Ditemukan 35139 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kepuasan pasien adalah perasaan kecewa atau senang seseorang yang mucul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk/harapanharapannya. Hal ini merupakan tanggungjawab seluruh stakeholder rumah sakit untuk meningkatkan service quality yang terdiri dari 5 aspek yaitu tangible, reability, responsiveness, assurance, empathy. Kelima aspek ini dipengaruhi oleh banyak hal seperti karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, penghasilan, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi yang tepat mengenai kepuasan pasien yang telah dirawat di Instalasi Paviliun Kartika Jakarta Pusat Periode November 201. Pengukuran tingkat kepuaasan pasien ini mengadopsi dari konsep service quality menurut Parasuraman melalui penilaian diri sendiri. Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan longitudinal prospektif survey dengan responden sebanyak 125 pasien rawat inap serta 40 staf manajemen. Hasil penelitian ini adalah proporsi responden yang puas terhadap pelayanan rawat inap di Paviliun Kartika sebesar 61,6% sedangkan yang tidak puas sebesar 38,2%, serta ada hubungan yang signifikan antara kepuasan pasien dengan usia responden yang lebih muda/produktif dimana usia produktif mempunyai kepuasan 2,15 kali lebih tinggi daripada orang yang berusia tua/tidak produktif. Selain itu ditemukan faktor-faktor yang menjadi prioritas utama (Kuadran A) dalam meningkatkan kepuasan pelanggannya, terutama pasien rawat inap yang meliputi dimensi Tangible yaitu Kebersihan dan kesejukan ruang apotek. Saran dari temuan ini adalah mengupayakan meningkatkan kualitas pelayanan khususnya di ruang rawat inap melalui pemantauan dan evaluasi tingkat kepuasan pasien secara berkesinambungan sehingga akan meningkatkan derajat kepuasan di Paviliun Kartika nantinya.
Patient satisfaction is a feeling disappointed or happy person which comes after comparing between the perception / impression of the performance or results of a product / expectations. It is the responsibility of all hospital stakeholders to improve service quality consisting of five aspects: tangible, reability, responsiveness, assurance, empathy. These five aspects are influenced by many things such as individual characteristics such as age, gender, income, level of education, and employment. This study aims to determine the precise information regarding the satisfaction of patients who had been treated at the Central Jakarta Kartika Pavilion Installation Period November 201. Measurement of levels of these patients kepuaasan adopted from the concept of service quality by Parasuraman through self-assessment. This study uses a quantitative approach to the design of a prospective longitudinal survey with 125 respondents as inpatients and 40 management staff. The results of this study was the proportion of respondents are satisfied with inpatient care at Kartika Pavilion by 61.6% while those not satisfied by 38.2%, and no significant relationship between patient satisfaction with younger respondents age / productive where age has 2.15 times higher satisfaction than those over the age old / unproductive. Besides the factors found to be the main priority (Quadrant A) in improving customer satisfaction, especially inpatients that includes Tangible dimension of Hygiene and coolness of the pharmacy space. It is seek advice from the findings to improve the quality of service, especially in the inpatient space through monitoring and evaluation of patient satisfaction on an ongoing basis so that it will increase the degree of satisfaction at the Pavilion Kartika later.
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi: assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, dan seterusnya. Sejak dideklarasikannya pelaksanaan Patient Safety di Rumah Sakit X pada tahun 2009 hingga tahun 2011, tercatat Insiden Keselamatan Pasien (IKP) sebanyak 171 kasus, dimana IKP paling banyak yaitu sekitar 60% terjadi di pelayanan rawat inap. Melalui penelitian ini, dianalisis penyebab terjadinya IKP di ruang perawatan Rumah Sakit X. Studi dilakukan terhadap 100 perawat pelaksana dengan menggunakan desain cross sectional untuk melihat bentuk hubungan antara variabel individu, kompleksitas pengobatan, kerjama, gangguan/ interupsi, komunikasi, Standar Prosedur Operasional, dan kenyamanan tempat kerja terhadap kejadian IKP.
Hasil penelitian menunjukkan variabel karakteristik individu, yang terdiri dari usia, masa kerja, dan kompetensi; dan variabel kerja sama yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian IKP dengan nilai P value masing-masing sebesar 0.028, 0.010, 0.028, dan 0.012. Dengan kata lain variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian IKP adalah variabel karakteristik individu sehingga hasil studi ini bisa menjadi pertimbangan bagi Bagian SDM, Komite Keperawatan dan Bagian Keperawatan Rumah Sakit X dalam melakukan seleksi dan pengembangan SDM Keperawatan dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.
Patient safety is a system to make patient care become safer. The systems include risk assessment, identifying and managing the risks associated with patient, and so on. Since the patient safety program has been declared in "X" Hospital in 2009 until 2011, there are 171 cases recorded as a number of the patient safety incident (PSI), most cases about 60% occur in inpatient unit. Through this study, determinants of PSI in inpatient unit X Hospital are analyzed. Study is applied to 100 nursing staffs by cross sectional study design in order to observe the correlation between variable of individual characteristic, medication complexity, teamwork, interruption, communication, standard of procedure operational, and work place comfortable to PSI.
Result shows that there is a significant correlation between variable of individual characteristic (include age, working time, and levels of competence) and teamwork to PSI, with the P value: 0.028, 0.010, 0.028, and 0.012. In other word, the most significant variable to PSI is individual characteristic variable so it could be a consideration to recruit and do improvement based on patient safety by Human Resources, Nursing Committee and Nursing Unit of X Hospital.
Untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan yang memadai, di rumah sakit harus tersedia sarana, fasilitas, dana yang cukup, dan sumber daya manusia yang terampil dan berdedikasi tinggi. Keberhasilan upaya pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas tenaga manusia yang memadai. Kualitas kerja sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap karyawan, dalam hal ini tenaga perawat. Pelayanan keperawatan rumah sakit memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Rendahnya motivasi kerja akan memberikan efek negatif terhadap produktifitas kerja perawat tersebut. Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta sebagai rumah sakit swasta telah melakukan evaluasi kinerja karyawan dengan PKP (Penilaian Karya Pekerja), tetapi belum ada bukti yang menunjukkan bahwa motivasi kerja perawat tersebut tinggi atau rendah. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian terhadap motivasi kerja perawat karena merupakan unsur penting untuk mencapai produktivitas yang tinggi dan secara langsung mempengaruhi citra rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang hubungan karakteristik individu, faktor motivasi ekstrinsik, dan faktor motivasi intrinsik tenaga perawat terhadap motivasi kerja mereka di RS. Pelabuhan Jakarta. Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 65 orang responden dari 80 orang total populasi yang diteliti dengan kriteria inklusi pegawai tetap dan bersedia mengisi kuesioner. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data primer dari kuesioner yang disebarkan kepada para perawat, dan data sekunder dari bagian personalia dan bidang keperawatan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 50,8% perawat memiliki motivasi kerja yang rendah dan 49,2% dengan motivasi kerja yang tinggi. Dari hasil analisis hubungan antar variabel ditemukan bahwa dari variabel karakteristik individu yang memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi kerja adalah usia responden dan lama kerja. Dari variabel faktor motivasi ektrinsik yaitu hubungan kerja, gaji yang diterima, kondisi lingkungan kerja, kebijakan rumah sakit dan supervisi berhubungan dengan motivasi kerja. Sedangkan dari variabel faktor intrinsik yang memiliki hubungan dengan motivasi kerja adalah faktor pengakuan atas pekerjaan, pekerjaan itu sendiri dan kesempatan pengembangan individu. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, variabel yang paling dominan mempengaruhi motivasi kerja adalah faktor kesempatan pengembangan individu. Dalam upaya untuk meningkatkan motivasi kerja perawat unit rawat inap RS. Pelabuhan Jakarta, dibutuhkan penerapan analisis teknik motivasi berprestasi serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan pengakuan atas prestasi kerja yang diraih misalnya dengan pemberian reward.
To performe the best quality in health services, hospital must have an excellent facility, fund, and highly dedicated human resources. Successfullness of health services redirected to the quality and quantity of human resources. The quality of work performance is influenced by work motivation in every individual, in this case is nurses as the important role in achieving the best quality in health services, because poor motivation in work will give negative effect in productivity of work itself. RS. Pelabuhan Jakarta as a private hospital has evaluate their employee productivity by PKP (Penlilaian Karya Pekerja), but there is no fact shows that they also have poor or highly motivated employee, especially nurses. That is why it needs research concerning motivation assessment toward their performance because motivation eventually effect the productivity of nurses and the image of the hospital. The aim of this research is to find the relation between independent variable which is nurse individual characteristic, extrinsic and intrinsic motivation factors with their work motivation as dependent variable at RS. Pelabuhan Jakarta. Research conducted is quantitative with cross-sectinal methode. Total sample is 65 nurses over 80 nurses as total population of in-patient unit nurses as the employee of RS. Pelabuhan Jakarta. The source of data in this research are primary data from distributed questionaire to nurses, and secondary data from personel unit and nursing departement. Result of this research shown that 50,8% of nurses had poor work motivation meanwhile 49,2% of nurses had high motivation. From the relation analysis found that age and work periode have significant relation with work motivation, so as work relation, take home pay, working environment, hospital policy and supervision from extrinsic variables; and also certify of work, the work itself, and opportunity of individual development as the intrinsic motivation factor which related to work motivation. According to statistic analysis, independent variable that has dominant relation to work motivation is the opportunity of individual development. In accordance to increase working motivation of in-patient unit nurses at RS. Pelabuhan Jakarta, the achievement motivation technique must be applied, also giving the opportunity to explore the capability of nurses, and rewarded their achievement.
