Ditemukan 33194 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pariama Nova Yanti Siburian; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Dewi Maria Yuliani
S-5984
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Read More
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.
Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Welstin Wemi Loa; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Damiana Veronika Djahari
Abstrak:
Read More
Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan pada kisaran 37% dalam dua tahun terakhir meskipun cakupan ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat ASI eksklusif dan status imunisasi dasar lengkap, serta interaksi keduanya, terhadap kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah dikontrol oleh variabel perancu. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 pada 2.377 anak usia 12–23 bulan. Analisis dilakukan menggunakan regresi Poisson dengan varian robust yang disesuaikan dengan desain kompleks survei dan pembobotan SSGI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setelah dikontrol terhadap usia anak, jenis kelamin anak, riwayat berat badan lahir rendah, usia ibu saat hamil, kunjungan antenatal care (K6), pendidikan ibu, akses terhadap air minum layak, wilayah tempat tinggal, dan status sosial ekonomi, prevalensi stunting lebih tinggi pada kelompok anak yang tidak pernah mendapatkan ASI (aPR = 1,25; 95% CI: 1,02–1,54) dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapatkan ASI eksklusif, serta pada kelompok anak dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap (aPR = 1,39; 95% CI: 1,05–1,85) dibandingkan dengan kelompok anak yang memiliki status imunisasi dasar lengkap. Analisis kombinasi pajanan menunjukkan bahwa anak yang tidak pernah mendapatkan ASI dan tidak memperoleh imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi (aPR = 1,56; 95% CI: 1,10–2,21), sedangkan anak yang memperoleh ASI non-eksklusif (mixed feeding) dan imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting 50% lebih rendah (aPR = 0,50; 95% CI: 0,26–0,98). Penguatan promosi menyusui, peningkatan cakupan dan ketepatan imunisasi, diantaranya melalui optimalisasi fungsi posyandu perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan stunting di NTT.
The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (NTT) has remained at approximately 37% over the past two years, despite relatively high coverage of exclusive breastfeeding and complete basic immunization. This study aimed to examine the association of exclusive breastfeeding history and complete basic immunization status, as well as their interaction, with stunting among children aged 12–23 months in East Nusa Tenggara Province after controlling for potential confounding factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia, SSGI), involving 2,377 children aged 12–23 months. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance, adjusted for the complex survey design and SSGI sampling weights. The results showed that, after adjustment for child age, child sex, history of low birth weight, maternal age during pregnancy, antenatal care (ANC) attendance (K6), maternal education, access to improved drinking water, place of residence, and socioeconomic status, the prevalence of stunting was higher among children who had never been breastfed (aPR = 1.25; 95% CI: 1.02–1.54) than among those who had been exclusively breastfed, and among children with incomplete basic immunization (aPR = 1.39; 95% CI: 1.05–1.85) compared with those who had received complete basic immunization. Furthermore, the combined exposure analysis demonstrated that children who had never been breastfed and had incomplete basic immunization exhibited a higher prevalence of stunting (aPR = 1.56; 95% CI: 1.10–2.21), whereas those who had received non-exclusive breastfeeding (mixed feeding) and complete basic immunization exhibited a 50% lower prevalence of stunting (aPR = 0.50; 95% CI: 0.26–0.98). Strengthening breastfeeding promotion and improving both the coverage and timeliness of immunization, including through the optimization of integrated health service posts (Posyandu), should be prioritized as key strategies for stunting prevention in East Nusa Tenggara.
T-7665
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luriana Nur Pratiwi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Syafrial
S-7415
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ida Hariyanti, Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Diah Riana, Nining Hernawati
Abstrak:
Pneumonia adalah pembunuh utama Balita di dunia, lebih banyak dibandingkan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, 1995, 2001 menunjukkan bahwa Pneumonia adalah penyumbang terbesar pada kematian bayi dan balita. Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, menyebutkan prevalensi Pneumonia di DKI berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan rtesponden sebesar 1,67%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan imunisasi campak dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan setelah dikontrol covariat (umur, jenis kelamin, Berat badan lahir, ASI exclusive, pendidikan, pemberian vitamin A, kepadatan hunian, ventilasi, dan adanya perokok didalam rumah). Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta tahun 2010. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah balita usia 12-59 bulan yang menderita pneumonia. kontrol adalah balita usia 12-59 bulan yang tidak menderita pneumonia. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 220 (kasus 110 dan control 110). Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara imunisasi campak dengan pneumonia pada balita. Anak yang tidak diimunisasi campak berisiko 2,06 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan anak yang mendapatkan imunisasi saat bayi. Setelah dikontrol pendidikan dan ASI exclusive. Pada pengukuran dampak dihasilkan bahwa anak yang diimunisasi campak dapat mencegah pneumonia sebesar 51,456%. Selanjutnya upaya untuk melindungi anak dari penyakit pneumonia adalah dengan memberikan imunisasi campak saat usia 9 bulan dan anak diberikan ASI exclusive.
Pneumonia is the leading killer of babies in the world, more than other diseases such as AIDS, malaria and measles. Household Health Survey (SKRT) 1992, 1995, 2001 showed that pneumonia is the biggest contributor to the death of infants and toddlers. Based Riskesdas 2007 report, citing the prevalence of pneumonia in the Municipality based on the diagnosis of health workers and complaints rtesponden 1.67%. The purpose of this study was to find out the relationship with the incidence of pneumonia, measles immunization in infants aged 12-59 months after covariat controlled (age, sex, birth weight, exclusive breast feeding, education, provision of vitamin A, the density of occupancy, ventilation, and the presence of smokers in home). This research was conducted from May to July at Pondok Kopi Islamic Hospital in Jakarta 2010. This study uses the case control design. The cases were infants aged 12-59 months who suffered from pneumonia. controls were toddlers aged 12-59 months who are not suffering from pneumonia. In this study, 220 samples (110 cases and 110 controls). Data were analyzed by univariate analysis, bivariate, and multivariate multiple logistic regression. The results showed a relationship between measles immunization with pneumonia in infants. Children who are not immunized against measles 2.06 times the risk for pneumonia than children who get immunized when infants. After controlled education and exclusive breastfeeding. In measuring the impact produced that children who are immunized measles can prevent pneumonia by 51,456%. Further efforts to protect children from pneumococcal disease is to provide measles immunization at the age of 9 months and children are given breast milk exclusively.
Read More
Pneumonia is the leading killer of babies in the world, more than other diseases such as AIDS, malaria and measles. Household Health Survey (SKRT) 1992, 1995, 2001 showed that pneumonia is the biggest contributor to the death of infants and toddlers. Based Riskesdas 2007 report, citing the prevalence of pneumonia in the Municipality based on the diagnosis of health workers and complaints rtesponden 1.67%.
T-3164
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diany Litasari; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Helda; Penguji: Hakimi, Muammar Muislih
Abstrak:
Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan desain potong lintang (crosssectional) pada 514 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2017-2018 yang bertujuan mengetahui hubungan antara kejadian campak di Indonesia Tahun 2018 dengan cakupan imunisasi campak rutin (dosis pertama pada bayi dan dosis kedua pada anak baduta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kabupaten/kota yang berada di luar Pulau Jawa berisiko 1,019 kali untuk mendapatkan kejadian campak tinggi jika cakupan imunisasi campak rutin dosis pertama pada bayi dan cakupan vitamin A tahun 2017 rendah, setelah dikontrol oleh cakupan imunisasi campak tambahan masal pada Kampanye Imunisasi MR, kepadatan penduduk, persentasi status gizi kurang dan cakupan vitamin A tahun 2018. Sementara itu, kabupaten/kota yang berada di Pulau Jawa berisiko 1,456 kali untuk mendapatkan kejadian campak tinggi, jika cakupan imunisasi campak rutin dosis pertama pada bayi dan cakupan vitamin A tahun 2017 rendah. Kabupaten/kota yang memiliki cakupan imunisasi campak rutin dosis kedua pada baduta rendah memiliki risiko 1,486 (95% CI : 0,882-2,502, p-value 0,136) lebih besar untuk mendapatkan kejadian campak tinggi. Pembuatan kebijakan utnuk pemberian imunisasi campak dosis pertama pada anak yang berusia > 1 tahun dan dosis kedua pada anak yang berusia > 2 tahun dalam kegiatan imunisasi rutin perlu dilakukan agar setiap anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap, sehingga meningkatkan herd immunity. Diperlukan juga sistem pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi antara imunisasi dan surveilans PD3I, khususnya campak. Melakukan imunisasi campak tambahan masal setiap 3-4 tahun sekali berdasarkan kajian epidemiologi, baik nasional/subnasional, dan penyediaan anggaran untuk promosi dan sosialisasi pemberian imunisasi campak (MR) khususnya dosis kedua pada baduta dan tentang penyakit campak.
Read More
This study is a cross-sectional design in 514 districts in Indonesia, 2017-2018 which aims to determine the relationship between the incidence of measles in Indonesia in 2018 with coverage of measles routine immunization (in infants and toddler). The results that districts outside of Java had 1,019 times risk higher to have high measles incidence if the coverage of measles routine immunization for the first dose of infants and vitamin A coverage in 2017 was low, after being controlled by coverage of MR Immunization Campaign, population density, percentage of nutritional status and vitamin A coverage in 2018. Districts in Java had risk 1,456 times higher to get high measles incidence, if the coverage of measles routine immunization first dose in infants and vitamin A coverage in 2017 was low. Districts had measles routine immunization coverage of the second dose was low, had risk 1,486 times higher to have high measles incidence. A policy which state the first dose of measles immunization to children aged >1 year and second dose to children aged >2 year in routine immunization activities needs to be done to increas herd immunity. An integrated recording and reporting system is needed between immunization and PD3I surveillance, especially measles. Implementation of Suplementary Immunization Activity (SIA) every 3-4 years based on epidemiological studies, both national/subnational, and the provision of budget for the promotion and socialization of measles immunization (MR) especially in the second dose for toddler and about measles disease.
T-5924
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Assyifa Restu Puteri; Pembimbing: Assyifa Restu Puteri; Penguji: Renti Mahkota, Suparmi
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Nama : Assyifa Restu Puteri Program Studi : Kesehatan Masyarakat Judul : Faktor Determinan yang Berhubungan terhadap Kejadian Stunting pada Baduta Usia 6-23 Bulan di Kabupaten Tangerang Tahun 2022 Pembimbing : Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, SKM, M.Sc Stunting atau pendek merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita yang ditandai dengan pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U) berada di bawah (-2) standar deviasi menurut standar antropometri gizi. Tren stunting sejak tahun ke tahun selalu menjadi urutan paling tinggi dibandingkan masalah status gizi lainnya seperti wasting dan underweight. Prevalensi stunting balita di Indonesia sebesar 21,6 % dan lebih tinggi pada usia 12-23 bulan yaitu sebesar 22,4 %. Stunting masih menjadi fokus perhatian penurunan permasalahan di Kabupaten Tangerang dengan prevalensi sebesar 21,1 % pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi stunting dan faktor determinan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan berdasarkan survei faktor determinan baduta malnutrisi di Kabupaten Tangerang tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah 2320 baduta. Data dianalisis secara univariate dan bivariate dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Tangerang berdasarkan survei faktor determinan baduta malnutrisi tahun 2022 adalah sebesar 35,3 %. Faktor determinan yang berhubungan dengan kejadian stunting antara lain pendidikan ibu (PR = 1,412; 95% Cl: 1,262-1,580), penghasilan ayah (PR = 1,300; 95% Cl: 1,166-1,451), ASI eksklusif (PR = 0,085; 95% Cl: 0,731-0,986), dan sanitasi (PR = 1,242; 95% Cl: 1,048-1,472). Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya intervensi baik kepada pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat di Kabupaten Tangerang dengan faktor determinan tersebut sehingga dapat mempercepat angka penurunan stunting. Kata kunci: Stunting, Prevalensi Stunting, Faktor Determinan, Pendidikan, Penghasilan, ASI, Sanitasi.
ABSTRACT Name : Assyifa Restu Puteri Study Program : Kesehatan Masyarakat Title : Determinant Factors Related to The Incidence of Stunting in Toddlers Aged 6-23 Months in Tangerang Regency in 2022 Counsellor : Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, SKM, M.Sc Stunting or short stature is a condition of growth and development disruption in toddlers characterized by height measurements for age (HAZ) falling below (-2) standard deviations according to nutritional anthropometry standards. The trend of stunting has consistently ranked highest over the years compared to other nutritional status issues such as wasting and underweight. The prevalence of stunting in Indonesian toddlers is 21.6%, with a higher rate at the age of 12-23 months, reaching 22.4%. Stunting continues to be a focal point for addressing nutritional challenges in Kabupaten Tangerang, with a prevalence of 21.1% in 2022. This research aims to determine the prevalence of stunting and determinant factors associated with stunting in toddlers aged 6-23 months based on a survey of determinant factors for malnutrition in Kabupaten Tangerang in 2022. The study utilizes a cross-sectional design with a sample size of 2320 toddlers. Data is analyzed through univariate and bivariate analyses using the chi-square test. The research findings reveal that the prevalence of stunting in Kabupaten Tangerang, based on the survey of determinant factors for toddler malnutrition in 2022, is 35.3%. Determinant factors associated with stunting include mother education (PR = 1,412; 95% Cl: 1,262-1,580), paternal income (PR = 1,300; 95% Cl: 1,166-1,451), exclusive breastfeeding (PR = 0,085; 95% Cl: 0,731-0,986), and sanitation (PR = 1,242; 95% Cl: 1,048-1,472) Therefore, concerted intervention efforts are needed involving the government, healthcare professionals, and the community in Kabupaten Tangerang to accelerate the reduction of stunting rates. Keywords : Stunting, Stunting Prevalence, Determinan Factors, Education, Income, Breastfeeding, Sanitation
S-11511
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andi Pananrang; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah; Syafriyal; Umar
Abstrak:
Read More
Imunisasi hepatitis B adalah salah satu jenis pelayanan imunisasi dasar yang seharusnya diberikan kepada semua bayi pada usia 0-7 hari. Proporsi bayi yang diimunisasi HB-0 tergolong masih rendah sekitar 60% sehingga potensi bayi terinfeksi HBV pada usia dini, masih besar. Tujuan penelitian, untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B dengan status imunisasi HB-0 pada puskesmas di kabupaten Barru setelah dikontrol dengan potential confounder. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah bayi yang tidak diimunisasi hepatitis B-0 sedangkan kontrol adalah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B-0 (bayi 0-7 hari) dan masingmasing tercatat dalam register imunisasi pukesmas Padongko dan Pekkae bulan Februari-Maret 2011 dengan total sampel sebanyak 166. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang mengenai imunisasi hepatitis B, mempunyai risiko (odds) 5,57 kali bayinya tidak diimunisasi HB-0 dibandingkan ibu yang berpengetahuan baik dengan 95%CI:(2,69-11,53) setelah dikontrol dengan faktor pendidikan ibu. Disarankan kepada instansi terkait untuk meningkatkan upaya promosi program imunisasi HB-0 kepada masyarakat dan kemitraan lintas sektor serta mendorong komitmen setiap unit pelayanan kesehatan untuk melaksanakan program imunisasi HB-0.
The Hepatitsi B Immunization is one of kind the primary immunization care that should be given to all of neonatus early (0-7 days old). The proportion of HB-0 immunized neonatus early is about 60% so there was chance of child be infected HBV when they were still neonatus phase. The study objective is to know association of the mother’s knowledge about hepatitis B immunization and the immunization status of Hepatitis B-0 (neonatus 0 - 7 days old) at puskesmas in the distric of Barru after adjusted by potential confounder. The design is case - control study. The cases are infant who unimmunized hepatitis B-0 (0-7 days old) and the controls are infant who immunized hepatitis B-0 and both of them had been being registered at puskesmas Padongko dan Pekkae in 2011,february-march.The sample size are 166 (83:83). The study result shows that the mothers who have less knowledge about hepatitis B immunization have chance (odds) 5,57 times their infants would not be immunized if be compared with the mother’s who have good knowledge 95%CI:(2,69-11,53) after adjusted by the mother education factor. To be suggested to increase the promotion efforts of hepatitis B immunization programme to the community and immunization partnership programme and build communication intesively to all of the helath service providers to make a commitment conducting immunization of hepatitis B-0 programme.
T-3405
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ika Savitri; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Nurhasnah Husin, Irma Riani
Abstrak:
Tesis ini membahas faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap tepat waktu pada anak usia 12 bulan di 16 Kabupaten Propinsi NTT Tahun 2007. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Hasil penelitian ada hubungan yang bermakna antara kualitas pemeriksaan kehamilan (K4) terhadap status imunisasi dasar anak, dengan nilai OR 3,29 (95% CI 1,513 ? 7,153). Perlunya pemberian penyuluhan secara intensif kepada masyarakat tentang pentingnya dan manfaat dari mengimunisasi anak. Ibu-ibu yang sejak awal merencanakan kehamilan diberikan penyuluhan mengenai kualitas pemeriksaan kehamilan.
This thesis discusses the factors associated with immunization status of a basic timely on child age 12 months in 16 districts in NTT province in 2007. This research uses cross-sectional design. Results of research have a meaningful relationship between the quality of the examination of the pregnancy status of the basic immunization of children, with a value of OR3,29 (95% CI 1,513 ? 7,153). The need of the intensive counseling to the community about the importance and benefits of providing child immunization. Mothers since the beginning of planning a pregnancy counseling given on "the quality of the examination of pregnancy".
Read More
This thesis discusses the factors associated with immunization status of a basic timely on child age 12 months in 16 districts in NTT province in 2007. This research uses cross-sectional design. Results of research have a meaningful relationship between the quality of the examination of the pregnancy status of the basic immunization of children, with a value of OR3,29 (95% CI 1,513 ? 7,153). The need of the intensive counseling to the community about the importance and benefits of providing child immunization. Mothers since the beginning of planning a pregnancy counseling given on "the quality of the examination of pregnancy".
T-3124
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Melinda Wulandari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Hermawan
Abstrak:
Berdasarkan Riset Kesehatan 2013 dan 2018, anak usia 12-23 bulan memiliki prevalensipneumonia tertinggi diantara usia balita lainnya. Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumoniapada anak usia 12-23 bulan di Pulau Jawa. Desain penelitian yang digunakan yaitu desainpotong lintang dengan menggunakan sampel berjumlah 2.695 anak. Penelitian inimenggunakan analisis bivariat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungandengan kejadian pneumonia. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi kejadianpneumonia pada anak usia 12-23 bulan sebesar 5,5%. Imunisasi campak berhubungandengan kejadian pneumonia secara signifikan (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822).Penelitian ini mendukung pentingnya pemberian imunisasi campak untuk mencegahpneumonia. Intervensi yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu meningkatkancakupan imunisasi campak melalui kampanye imunisasi campak.Kata kunci:Anak Usia 12-23 Bulan, Pneumonia, Pulau Jawa
According to Riskesdas 2013 and 2018, the highest prevalence of pneumonia in childrenunder five are the children aged 12-23 months. This study aims to identify the prevalenceand factors associated with pneumonia among children aged 12-23 months in Jawa Island.The study design used for this study is cross sectional with total sample of 2.695 children.Bivariate analysis is performed to identify factors associated with pneumonia. The resultsshow the prevalence of pneumonia among children aged 12-23 months is 5,5%. Measlesimmunization is significantly associated with pneumonia (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822). This study supports the importance of measles vaccination to prevent pneumonia.Intervention that can be implemented by the government is increasing measlesimmunization coverage through measles vaccination campaigns.Key words:Children Aged 12-23 Months, Pneumonia, Jawa Island.
Read More
According to Riskesdas 2013 and 2018, the highest prevalence of pneumonia in childrenunder five are the children aged 12-23 months. This study aims to identify the prevalenceand factors associated with pneumonia among children aged 12-23 months in Jawa Island.The study design used for this study is cross sectional with total sample of 2.695 children.Bivariate analysis is performed to identify factors associated with pneumonia. The resultsshow the prevalence of pneumonia among children aged 12-23 months is 5,5%. Measlesimmunization is significantly associated with pneumonia (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822). This study supports the importance of measles vaccination to prevent pneumonia.Intervention that can be implemented by the government is increasing measlesimmunization coverage through measles vaccination campaigns.Key words:Children Aged 12-23 Months, Pneumonia, Jawa Island.
S-10306
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
