Ditemukan 34668 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Wenny Prasetya Dewi; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Hendra; Agus Joko
S-6418
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ida Rosida; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Ellen Happy Forever
S-6336
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indah Khoirun Nisa; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Hendra, Heni D. Mayawati
S-8333
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Herdina Jane Pusphachinta; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Devie Fitri Octaviani
S-8125
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Antoni Bona Foncus Naibaho; Pembimbing: Syahrul Meizar Nashri; Penguji: Hendra, Yuni Kusminanti
S-6429
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mirsupi Usman; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Hendra; Abdul Kadir, Dippu Rocky Nababan, Laode Syahrizal
Abstrak:
Read More
Seiring dengan target pemerintah dalam peningkatan produksi minyak dan gas di lepas pantai, maka penggunaan bahan kimia dalam kegiatan produksi minyak dan gas semakin meningkat, hal ini memunculkan kekhawatiran akan potensi permasalahan kesehatan pekerja, oleh karenanya perlu dilakukan kajian risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko (risk rating/RR) kesehatan terkait pajanan dari kesebelas bahan kimia utama yang digunakan pekerja, pada proses produksi minyak dan gas di kapal FPSO XYZ tahun 2022. Metode Chemical Risk Assessment (CRA) yang digunakan adalah Stoffenmanager® 8 version 5.0 yang merupakan tools untuk menilai risiko kesehatan jalur pajanan inhalasi dan dermal dari penanganan enam bahan kimia oleh production technician di area kerja topside deck dan lima bahan kimia oleh utility operator di area kerja machinery deck. Hasil CRA menunjukkan bahwa tingkat risiko (RR) jalur inhalasi dimana satu bahan kimia kategori risiko tinggi (1,highest) delapan bahan kimia kategori risiko sedang (2, medium), dan dua bahan kimia risiko rendah (3, lowest). Sedangkan berdasarkan risk characterization ratio (RCR) pajanan inhalasi, ada dua bahan kimia yang diketahui nilai RCR task ≥ 1, yang berarti perkiraan konsentrasi emisi yang dihasilkan saat beraktivitas (task concentration estimation/TCE) terhadap potensi bahaya terhirup oleh production technician dan utility operator saat beraktivitas pada jarak yang dekat dengan sumber emisi, dikategorikan berbahaya atau risiko tidak dapat di tolerir (Unacceptable risk). Untuk tingkat risiko dermal efek lokal (skin local), sembilan bahan kimia masuk kategori risiko tinggi dan dua bahan kimia masuk kategori risiko sedang. Sedangkan tingkat risiko dermal efek sistemik (skin uptake), empat bahan kimia kategori risiko sedang, dan tujuh bahan kimia kategori risiko rendah. Hasil risk rating (RR) menentukan pula prioritas tindakan (Action Priority/AP) pengendalian risiko kesehatan. Rekomendasi pengendalian adalah menurunkan tingkat bahaya (HR) dengan melakukan penggantian bahan kimia (subtitusi) dengan bahan kimia yang lebih rendah tingkat bahayanya bagi kesehatan, dan untuk pajanan dermal (ER), otomatisasi proses penanganan, modifikasi teknik pekerjaan dengan membuat sistem penambahan bahan kimia secara gravitasi, menurunkan jumlah dosis pemakaian namun tetap efektif efisien (workplace-related modifiers), mengurangi waktu dan frekuensi penggunaan bahan kimia tersebut (activity time), penambahan ventilasi lokal (LEV) selain ventilasi mekanik, serta menggunakan baju khusus tahan kimia beserta sarung tangannya atau Chemsuit (control measures modifiers)
Along with the government's target to increase offshore oil and gas production, the use of chemicals in oil and gas production activities tends to increase, this raises concerns about potential health problems for workers, therefore it is necessary to conduct a chemical health risk assessment. This study aims to analyze the health risk rating (RR) related to exposure to the eleven main chemicals used by workers in the oil and gas production process on the FPSO XYZ ship in 2022. The Chemical Risk Assessment (CRA) method that is used is Stoffenmanager® 8 version 5.0 which is a tool to assess the health risks of inhalation and dermal exposure lines from the handling of six chemicals by production technicians on the topside deck work area and five chemicals by utility operators on the machinery deck work area. The results of the CRA show that the risk level (RR) for the inhalation route are one chemical in the high risk category (1,highest), eight chemicals in the medium risk category (2, medium), and two chemicals in the low risk category (3, lowest). Meanwhile, based on the risk characterization ratio (RCR) of inhalation exposure, there are two chemicals whose RCR task value is ≥ 1, which means the estimated concentration of emissions produced during the activities (task concentration estimation/TCE) against the potential inhalation hazard by production technicians and utility operators when activities at a close distance to the emission source, are categorized as a dangerous or unacceptable risk. For the level of dermal risk of local effects (skin local), nine chemicals are in the high risk category and two chemicals are in the medium risk category. While the level of risk of dermal systemic effects (skin uptake), four chemicals were in the moderate risk category, and seven chemicals were in the low risk category. The results of the risk rating (RR) also determine the priority of action (Action Priority/AP) for controlling health risks. Control recommendations are to reduce the level of hazard (HR) by replacing chemicals (substitutions) with lower chemicals levels of danger to health, and for dermal exposure (ER), automation of handling processes, modification of work techniques by making chemical addition systems automatically. gravity, reducing the number of doses used but still being effective and efficient (workplace-related modifiers), reducing the time and frequency of using these chemicals (activity time), adding local ventilation (LEV) in addition to mechanical ventilation, and using special chemical resistant clothing and gloves or Chemsuit (control measures modifiers)
S-11183
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annisa Cantika; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Chandra Satrya, Ike Pujiriana
S-8308
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ambi Pradiptha; Pembimbing: Fatma Lestari, Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, I Gusti Suarnaya Sidemen, Teguh Cahyono
Abstrak:
Gas klorin merupakan bahan kimia yang berbahaya karena sifatnya yang beracun dankorosif. Klorin juga termasuk ke dalam Extremely Hazardous Substances (EHS) ataubahan yang berbahaya sekali karena gas klorin dapat menimbulkan kematian (EPA,1990). Penelitian ini membahas tentang analisis risiko kebocoran gas pada fasilitastangki penyimpanan klorin di PT XYZ dengan mengasumsikan adanya korosi padavalve dan fusible plug tangki klorin. Dianalisa menggunakan pendekatan ComputationalFluid Dynamics 3 dimensi yang diproses dengan meggunakan perangkat lunak FLACS.Desain penelitian menggunakan analisis risiko secara kualitatif dengan desain deskriptifdan menggunakan FTA untuk menentukan skenario kebocoran dengan menggunakandata sekunder. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebaran kebocoran gas klorin yangdihasilkan dari pemodelan berpotensi menyebar tidak hanya didalam area PT XYZnamun juga sampai ke pemukiman penduduk dengan tingkat konsentrasi yangbervariasi mulai dari angka tertinggi 300 ppmv sampai 10 ppmv. PT XYZ disarankanuntuk selalu melakukan pengecekan berkala pada fasilitas tangki klorin, melakukanpelatihan tanggap darurat kebocoran klorin dan audit berkala sebagai bentuk upayapencegahan kebocoran klorin.Kata kunci: Kebocoran klorin, FLACS, Sebaran gas klorin, FTA.
Read More
T-5227
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bayu Kirti Dewantoro; Pembimbing: Candra Satrya; Penguji: Hendra, Syahrul Munir
S-6095
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sari Ichtiari; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Azahruddin Fauzi, Fatma Lestari
Abstrak:
Read More
Penggunaan bahan kimia seperti pelarut organik (organic solvent), media blasting, bubuk keramik, bubuk logam, material mengandung nanopartikel serta asap las berbahaya (welding fumes) pada perbaikan Industrial Gas Turbine (IGT) berpotensi menimbulkan bahaya kesehatan pada pekerja. Kontak pekerja dengan bahan kimia melalui rute pajanan inhalasi dan dermal, dapat menimbulkan dampak kesehatan akut seperti iritasi kulit hingga gangguan kronis seperti kanker, gagal ginjal, sirosis hati, dan lain-lain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan terkait penggunaan bahan kimia pada empat sub-proses perbaikan Industrial Gas Turbine (IGT) yaitu sandblasting, dye penetrant inspection (DPI), pengelasan (welding) dan Thermal Barrier Coating (TBC). Rute pajanan yang diteliti meliputi inhalasi dan kontak dermal. Metode yang digunakan adalah metode semikuantatif yaitu Chemical Health Risk Assessment (CHRA DOSH Malaysia) untuk pajanan inhalasi dan RISKOFDERM untuk pajanan dermal. Ditemukan bahwa terdapat 12 dari 28 bahan kimia (42,8%) berisiko tinggi terhadap apabila terhirup, yaitu aluminium oksida dan silika pada sandblasting; hidrokarbon C12-C15 (kerosin), n- alkana, isoalkana, siklik aromatic, distilasi minyak bumi (Naphtha) pada DPI; gas ozon, mangan, silika dan heksavalen kromium pada asap pengelasan; zirconia pada bubuk pelapis Metco204NS dan nikel, kobalt, kromium pada bubuk pelapis Amdry 995 pada TBC. Untuk rute pajanan dermal terdapat 7 dari 11 (63,6%) bahan kimia memiliki risiko efek lokal tinggi yaitu hidrokarbon C12-C15, distilasi minyak bumi (Naphtha), 2-Naphthalenol dan tetrahidro-furfuril salisilat pada DPI;nikel, kobalt dan kromium pada TBC. Selain terdapat 1 dari 11 (9%) bahan kimia memiliki risiko efek sistemik tinggi yaitu nikel pada TBC.
The use of chemicals such as organic solvents, blasting media, ceramic powders, metal powders, nanoparticles materials and welding fumes in industrial gas turbine (IGT) repair processes have the potential to pose health hazards to workers. Exposure to the workers through inhalation and dermal can cause acute health effects such as skin irritation, till chronic effects like cancer, kidney disease, liver cirrhosis, etc. Therefore, this study aims to analyze the health risks associated with the use of chemicals in four sub-processes of Industrial Gas Turbine (IGT) namely sandblasting, dye penetrant inspection (DPI), welding and thermal barrier coating (TBC). The scope of the exposure route includes inhalation and dermal contact. For inhalation, health risk determination used a semiquantitative method, Chemical Health Risk Assessment from DOSH Malaysia (CHRA DOSH Malaysia); RISKOFDERM for dermal exposure. The result shows that 12 out of 28 chemicals (42.8%) have high risk via inhalation namely aluminum oxide and silica in sandblasting;hydrocarbons C12-C15 (kerosene), n-alkanes, isoalkanes, cyclic aromatics, petroleum distillation (Naphtha) in dye penetrant inspection; ozone, manganese, silica and hexavalent chromium gases as welding fumes;zirconia in metco204NS powder coating and nickel, cobalt, chromium in Amdry995 powder coating for thermal barrier coating (TBC). For dermal exposure route, there were 7 out of 11 (63,6%) chemicals have high local risk namely hydrocarbons C12-C15 (kerosene), n-alkanes, isoalkanes, cyclic aromatics, petroleum distillation (Naphtha), 2-naphthalenol, and tetrahydro-furfuryl salicylate in dye penetrant inspection; nickel, cobalt and chromium in Thermal Barrier Coating (TBC) and 1 out of 11 chemicals (9%) have high systemic risk namely nickel in Thermal Barrier Coating (TBC).
S-11094
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
