting System of Public Health (SP3) itself gradually. The early result before the field in Karawang Regency, really has been found some hindrances in the usage of recording and reporting system of Public Health Care (SP3). It has not been running smoothly as Ls, expected. Among of them are found some complicated records and reports which missed with other matters, the mechanism of SP3 current from Public Health Care to government Health Service has not been well, the ignorance about procedure operation system (SOP) and no guidance on SP3 gradually. The has researched that the cause of hindrance on reporting current from Public Health Care to Government health service and the absence of data analyzing process are feed back to gradual technical guidance. This writing target expects the Health Information Network is available; the continuation of SP3 and the SOP is available. The design researches by using qualified method with evaluation tsipproach on recording and reporting system of Public Health Care are applied. Recently research designing by using qualified method with approach to SP3 Program Review Aspect is running well in Government Service of Karawang Regency. How to measure are through live observation result with using checklist and by brain storming result, by intensive interviews and by workshop. The result of the research gets the availability of current mechanism for SP3 and for SOP. The availabilities of skillful men and computers for SP3 in Government Health Service and at Public Care must have great possibility for developing of health information network at SP3. The organization Restructure on Government in Karawang Regency will give spirit to set up again the man for SP3 in Regency level and at Public Health Care level. To maximize the health information network at SP3 the writer suggests to Government Health Service of Karawang Regency in order to maximize SP3 application by computer base information network system of course are needed the increase and the addition of operators, computer technicians, and the increase of computer quality itself. And to other researchers, the writer expects the existence of continuous researches about SP3 software products for Public Health Care which has access straightly to regency and province level.
Read More
T-1479
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prana Vindayata Pendit; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: R. Sutiawan, Ika Lastyaningrum
Abstrak: Proses rekapitulasi data secara manual pada sistem informasi program usaha kesehatan sekolah di Kota Bogor membutuhkan waktu analisis data yang lamadan sering menyebabkan kesalahan-kesalahan perhitungan variabel data yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi sistem informasi program usaha kesehatan sekolah (UKS) yang mampu menghasilkan informasi sesuai dengan kebutuhan esensial di tingkat institusi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengunakan metode RAD (Rapid Application Development)yang meliputi tahapan perencanaan kebutuhan, rancangan pemakai, dan kostruksi. Penelitian ini menghasilkan prototipe aplikasi sistem informasi manajemen program UKS berbasis web terintegrasi dari tingkat sekolah sampai ke tingkatDinas Kesehatan Kota Bogor. Rancangan aplikasi sistem informasi program UKSdapat membantu pelaksana program UKS di Kota Bogor dalam melakukan inputdata, pengolahan data, penyajian data dan disitribusi data sehingga diharapkan kedepanya mampu meningkatkan keakuratan dan ketepatan waktu pelaporan.Kata kunci: Rancangan, Sistem Informasi Manajemen, Usaha Kesehatan Sekolah
Recapitulation process data manually on information systems school healthprogram in the City of Bogor takes a long data analysis and often lead to errorsexisting data variable calculation. This study aims to design managementinformation systems application for school health program is able to produce theinformation in accordance with the essential requirements at the institutional level.This study is a qualitative research method using a RAD (Rapid ApplicationDevelopment) which includes the stages of planning needs, design the user, andconstruction. This research resulted in a web-based prototype application ofmanagement information systems for school health program to integrated of inschool level up to the level of Bogor City Health Department. The design of theapplication management information systems can help implementers users ofschool health program in Bogor to doing data input, data processing, and datapresentation so that the expected inforward disitribution able to improve theaccuracy and timeliness of reporting.Keywords: Designing, Management Information Systems, School Health Program
Read More
S-8305
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Wahyudi; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Artha Prabawa, Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:

Campak dan Rubela merupakan penyakit menular berpotensi wabah yang dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan kematian, terutama pada anak-anak. Namun keduanya dapat dicegah melalui pemberian imunisasi. Trend cakupan imunisasi yang menurun, terutama paska pandemi COVID-19, telah menyebabkan peningkatan Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satunya Campak-Rubela, sehingga diperlukan respon cepat melalui pemberian imunisasi tambahan berupa Outbreak Response Immunization (ORI). Pelaksanaan ORI di sebagian besar wilayah terdampak KLB masih belum optimal, terutama dari sisi ketepatan waktu respon. Kementerian Kesehatan telah menyediakan alat bantu untuk mendukung proses pra-pelaksanaan ORI, namun penginputan masih bersifat manual dan sistem ini belum terintegrasi dengan sistem informasi lain, serta belum memiliki mekanisme verifikasi dan monitoring oleh tingkat administrasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu inovasi yang dapat memperbaiki sistem yang ada saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi terintegrasi guna meningkatkan ketepatan waktu pelaksanaan ORI di tingkat puskesmas dalam rangka penanggulangan KLB Campak-Rubela.
Metode yang digunakan adalah Pendekatan Rapid Evolutionary Prototyping yang memungkinkan pengembangan dilakukan bertahap berdasarkan masukan yang diperoleh selama proses implementasi dengan cakupan terbatas. Sistem dikembangkan melalui tahapan analisis kebutuhan, identifikasi masalah, desain (logis serta fisik) dan implementasi. Penelitian ini menghasilkan prototipe yang terintegrasi dengan sistem SKDR dan SMILE dilengkapi beberapa menu utama yaitu notifikasi status, penginputan data kajian epidemiologi, perhitungan kebutuhan vaksin dan pelaporan ORI secara real time. Hasil pengujian yang melibatkan informan dari Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Pengasinan dan Depok Jaya menunjukkan bahwa prototipe Sistem Informasi Outbreak Response Immunization (SIORI) efektif dan efisien dalam mendukung penyelenggaraan ORI. Kesimpulannya, prototipe SIORI memiliki potensi memperbaiki sistem yang ada saat ini dalam meningkatkan ketepatan waktu penyelenggaraan ORI KLB Campak-Rubela.


Measles and Rubella are highly contagious infectious diseases that can lead to serious complications and even death, especially in children. These diseases could cause outbreaks, however, can be prevented through immunization. The declining trend in immunization coverage, particularly after the COVID-19 pandemic, has led to an increase in outbreaks, including Measles-Rubella, thus requiring a prompt response through supplementary immunization activities known as Outbreak Response Immunization (ORI). The implementation of ORI in most outbreak-affected areas remains suboptimal, particularly in terms of response timeliness. Although the Ministry of Health has provided supporting excel based tools to support the pre-implementation process of ORI, data entry is still manual, the system is not yet integrated with other relevant information systems and is not complemented with verification and monitoring mechanisms from higher administrative levels. Therefore, an innovation is needed to improve the current system. This study aims to improve the timeliness of ORI implementation at the primary health care level in response to Measles-Rubella outbreaks through development of an integrated information system prototype. The Rapid Evolutionary Prototyping approach was used as the system development model, which allows for incremental development based on feedback collected during implementation assessment. The system was developed through the stages of needs analysis, problem identification, logical and physical design, and implementation. This study resulted in the development of a prototype information system named SIORI, designed to improve the timeliness of ORI implementation. The system includes several key features including outbreak status notification that is integrated with the Early Warning Alert and Response System (SKDR), input for epidemiological assessment data, vaccine stock data obtained from the Electronic Immunization and Logistics Monitoring System (SMILE), vaccine needs calculation, and reporting functions covering response timeliness and immunization service data input. Implementation test involving informants from Depok City Health Office and selected health centers (Puskesmas Pengasinan and Depok Jaya) showed that SIORI is more effective and efficient in supporting ORI implementation. The conclusion is that prototype SIORI has potentials to improve the current system in to accelerating ORI implementation timeliness.

 

Read More
T-7251
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lukman Perdana Sofyan; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Fresty Cahya Maulina
Abstrak:
Pemerintah Indonesia menargetkan prevalensi stunting mencapai angka 14% pada periode akhir RPJMN di tahun 2024. Sejalan dengan itu, Pemerintah Kabupaten Bogor dalam RPJMD 2018-2023 menargetkan pencapaian prevalensi stunting pada tahun 2023 mencapai 19,6%. Pemerintah Kota Bogor dalam RPJMD tahun 2019-2024 menetapkan target prevalensi stunting mencapai 9,9% pada tahun 2024. Dalam rangka pencapaian target penurunan stunting, kebijakan yang disusun perlu didukung dengan analisa data berbasis wilayah dengan metode analisis yang memperhitungkan konteks wilayah atau dikenal dengan analisis spasial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola persebaran stunting pada balita di tingkat kecamatan di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor selama periode 2020-2023, menyusun peta wilayah yang menjadi hotspot prevalensi stunting pada rentang tahun 2020-2023 serta faktor penyebabnya dan mengevaluasi apakah prioritas penanganan stunting di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor sudah sesuai dengan kondisi sebaran stunting. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan unit analisis tingkat kecamatan menggunakan data sekunder profil kesehatan Kabupaten dan Kota Bogor tahun 2020-2023. Uji Indeks Moran’s I digunakan untuk mengidentifikasi autokorelasi spasial antar wilayah kecamatan. Analisis GTWR dilakukan untuk mengetahui model faktor risiko prevalensi stunting berdasrkan karakteristik wilayah. Pemetaan wilayah berisiko stunting dapat memberikan gambaran tingkat risiko prevalensi stunting dan faktor risikonya pada tingkat kecamatan. Terdapat tren penurunan signifikan dalam prevalensi stunting di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dari tahun 2020 hingga 2023. Terdapat autokorelasi spasial yang signifikan secara global pada tahun 2022 dan 2023 (p-value < 0,05) dengan Kecamatan Dramaga konsisten sebagai hotspot. Model faktor determinan stunting melalui uji GTWR menghasilkan variabel yang berpengaruh adalah diare balita, BBLR, ANC K4, imunisasi lengkap balita, akses air bersih dan ketinggian wilayah dengan nilai AIC sebesar 85,182 dan nilai R2 sebesar 0,7105. Pemetaan yang dibuat dapat menyajikan gambaran sebaran risiko stunting dikaitkan dengan variabel utama asupan nutrisi, status kesehatan, layanan kesehatan dan lingkungan pemukiman dengan menampilkan tingkatan risiko pada setiap wilayah kecamatan. Data berbasis spasial yang dikemukakan dalam penelitian ini bisa dijadikan dasar pemerintah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan tingkat stunting yang tinggi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran stunting di wilayahnya.

The Indonesian government targets stunting prevalence to reach 14% in the final period of the RPJMN in 2024. In line with this, the Bogor Regency Government in the 2018-2023 RPJMD targets achieving stunting prevalence in 2023 to reach 19.6%. The Bogor City Government in the 2019-2024 RPJMD has set a target for stunting prevalence to reach 9.9% by 2024. In order to achieve the stunting reduction target, the policies that have been prepared need to be supported by regional-based data analysis with analytical methods that take into account regional context or known as spatial analysis. . This study aims to analyze the distribution pattern of stunting among children under five at the sub-district level in Bogor Regency and Bogor City during the 2020-2023 period, compile a map of areas that are hotspots for stunting prevalence in the 2020-2023 period and the factors causing them and evaluate whether the priority for handling stunting in the Regency is Bogor and Bogor City are in accordance with the conditions for the distribution of stunting. This research is an ecological study with a sub-district level analysis unit using secondary data on the health profile of Bogor Regency and City for 2020-2023. The Moran's I Index test is used to identify spatial autocorrelation between sub-district areas. GTWR analysis was carried out to determine the risk factor model for stunting prevalence based on regional characteristics. Mapping areas at risk of stunting can provide an overview of the risk level of stunting prevalence and risk factors at the sub-district level. There is a significant decreasing trend in the prevalence of stunting in Bogor Regency and Bogor City from 2020 to 2023. There is significant spatial autocorrelation globally in 2022 and 2023 (p-value < 0.05) with Dramaga District consistently as a hotspot. The stunting determinant factor model using the GTWR test produces variables that influence toddler diarrhea, LBW, ANC K4, complete immunization for toddlers, access to clean water and regional altitude with an AIC value of 85.182 and an R2 value of 0.7105. The mapping created can provide an overview of the distribution of stunting risk associated with the main variables of nutritional intake, health status, health services and residential environment by displaying the level of risk in each sub-district area. The spatial-based data presented in this research can be used as a basis for the Bogor Regency and Bogor City governments to identify areas with high levels of stunting and identify factors that influence the spread of stunting in their areas.
Read More
T-7033
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wini Wulansari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Tris Eryando, R. Sutiawan, Herbet Sidabutar, Dyah Purwaning
Abstrak: Kasus penyalahgunaan maupun ketergantungan NAPZA akibat gangguan jiwa atau sebaliknya merupakan masalah kesehatan jiwa. Para ahli mengatakan bahwa jika seseorang yang memiliki gangguan jiwa namun tidak terdiagnosis akan mengarah kepada penyalahgunaan NAPZA. Begitu pula mereka yang memiliki risiko tinggi gangguan jiwa akibat pengaruh genetik, lingkungan, masalah sosial dan lainnya akan mendorong mereka ke arah penyalahgunaan NAPZA Laporan BNN menyebutkan bahwa hingga akhir November 2015, jumlah penyalahguna di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari 4,2 juta jiwa menjadi 5,9 juta jiwa. Sedangkan penyalahguna yang melakukan program rehabilitasi sebagai upaya pengobatan tercatat baru mencapai 100 ribu jiwa. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah perlu membuat suatu upaya pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan NAPZA dengan membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dan kekebalan terhadap penyalahgunaan NAPZA. Upaya tersebut adalah melakukan skrining penggunaan zat. Skrining ini bertujuan untuk menggali informasi pasien terkait keterlibatannya dengan penggunaan NAPZA. Skrining dapat membantu petugas kesehatan untuk mencatat dan melaporkan kasus penyalahgunaan zat di wilayah Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem informasi skrining NAPZA untuk kesehatan jiwa. Penelitian ini menggunakan skrining dengan metode ASSIST. Sistem ini memberikan informasi yang berguna bagi pasien untuk meningkatkan status kesehatannya dan memberikan gambaran kasus penyalahgunaan NAPZA yang berguna bagi Puskesmas untuk menentukan langkah yang tepat melaksanakan pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan NAPZA di wilayah kerja Puskesmas. Kata kunci: penyalahgunaan, NAPZA, skrining, ASSIST Cases of drug abuse or dependence due to mental or otherwise are mental health problems. Similarly, those who have high risk of mental disorders due to genetic, environmental, social and other influences will push them to drug abuse. The National Drugs Agency report says that by the end of November 2015, the number of drugs abuser in Indonesia has increased significantly from 4.2 million people to 5.9 million people. Drugs abuser who perform the rehabilitation program only reached 100.000 people. Based on this, the government needs to make an effort to prevention and control of drug abuse by forming a society that has resilience and immunity against drug abuse. The effort is to screen for substance use. This screening aims to explore patient information related to their involvement with drug use. Screening can help health workers to record and report substance abuse cases in the public health center area. This study aims to build a system of drug screening information for mental health. This research used screening with ASSIST method. The drugs screening information system provides useful information for people to improve their health status and provides an illustration of drug abuse cases that are useful for public health center to determine appropriate measures to implement prevention and control of drug abuse in public health center working areas. Key words: drugs user, drugs, screening, ASSIST
Read More
T-4909
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdillah; Pembimbing: Indang Trihandini, Besral; Penguji: Luknis Sabri, Mary St Maryam, Siti Hajar
T-2091
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elva Idriani; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Artha Prabawa, Evawestari, Dewi Sartika
T-5445
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive