Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27811 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Resa Wulantika; Pembimbing: Sri Tjahyani Utami; Penguji: Zakianis, Rina F. Bahar
S-6639
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elnesa Fitma S; Pembimbing: A Rahman; Penguji: Budi Hartono, Muslina Handayani
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang rancangan perlengkapan rekam medis berdasarkan value analysis di RSIA SamMarie Basra. Berdasarkan hasil observasi didapatkan ukuran rekam medis rawat jalan yang terlalu kecil dan terpisahnya rekam medis pasien rawat jalan dan rawat inap yang berdampak pada dokter yang sulit untuk menetapkan/merencakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien. Oleh karena itu diperlukan suatu rancangan perlengkapan penyimpanan dokumen rekam medis berdasarkan value analysis di RSIA SamMarie Basra. Perancangan ini bertujuan untuk mendapatkan suatu rancangan perlengkapan yang sesuai dengan fungsinya dalam menampung serta menjaga isi/formulir rekam medis di RSIA SamMarie Basra, sehingga tercipta suatu penyimpanan rekam medis yang memudahkan untuk pengelolaan rekam medis. Perancangan ini juga bertujuan agar rekam medis di RSIA SamMarie Basra terintegrasi menjadi satu dokumen yang berisikan catatan medis pasien baik di rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, dan pelayanan lainnya. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah operational research (riset operasi) dengan objek pada penelitian adalah perlengkapan penyimpanan rekam medis terutama map/file folder. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kajian literatur, observasi, telaah dokumen, penyebaran form isian dan wawancara mendalam, dengan analisis data yang menggunakan enam fase/tahapan dalam Value Analysis. Hasil akhir dari penelitian ini, bahwa rancangan perlengkapan penyimpanan dokumen rekam medis (map/file folder) belum dapat meningkatkan daya tampung ruang penyimpanan rekam medis, akan tetapi rancangan perlengkapan ini telah memenuhi fungsi ideal yang harus dimiliki oleh sebuah rancangan map/file folder dalam menampung serta menjaga isi/formulir rekam medis. Kata kunci: Rekam Medis, Peralatan Penyimpanan, Perlengkapan Penyimpanan, Map/File Folder, Value Analysis.
Read More
S-9015
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Darajat; Pembimbing: Dewi Susanna, Yasep Setiakarnawijaya; Penguji: Arminsih Ririn Wulandari, Cecep Suherlan Alamsyah, Abdul Syukur
Abstrak: Latar Belakang : Berdasarkan data Dinas Olahraga DKI Jakarta tahun 2005 diperkirakan 8000 orang setiap harinya melakukan aktifitas berenang. Kebutuhan air bersih untuk kegiatan ini besar jumlahnya. Air bersih yang digunakan berasal dari air tanah dan Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Banyaknya orang yang berenang sangat mempengaruhi kualitas air kolam renang. Kualitas air ini harus terus dipertahankan agar terhindar dari risiko pencemaran. Dengan melakukan surveilans melalui kegiatan inspeksi sanitasi diharapkan dapat diketahui nilai kesesuaian antara hasil pengukuran tingkat risiko pencemaran dengan hasil pemeriksaan kualitas bakteriologik air kolam renang.

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian antara hasil pengukuran tingkat risiko pencemaran dengan inspeksi sanitasi dan hasil pemeriksaan bakteriologik pada air kolam renang di dki jakarta tahun 2005

Bahan dan Cara Kerja: Penelitian ini menggunakan disain cross sectional. Besarnya populasi pada penelitian ini sebanyak 35 kolam renang dengan jumlah sampel 30 kolam renang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variabel inspeksi sanitasi berjumlah 13 variabel dengan analisis yang dipakai adalah univariat dan bivariat.

Hasil: Hasil analisis diketahui bahwa 13 (44 %) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran rendah dan 17 (56%) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran tinggi. Sedangkan untuk kualitas bakteriologik diketahui 11 (36,7%) air kolam renang berkualitas baik dan 19 (63,3%) air kolam renang berkualitas buruk.

Kesimpulan: Besarnya nilai kesesuaian yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0,733 artinya terdapat nilai kesesuaian baik. Variabel isi air merupakan variabel yang memiliki tingkat risiko pencemaran paling tinggi. Berdasarkan aspek inspeksi sanitasi didapat 8 aspek prediktif dan 5 aspek non-prediktif.Perlunya pemeriksaan air kolam renang secara berkala serta dilaksanakan penyuluhan dan bimbingan pada pengelola kolam renang dan masyarakat akan arti penting dari baiknya kualitas air kolam renang terhadap kesehatan.

Kata Kunci : Kesesuaian, Tingkat risiko pencemaran, Inspeksi Sanitasi, Kualitas Bakteriologik, Air Kolam Renang, DKI Jakarta.
Background: According to the data on Sport Department of DKI Jakarta, it was estimated that 8000 people do swimming everyday. Clean water required in this activity. It has proven us that this activity deeds big amount of clean water. Clean water that used in that activity comes from ground water as well as DKI Jakarta Municipal Water Corporation. The number of people swimming. The number of people swimming in that pool will effect very much to the quality of the swimming pool water. The quality of the water must be saved from its pollution. It is hoped that by conducting surveillance we are able to know the compatibility value between the compatibility result of pollution risk level with the inspection result of quality bacteriology of the swimming pool water.

Objective: Objective of this research is to obtain informatin about compatibility between measurement results of pollution risk level from sanitary inspection and bacteriological assessment results of swimming pool water at dki jakarta 2005.

Methods: This research used a sectional cross design. Total population of this research are 35 swimming pool with its 30 samples. Variable used in this research are 13 sanitation inspection variables by using univariate and bivariate analyses.

Result: The analyses resulted that 13 (44%) of swimming pool water shows the low pollution risk level and 17 (56%) of it is in high pollution risk level. For the quality of bacteriology, it is proven that 11(36,7%) of the water is in good quality meanwhile 19(63,3%) of it is in bad quality.

Conclution: Total compatibility value got from this research is 0,733. It means that there is a good compatibility value. Volume water variable is a variable that has a high pollution risk level. Based on sanitation inspection aspect, there are 8 predictive aspects and 5 non predictive aspects. It is useful and important to inspect the swimming pools water periodically, to explain and to guide the swimming pools organizers as well as the society about the importance of swimming pools water quality to the health.

Keywords : Compatibility, Pollution risk level, Sanitary Inspection, Bacteriological assessment, Swimming pool water, DKI Jakart
Read More
T-2197
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edwin Nasli; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Fachrudin Ali Achmad, Edwan NS
Abstrak:

Kolam renang adalah salah satu tempat yang diminati masyarakat, namun mempunyai potensi gangguan kesehatan karena pajanan gas klor ketika hasil disinfeksi yang menggunakan kaporit. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan yang disebabkan oleh pajanan gas klor pada pengguna kolam renang Cilandak Sport Centre Cilandak Jakarta Selatan Tahun 2013.Penelitian ini menggunakan metode estimasi risiko kesehatan lingkungan dengan disain tipe I (ATSDR, 1998) dengan besar sampel 100 pengguna kolam renang. Data konsentrasi dan variable lainnya dikumpulkan melalui pengukuran, wawancara dan observasi. Tingkat risiko kesehatan non karsinogenik diestimasi dengan membagi rata-rata asupan harian gas klor dengan dosis respon gas klor (0,00006 mg/M3).Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi klor (0,1004; 0,0690 - 0,1389) mg/M3 (SD=0,0299), dengan RQ>1 98% (1 - 447) dan hanya 2% yang mempunyai RQ≤1. Keluhan pengguna adalah mata merah dan perih, iritasi kulit dan hidung dan tenggorokan panas/rasa terbakar.Disimpulkan bahwa penggunaan disinfeksi dengan kaporit saat ini sangat berisiko mengganggu kesehatan oleh pajanan gas klor. Dirumuskan pengendalian penggunaan kaporit harus dikurangi dari 8 kg menjadi 0,167 kg dan waktu beraktivitas tidak lebih dari 1,82 jam per hari.


Swimming pool is one place that the public interest, but have potential health problems due to exposure to chlorine gas when the result of disinfection using chlorine. The purpose of this study was to estimate the health risks caused by exposure to chlorine gas among the swimming pool attendant in Cilandak Sport Center Swimming Pool Cilandak South Jakarta Year 2013.

This study uses estimates of environmental health risk assessment (EHRA) with design of Type-I (ATSDR, 1996) with a sample of 100 attendant. Concentration chlorine gas and data of other variables collected through measurements, interviews and observation. Non carcinogenic health risk estimated by dividing the average daily intake of chlorine gas with chlorine gas response dose reference (0,00006 mg/M3).The result of research shows us that of chlorine concentrate (0,1004; 0,0690 - 0,1389) mg/M3 (SD=0,0299) with RQ>1 is 98% (1 - 447) and only 2% have RQ≤1. The complaints are red and burning eyes, skin irritation and nose and throat hot/burning sensation.The conclusion is health risk of non carsinogenic affects all attendant. By being so, it’s a must to do risk management by reducing chlorine from 8 kg to 0,167 kg and time dose not more than 1,82 hours per day.

Read More
T-3787
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grace Via Dolorosa; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Rumah makan Padang merupakan salah satu tempat pengolahan pangan (TPP) yang banyak diminati masyarakat Depok, namun rentan terhadap risiko kontaminasi akibat karakteristik makanannya yang bersantan, berkuah, dan disajikan pada suhu ruang dalam jangka waktu lama. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran penerapan higiene sanitasi makanan dan kualitas bakteriologis Escherichia coli pada Rumah Makan Padang X di Depok Tahun 2026. Penelitian bersifat deskriptif dengan metode observasi menggunakan formulir Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Permenkes RI Nomor 17 Tahun 2024, wawancara kepada tiga penjamah makanan, serta pemeriksaan laboratorium terhadap 20 sampel yang meliputi usap tangan penjamah makanan, usap peralatan makanan, dan makanan siap saji berisiko tinggi menggunakan metode CFU mengacu pada SNI ISO 16649. Hasil observasi menunjukkan skor IKL sebesar 81 dari 100 (kategori memenuhi syarat). Namun, terdapat ketidaksesuaian pada aspek bangunan dan ventilasi, penyajian makanan tanpa penutup, pengendalian suhu pangan berkuah, pengendalian vektor, serta ketidaklengkapan penggunaan APD penjamah makanan. Tingkat pengetahuan penjamah makanan berada pada 75% dan perilaku higiene sanitasi sebesar 81,82%, dengan 66,67% penjamah belum pernah mengikuti pelatihan keamanan pangan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan seluruh 20 sampel memenuhi baku mutu Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2023, dengan kadar E. coli 0 CFU/25 cm² pada tangan penjamah dan seluruh peralatan makanan, serta 0 CFU/gram pada sampel daun singkong rebus, rendang, dan gulai ayam pada jam ke-0, ke-2, dan ke-4 setelah makanan dipajang di etalase. Hasil yang baik ini didukung oleh praktik cuci tangan konsisten, penggunaan bahan baku segar harian, proses pemasakan suhu tinggi, serta karakteristik antimikroba rempah masakan Padang. Meskipun demikian, peningkatan kepatuhan terhadap seluruh aspek higiene sanitasi tetap diperlukan untuk menjamin keamanan pangan secara berkelanjutan.

Rumah makan Padang merupakan salah satu tempat pengolahan pangan (TPP) yang banyak diminati masyarakat Depok, namun rentan terhadap risiko kontaminasi akibat karakteristik makanannya yang bersantan, berkuah, dan disajikan pada suhu ruang dalam jangka waktu lama. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran penerapan higiene sanitasi makanan dan kualitas bakteriologis Escherichia coli pada Rumah Makan Padang X di Depok Tahun 2026. Penelitian bersifat deskriptif dengan metode observasi menggunakan formulir Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Permenkes RI Nomor 17 Tahun 2024, wawancara kepada tiga penjamah makanan, serta pemeriksaan laboratorium terhadap 20 sampel yang meliputi usap tangan penjamah makanan, usap peralatan makanan, dan makanan siap saji berisiko tinggi menggunakan metode CFU mengacu pada SNI ISO 16649. Hasil observasi menunjukkan skor IKL sebesar 81 dari 100 (kategori memenuhi syarat). Namun, terdapat ketidaksesuaian pada aspek bangunan dan ventilasi, penyajian makanan tanpa penutup, pengendalian suhu pangan berkuah, pengendalian vektor, serta ketidaklengkapan penggunaan APD penjamah makanan. Tingkat pengetahuan penjamah makanan berada pada 75% dan perilaku higiene sanitasi sebesar 81,82%, dengan 66,67% penjamah belum pernah mengikuti pelatihan keamanan pangan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan seluruh 20 sampel memenuhi baku mutu Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2023, dengan kadar E. coli 0 CFU/25 cm² pada tangan penjamah dan seluruh peralatan makanan, serta 0 CFU/gram pada sampel daun singkong rebus, rendang, dan gulai ayam pada jam ke-0, ke-2, dan ke-4 setelah makanan dipajang di etalase. Hasil yang baik ini didukung oleh praktik cuci tangan konsisten, penggunaan bahan baku segar harian, proses pemasakan suhu tinggi, serta karakteristik antimikroba rempah masakan Padang. Meskipun demikian, peningkatan kepatuhan terhadap seluruh aspek higiene sanitasi tetap diperlukan untuk menjamin keamanan pangan secara berkelanjutan.
Read More
S-12271
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clarissa Zefanya; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurnia Sari, Didik Supriyono
Abstrak:
Keamanan pangan merupakan salah satu aspek penting dalam kesehatan masyarakat karena makanan yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penyakit bawaan pangan (foodborne disease). Warung makan sebagai salah satu Tempat Pengolahan Pangan (TPP) kategori A1 memiliki risiko terjadinya kontaminasi mikrobiologis akibat praktik higiene dan sanitasi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi higiene dan sanitasi serta keberadaan bakteriologis Escherichia coli pada Warung Makan X di wilayah Kukusan, Kota Depok Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan formulir Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), wawancara terhadap penjamah makanan, serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, tangan penjamah makanan, peralatan makan, dan peralatan masak menggunakan metode Colony Forming Unit (CFU) sesuai standar SNI ISO 16649. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa aspek higiene sanitasi yang belum memenuhi persyaratan, terutama pada pengolahan makanan, sanitasi fasilitas, perilaku penjamah makanan, serta pengendalian risiko kontaminasi silang. Pemeriksaan bakteriologis menunjukkan adanya kontaminasi Escherichia coli pada beberapa media pangan yang mengindikasikan rendahnya penerapan higiene sanitasi pangan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya penyakit bawaan pangan pada konsumen. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, penerapan higiene personal, sanitasi fasilitas, serta edukasi keamanan pangan bagi penjamah makanan untuk meminimalkan risiko kontaminasi pangan di warung makan. Kata Kunci: higiene sanitasi makanan, keamanan pangan, Escherichia coli, warung makan, kontaminasi pangan, foodborne diseases

Food safety is an essential aspect of public health because contaminated food may become a source of foodborne diseases. Food stalls as Category A1 Food Processing Facilities (Tempat Pengolahan Pangan/TPP) are vulnerable to microbiological contamination due to inadequate hygiene and sanitation practices. This study aimed to describe the hygiene and sanitation conditions and the presence of bacteriological contamination by Escherichia coli at Food Stall X located in Kukusan, Depok City, in 2026. This study employed a descriptive observational design. Data were collected through environmental health inspection observations, interviews with food handlers, and laboratory examinations of food samples, food handlers’ hands, eating utensils, and cooking equipment using the Colony Forming Unit (CFU) method based on the SNI ISO 16649 standard. The findings indicated that several aspects of food hygiene and sanitation had not met the required standards, particularly in food processing practices, sanitation facilities, food handler behavior, and cross-contamination control. Bacteriological examinations revealed the presence of Escherichia coli contamination in several food-related media, indicating inadequate implementation of food hygiene and sanitation practices. These conditions may increase the risk of foodborne diseases among consumers. Therefore, improvements in supervision, personal hygiene practices, sanitation facilities, and food safety education for food handlers are necessary to minimize the risk of food contamination in food stalls. Keywords: food hygiene and sanitation, food safety, Escherichia coli, food stall, food contaminations, foodborne diseases
Read More
S-12272
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Suryani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Harnita
Abstrak:
Air minum merupakan kebutuhan esensial yang harus dipenuhi setiap harinya. Air minum yang terkontaminasi oleh bakteri patogen akan memberikan gangguan kesehatan bagi individu yang meminumnya. Kota Jambi merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Jambi. Sumber air minum terbanyak yang digunakan adalah air minum isi ulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas bakteriologis air minum isi ulang, gambaran proses produksinya dilihat dari upaya pengamanan, penyehatan dan higiene sanitasi serta melihat hubungan dan faktor dominan yang mempengaruhi kualitas bakteriologis air minum isi ulang di Kota Jambi. Desain yang digunakan adalah potonng lintang dan dilakukan di Kota Jambi pada Januari – Februari 2023. Hasil menunjukkan 9,4% sampel belum memenuhi kualitas bakteriologis dan beberapa aspek yang belum terpenuhi pada upaya pengamanan adalah pemeriksaan air baku (56,3%), frekuensi penggantian sikat pencuci (50%) dan durasi pembilasan (66,7%). Pada upaya penyehatan ialah masa pakai media tabung filter (53,1%), tidak ada sistem pengurutan mikrofilter (52,1%) dan masa pakai lampu UV (58,3%). Sedangkan pada upaya higiene sanitasi ialah penggunaan pakaian khsus kerja (58,3%), tidak memiliki tempat sampah tertutup (83,3%) dan tidak memiliki tempat mencuci tangan disertai dengan sabun (55,2%). Variabel yang berhubungan dengan kualitas bakteriologis ialah upaya penyehatan (OR = 11,72; 95% CI; 2,25 – 60,98) dan higiene sanitasi air minum (OR = 10,34; 95% CI; 1,99 – 53,53). Variabel dominan berurutan ialah upaya penyehatan air minum (OR = 8,11; 95% CI: 0,76 – 86,02), higiene sanitasi (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31), dan upaya pengamanan (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).

Drinking water is an essential need that must be fulfilled every day. Drinking contaminated water with pathogenic bacteria will cause health problems for individuals who drink it. Jambi City is the area with the largest population in Jambi Province. The most used source of drinking water is refilled drinking water.This research was conducted to give an overview of bacteriology quality of refilled drinking water, an overview of the treatment process in terms of security, health and sanitation efforts and to look at the relationship and dominant factors that influence the bacteriology quality of refilled drinking water in Jambi City. The design used is cross-sectional and carried out in Jambi City from January to February 2023. The results show that 9.4% of the samples did not meet bacteriology quality and several aspects that have not been fulfilled in the security efforts are the frequency of raw water inspection (56.3%), the replacement frequency of washing brush (50%) and rinsing duration ( 66.7%). The health efforts are the expired date of the filter tube media (53.1%), no microfilter sorting system (52.1%) and the expired date of the UV lamp (58.3%). Whereas in sanitation and hygiene efforts are the use working uniform (58.3%), not having closed trash bins (83.3%) and not having a place to wash hands properly accompanied with soap (55.2%). Variables related to bacteriology quality were sanitation efforts (OR = 11.72; 95% CI; 2.25 – 60.98) and sanitation hygiene efforts (OR = 10.34; 95% CI; 1.99 – 53, 53). The dominant variable respectively are health efforts (OR = 8.11; 95% CI: 0.76 – 86.02), sanitation and hygiene effort (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31) and security effort (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).
Read More
T-6633
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Pratiwi; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
Abstrak: Bandara memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah transmisi berbagai penyakit yang mungkin terjadi. Salah satu fasilitas penunjang di Bandara berupa restoran. Higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan restoran di Bandara perlu mendapatkan pengawasan untuk mencegah kejadian foodborne disease. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kondisi higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan terhadap kualitas bakteriologis makanan (Escherichia coli) restoran di Bandara Soekarno-Hatta tahun 2014. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan total sampel sebanyak 90 restoran di Bandara Soekarno-Hatta. Hasil penelitian menujukan bahwa sebagian besar makanan restoran tidak terkontaminasi E. coli (95,6 %). Dari sembilan variabel dalam sanitasi fisik, terdapat tujuh variabel yang memenuhi syarat, yaitu lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, gudang bahan makanan, dapur, dan ruang makan, bahan makanan dan makanan jadi, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi, serta penyajian makanan. Variabel sanitasi alat sebagian besar memenuhi syarat, sesuai dengan kualitas bakteriologis alat yang tidak terkontaminasi E. coli pada sebagian besar sampel usap alat. Sedangkan, variabel higiene tenaga kerja sebagian besar tidak memenuhi syarat, namun tidak ditemukan E. coli pada sebagian besar sampel usap tangan penjamah. Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
Read More
S-8772
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Fauzea; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Budi Hartono, Anwar Athena
Abstrak: Pencemaran makanan akibat bakteri merupakan salah satu isu keamanan pangan yang penting untuk dikaji. Oleh sebab itu, peneliti ingin meneliti mengenai pencemaran bakteri Escherichia coli pada makanan yang paling berisiko untuk terjadinya pencemaran yaitu makanan dengan kategori tinggi protein dan tinggi air siap saji serta menghubungkannya dengan higiene sanitasi sebagai salah satu faktor risiko penyebab terjadinya pencemaran makanan. Penelitian dilakukan di kampus mengingat masih minimnya perhatian terhadap pencemaran makanan dan banyak temuan kasus keracunan makanan yang terjadi pada spesifik wilayah kampus. Setelah dilakukan pengujian, di dapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara higiene perseorangan [OR 5,357 95% CI 1,589-18,062], higiene pengolahan makanan [OR 3,611 95% CI 1,109-11,763] dengan pencemaran makanan akibat bakteri Escherichia coli. Dari hasil uji regresi logistik juga ditemukan bahwa faktor yang paling dominan terhadap kejadian pencemaran makanan akibat E.coli yang terjadi pada kampus X dengan adalah higiene perseorangan [OR 5,357 95% CI 1,589-18,062] dengan nilai p sebesar 0,007. Pada uji interaksi, tidak ditemukannya interaksi antar variabel independen. Kata kunci : Escherichia coli, makanan, kampus, higiene, sanitasi

Food contamination causes by bacteria is one of the issue in food safety matter. Thereby, researcher want to research on Escherichia coli bacteria contamination in food that has a high risk of contamination which are possess high level of protein and water content. Researcher want to associated it with hygiene sanitation as a one of the factors of the food contamination occurence. This research was conducted inside university (campus) since this area has less concerns yet there are numerous of food intoxication cases specified in university areas. The result from this research found that there were association between personal hygiene [OR 5,357 95% CI 1,589-18,062], food preparation hygiene [OR 3,611 95% CI 1,109-11,763] with food contamination cause by Escherichia coli. The outcome from regression logistic test found that the dominant factor influenced food contamination cause by Escherichia coli is personal hygiene with p-value 0,007. Based on Moderated Regression Analysis (MRA), there are no interaction between every independent variable. Keywords: Escherichia coli, foods, campus, hygiene, sanitation
Read More
S-9278
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emilia Annisa; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ema Hermawati, Wakhyono Budianto
Abstrak:
Depot Air Minum (DAM) merupakan tempat usaha untuk melakukan pengolahan air baku menjadi air minum atau biasa disebut dengan Air Minum Isi Ulang (AMIU). AMIU banyak dijadikan alternatif sebagai pemenuhan kebutuhan air minum dimasyarakat. Namun, tidak semua DAM terjamin produknya, terutama dari ancaman kontaminasi biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas bakteriologis AMIU berdasarkan keberadaan E.coli dan mengetahui gambaran higiene sanitasi Depot Air Minum (DAM) di Kelurahan Aren Jaya Bekasi Timur tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Sampel penelitian berasal dari seluruh DAM dan AMIU hasil produksi DAM di Kelurahan Aren Jaya dengan jumlah 23 DAM. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan lembar formulir penilaian laik higiene sanitasi DAM. Keberadaan E.coli dalam sampel air diketahui melalui pengujian di laboratorium menggunakan metode MPN E.coli. Diketahui sebanyak 14 (60.9%) DAM telah memenuhi syarat pada variabel Tempat. Semua DAM (100%) telah memenuhi syarat pada variabel Peralatan produksi dan variabel Peralatan sterilisasi. Hanya terdapat 1 (4.3%) DAM yang memenuhi syarat pada variabel Higiene penjamah. Semua AMIU bebas dari kontaminasi bakteri E.coli. Terdapat 20 dari 23 sampel DAM yang dinyatakan memenuhi syarat higiene sanitasi. Sedangkan DAM kode M, O, dan R tidak memenuhi syarat dalam aspek higiene sanitasi. Semua AMIU hasil produksi DAM memenuhi syarat untuk diminum berdasarkan analisis kualitas bakteri E.coli. Perlu dilakukan peningkatan terhadap aspek sanitasi tempat dan higiene penjamah, serta pemenuhan fasilitas yang mendukung kegiatan higiene sanitasi DAM.

Water Refill station is a place of business to process raw water into drinking water or commonly known as Refill Drinking Water. Refill drinking water is widely used as an alternative of drinking water in the community. However, not all Water Refill station products are guaranteed, especially from the threat of biological contamination. This research aims to determine the bacteriological quality of Refill drinking water based on the presence of E.coli and to description of the sanitation hygiene of the Water Refill station in Aren Jaya Village, East Bekasi in 2018. This research used a descriptive observational method. Samples came from all Water Refill station and water produced by Water Refill stations in Aren Jaya Village with a total of 23. Data collection is carried out through observation using form sheet of hygiene sanitary Water Refill Station. The presence of E.coli in water samples was determined through laboratory testing using the MPN E.coli method. It is known that 14 (60.9%) DAMs have fulfilled the requirements for the place variable. All Water Refill stations (100%) fulfilled the requirements for the variable Production Equipment and Sterilization Equipment Variables. There was only 1 (4.3%) Water Refill station that met the requirements for handler hygiene. All Refill Drinking Water are free from contamination by E.coli bacteria. There were 20 out of 23 samples of DAM that met the sanitation hygiene requirements. Whereas Water Refill Station codes M, O, and R do not meet the requirements in terms of sanitation hygiene. All Refill Drinking Water produced by Water Refill station meet the requirements for drinking based on an analysis of the quality of E.coli bacteria. It is necessary to improve the aspects of place sanitation and handler hygiene, as well as the fulfillment of facilities that support Water Refill Station sanitation hygiene activities.
Read More
S-11431
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive