Ditemukan 23543 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Budi Setiawan; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Andrey Bayu Permana Susanto
S-6821
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jatmiko; Pembimbing: Sumengan Sutomo
S-3553
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ardhiantie; Pembimbing: Sumengen Sutomo; Sri Tjahjani Budi Utami, Romi Nova
S-4809
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deka Febrinora; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robriana Modjo, Dwi Wantoro
S-6341
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farida Khoirotin Novaisa; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Al Asyari ; Tirta Mazli Zulkarnain
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kebisingan serta hubungan karakteristik dan perilaku pekerja terhadap gangguan pendengaran pada pekerja. Pada penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 106 pekerja dan pengukuran titik kebisingan pada 30 titik yang tersebar pada area konstruksi.Berdasarkan pengukuran kebisingan yang dilakukan, rentang kebisingan pada lokasi konsrtruksi BUMN Center ialah 67.9-100.8 dBA dan kejadian gangguan pendengaran pada pekerja sebesar 44.3%.
Read More
S-10875
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hendi Imam Ramadhan; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Dewi Susanna, Bambang Aditya Nugraha Adiasputra
Abstrak:
Read More
Perkembangan perkotaan yang pesat menuntut penerapan prinsip keberlanjutan yang terukur dan terstandar. ISO 37120:2018 menyediakan kerangka pelaporan indikator kinerja kota berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan (readiness) Kota Depok dalam menerapkan standar pelaporan ISO 37120:2018 menggunakan metode gap analysis, dengan fokus pada indikator tematik kesehatan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari dokumen resmi Pemerintah Kota Depok dan instansi terkait. Penilaian kesiapan dilakukan dengan membandingkan kondisi eksisting indikator terhadap persyaratan ISO 37120:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapan keberlanjutan Kota Depok masih belum optimal, dengan nilai readiness sebesar 48,89%. Sebanyak 62,5% indikator utama tidak dapat dinilai akibat keterbatasan data dan pelaporan, sementara sebagian indikator lainnya masih berada di bawah standar internasional. Kesenjangan utama terletak pada lemahnya tata kelola pelaporan, ketiadaan regulasi pendukung, serta keterbatasan infrastruktur kesehatan lingkungan, khususnya pada pengelolaan limbah padat, air limbah, dan penyediaan air minum aman. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan regulasi, kelembagaan, dan infrastruktur sebagai prasyarat peningkatan keberlanjutan Kota Depok.
Rapid urban development necessitates the implementation of measurable and standardized sustainability principles. ISO 37120:2018 provides an international framework for reporting urban sustainability performance indicators. This study aims to assess the level of readiness of Depok City in implementing the ISO 37120:2018 reporting standard using a gap analysis approach, with a focus on environmental health thematic indicators. This research employs a descriptive quantitative approach utilizing secondary data obtained from official documents of the Depok City Government and related institutions. The readiness assessment was conducted by comparing existing indicator conditions with the requirements of ISO 37120:2018. The results indicate that the sustainability readiness of Depok City remains suboptimal, with an overall readiness score of 48.89%. A total of 62.5% of the core indicators could not be assessed due to limitations in data availability and reporting, while several other indicators remain below international benchmark standards. The most significant gaps were identified in weak reporting governance, the absence of supporting local regulations, and insufficient environmental health infrastructure, particularly in solid waste management, wastewater management, and the provision of safe drinking water. This study underscores the need for strengthened regulations, institutional capacity, and infrastructure development as essential prerequisites for enhancing the sustainability of Depok City.
S-12172
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gabriel Posenti Garrin Primaditya Dwianta; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Fatimah
Abstrak:
Read More
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) seringkali menghadapi tantangan dalam pengelolaan sanitasi lingkungan akibat kelebihan kapasitas (overcrowding), kondisi bangunan yang sudah tua, dan keterbatasan sumber daya. Lapas Kelas I Cipinang merupakan salah satu Lapas besar di Jakarta yang mengalami overcrowding dengan menampung 2.516 penghuni, melebihi kapasitas ideal 880 orang. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi lingkungan dan pelaksanaan manajemen sanitasi di Lapas Kelas I Cipinang pada tahun 2025, meliputi penyediaan air bersih, kondisi bangunan dan ruangan sel, pengelolaan sampah, penanganan limbah cair, dan penanganan vektor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Responden penelitian dipilih secara purposive sampling yang terdiri dari Kepala Seksi Perawatan Narapidana, Kepala Seksi Bimbingan Kerja, dan Kepala Subbagian Umum. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis konten. Informasi yang didapatkan adalah penyediaan air bersih masih mengandalkan air tanah dari sumur bor yang didistribusikan melalui toren-toren di setiap blok hunian, sementara air minum dipasok vendor eksternal. Kondisi bangunan menunjukkan tanda-tanda penuaan dengan seluruh tipe kamar mengalami overkapasitas. Pengelolaan sampah dilakukan secara sederhana dengan pemilahan terbatas pada sampah botol plastik dan kardus. Produksi sampah melebihi kuota pengangkutan enam ton per hari. Penanganan limbah cair menggunakan septic tank dan IPAL sederhana, dengan sebagian fasilitas tidak berfungsi optimal. Penanganan vektor dilakukan secara terbatas dengan metode fisik dan pembentukan tim jumantik. Meskipun upaya manajemen sanitasi telah dilakukan, Lapas Kelas I Cipinang masih menghadapi tantangan signifikan akibat overkapasitas, keterbatasan anggaran, infrastruktur yang sudah tua, dan kesadaran penghuni yang bervariasi terhadap kebersihan lingkungan. Diperlukan peningkatan kesadaran penghuni, kerja sama dengan instansi terkait, optimalisasi pengelolaan sampah, dan perbaikan infrastruktur untuk meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan di Lapas.
Correctional facilities often face challenges in managing environmental sanitation due to overcrowding, aging infrastructure, and limited resources. Cipinang Class I Correctional Institution is one of the major facilities in Jakarta experiencing severe overcrowding, housing 2,516 inmates despite having an ideal capacity of only 880. This condition potentially increases the risk of environment-based disease inside the corrective institution. This study aims to analyze the environmental conditions and implementation of sanitation management at Cipinang Class I Correctional Institution in 2025, encompassing clean water supply, building and cell conditions, waste management, wastewater treatment, and vector control. This research employed a qualitative approach with data collection techniques including in-depth interviews, direct observation, and documentation. Respondents were selected through purposive sampling, comprising the Head of Inmate Care Section, Head of Work Guidance Section, and Head of General Affairs Sub-section. Data analysis was conducted using content analysis technique. Informations obtained from the field are, clean water provision still relies on groundwater from bore wells distributed through storage tanks in each residential block, while drinking water is supplied by external vendors. Building conditions show signs of deterioration with all cell types experiencing overcapacity. Waste management is conducted simply with limited segregation of plastic bottles and cardboard. Waste production exceeds the daily collection quota of 6 tons. Wastewater treatment utilizes septic tanks and basic Wastewater Treatment Plants (WWTP), with some facilities not functioning optimally. Vector control is limited to physical methods and the establishment of mosquito monitoring teams. Despite sanitation management efforts, Cipinang Class I Correctional Institution continues to face significant challenges due to overcrowding, budget constraints, aging infrastructure, and varying levels of environmental hygiene awareness among inmates. Enhanced inmate awareness programs, collaboration with relevant agencies, optimization of waste management, and infrastructure improvements are necessary to improve environmental sanitation conditions in the facility.
Correctional facilities often face challenges in managing environmental sanitation due to overcrowding, aging infrastructure, and limited resources. Cipinang Class I Correctional Institution is one of the major facilities in Jakarta experiencing severe overcrowding, housing 2,516 inmates despite having an ideal capacity of only 880. This condition potentially increases the risk of environment-based disease inside the corrective institution. This study aims to analyze the environmental conditions and implementation of sanitation management at Cipinang Class I Correctional Institution in 2025, encompassing clean water supply, building and cell conditions, waste management, wastewater treatment, and vector control. This research employed a qualitative approach with data collection techniques including in-depth interviews, direct observation, and documentation. Respondents were selected through purposive sampling, comprising the Head of Inmate Care Section, Head of Work Guidance Section, and Head of General Affairs Sub-section. Data analysis was conducted using content analysis technique. Informations obtained from the field are, clean water provision still relies on groundwater from bore wells distributed through storage tanks in each residential block, while drinking water is supplied by external vendors. Building conditions show signs of deterioration with all cell types experiencing overcapacity. Waste management is conducted simply with limited segregation of plastic bottles and cardboard. Waste production exceeds the daily collection quota of 6 tons. Wastewater treatment utilizes septic tanks and basic Wastewater Treatment Plants (WWTP), with some facilities not functioning optimally. Vector control is limited to physical methods and the establishment of mosquito monitoring teams. Despite sanitation management efforts, Cipinang Class I Correctional Institution continues to face significant challenges due to overcrowding, budget constraints, aging infrastructure, and varying levels of environmental hygiene awareness among inmates. Enhanced inmate awareness programs, collaboration with relevant agencies, optimization of waste management, and infrastructure improvements are necessary to improve environmental sanitation conditions in the facility.
S-12117
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meliana Sari; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Abdul Rahman, Mujoko
S-6169
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adla Azizah; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Fitri Kurniasari, Widya Motivasi Manurung
Abstrak:
Read More
Industri farmasi merupakan sektor dengan risiko tinggi terhadap kualitas udara pada lingkungan kerjanya, yang dapat berdampak pada kesehatan pekerja dan mutu produk. Manajemen risiko kualitas udara yang efektif penting untuk mencegah pajanan bahaya fisik, kimia, dan biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi proses manajemen risiko kualitas udara di lingkungan kerja produksi dan laboratorium PT. X di Jakarta Timur berdasarkan pendekatan ISO 31000:2018. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan diskusi, sedangkan data sekunder diperoleh dari telaah dokumen perusahaan. Penilaian dilakukan terhadap parameter fisik (suhu, kelembapan, pencahayaan, kebisingan, dan debu), biologis (jamur dan bakteri), serta kimia (etanol). Ditemukan beberapa ketidaksesuaian kualitas udara dengan standar perusahaan dan regulasi nasional. Proses manajemen risiko sudah dilakukan tetapi belum optimal dalam hal pencatatan, pelaporan, serta pemantauan dan peninjauan berkala. Implementasi manajemen risiko kualitas udara di PT. X perlu ditingkatkan terutama pada aspek dokumentasi, keterlibatan pekerja, serta integrasi sistem dalam budaya organisasi guna meningkatkan kualitas udara dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.
The pharmaceutical industry is a high-risk sector regarding indoor air quality, which may affect both worker health and product integrity. Effective air quality risk management is essential to prevent exposure to physical, chemical, and biological hazards. This study aims to evaluate the implementation of air quality risk management processes in the production and laboratory work environments of PT. X in East Jakarta based on the ISO 31000:2018 framework. This research used a descriptive design with a qualitative approach. Primary data were collected through field observations and discussion, while secondary data were obtained from company document reviews. The assessment focused on physical (temperature, humidity, lighting, noise, dust), biological (fungi and bacteria), and chemical (ethanol) parameters. Several non-compliances with national and company air quality standards were identified. Although risk management processes were in place, they were found to be suboptimal, particularly in terms of documentation, reporting, and periodic monitoring and review. The air quality risk management implementation at PT. X requires improvements, especially in documentation practices, worker involvement, and system integration into organizational culture to enhance air quality and ensure a safe and healthy work environment.
S-11961
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachmadhi Purwana
628 PUR m
Jakarta : Rajawali Pers, 2013
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
