Ditemukan 39680 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dwi Octa Amalia; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Agustin Kusumayati, Heidy Chadidjah
S-5890
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farihah Sulasiah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Farida Mutiarawati Tri Agustina, Kusnandar, Muhammad Nasir
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Informasi tentang kesehatan sebagai usaha preventif dapat diperoleh melalui jalur pendidikan. Sekolah sebagai sarana pendidikan tidak hanya terbatas memberikan pengetahuan dan informasi tetapi juga memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang diwujudkan dengan keberadaan guru BK. Guru BK memiliki 4 fimgsi dalam kesehatan reproduksi yaitu fungsi pemahaman, pencegahan, pcrbaikan dan pengembangan pribadi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang peran gum bimbingan konseling dalam kesehatan reproduksi remaja pada dua SMP di Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. Pengumpulan data melalui WM, FGD, observasi dan telaah dokumen pada bulan Mei 2007 di SMP Negeri X dan SMP swasta Y. Guru BK yang bermgas scbagai informan utama dan kepala sekolah, guru, siswa dan pejabat diknas sebagai informan pendukung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masalah kespro di SMP Ncgeri X lebih beragam dibandingkan dengan masalah kespro di SMP Swasta Y. Sementara im persepsi dan sikap guru BK di kedua sekolah terhadap kesehatan reproduksi memiliki persamaan, sehingga gum BK merasa perlu meiaksanakan perannya sebagai fasilitator maupun konselor dalam kesehatan reproduksi remaja. Namun karena keterbatasan pengetahuan tentang hal ini maka guru BK di kedua sekolah melaksanakan perannya sebatas pengetahuan dan pengalaman yang dimi|iki_ Gum BK di SMP Swasta Y lebih menunjukkan peranannya dibandingkan dcngan gum BK SMP Ncgeri X. Hal ini ditunjukkan dengan pelaksanaan tugas guru BK baik sebagai fasilitator dan konseior yang aktif berinteraksi dengan siswa dan mendapatkan kesan positifdari siswa_ Kenyataan ini didukung oleh keterlibatan kepala sekolah di SMP Swasta Y dalam mensosialisikan keberadaan layanan BK kepada siswa dan pelaksanaan bentuk kerjasama clengan instansi lain dalam memberikan pengeiahuan kespro kcpada siswa. Peran guru BK di SMP Ncgeri X belum dapat berjalan optimal, hal ini lebih diakibatkan karena kurangnya pendelcatan guru BK terhadap siswa, kesan negatif siswa terhadap keberadaan guru BK serta kurangnya kcyakinan guru dan siswa terhadap kemampuan BK dalam memberikan jaminan kcrahasiaan. Gum BK di SMP Negeri X juga merasakan kurang optimalnya peran guru BK sebagai akibat dari besarnya jumlah siswa yang ditangani dan tidak adanya insentif yang diberikan jika beban kerja melebihi ketentuan mengakibatkan menurunnya motivasi gum BK dalam pelaksanaan tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan peran guru BK tidal: hanya dipengamhi oleh faktor individu tetapi juga ada faktor lain dalam hal ini keberadaan dukungan organisasi. Pada akhirnya agar pelaksanaan peran guru BK dalam kesehatan reproduksi remaja dapat berjalan optimal, maka perlu dilakukan berbagai usaha yang menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan instansi yang terkait dalam hal ini Depdil-:nas dan Depkes. Pihak sekolah disarankan Iebih mensosialisasikan keberadaan guru BK seperti yang dilaksanakan di SMP Swasta Y, mempenimbangkan sumberdaya yang dapat mendukung pelaksanaan peran gum BK, melakulcan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja guru BK dan mempertimbangkan pemberian insentif sesuai ketentuan yang berlaku sebagai reward atau salahsatu bentuk upaya memotivasi gum BK. Depdiknas dan Depkes sebaiknya mempenimbangkan strategi dalarn usahanya menangani masalah kespro remaja melalui keberadaan guru BK di sekolah balk berupa pelaksanaan pelatihan dan penyediaan buku atau media penunjang yang dapat dimanfaatkan gum BK dalam melaksanakan perannya.
ABSTRACT Reproduction health campaign can be considered as a preventive action in education process. School as education institute shall perform not only in knowledge transfer, but also in giving guidance to student, which carried out by counselling teacher. Counselling teacher has four functions in reproduction health education; those are understanding, prevention, upgrading, and personality improvement. Research was conducted to get description about the role of counselling teacher in giving guidance for reproduction health. This research conduct on 2 Junior High School in District Jagakarsa, Jakarta Selatan. Data collection through Indepth Interview, Focus Group Discussion, observation, and documentation studies were held on May 2007 in Public Junior High School X and Private Junior High School Y. Counselling teachers provide main infomation source while headmaster and teachers provide additional information. Result has shown that reproduction eases in Public Junior High School X are varied than Private Junior High School Y. Meanwhile, counselling teachers in those schools have similarity in perception and action. Nevertheless, because of limitation of knowledge, those counselling teacher only perform as far as their knowledge and experience. Counselling teachers in Private Junior High School Y perform their role better than counselling teachers in Public Junior High School X. This shown in their action as facilitator and actively interact with student with good responses from student as result. ln Private Junior High School Y, They also supported by headmaster in socializing counselling function to student and creating cooperation with other institute in reproduction education. The Role of counselling teacher in Public Junior High School X could not perform optimal, mostly caused by minimum eITort by counselling teacher in approaching the student, negative opinion of student to their counselling teacher and confidentially aspect. Counselling teacher in Public Junior High School X already realize regarding their role but the ratio between students and counselling teachers are wide and no such given incentive. These affect their motivation in perform their role. This condition can show that results are affected not only by individual manner but also by organization manner. ln the end, rolc of counselling teacher in health reproduction could be perform well as if there is integrated effort between Department of National Education and Department of Health. School shall be strongly socialized their counselling, Private Junior High School Y as an example. School shall support to counselling?s role with monitoring and evaluating to their performance. A reward system shall be applied to motivate them, Department of Health and Department of National Education can consider to develop strategy to handle teenager reproduction health matter by utilize counselling in school and provide training and media to improve counselling teacher to perform their role.
T-2566
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ali Imron
612.6 IMR p
Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2012
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vahlufi Eka Putri; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Nasyith Forefry
Abstrak:
Read More
Jumlah penyandang disabilitas usia sekolah (5-19 tahun) berkisar 2.197.833 jiwa. Sementara, yang terdata di Pusat Data dan Informasi Kemendikbudristek ada sekitar 269.398 anak yang mendapatkan pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusi artinya baru sekitar 12 % anak yang dilayani kebutuhan pendidikannya. Siswa remaja dengan disabilitas intelektual membutuhkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas dalam konteks pendidikan formal di SLB sebagai bekal pengetahuan dan untuk merespons dengan tepat situasi bahaya kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas termasuk kesulitan yang dialami guru dan siswa remaja dengan disabilitas intelektual di SLB X dan SLB Y Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus yang dilakukan selama bulan Januari-Februari 2024 di SLB X dan SLB Y Kota Depok. Jenis analisis yang digunakan adalah analisis tematik. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder ; wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Penentuan informan wawancara mendalam (WM) dilakukan secara purposive sampling. Metode penelitian ini menggunakan model CIPP. Hasil analisis variabel Context ; sebagian besar komponen kebijakan sudah terpenuhi, analisis variabel Input ; sebagian besar komponen sudah terpenuhi dengan baik, analisis variabel Process; dilaksanakan dengan maksimal di SLB X sedangkan di SLB Y belum maksimal, analisis variabel Product : Dampak program di SLB X sudah ada dampak dari hasil pelaksanaan sedangkan di SLB Y belum ada dampak dikarenakan belum adanya program. Kesulitan yang dialami guru adalah waktu pelaksanaan dan kompetensi guru. Kesulitan yang dialami siswa adalah lingkungan dan dukungan orangtua/pengasuh. Kata kunci : CIPP, Disabilitas Intelektual, Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas, Siswa Remaja, SLB.
The number of people with disabilities of school age (5-19 years) is around 2,197,833 people. Meanwhile, as recorded by the Data and Information Center of the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology, there are around 269,398 children who receive education in special schools and inclusion schools,it’s meaning only around 12% of children have their educational needs served. Adolescent students with intellectual disabilities need reproductive health and sexuality education in the context of formal education in special schools to provide knowledge and to respond appropriately to dangerous situations of sexual violence. This research aims to analyze the implementation of reproductive health and sexuality education, including the difficulties experienced by teachers and adolescent students with intellectual disabilities at Special School X and Special School Y, Depok City. This research is a descriptive qualitative research with a case study design conducted during January-February 2024 at Special School X and Special School Y, Depok City. The type of analysis used is thematic analysis. Data collection uses primary data and secondary data; in-depth interviews, observations, and document review. Determination of informants for in-depth interviews was carried out using purposive sampling. This research method uses the CIPP model. Results of analysis of Context variables; most of the policy components have been fulfilled, analysis of Input variables; most of the components have been fulfilled properly, Process variable analysis; implemented optimally in Special School X than Special School Y. analysis of Product variable; The Impact of Program in Special School X showed the positive impact than Special School Y. The difficulties experienced by teachers are implementation schedule and teacher competencies. The difficulties experienced by students are the environment and parents/caregivers’s supports. Keywords: CIPP, Intellectual Disability, Reproductive Health and Sexuality, Adolescent Students, Special School.
T-7041
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Laela; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi
S-3460
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dina Atrasina; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Milla Herdayati, Ahmad Syafiq, Ribka Ivana Sebayang, Rahmadewi
Abstrak:
Read More
Kehamilan remaja merupakan masalah serius yang dapat memengaruhi kesejahteraan hidup remaja. Populasi kelompok usia remaja di Indonesia tahun 2017 mencapai 63,36 juta jiwa atau 24,27% dari keseluruhan penduduk. Seperempat bagian tersebut, dapat dipandang menjadi peluang ketika remaja tersebut sehat dan berkualitas. Namun faktanya Age Spesific Death Rate (ASDR) kasus kematian maternal tertinggi adalah pada kelompok remaja (<20 tahun). Pendidikan kesehatan reproduksi dinilai dapat menekan terjadinya kehamilan remaja. Sekolah menjadi lembaga yang terpercaya untuk memberikan pendidikan. Selain dari sekolah, pendidikan kesehatan reproduksi juga mudah didapatkan melalui media: buku, majalah, radio, televisi, dan internet. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah terhadap kehamilan remaja usia 15-19 tahun dengan menggunakan analisis data SDKI tahun 2017.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian dianlisis menggunakan regresi logistik dengan tiga tahap yaitu univariat, bivariate, dan multivariate. Besar sample penelitian sebesar 7.158, sample diambil berdasarkan total sampling data yang masuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa distribusi frekuensi remaja usia 15-19 tahun yang hamil dan memiliki riwayat hamil sebesar 2,8%(197). Hasil analisis multivariat pengaruh keterpaparan sekolah berupa pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah terhadap kehamilan remaja usia 15-19 tahun memiliki p-value 0,007 dengan OR 1,732 CI 95% (1,175—2,381) setelah dikontrol variable pengaruh negative teman sebaya. Kata kunci: Kehamilan Remaja, Pendidikan Kesehatan Reproduksi, Media
Adolescent pregnancy is a serious problem that can affect the welfare of adolescents' lives. The population of the adolescent age group in Indonesia in 2017 reached 63.36 million people or 24.27% of the total population. This quarter can be seen as an opportunity when the adolescent are healthy and qualified. However, in fact, the Age Specific Death Rate (ASDR) is the highest case of maternal death in the adolescent group (<20 years). Reproductive health education is considered to be able to suppress the occurrence of teenage pregnancy. Schools are trusted institutions to provide education. Apart from schools, reproductive health education is also easily obtained through the media: books, magazines, radio, television, and the internet. The purpose of this study was to determine the effect of reproductive health education in schools on adolescent pregnancies aged 15-19 years using the 2017 IDHS data analysis. This study used a quantitative approach with a cross-sectional study design. The results were analyzed using logistic regression with three stages: univariate, bivariate, and multivariate. The research sample size was 7,158, the sample was taken based on the total sampling of data included in the inclusion and exclusion criteria of the study. The results of this study indicate that the frequency distribution of adolescents aged 15-19 years who are pregnant and have a history of pregnancy is 2.8% (197). The results of the multivariate analysis of the effect of school exposure in the form of reproductive health education in schools on adolescent pregnancies aged 15-19 years had a p-value of 0.007 with an OR of 1.732 CI 95% (1.175-2.381) after controlling for the variable friends bad influence. Keyword: Adolescent Pregnancy, Reproductive Health Education, Media
T-6220
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Afini Syifana; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Dadan Erwandi, Deni Kurniawan
S-9743
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Enny Zuliatie; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Evi Martha, Penina Regina, Lenjte S. Tresna
Abstrak:
Read More
Data tentang pelaksanaan program konseling kesehatan reproduksi remaja di SLTA (YPI, 2002) memperlihatkan bahwa ada sekolah yang layanan konselingnya berjalan efektif dan ada yang tidak efektif, sehingga pemanfaatannya pun menjadi berbeda. Satu sekolah dapat menjaring kasus-kasus kesehatan reproduksi dan mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan pemberian informasi, satu sekolah lainnya tidak ada kasus dan kurang kegiatan pemberian informasi. Padahal dibawah PROPAS YPI, sekolah tersebut mempunyai program yang lama, yaitu konseling kesehatan reproduksi remaja di SLTA. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang pemanfaatan layanan konseling kesehatan reproduksi remaja oleh siswa pada 2 SMK di Jakarta Selatan. Pengumpulan data melalui FGD, WM dan observasi pada bulan September - Nopember 2003 di SMK Negeri X dan SMK Swasta Y. Staf YPI, konselor formal, konselor non formal dan kepala sekolah sebagai informan lanjutan setelah siswa sebagai informan utama. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa siswa kelas III paling banyak memanfaatkan karena mereka sudah lebih lama berada di sekolah dan kebutuhan akan informasi lebih banyak dibandingkan kelas I dan II. Informan SMK Negeri X ternyata lebih banyak pengetahuan dan memberikan jawaban yang benar tentang materi kesehatan reproduksi dan keberadaan layanan dibandingkan dengan SMK Swasta Y. Justru hal ini yang membuat informan SMK Negeri X lebih memanfaatkan layanan konseling karena ingin tahu lebih banyak lagi. Sikap informan SMK Negeri X dan SMK Swasta Y terhadap ketrampilan konselor yang tidak bisa menjaga kerahasiaan membuat informan enggan konsultasi langsung dengan konselor formal, melainkan konsultasi dengan konselor non formal, yang dalam hal ini adalah pembina OSIS dan paling banyak konsultasi dengan teman. Semua informan siswa SMK Negeri X berpendapat bahwa konselor menyediakan waktu kapan saja untuk konsultasi, sedangkan konselor SMK Swasta Y hanya 2 hari seminggu, akibatnya informan siswa SMK Swasta Y sedikit yang konsultasi dan konselor. Fasilitas, khususnya ruangan di 2 SMK kurang disenangi, karena dianggap tidak nyaman untuk konsultasi, sempit, dirancang seperti puskesmas. Akhirnya mereka konsultasi di taman, pinggir lapangan atau di kelas. Sebagian besar informan siswa SMK Negeri X dan SMK Swasta Y juga tidak diajak berpartisipasi memikirkan bentuk layanan dan disain di sekolah. Untuk itu agar ada perbaikan program dimasa mendatang disarankan agar membentuk konselor sebaya yang lebih mudah dekat dan terbuka dengan informan. Konselor sebaya ini harus dilibatkan dalam mendisain program, karena mereka yang lebih banyak tahu tentang kondisi sekolah dan kebutuhan temannya. Sekolah juga memberikan dukungan bagi konselor formal maupun non formal dan konselor sebaya untuk mengadakan kegiatan di sekolah. Depkes dan Depdiknas sebaiknya memikirkan strategi pelaksanaan konseling kesehatan reproduksi remaja di SLTA, khususnya SMK. Juga peran LSM pelaksana dalam melakukan monitoring program secara rutin hendaknya lebih ditingkatkan agar kendala cepat diketahui dan permasalahan cepat teratasi.
The data on the implementation of Teenage reproductive health counseling program in High schools (YPI, 2000) show that some schools conduct the program effectively, while some others don't, and these cause the differences in the usage. One school can collect the cases on reproductive health and conduct some activities related to information dissemination, while there's also another school that has no cases and tacitness in information dissemination. This difference is surprising, considering that under YPI's School Based Program, those schools have the same opportunity to implement the Teenage Reproductive Health Counselling Service in Highschools. A Survey was conducted to get an illustration on the usage of Teenage Reproductive Health Counselling Service by the students of Two Vcational Highschools in south Jakarta. Data collectings were conducted through FGD, WM and observation during September - November 2003 in a State Vocational Highschool (X) and a Private Vocational H'ighschool (Y). YPI's staffs, formal counsellors,.non formal counsellors and principals are considered as advanced informants after the highschool students as the main informants.
T-1818
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farida Ekasari; Pembimbing: Agustin Kusumayati, Farida Mutiarawati Tri Agustina; Penguji: Zulazmi Mamdy, Mustar, Dondon
T-2428
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Setiawaty; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Nur Syafitri, Setyani
T-3325
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
