Ditemukan 39461 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rizky Hasby; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Laila Fitria, Miko Hananto
S-6191
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nasywan Grananda Rachmantoro; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Latar Belakang: Diare pada lanjut usia merupakan masalah kesehatan signifikan di Jawa Barat. Determinan pada kelompok usia transisi 60–75 tahun belum banyak dikaji. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan faktor perilaku menggunakan data SKI 2023. Metode: Desain cross-sectional dengan sampel 5.169 responden. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi diare sebesar 3,3%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,001; OR=1,69), pendidikan (p=0,010; OR=1,77), tempat tinggal (p=0,016; OR=1,55), sumber air minum (p=0,037; OR=1,88), kualitas fisik air minum (p=0,046; OR=1,88), pengelolaan sampah (p=0,021; OR=1,44), fasilitas cuci tangan (p=0,002; OR=1,66), dan perilaku cuci tangan pakai sabun (p=0,034; OR=1,76) dengan kejadian diare. Analisis multivariat menunjukkan jenis kelamin (perempuan) sebagai determinan paling dominan (aOR=1,723; 95% CI:1,251–2,374; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin perempuan merupakan faktor paling dominan terhadap kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun di Provinsi Jawa Barat, diikuti oleh ketersediaan fasilitas cuci tangan yang memadai.
Background: Diarrhea in the elderly is a significant health problem in West Java. Determinants among the transitional age group of 60–75 years have not been extensively studied. Objective: To analyze the determinants of diarrhea among the population aged 60–75 years based on individual characteristics, environmental factors, and behavioral factors using data from the 2023 Indonesian Health Survey. Methods: A cross-sectional design was employed with a sample of 5,169 respondents. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: The prevalence of diarrhea was 3.3%. Bivariate analysis showed significant associations between diarrhea and sex (p=0.001; OR=1.69), education (p=0.010; OR=1.77), residence (p=0.016; OR=1.55), drinking water source (p=0.037; OR=1.88), physical quality of drinking water (p=0.046; OR=1.88), waste management (p=0.021; OR=1.44), handwashing facilities (p=0.002; OR=1.66), and handwashing with soap behavior (p=0.034; OR=1.76). Multivariate analysis revealed that female sex was the most dominant determinant (aOR=1.723; 95% CI: 1.251–2.374; p=0.001). Conclusion: Female sex is the most dominant factor associated with diarrhea among the population aged 60–75 years in West Java Province, followed by the availability of adequate handwashing facilities.
Read More
Background: Diarrhea in the elderly is a significant health problem in West Java. Determinants among the transitional age group of 60–75 years have not been extensively studied. Objective: To analyze the determinants of diarrhea among the population aged 60–75 years based on individual characteristics, environmental factors, and behavioral factors using data from the 2023 Indonesian Health Survey. Methods: A cross-sectional design was employed with a sample of 5,169 respondents. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: The prevalence of diarrhea was 3.3%. Bivariate analysis showed significant associations between diarrhea and sex (p=0.001; OR=1.69), education (p=0.010; OR=1.77), residence (p=0.016; OR=1.55), drinking water source (p=0.037; OR=1.88), physical quality of drinking water (p=0.046; OR=1.88), waste management (p=0.021; OR=1.44), handwashing facilities (p=0.002; OR=1.66), and handwashing with soap behavior (p=0.034; OR=1.76). Multivariate analysis revealed that female sex was the most dominant determinant (aOR=1.723; 95% CI: 1.251–2.374; p=0.001). Conclusion: Female sex is the most dominant factor associated with diarrhea among the population aged 60–75 years in West Java Province, followed by the availability of adequate handwashing facilities.
S-12261
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jeremy Andreas Hasoloan Oscar P; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Zakianis, Desy Mery Dorsanti
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi dengan gejala berupa demam, lemas, batuk ringan, sembelit, ketidaknyamanan perut, sakit kepala, dan muntah.Kasus demam tifoid di Kota Jakarta Timur menjadi yang tertinggi dari 6 kabupaten/kota yang berada di Provinsi DKI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (jamban sehat), faktor invidu (usia), faktor iklim (curah hujan), dan faktor kependudukan (kepadatan penduduk) dengan proporsi kasus demam tifoid di Kota Jakarta Timur pada tahun 2020 - 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan uji korelasi. Hasil: Proporsi demam tifoid di Kota Jakarta Timur memmpunyai persebaran yang fluktuatif dengan penurunan pada tahun 2021 dan peningkatan pada tahun 2023. Proporsi demam tifoid pada kota Jakarta Timur memiliki nilai total sebesar 2,34 % dan lebih tinggi proporsi demam tifoid di DKI Jakarta sebesar 0,2 % dengan proporsi tertinggi terdapat pada Kecamatan Pasar Rebo sebesar 0.17 %, dan proporsi demam tifoid terendah terdapat pada Kecamatan Jatinegara dan Cakung sebesar 0,02 %. Pada penelitian ini, faktor resiko yang berkaitan dengan kejadian demam tifoid meliputi variabel usia (p = 0.000) dan curah hujan (p = 0.003). Kesimpulan: Proporsi demam tifoid di Kota Jakarta Timur Tahun 2020 – 2023 mencapai 2,34 % dan lebih tinggi dari proporsi demam tifoid di DKI Jakarta. Faktor resiko demam tifoid yang terjadi di Kota Jakarta Timur, antara lain curah hujan dan usia. Saran: Pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk meningkatkan higiene dan sanitasi makanan di perumahan dan lingkungan sekolah
Background: Typhoid fever is a disease caused by the bacterium Salmonella typhi, with symptoms including fever, weakness, mild cough, constipation, abdominal discomfort, headache, and vomiting. The incidence of typhoid fever in East Jakarta is the highest among the six districts/cities in the DKI Jakarta Province. Objective: This study aims to analyze the relationship between environmental factors (sanitary latrines), individual factors (age), climate factors (rainfall), and demographic factors (population density) with the proportion of typhoid fever cases in East Jakarta from 2020 to 2023. Methods: This study uses an ecological study with correlation tests. Results: The proportion of typhoid fever in East Jakarta City has shown a fluctuating distribution, with a decrease in 2021 and an increase in 2023. The proportion of typhoid fever in East Jakarta City is 2.34%, which is higher than the proportion in DKI Jakarta at 0.2%. The highest proportion of typhoid fever is in the Pasar Rebo District at 0.17%, while the lowest proportions are in the Jatinegara and Cakung Districts at 0.02%. In this study, risk factors related to typhoid fever incidence include age (p = 0.000) and rainfall (p = 0.003). Conclusion: The proportion of typhoid fever in East Jakarta City from 2020 to 2023 reached 2.34%, which is higher than the proportion of typhoid fever in DKI Jakarta. The risk factors for typhoid fever in East Jakarta City include rainfall and age. Recommendations: The government and the community can collaborate to improve food hygiene and sanitation in residential and school areas.
S-11623
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heri Purwanto; Pembimbing: I Made Djaja, Ema Hermawati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rina Hasrina, Suwito
T-3962
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deborah Siregar; Pembimbing : Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Umar Fahmi, Ema Hermawati, didik Supriono, Rohani Simanjuntak
T-4805
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulinda Lubis; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fitri Kurniasari, Indra Chahaya, Ali Imron
Abstrak:
Read More
Diare merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat global. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur serta berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kematian. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesi (SSGI) 2024 serta mengidentifikasi determinan yang paling dominan. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 dengan sampel sebesar 16.395 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model determinan prediksi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1.417 balita (8,6%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia balita (OR=1,710; 95%CI=1,489–1,964), status gizi (OR=1,832; 95%CI=1,536–2,185), jenis kelamin (OR=1,279; 95%CI=1,113–1,470), dan pendidikan ibu (OR=1,361; 95%CI=1,165–1,590) berhubungan signifikan dengan kejadian diare (p<0,05). Status gizi merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian diare, dimana balita dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,825 kali lebih tinggi mengalami diare dibandingkan balita dengan status gizi baik (AOR=1,825; 95% CI: 1,530–2,176). Oleh karena itu perlu memperkuat integrasi program pencegahan diare dengan intervensi perbaikan gizi pada balita usia 6–23 bulan melalui pemantauan pertumbuhan, deteksi dini masalah gizi, serta edukasi gizi dan higiene. Kata Kunci : Diare, status gizi, usia balita, jenis kelamin, pendidikan ibu
Diarrhea is one of the major environmentally related infectious diseases that remains a significant global public health problem. It affects all age groups and has the potential to cause outbreaks and mortality. This study aimed to analyze the determinants of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java Province using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and to identify the most dominant determinant. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, involving 16,395 children aged 6–59 months. Data were analyzed using the chi-square test and multivariable logistic regression with a determinant prediction model. The results showed that the prevalence of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java was 8.6% (1,417 children). Bivariate analysis indicated that child age (OR=1.710; 95% CI: 1.489–1.964), nutritional status (OR=1.832; 95% CI: 1.536–2.185), sex (OR=1.279; 95% CI: 1.113–1.470), and maternal education (OR=1.361; 95% CI: 1.165–1.590) were significantly associated with diarrhea (p<0.05). Nutritional status was identified as the most dominant determinant, with undernourished children having a 1.825-fold higher risk of developing diarrhea than well-nourished children (AOR=1.825; 95% CI: 1.530–2.176). Therefore, strengthening the integration of diarrhea prevention programs with nutrition improvement interventions for children aged 6–23 months is recommended through growth monitoring, early detection of nutritional problems, and nutrition and hygiene education. Keywords: Diarrhea, nutritional status, child age, sex, maternal education.
T-7533
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiyono; Pembimbing: Suyud Warno Utomo, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Margareta Maria Sintorini, Enny Wahyu Lestari
Abstrak:
Filariasis atau kaki gajah ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan berbagai jenis nyamuk. Penularan filariasis terjadi bila terdapat sumber penular yaitu manusia dan hewan (hospes), parasit (cacing filaria), vektor yaitu nyamuk yang infektif, manusia yang rentan, serta kondisi lingkungan yang sangat potensial untuk perkembang-biakan vektor, perilaku masyarakat yang berisiko lebih sering kontak dengan nyamuk. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian filariasis. Metode penelitian ini adalah penelitian Analitik observasional dengan desain case-control menggunakan pendekatan study retrospektif yaitu untuk menganalisis efek penyakit atau status kesehatan pada saat ini dan mengukur besar faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian filariasis pada masa yang lalu. Jumlah sampel sebanyak 126 responden, dengan perbandingan kasus : kontrol (1:2), dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan Keberadaan rawa (P:0,000;OR:5,200), Keberadaan sawah (P:0,041;OR:8,200), Keberadaan hutan semak (P:0,001;OR:6,460), Jenis Pekerjaan (P:0,000;OR:9,500), Tingkat Pengetahuan (P:0,000; OR:5,399), Kebiasaan keluar rumah malam hari (P:0,000;OR:7,300), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,004;OR:3,300), Kebiasaan menggunakan kelambu (P:0,000;OR:7,045), Keberadaan vektor (P:0,000;OR:7,263), dengan kejadian Filariasis, dan pada uji regresi logistic menunjukan faktor risiko paling signifikan Keberadaan hutan semak (P:0,002;OR:48,700), Jenis Pekerjaan (P:0,004;OR:39,919), Tingkat Pengetahuan (P:0,013;OR:11,206), Kebiasaan Keluar rumah malam hari (P:0,040;OR: 5,833), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,005;OR:10,680), dan Keberadaan vektor (P:0,005;OR:12,036) dengan kejadian Filariasis. Kesimpulan ada hubungan faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian Filariasis, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan mengurangi faktor risiko dan edukasi kepada masyarakat tentang upaya promosi dan pencegahan penularan filariasis. Kata kunci: Filariasis, faktor risiko lingkungan, sosial, budaya, dinamika penularan, Kabupaten Kubu Raya. Filariasis or elephantiasis is a chronic infectious disease caused by filarial worm infection and is transmitted through the bite of various types of mosquitoes. Transmission of filariasis occurs when there is a transmitting source of humans and animals (the host), parasites (filari worms), vectors of infective mosquitoes, vulnerable humans, and potential environmental conditions for vector breeding, risky behavior of peoples more frequent contacts With mosquitoes. The purpose of the study was to analyze the environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis incidence. This research method is observational analytic research with case-control design using retrospective study approach that is to analyze the effect of disease or health status at this time and measure big risk factor which have influence to filariasis incident in the past. The sample counted 126 respondents, with case comparison: control (1: 2), conducted by interview and observation. Chi-square test (P: 0,041, OR: 5,200), Presence of paddy field (P: 0,041, OR: 8,200), Presence of paddy field (P: 0,001, OR: 6,460), Type of Work (P: 0.000; OR: 9,500), Knowledge Level (P: 0,000; OR: 5,399), Nighttime out habits (P: 0,000; OR: 7,300), Habits of using anti-mosquito (P: 0,004; OR: 3,300), Habit (P: 0,000; OR: 7,045), presence of vector (P: 0,000; OR: 7,263), with occurrence of filariasis, and on logistic regression test showed the most significant risk factor Presence of bush forest (P: 0,002; OR: 48,700) (P: 0,004; OR: 39,919), Knowledge Level (P: 0,013; OR: 11,206), Night Out Habits (P: 0,040; OR: 5,833), Habits of using mosquito repellent (P: 0,005; OR: 10,680), and the presence of a vector (P: 0.005; OR: 12,036) with filariasis occurrence. Conclusion there is a relationship of environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis occurrence, so it is necessary to do prevention efforts by reducing risk factors and education to the public about the promotion and prevention of filariasis transmission. Keywords: filariasis, environmental risk factors, social, culture, dynamics of transmission,Kubu Raya West Kalimantan.
Read More
T-4891
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ii Sumarni; Pembimbing: Dewi Susanna, Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Endah Kusumowardani, Casuli
T-3934
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Balqis Nila Estasya; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Pneumonia menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di Indonesia termasuk di Kota Depok salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Cakupan penemuan kasus pneumonia pada balita di Kota Depok meningkat hingga mencapai 52.88% di tahun 2022. Faktor risiko dari penjamu, lingkungan, dan agen mempengaruhi peningkatan cakupan penemuan kasus pneumonia pada balita di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cakupan pemberian ASI eksklusif, cakupan BBLR, cakupan rumah sehat, dan kepadatan penduduk terhadap kejadian pneumonia pada balita di Kota Depok tahun 2013-2022. Desain studi yang digunakan yaitu desain studi ekologi dan populasinya yaitu seluruh balita terdiagnosis pneumonia di Kota Depok. Hasil penelitian menghasilkan variabel-variabel yang menunjukkan hubungan signifikan antara lain cakupan pemberian ASI eksklusif (p = 0.000, r = -0.497), cakupan BBLR (p = 0.011, r = 0.242), dan cakupan rumah sehat (p = 0,026, r = 0.212). Sementara, variabel kepadatan penduduk tidak menunjukkan hubungan terhadap kejadian pneumonia pada balita (p = 0.099, r = 0.158). Adanya hubungan antara cakupan pemberian ASI eksklusif, BBLR, dan rumah sehat terhadap kejadian pneumonia pada balita di Kota Depok diharapkan dapat menjadi masukan untuk merencanakan program pencegahan dan pengedalian pneumonia di Kota Depok kedepannya.
Pneumonia is the biggest cause of death in children in Indonesia, including in Depok City, one of the cities in West Java. The coverage of pneumonia case detection in toddlers in Depok City increased up to 52.88% in 2022. Risk factors from hosts, environment, and agents affect the increase in the coverage of pneumonia case detection in toddlers in Depok City. This study aims to determine the relationship between the coverage of exclusive breastfeeding, LBW coverage, healthy household coverage, and population density on the incidence of pneumonia in toddlers in Depok City in 2013-2022. The study design used was an ecological study design and the population was all toddlers diagnosed with pneumonia in Depok City. The results of the study produced variables that showed a significant relationship including the coverage of exclusive breastfeeding (p=0.000, r=-0.497), the coverage of LBW (p=0.011, r=0.242), and the coverage of healthy household (p=0.026, r=0.212). Meanwhile, the population density variable showed no relationship to the incidence of pneumonia (p=0.099, r=0.158). The existence of a relationship between the coverage of exclusive breastfeeding, LBW, and healthy household to the incidence of pneumonia in toddlers in Depok City is expected to be an input for planning pneumonia prevention and control programs in Depok City in the future.
S-11323
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Okky Assetya Pratiwi; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi, Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Idawaty Abbas, Didik Supriyono
Abstrak:
Konsentrasi timbal melebihi baku mutu di perairan Kabupaten Gresik akibat limbah industri dapat menjadi risiko gangguan kesehatan kronis seperti hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pajanan timbal di air minum dan makanan terhadap kejadian hipertensi penduduk kawasan industri dan non industri. Penelitian ini menggunakan desain studi Public Health Assessment dan analisis spasial pada 1050 responden usia dewasa di Kabupaten Gresik. Data yang digunakan berupa data sekunder Riset Khusus Pencemaran Lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tahun 2012. Tingkat risiko akibat pajanan timbal di air minum kawasan industri (RQrealtime:0,21039; RQlifespan:0,28690) memiliki kecenderungan berisiko lebih tinggi daripada kawasan non industri (RQrealtime:0,01692; RQlifespan:0,01692). Tingkat risiko tertinggi akibat pajanan timbal di makanan kawasan industri pada beras (RQrealtime:12,1544; RQlifespan:16,2481) sedangkan kawasan non industri pada jagung (RQrealtime:9,6615; RQlifespan:9,4970). Penduduk terpajan timbal tidak memenuhi syarat pada air minum memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan terpajan timbal memenuhi syarat (OR: 2,693 95%CI: 0,982-7,386) untuk mengalami kejadian hipertensi setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin dan obesitas. Analisis spasial menunjukkan sebaran timbal di media lingkungan tidak memiliki pola persebaran tertentu.
Kata kunci: Hipertensi, Public Health Assessment, Timbal
Read More
Kata kunci: Hipertensi, Public Health Assessment, Timbal
T-4367
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
