Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31028 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ina Refina; Pembimbing: Yvonne M. Indrawani; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Triyanti, Anies Irawati, Kresnawan
T-3082
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husnul Khatimah; Pembimbing: Ahmad SYafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Nida Rohmawati, Wayan Sri Agustini
Abstrak: Penyebab terbesar kematian ibu masih tetap sama yaitu perdarahan. Upaya untuk mengendalikan terjadinya perdarahan yaitu dengan memperbaiki kontraksi dan retraksi myometrium. Hormon oksitosin diketahui dapat memicu kontraksi otot polos pada uterus sehingga akan terjadi involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan. Oksitosin dapat diperoleh dengan berbagai cara baik melalui oral, intranasal, intra-muscular, pemijatan yang merangsang keluarnya hormon oksitosin, dan melalui pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Pada tahun 2013 Sulawesi Selatan menempati posisi kedua cakupan IMD tertinggi di Indonesia dengan pelaksanaan IMD berkisar 42%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hormon oksitosin pada ibu 2 jam post partum yang menerapkan IMD di RSKDIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah ibu post partum yang melahirkan di RSKDIA Siti Fatimah Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ibu yang IMD kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 35,90 pg/ml setelah dikontrol variabel kecemasan, hisapan bayi dan dukungan keluarga. Pada ibu yang memiliki kecemasan ringan kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 17,95 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, hisapan bayi dan dukungan keluarga. Pada ibu yang hisapan bayinya efektif kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 7,26 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, kecemasan dan dukungan keluarga dan pada ibu yang mendapatkan dukungan keluarga kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 11,98 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, kecemasan dan hisapan bayi. Perlu meninjau kembali kebijakan pelaksanaan IMD dengan lebih memperhatikan kualitas pelaksanaan tidak berfokus pada waktu tapi berfokus kepada kepuasaan bayi. Kata Kunci: Inisiasi menyusu dini, hormon oksitosin, perdarahan The greatest cause of maternal death remains the same is bleeding. Efforts to control the occurrence of bleeding is to improve contraction and retraction of myometrium. The hormone oxytocin is known to trigger smooth muscle contraction in the uterus so that there will be involution of the uterus and prevent the occurrence of bleeding. Oxytocin can be obtained by various means either through oral, intranasal, intra-muscular, massage that stimulates the release of oxytocin hormone, and through the implementation of Early Initiation Breastfeeding. In 2013 South Sulawesi ranked second highest IMD coverage in Indonesia with IMD implementation ranging from 42%. This study aims to determine differences in hormone levels of oxytocin in the mother 2 hours post partum that implements IMD in RSKDIA Siti Fatimah Makassar in 2017. This research is a quantitative research with cross sectional design. The population in this study is the post partum mother who gave birth in RSKDIA Siti Fatimah Makassar. The results showed that in mothers with IMD their hormone oxytocin levels would be higher 35.90 pg / ml after controlled for anxiety, infant sucking and family support variables. In mothers who have mild anxiety, their hormone oxytocin levels will be higher at 17.95 pg / ml after controlled for IMD variables, baby sucking and family support. In mothers with effective baby sucking their hormone oxytocin levels will be higher 7.26 pg / ml after controlled for IMD variables, anxiety and family support and in mothers who get family support the hormone oxytocin levels will be higher 11.98 pg / ml after controlled variables IMD , Anxiety and baby sucking. Need to review IMD implementation policy with more attention to implementation quality not focused on time but focusing on baby satisfaction. Keywords: Early breastfeeding initiation, oxytocin hormone, bleeding
Read More
T-5017
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tatik Setiarini; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Hery Hermawanto, Merida Simanjuntak
Abstrak:

Penundaan IMD merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan kematian neonatus sebesar 2,4 %. Peran dan komitmen dari rumah sakit sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan IMD karena sembilan dari 10 langkah keberhasilan menyusui tersebut dilakukan di rumah sakit. RSIA Budi Kemuliaan merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan IMD dari tahun 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja bidan dalam pelaksanaan IMD, menggunakan disain cross-sectional dengan menggunakan 50 sampel responden. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan chi-square dan multivariat dengan regresi logistic ganda. Hasil Penelitian rata-rata bidan mempunyai kinerja yang baik, umur lebih dari 35 tahun sebesar 52%, masa kerja lebih dari 10 tahun sebesar 46%, tingkat pendidikan D3 kebidanan sebesar 82% dan D4 kebidanan sebesar 18%, pengetahuan yang baik sebesar 62%, mendukung IMD sebesar 52%, pelatihan yang diikuti kurang dari 2 tahun sebesar 22%. Ada hubungan yang signifikan antara kinerja bidan dengan umur (p value=0.000), lama kerja (p value=0.000), pendidikan (p value=0.028), pengetahuan (p value=0.000), sikap (p value=0.002), dan pelatihan (p value=0.015). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kinerja bidan dalam pelaksanaan IMD adalah lama kerja (OR=36,75), setelah dikontrol dengan pendidikan (OR=22,67) dan pengetahuan (OR=8,09).


 Postponement of early initiation respresent risk factor able to improve death of neonates equal to 2,4%. Role and commitment from hospital is needed to support execution of early initiation because nine from ten efficacy steps is conducted in hospital. Budi Kemuliaan Mother and Child Hospital is a hospital that carrying out early initation since 2008. The purpose of this research is to know about midwifery performance in execution of early initiation, using cross-sectional design and 50 responder samples. The data will be analysed by univariate, bivariate analysis using Chi-Square, while the multivariate analysis using double logistics regretion. The avarage research shows that midwifery has a good performance, age more than 35 years equal to 52%, year of working more than 10 years equal to 46%, education level of Diploma three midwifery equal to 82% and diploma four midwifery equal to 18%, good knowledge equal to 62%, supporting Early initation equal to 52%, training followed less than two year equal to 22. There is a significant relationship between midwife performance with the age (p value=0.000), period working (p value=0.000), education (p value=0.028), knowledge(p value=0.000), atitude (p value=0.002), and training (p value=0.015). The dominant factor that has relationship with midwife performance in the implementation at early initation is the period of working (OR=36,7), after taking control with the education (OR=22,7) and knowledge (OR=8,1).

Read More
T-3631
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yenny Makasudede; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Armyn Effendi, C Endah Wuryaningsih
S-5389
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamnah Tsabitah; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Endang L. Achadi, Ichayuen Avianty
S-9399
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Liswanda; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti; Anies Irawati
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumatera Utara yang merupakan provinsi dengan prevalensi IMD tertinggi dan terendah pada Analisis Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Demografi Indonesia Tahun 2017 dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 161 ibu di NTB dan 261 ibu di Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan IMD di kedua provinsi tersebut dan faktor dominannya. Berdasarkan hasil analisis univariat, cakupan IMD di NTB sebesar 78,9% dan di Sumatera Utara sebesar 34,5%. Dari hasil analisis bivariat, didapatkan bahwa IMD memiliki hubungan dengan metode persalinan (p-value 0,000 dan OR 7,4), komplikasi kehamilan (p-value 0,031 dan OR 5,7), dan skin-to-skin contact (p-value 0,000 dan OR 6,6) di Provinsi NTB. Sementara di Sumatera Utara, didapatkan bahwa IMD memiliki hubungan dengan tempat persalinan (p-value 0,032 dan OR 0,55) dan metode persalinan (p-value 0,000 dan OR 7,2). Hasil analisis multivariat, didapatkan bahwa metode persalinan menjadi faktor dominan yang berhubungan dengan IMD di Provinsi NTB (p-value 0,002 dan AOR 5,6) dan Sumatera Utara (p-value 0,000 dan AOR 8,1).

This study discusses the factors related to the implementation of EIBF in the Provinces of West Nusa Tenggara (NTB) and North Sumatra which are the provinces with the highest and lowest prevalence of EIBF in the Indonesia Demographic and Health Survey (DHS) Analysis 2017. This study uses secondary data from the 2017 Indonesian DHS with a cross sectional research design. The number of samples used were 161 mothers in NTB and 261 mothers in North Sumatra. The purpose of this study was to determine the factors associated with IMD in the two provinces and the dominant factors, so that they can be taken into consideration in making policies by the local government. Based on the results of univariate analysis, the prevalence of IMD in NTB was 78.9% and in North Sumatra was 34.5%. From the results of bivariate analysis, it was found that EIBF had a relationship with delivery method (p-value 0.000 and OR 7.4), pregnancy complications (p-value 0.031 and OR 5.7), and skin-to-skin contact (p-value 0.000 and OR 6.6) in NTB Province. Meanwhile in North Sumatra, it was found that EIBF had a relationship with the place of delivery (p-value 0.032 and OR 0.55) and method of delivery (p-value 0.000 and OR 7.2). The results of multivariate analysis showed that the method of delivery was the dominant factor associated with EIBF in the Provinces of NTB (p-value 0.002 and AOR 5.6) and North Sumatra (p-value 0.000 and AOR 8.1).
Read More
S-11158
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Destriatania; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Kusharisupeni, Caroline Endah Wuryaningsih, Besar, Dien Sunyoto, Trina Astuti
Abstrak: Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap ayah terhadap praktik inisiasi menyusu segera dan pemberian ASI eksklusif. Sebanyak 536 pasangan suami istri yang memiliki bayi usia 0-6 bulan yang diperoleh dari metode sampel tidak acak menjadi sampel dalam studi ini. Desain yang digunakan adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik.
 
Sebesar 83,6% dan 59,1% ayah memiliki tingkat pengetahuan rendah tentang manajemen laktasi prenatal dan postnatal. Pengetahuan manajemen laktasi prenatal dan postnatal tidak berhubungan dengan praktik inisiasi menyusu segera, tetapi pengetahuan manajemen laktasi postnatal berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif (pv=0,04). Sebesar 62,7% ayah menunjukkan sikap kurang mendukung pada saat kelahiran, tetapi 89,6% dan 61,9% menunjukkan dukungannya ketika masa kehamilan dan menyusui.
 
Dalam studi ini sikap ayah selama masa kehamilan dan menyusui merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi praktik inisiasi menyusu segera (pv=0,03) dan pemberian ASI eksklusif (pv=0,01). Pengetahuan yang baik dan sikap yang positif diketahui sebagai faktor penting dalam keberhasilan praktik inisasi menyusu segera dan pemberian ASI eksklusif. Hal tersebut mengindikasikan perlunya edukasi tentang menyusui yang melibatkan ayah.
 

The aim of this study is to analyze the relationship between knowledge and attitude of fathers on early initiate breastfeeding and exclusive breastfeeding practices. A non probability random sampling towards 536 couples whose baby was aged 0-6 months. The study design was cross sectional with quantitative data approach by using a structured questionnaire. Chi square and logistic regression methods were used for data analysis.
 
Around 83,6% and 59,1% of fathers had low level of knowledge on prenatal and postnatal lactation management. Knowledge about prenatal and postnatal lactation management were not associated with early initiate breastfeeding practice. However, postnatal lactation management knowledge was significantly associated with exclusive breastfeeding practice (p=0.04). There was 62,7% of fathers presented low support at birth, but 89,6% and 61,9% of them showed high support in pregnancy and breastfeeding period.
 
Attitude of fathers in pregnancy and breastfeeding period were associated with early initiate breastfeeding (p=0.03) and exclusive breastfeeding (p=0,01). Good knowledge and positive attitude were known as an important factors of successful early initiate breastfeeding and exclusive breastfeeding practices. This indicates a need of breastfeeding education for fathers.
Read More
T-3229
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeye Fahrina Inayatillah; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Triyanti, Triana Astuti
S-6363
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Ridho Nugroho; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Trini Sudiarti, Dewi Damayanti, Rika Rachmalina
Abstrak: Berdasarkan berat badan rujukan menurut Departemen Kesehatan, bayi yang lahir dengan gizi baik akan mempunyai berat badan antara 2,5 kg sampai 3,4 kg. Pertambahan berat badan bayi sangatlah pesat, tetapi laju pertambahan berat badan makin lama makin berkurang. Pada umur 5 bulan, berat badan bayi menjadi dua kali berat lahir, sedangkan pada umur 1 tahun beratnya tiga kali berat lahir, dan pada umur 2 tahun berat badannya menjadi empat kali berat lahir. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir terhadap pertambahan berat badan usia 12 bulan pada bayi yang di lahirkan di klinik bidan praktek mandiri (BPM) di Kota Lubuklinggu Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2019, sampel sebanyak 108. Desain penelitian cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan 81,5% bayi lahir dengan berat badan ≥3000gram, sebanyak 47,2% bayi yang mengalami kenaikan berat badan 3 kali berat lahir, 47,2 % bayi diberi ASI eksklusif, 63% bayi mendapat MP ASI pada usia ≥ 6 bulan, 59,3% bayi menderita penyakit infeksi, 88% ibu yang memiliki usia kehamilan ≥ 38 minggu, 70,4 % ibu yang memiliki pendidikan ≥ SLTA, 63% bayi rutin melakukan penimbangan berat badan serta 80,6% bayi mendapatan imunisasi lengkap. Terdapat hubungan antara berat badan lahir (p value = 0,001) dan status imunisasi (p value = 0,017) terhadap pertambahan berat badan bayi pada usia 12 bulan. Perlu adanya peningkatan program antenatal care (ANC) dan peningkatan program cakupan imunisasi/universal child immunization (UCI) serta peningkatan kunjungan posyandu agar bayi dapat mencapai berat badan yang ideal pada usia 12 bulan. Kata kunci: Berat badan lahir, berat badan usia 12 bulan, imunisasi Based on the reference weight according to the Ministry of Health, babies born with good nutrition will have a weight between 2.5 kg to 3.4 kg. Baby's weight gain is very rapid, but the rate of weight gain decreases over time. At the age of 5 months, the baby's weight is twice the birth weight, while at the age of 1 year it weighs three times the birth weight, and at the age of 2 years the weight becomes four times the birth weight. The purpose of the study was to determine the relationship between birth weight to weight gain of 12 months in infants born at independent practice midwife clinics (BPM) in Lubuklinggu City, South Sumatra Province in 2019, a sample of 108. The study design was cross sectional. The results showed 81.5% of babies born with a weight of 0003000gram, as many as 47.2% of infants who gained weight 3 times birth weight, 47.2% of infants were given exclusive breastfeeding, 63% of infants received MP ASI at the age of ≥ 6 month, 59.3% of babies suffer from infectious diseases, 88% of mothers who have gestational age ≥ 38 weeks, 70.4% of mothers who have education ≥ SLTA, 63% of babies routinely weigh weight and 80.6% of babies get complete immunization . There is a relationship between birth weight (p value = 0.001) and immunization status (p value = 0.017) on infant weight gain at 12 months of age. There needs to be an antenatal care (ANC) improvement program and an increase in the universal child immunization (UCI) program and an increase in posyandu visits so that babies can achieve the ideal body weight at 12 months of age. Key words: Birth weight, 12 month body weight, immunization
Read More
T-6001
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tb Budi Kusuma Wijaya; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setarini, Rahmawati
S-6049
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive