Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38112 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gita Rashella; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah; Tarcisia Widjajastuti
S-7392
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Vanesa Kusumadewi; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Yulius Warta Kusuma
Abstrak:
Erupsi gunung berapi merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia, Gunung Semeru adalah salah satu gunung yang cukup aktif erupsi. Erupsi menyebabkan perubahan pada lingkungan, iklim mikro, dan kualitas udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variasi iklim terhadap kejadian ISPA di Kabupaten Malang dan Lumajang yang terdampak erupsi Gunung Semeru pada 4 Desember 2022. Data yang digunakan adalah data observasi iklim dan kualitas udara milik BMKG dan data ISPA milik dinas kesehatan selama Agustus 2022 - Maret 2023. Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan uji korelasi sebagai metode analisisnya. Proporsi ISPA tertinggi berada di Kecamatan Pronojiwo (5,1%), sedangkan untuk jumlah kasus ISPA tertinggi berada di Kecamatan Dampit (3.005). Seluruh variabel dalam penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian ISPA (p-value > 0,005). Namun, koefisien korelasi menunjukkan adanya korelasi yang lemah hingga sedang: suhu udara rata-rata (r = 0,155), suhu minimum (r = -0,038), DTR (r = -0,046), suhu maksimum (r = -0,315), curah hujan (r = -0,024), kelembaban relatif (r = -0,188), lama penyinaran matahari (r = 0,186), dan konsentrasi PM2,5 (r = 0,192). Potensi korelasi antara variabel iklim dan kualitas udara dengan kejadian ISPA dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. 


Volcanic eruptions are a frequent natural disaster in Indonesia, with Mount Semeru being one of the most active volcanoes. Eruptions induce changes in the environment, microclimate, and air quality. This study aimed to investigate the relationship between climate variations and the incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in Malang and Lumajang Regencies, areas affected by the Mount Semeru eruption on December 4, 2022. Observational data on climate and air quality from the BMKG (Indonesian Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics) and ARI incidence data from local health departments, spanning August 2022 to March 2023, were utilized. This ecological study employed correlation analysis as its methodological approach. The highest proportion of ARI was observed in Pronojiwo District (5.1%), while the highest number of ARI cases was recorded in Dampit District (3,005 cases). All variables in the study did not demonstrate a statistically significant relationship with ARI incidence (p-value > 0.05). However, the correlation coefficients indicated weak to moderate correlations: mean air temperature (r = 0.155), minimum temperature (r = -0.038), Diurnal Temperature Range (DTR) (r = -0.046), maximum temperature (r = -0.315), rainfall (r = -0.024), relative humidity (r = -0.188), duration of sunshine (r = 0.186), and PM2.5 concentration (r = 0.192). The potential correlation between climate and air quality variables and ARI incidence warrants consideration for future research.
Read More
S-12021
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Novita Lubis; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Besral, Evi Martha; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Isbandi Rukminto Adi, R. Kintoko Rochadi, Soewarta Kosen, Ajeng Tias Endarti
Abstrak: Erupsi gunung berapi berdampak pada kualitas hidup kesehatan pada masyarakat yang tinggal di daerah bencana, khususnya remaja. Modal sosial merupakan sumber daya potensial dalam meningkatkan kualitas hidup kesehatan remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan modal sosial dengan kualitas hidup kesehatan pada remaja yang terdampak bencana erupsi Gunung Sinabung Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods dengan embedded sequential design dimana penelitian kualitatif (tahap 1) memberikan peran pendukung sekunder dalam penelitian utama kuantitatif (tahap 2) yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif (tahap 3) untuk menjelaskan temuan-temuan pada penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Kualitas hidup kesehatan diukur menggunakan kuesioner Pediatric Quality of Life InventoryTM (PedsQLTM) versi 4.0 pada 318 responden berusia 10-18 tahun dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Regresi Cox. Penelitian kualitatif dengan desain Rapid Assessment Procedure (RAP). Pengumpulan data kualitatif dengan observasi, diskusi kelompok terarah (DKT) dan wawancara mendalam. Hasil penelitian diperoleh proporsi kualitas hidup kesehatan yang buruk sebesar 45,4%. Proporsi remaja dengan modal sosial individu yang rendah sebesar 69,4% dan modal sosial komunitas yang rendah sebesar 47,4%. Modal sosial individu berhubungan dengan kualitas hidup kesehatan (PR = 2,224; 95% CI 1,424-2,473), sedangkan modal sosial komunitas bukan faktor risiko terhadap kualitas hidup kesehatan (PR = 1,017; 95% CI 0,601-1,721). Temuan kuantitatif ini didukung oleh temuan kualitatif bahwa modal sosial pada level individu yang berperan pada kualitas hidup kesehatan yang buruk pada remaja meliputi belum terpenuhinya rasa aman dari erupsi Gunung Sinabung pada remaja yang tidak di relokasi dan remaja membutuhkan rasa aman dari tindak kejahatan; pengalaman yang kurang menyenangkan selama tinggal di pengungsian sementara; kurang akrabnya hubungan sesama anggota masyarakat semenjak tinggal di relokasi; partisipasi remaja rendah dalam organisasi karena rendahnya aksesibilitas transportasi; dan kewajiban yang menjadi beban bagi remaja terutama remaja yang tidak di relokasi. Meskipun modal sosial komunitas bukan faktor risiko kualitas hidup kesehatan remaja, namun secara kualitatif memiliki peran bagi kualitas hidup kesehatan remaja seperti orang tua memanfaatkan keanggotaan dalam organisasi ekonomi untuk biaya pendidikan remaja dan pemanfaatan ruang publik seperti lapangan olahraga dan jambur oleh remaja di relokasi pemerintah yang memberikan kesempatan kepada remaja untuk berinteraksi sosial dengan teman sebayanya dan masyarakat sekitar. Berdasarkan temuan penelitian ini, hendaknya pemerintah daerah dapat memanfaatkan dan melakukan penguatan modal sosial baik pada level individu dan komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup kesehatan remaja yang terdampak bencana dengan mempertimbangkan jenis relokasi dan kelompok umur.
Volcanic eruptions impact the health and quality of life of people living in disaster areas, especially adolescents. Social capital is a potential resource for improving adolescents’s health-related quality of life. This study aimed to determine the relationship between social capital and health-related quality of life among adolescents affected by the eruption of Mount Sinabung, Karo Regency, North Sumatra Province. This study is a mixed-methods study with an embedded sequential design. A qualitative study (phase 1) provides a secondary supporting role in the main quantitative study (phase 2), which is then followed by a qualitative study (phase 3) to explain the findings in the main quantitative research. Quantitative research using a cross-sectional design. Health-related quality of life was measured using the Pediatric Quality of Life InventoryTM (PedsQLTM) version 4.0 questionnaire on 318 respondents aged 10-18 years using a simple random sampling technique. Quantitative data were analyzed using Cox Regression. Qualitative approach using a Rapid Assessment Procedure (RAP) design. Qualitative data were collected through observation, focus group discussions (FGDs), and in-depth interviews. The results showed that the proportion of poor health-related quality of life was 45.4%. The proportion of adolescents with low individual social capital was 69.4% and low community social capital was 47.4%. Individual social capital was associated with health-related quality of life (PR = 2,224; 95% CI 1,424-2,473), while community social capital was not a risk factor for adolescents' health-related quality of life (PR = 1,017; 95% CI 0,601-1,721). This quantitative finding is supported by the qualitative finding that individual-level social capital that contributes to poor quality of life in adolescents includes the unfulfilled sense of security from the eruption of Mount Sinabung in adolescents who are not relocated and adolescents need a sense of protection from crime; unpleasant experiences while living in temporary refugee camps; lack of familiarity with fellow community members since living in relocation; low participation of adolescents in organizations due to low transportation accessibility; and obligations that become a burden for adolescents, especially adolescents who are not relocated. Although community social capital is not a risk factor for adolescents' health quality of life, it qualitatively plays a role in adolescents' health quality of life, such as adolescents' parents utilizing membership in economic organizations for adolescents' education expenses and the use of public spaces such as sports fields and jambur by adolescents in government relocations that provide opportunities for adolescents to interact socially with their peers and the surrounding community. Based on this study's findings, local governments should be able to utilize and strengthen social capital at both the individual and community levels to improve the quality of life of disaster-affected adolescent health by considering the type of relocation and age group.
Read More
D-556
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heru Laksono; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-3539
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chalida Zia Firdausi; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Mondasri Korib Sudaryo, Erlina Burhan
S-8593
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tika Dwi Tama; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Ani Isnawati
S-7006
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoli Farradika; Pembimbing; Syahrizal Syarif; Penguji: Mondasrti Korib Sudaryo, Hartiti, Wira
S-6643
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Raharjo; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Sonny P. Warouw, Setyadi
Abstrak:

Latar Belakang: Erupsi gunung berapi di Yogyakarta, pada tahun 2010 memuntahkan debu vulkanik yang tersebar di udara terhirup ke dalam saluran pernafasan penduduk di sekitarnya sehingga menimbulkan gangguan fungsi faal paru. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan penggunaan masker dengan gangguan fungsi faal paru. Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di desa Sedayu, pada Maret 2011. Sebanyak 196 responden umur 21 – 50 tahun dipilih dengan rancangan sampel klaster 2 tahap. Pemilihan klaster pada tahap pertama dilakukan secara PPS (probability proportionate to size), berdasarkan dusun yang ada dan tahap kedua secara acak sederhana dengan unit elementer individu.  Dilakukan wawancara terstruktur dan pemeriksaan menggunakan spirometer. Hasil: Prevalensi gangguan fungsi faal paru pada populasi adalah 48,47%. Masker N-95 memberikan proteksi paling baik diantara semua jenis masker yang diteliti yaitu Prevalence Odd Ratio (POR) adjust = 0,101 (95% CI 0,011 – 0,930). Kesimpulan: Disarankan menggunakan masker N-95 untuk mengurangi gangguan fungsi faal paru akibat paparan debu vulkanik. Penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar perlu dilakukan. Kata kunci : debu vulkanik, masker, gangguan fungsi faal paru, Merapi


 

Background: volcano eruption in Yogyakarta, in 2010 spewed volcanic ash spread in the air inhaled into the respiratory tract in the surrounding population, giving rise to of respiratory physiological disorder. This research is to determine relationships mask use with respiratory physiological disorder. Methods: A cross-sectional study conducted in the village Sedayu, in March 2011. A total of 196 respondents aged 21-50 years selected with 2-stage cluster sample design. Selection of clusters in the first stage carried out by PPS (probability proportionate to size), based on the existing village and the second stage is simple random sampling with an elementary unit is the individual. Structured interview and examination using a spirometer. Results: The prevalence of respiratory physiological disorder in a population is 48.47%. N-95 masks provide the best protection among all types of masks studied were Prevalence Odd Ratio (POR) adjusted = 0.101 (95% CI 0.011 - 0.930).. Conclusion: It is recommended to use N-95 masks to reduce respiratory physiological disorder due to exposure to volcanic ash. Further research with larger sample size also be conducted. Keywords: volcanic ash, mask, respiratory physiological disorder, Merapi.

Read More
T-3471
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S-6998
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nessa Novarisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Gertrudis Tandy, Retno Henderiawati
Abstrak:
Setelah dicabutnya PPKM, terjadi peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat, yang dapat menyebabkan peningkatan kasus konfirmasi dan mortalitas COVID-19. Pemerintah telah melakukan vaksinasi COVID-19 untuk menurunkan mortalitas COVID-19 di Indonesia. DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, menyumbangkan 16-17% perekonomian nasional, memiliki cakupan dosis boosternya masih rendah (53,9%). Penelitian ini menilai pengaruh status, homogenitas dan jenis vaksin booster secara kohort retrospektif menggunakan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta 2023. Jumlah sampel 1069 partisipan dengan proporsi 17-45 tahun (44,62%), perempuan (56,03%), domisili DKI Jakarta (97,01%), tanpa komorbid (73,26%), mendapatkan booster (60,80%) booster heterolog (49,67%), luaran penelitian hidup (68,94%). Resiko kematian dipengaruhi oleh interaksi komorbiditas dengan status maupun jenis vaksin booster secara sinergisme. Proporsi kematian karena interaksi adalah 4,76%. Risiko kematian vaksin booster homolog 1,33 dibandingkan heterolog (0,83-2,13 p value 0,232). Pasien dengan komorbiditas dan tidak vaksin booster memiliki risiko kematian tertinggi ditinjau dari status vaksin booster (reference mendapat vaksin booster, RR 6,93 95% CI 5,07-9,48 dan p value = 0,000) maupun jenis vaksin booster (reference mendapat vaksin booster heterolog, RR 6,97 95% CI 4,98-9,76 dan p value = 0,000). Peneliti merekomendasikan pemberian vaksin booster, terutama heterolog booster, pada kelompok komorbid untuk mencegah kematian COVID-19.

After revocation of PPKM, socioeconomic activity increased, lead to escalation of confirmed cases and mortality COVID-19. The government conducted vaccination to reduce COVID-19 mortality in Indonesia. DKI Jakarta the nation's capital, contributing 16-17% of national economy, has only 53,9% booster dose coverage. This study assessed the influence of status, homogeneity and type of booster vaccine in retrospective cohort using DKI Jakarta Health Service 2023 data. The sample was 1069 with 17-45 years (44.62%), female (56.03%), domiciled in DKI Jakarta (97.01%), without comorbidities (73.26%), received booster (60.80%), heterologous booster (49.67%) and alive (68.94%). The mortality risk is influenced by interaction of comorbidities with status and type of booster vaccine synergistically. The proportion of deaths due to interactions was 4.76%. The mortality risk of homologous booster was 1.33 compared to heterologous (0.83-2.13 p value 0.232). Patients with comorbidities and no booster have the highest risk in terms of booster status (reference received booster, RR 6.93 95% CI 5.07-9.48 and p value = 0.000) and type (reference received vaccine heterologous booster, RR 6.97 95% CI 4.98-9.76 and p value = 0.000). Researchers recommend giving booster, especially heterologous, to comorbid groups to prevent COVID-19 deaths.
Read More
T-7031
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive