Ditemukan 22111 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pelayanan keperawatan sebagai salah satu subsistim pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan komponen sentral untuk terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu. Keberhasilan pelayanan kesehatan yang bermutu ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kualitas sumber daya manusia, sarana dan fasilitas, kebijakan yang ada serta manajemen rumah sakit. RSU Bina Sehat Kabupaten Bandung, dalam bidang keperawatan masih banyak menghadapi berbagai kendala. Rendahnya kinerja rumah sakit dengan nilai BOR (Bed Occupancy Rate) baru mencapai 4l,05%, tingkat keterlibatan perawat/bidan dalam upaya peningkatan kualitas layanan masih rendah, dan dari sisi manajemen RSU Bina Sehat belum memiliki konsep dan fondasi manajemen yang kuat. Dalam upaya meningkatkan manajemen dan kinerja perawat/bidan, pemerintah melalui Menteri Kesehatan mengeluarkan keputusan tentang Pedoman Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) Perawat dan Bidan yang tercantum dalam Kepmenkes RI Nomor 836/Menkes/SK/VU2005. Tujuan penelitian ini secara umum adalah menganalisis kesiapan RSU Bina Sehat dalam menerapkan PMK perawat/bidan melalui faktor input dan proses. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Fokus penelitian adalah pada lini manajemen dan pelaksana yang berhubungan dengan keperawatan dan kebidanan. Dari hasil telaah dokumen, wawancara mendalam, dan FGD (Focus Group Discusion) menunjukkan bahwa Faktor Input PMK yaitu uraian tugas, SOP, SAK/SAB, pelatihan, sistem penghargaan, kecuali indikator kinerja, sudah dijalankan namun masih bersifat superfisial. Faktor Proses PMK yaitu monitoring, evaluasi, pengelolaan penyimpangan, diskusi refleksi kasus, dokumentasi asuhan keperawatan, dokumentasi asuhan kebidanan belum berjalan optimal sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dari hasil penilaian terhadap faktor-faktor tersebut RSU Bina Sehat tidak siap dalam menerapkan Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005 atau kesiapan baru mencapai 30%. Hambatan pelaksanaan PMK adalah kurangnya dukungan terhadap program, kurangnya kualitas dan kuantitas SDM , sarana dan prasarana masih kurang serta rendahnya motivasi kerja. Selain melengkapi kekurangan dari faktor input dan proses, dalam rangka menunjang kinerja dan sistem manajerial, secara umum diusulkan melalui 10 langkah perbaikan yaitu perbaikan struktur organisasi rumah sakit dan instalasi; kebijakan pimpinan rumah sakit; komitmen visi, misi, tujuan rumah sakit dari seluruh komponen rumah sakit; memupuk sifat kepemimpinan; peningkatan ketrampilan klinis dan manajerial; perbaikan deskripsi pekerjaan dan beban kerja; menilai kembali tata letak ruang rawat; melengkapi sarana dan alkes; memperbaharui sistem penghargaan; mengembangkan kerja tim dan pembelajaran.
Nursing service is, as a subsystem of health service in hospital, a central component to achieve quality heath service. The success of quality health service is dependent on the quality human resotuces, facilities and infrastructures, standing policies, and hospital management. Bina Sehat Hospital in Kabupaten Bandung is still facing many problems in nursing services including low perfomiance with 41.05 per cent of BOD (Bed Occupancy Rate) , low involvement of nulseslmidwives in the upgrading of quality service and Bina Sehat Hospital does not have solid concept and foundation of management. In an attempt to improve management and performance of nurses/midwives, the government of Indonesia through the Minister of Health has issued guidance on the development of performance management nurse/midwife in Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005. The objective of this study is to analyze the readiness of Bina Sehat Hospital in Development of Perfomance Management (DPM) nurse/midwife through input and process factor. This study employs descriptive analytic method with qualitative approach. The focus ofthe study is on the line management and execution related to nursing and obstetric. According to the results of document’s review, in-dept interview, and Focus Group Discussion, it is shown that input factors of DPM comprising of job description, Standard Operating Procedure (SOP), nursing/midwifery upbringing standard, training, reward system, except performance indicator, have already been operational yet still superficial. Process factors of DPM consisting of monitoring, evaluation, storage management, case reflection discussion, nursing documentation, obstetric documentation have not been optimal by the govemrnents’ rules and standards. Evaluation results on these factors, Bina Sehat Hospital is considered not ready yet in the implementation of Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005 as its readiness currently achieves only 30 per cent. The problems in implementing DPM nurse/midwife are the lack of support on the program, shortage in the quality and the quantity of human resources, shortage of facilities and infrastructure, and low work motivation. Apart from filling the gap in input and process factors, in supporting performance and managerial system, ten improvement steps are proposed are improve structural organization of hospital and installation; improve hospital management policies, committed vision, mission, objectives of the whole hospital components, nurture leadership, up-grade clinical and managerial skills, improvejob description and work load, review the lay out of nursing, add on facilities and health instrument, renew reward system, develop team work and learning system.
Unit rawat jalan adalah suatu bagian dari rumah sakit yang merupakan pintu atau media pertama untuk kontak dan berinteraksi dengan pengguna jasa atau pasien. Data kunjungan unit rawat jalan poliklinik RSU Surya Husadha Denpasar menunjukkan bahwa belum tercapainya target yang ditetapkan rumah sakit, dan juga menurunnya jumlah kunjungan tahun 2011 dibanding tahun 2010 dan 2009. Untuk itu perlu dilakukan pengukuran kinerja. Dipilihlah balanced scorecard karena dapat memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap kinerja rumah sakit. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dengan menggunakan data sekunder hasil survei kepuasan pelanggan dan data primer angket kepuasan karyawan. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Dari penelitian ini diperoleh gambaran bahwa perspektif keuangan menunjukkan hasil yang baik dimana pendapatan meningkat dan CRR melebihi 100 %. Perspektif pelanggan cukup baik dimana tingkat kepuasan pelanggan melebihi standar Depkes yaitu 90 %. Perspektif proses bisnis internal menunjukkan hasil yang cukup karena RSU Surya Husadha Denpasar sudah memiliki protap dan memiliki mekanisme pengawasan, akan tetapi masih ada rujukan serta kurangnya fasilitas yang dimiliki. Terakhir perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memiliki nilai kurang karena tingkat kepuasan pegawainya masih rendah yaitu kurang dari 90 % standar Depkes.
Outpatient Unit is a part of the hospital which is the first media to contact and interact with the service user or patient. Data visits in unit outpatient clinic Surya Husadha Denpasar General Hospital showed that the achievement of the targets set have not been home sick, and also decreased the number of visits in 2011 than in 2010 and 2009. For it is necessary for performance measurement. Balanced scorecard was chosen because it can provide a comprehensive picture of hospital performance. The research was conducted with quantitative and qualitative approach, using secondary data from customer satisfaction surveys and primary data questionnaire employee satisfaction. Conducted a qualitative approach with in-depth interviews. From this study indicated that the financial perspective has shown good results where revenue increased over 100% and CRR. Customer perspective well enough where the level of customer satisfaction exceeds 90% of the MOH standards. Internal business process perspective showed adequate results for Surya Husadha Hospital Denpasar already have SOPs and have a monitoring mechanism, but there are still references as well as the lack of facilities owned. Finally learning and growth perspective has less value because of the level of employee satisfaction is still low at less than 90% MOH standards.
