Ditemukan 35765 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ina S.E. Wiraatmadja; Pembimbing: Alex J.A. Papilaja
A-127
Jakarta : FKM UI, 1975
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Epi Ria Kristina Sinaga; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-6983
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kasnodihardjo, Ima Nurisa Ibrahim, Eni Wahyu Lestari
JEK Vol.2, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2003
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahdania Ayuni; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Read More
Masa remaja putri pada anak sekolah telah dikenal sebagai masa khusus dalam kehidupannya yang memerlukan perhatian, terutama pada saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan, akses terbatas pada fasilitas sanitasi yang layak, stigma seputar menstruasi, dan kondisi sanitasi yang buruk secara umum dapat menghambat manajemen kebersihan menstruasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik manajemen kebersihan menstruasi pada siswi SMP dan MTS di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 205 siswi kelas 7 dan 8, yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki praktik manajemen kebersihan menstruasi yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan praktik kebersihan menstruasi (p=0,047; OR=2,512). Namun, faktor lain seperti sikap, kepercayaan, ketersediaan pembalut, dan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di sekolah untuk mendukung praktik kebersihan menstruasi yang lebih baik.
The adolescent phase for school-aged girls is recognized as a critical period in their lives that requires special attention, particularly during menstruation. A lack of knowledge, limited access to proper sanitation facilities, stigma surrounding menstruation, and generally poor sanitation conditions can hinder effective menstrual hygiene management.This study aims to analyze the factors influencing menstrual hygiene management practices among junior high school and Islamic school (MTS) students in Tanjung Priok District, North Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 205 female students from grades 7 and 8, randomly selected from several schools in the area. Data were collected using a structured questionnaire covering predisposing factors (knowledge, attitudes, and beliefs), enabling factors (availability of sanitary pads, school sanitation facilities, and information exposure), and reinforcing factors (peer and teacher support). The findings revealed that the majority of students had poor menstrual hygiene management practices. Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge levels and menstrual hygiene practices (p=0.047; OR=2.512). However, other factors such as attitudes, beliefs, availability of sanitary pads, and teacher support did not show significant associations. These findings underscore the importance of enhancing reproductive health education and providing adequate sanitation facilities in schools to promote better menstrual hygiene management practices.
S-11869
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jihan Farhanah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Sahruna
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Underweight merupakan masalah gizi yang dapat dialami oleh anak berusia di bawah 5 tahun yang jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan wasting dan stunting (WHO, 2019). Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ketahanan pangan dan faktor lainnya dengan kejadian underweight pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan pengumpulan data primer pada Juni 2023 dan teknik simple random sampling dengan total sampel sebanyak 184 anak usia 24-59 bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran antropometri, wawancara kuesioner, Semi Quantitave Food Frequency dan food recall 1x24 jam. Analisis data yang dilakukan berupa analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Ganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 17,4% anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok mengalami underweight. Berdasarkan analisis bivariat, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 6 variabel yang berhubungan signifikan dengan underweight pada anak usia 24-59 bulan, yaitu asupan energi (p-value = 0,001), asupan lemak (p-value = 0,000), asupan karbohidrat (p-value = 0,011), riwayat BBLR (p-value = 0,010), ketahanan pangan rumah tangga (p-value = 0,023), dan pengetahuan gizi ibu atau pengasuh (p-value = 0,026). Selain itu, hasil multivariat menunjukkan bahwa riwayat BBLR (OR=5,1; 95%CI=1,564 – 16,866) sebagai faktor dominan kejadian underweight pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok. Kesimpulan: Secara analisis statistik, asupan energi, asupan lemak, asupan karbohidrat, ketahanan pangan rumah tangga dan pengetahuan ibu atau pengasuh berhubungan signifikan dengan kejadian underweight anak usia 24-59 bulan.
Background: Underweight is a nutritional problem that can be experienced by children under 5 years old. If it persists for a long time and not treated promptly, underweight can result in wasting and stunting (WHO, 2019). Objective: This study aims to determine the relationship between food security and other factors with the incidence of underweight in children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict, North Jakarta. Method: This research uses a cross-sectional study design with primary data collection in June 2023. The sampling technique used is simple random sampling with a total sample of 184 children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict. Data collection is conducted through anthropometric measurements, questionnaire interviews, Semi Quantitative Food Frequency and 24-hour food recall. The data analysis includes univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-Square test, and multivariate analysis using the Multiple Logistic Regression test. Results: This research show that 17,4% of children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict experience underweight. Based on bivariate analysis, this study indicates that there are six variables significantly associated with underweight in children aged 24-59 months, namely energy intake (p-value = 0,001), fat intake (p-value = ,.000), carbohydrate intake (p-value = 0,011), history of low birth weight (p-value = 0,010), household food security (p-value = 0,023), and maternal or caregiver nutrition knowledge (p-value = 0,026). Furthermore, the multivariate results show that a history of low birth weight (OR=5,1; 95%CI=1,564 – 16,866) is the dominant factor for underweight in children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict. Conclusion: Based on statistical analysis, energy intake, fat intake, carbohydrate intake, household food security, and maternal or caregiver nutrition knowledge are significantly associated with underweight in children aged 24-59 months.
S-11429
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Astri Anggung Prinarti; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Besral, Dwi Kurnia Lestari
S-8079
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marisi Panjaitan; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Merry Aderita
S-6744
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suci Pujiyanti; Pemgimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Ratu Ayu Dewi Sartika, Sahruna, Nurmala Meilasari
Abstrak:
Read More
Kekurangan gizi pada anak merupakan masalah yang sangat penting di Indonesia, misalnya seperti berat badan rendah, anak sangat kurus, dan stunting (UNICEF, 2020b). Masalah stunting adalah akumulasi dari masalah gizi lainnya dan harus segera ditangani. Prevalensi stunting di Indonesia paling banyak terjadi pada masyarakat miskin, yang memengaruhi sekitar 50 juta orang (Susenas BPS, 2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional. Variabel independen pada penelitian ini adalah pendidikan ayah dan ibu, pengetahuan gizi ibu, pekerjaan ayah dan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, biaya konsumsi makanan anak per hari, biaya konsumsi protein hewani per hari, dan biaya konsumsi susu per hari. Analisis data menggunakan chi-square, man-whitney, dan regresi logistik biner. Hasil penelitian ini menunjukkan, kejadian stunting tidak berhubungan signifikan dengan pendidikan ayah dan ibu, pengetahuan gizi ibu, pekerjaan ayah dan ibu, jumlah anggota keluarga, dan biaya konsumsi susu per hari. Sedangkan, variabel pendapatan keluarga, biaya konsumsi makanan anak per hari, dan biaya konsumsi protein hewani per hari berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Variabel yang paling berhubungan terhadap kejadian stunting pada penelitian ini adalah variabel biaya konsumsi makanan anak.
Malnutrition in children is a critical issue in Indonesia, manifesting as low birth weight, severely underweight children, and stunting (UNICEF, 2020b). Stunting is a cumulative result of other nutritional problems and requires immediate attention. The highest prevalence of stunting in Indonesia occurs among the poor, affecting approximately 50 million people (Susenas BPS, 2023). This study aimed to determine the relationship between socioeconomic factors and the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta. This was a quantitative study employing a cross-sectional design. The independent variables in this study included paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, family income, number of family members, daily child food consumption costs, daily animal protein consumption costs, and daily milk consumption costs. Data analysis utilized chi-square tests, Mann-Whitney U tests, and binary logistic regression method. This study found that the incidence of stunting was not significantly associated with paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, the number of family members, or daily milk consumption costs. In contrast, family income, daily child food consumption costs, and daily animal protein consumption costs were significantly associated with the incidence of stunting. Among these variables, daily child food consumption costs was the most strongly associated with the incidence of stunting.
Malnutrition in children is a critical issue in Indonesia, manifesting as low birth weight, severely underweight children, and stunting (UNICEF, 2020b). Stunting is a cumulative result of other nutritional problems and requires immediate attention. The highest prevalence of stunting in Indonesia occurs among the poor, affecting approximately 50 million people (Susenas BPS, 2023). This study aimed to determine the relationship between socioeconomic factors and the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta. This was a quantitative study employing a cross-sectional design. The independent variables in this study included paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, family income, number of family members, daily child food consumption costs, daily animal protein consumption costs, and daily milk consumption costs. Data analysis utilized chi-square tests, Mann-Whitney U tests, and binary logistic regression method. This study found that the incidence of stunting was not significantly associated with paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, the number of family members, or daily milk consumption costs. In contrast, family income, daily child food consumption costs, and daily animal protein consumption costs were significantly associated with the incidence of stunting. Among these variables, daily child food consumption costs was the most strongly associated with the incidence of stunting.
T-7417
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Samiyah Nida Al Kautsar; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sahruna
Abstrak:
Read More
Malnutrisi pada anak sering disebabkan kurangnya variasi makanan yang dikonsumsi, sehingga asupan zat gizi tidak adekuat (UNICEF, 2020). Tingginya keragaman konsumsi pangan berhubungan dengan rendahnya kejadian stunting dan underweight pada balita (Modjadji et al., 2020). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan dan faktor dominan terhadap keragaman konsumsi pangan pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 188 anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok selama bulan Juni 2023 menggunakan teknik simple random sampling di tiga kelurahan, yaitu Kebon Bawang, Sunter Jaya, dan Warakas. Skor keragaman konsumsi pangan diambil menggunakan food recall 1x24 jam berdasarkan 9 kelompok pangan dan dikategorikan menjadi tidak beragam (< 5 kelompok pangan) dan (≥ 5 kelompok pangan). Analisis penelitian ini menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara status pekerjaan ayah, pengetahuan gizi ibu/pengasuh, dan ketahanan pangan dengan keragaman konsumsi pangan anak. Analisis multivariat menunjukkan bahwa status pekerjaan ayah memiliki nilai OR tertinggi, yaitu 2,9. Status pekerjaan ayah menjadi faktor dominan keragaman konsumsi pangan anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2023.
Malnutrition in children is often caused by a lack of variety of foods consumed, resulting in inadequate intake of nutrients (UNICEF, 2020). The high diversity of food consumption is related to the low incidence of stunting and underweight in toddlers (Modjadji et al., 2020). This study aims to determine the factors associated with the diversity of food consumption and the dominant factors for the diversity of food consumption in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta in 2023. The study used a cross-sectional design with a sample size of 188 children aged 24 -59 months in Tanjung Priok District during June 2023 using a simple random sampling. Food consumption diversity scores were taken using a 1x24 hour food recall based on 9 food groups and categorized into non-diverse (< 5 food groups) and (≥ 5 food groups). The result showed a significant relationship between father's employment status, mother/caregiver's nutritional knowledge, and food security with children's food consumption. Multivariate analysis showed that the father's employment status had the highest OR value. Father's employment status is the dominant factor in the diversity of food consumption for children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta in 2023.
S-11430
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXV, No.8, Sept. 1997, hal. 505-509. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
