Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20744 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
CDK Vol.37, No.2 (2010)
Jakarta : Kalbe Farma, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Indrawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Triyunis Miko Wahyono, Zulmely
Abstrak:
Perilaku seks berisiko merupakan media penularan HIV yang utama dikalangan populasi kunci seperti populasi waria. Faktor risiko kejadian HIV positif pada perilaku seks waria adalah lama melakukan seks anal, konsistensi penggunaan kondom, jumlah pasangan seks, menjual seks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku seks berisiko tersebut dengan kejadian HIV positif. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data sekunder Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2018-2019 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan jumlah responden waria sebanyak 3116. STBP tersebut menggunakan Time Location Sampling (TLS) dan Simple Random Sampling (SRS) sebagai metode sampling responden waria. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan total sampling dari populasi eligible. Informasi terkait perilaku sek berisiko diperoleh melalui interview yang menggunakan kuesioner terstandar dan status HIV diperoleh melalui pemeriksaan serologis meggunakan rapid test. Metode analisis yang digunakan adalah chi-square dan cox regression model. Penelitian menemukan bahwa waria yang memiliki perilaku seks berisiko tinggi berpeluang terinfeksi HIV sebesar 1,45 kali (PR adjusted = 1,45; CI 95% 1,16-1,81) dibandingkan dengan waria yang memiliki perilaku seks berisiko rendah.

The most important risk factor as a primary driver of HIV infection in transgender population is risky sex behavior such as duration of anal sex, consistency of condom use, number of partner sex and selling sex. This study was aimed to investigate association between risky sex behavior and HIV among transgender population in Indonesia 2018-2019. This study was done as secondary data analysis from a national cross-sectional study, namely the Intergrated Biological and Behavior Survey (IBBS) 2018-2019, done by the Ministry of Health of Republic of Indonesia. In this IBBS, Time Location Sampling (TLS) dan Simple Random Sampling (SRS) were used. All of eligible population were to be study participants of this study. Risky sex behaviors was assessed through guided interview, while HIV infection was determined by series of rapid serologic test. Association, between risky sex behavior and HIV, using PR (prevalent ratio), was analyzed using chi-square test and cox regression model. This study found that transgenders with high risk sex behavior were 1.45 times more likely (95% CI 1,16-1,81) to get HIV infection as compared to transgenders with low risk sex behavior.

Read More
T-5848
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridwan Meidiansyah; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Atmiroseva
Abstrak:
Kanker hati adalah kondisi ketika sel-sel dalam hati tumbuh di luar kendali. Pada tahun 2020, kanker hati menempati urutan keempat kanker dengan jumlah kasus baru dan kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia. Faktor risiko utama kejadian kanker hati adalah penyakit hati kronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko penyakit hati berkembang menjadi kanker hati pada peserta dengan dan tanpa penyakit hati di Indonesia tahun 2019-2021. Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2019-2021 dengan desain kohort retrospektif dan didapatkan jumlah sampel 824.592 terbobot. Analisis menggunakan uji Cox Proportional Hazard. Hasil penelitian menunjukan bahwa peserta dengan penyakit hati memiliki cumulative event probability dan risiko kanker hati yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta yang tidak memiliki penyakit hati (CEP 1,61%; 95% CI 0,08% – 3,14%; AHR 98,5; 95% CI 40,6 – 239,4). Berdasarkan jenis dan jumlah penyakit hatinya, peserta dengan hepatitis kronis (AHR 153,9; 95% CI 32,3 – 690,7) dan menderita lebih dari 2 jenis penyakit hati (AHR 140,1; 95% CI 18,5 – 1061,7) memiliki risiko kanker hati paling tinggi dibandingkan kategori lainnya. Hasil studi menyimpulkan bahwa penderita penyakit hati, terutama hepatitis kronis, memiliki risiko sangat tinggi mengalami kanker hati. Untuk itu, perlu surveilans kanker hati secara nasional pada kelompok penduduk tersebut guna mencegah penyakit hati berkembang menjadi kanker hati.

Liver cancer is a condition where cells in the liver grow out of control. In 2020, liver cancer ranked as the fourth cancer with the highest number of new cases and cancer deaths in Indonesia. The main risk factor for liver cancer is chronic liver disease. The purpose of this study was to determine the risk of liver disease developing into liver cancer among participants with and without liver disease in Indonesia from 2019-2021. This study used BPJS Health Sample Data for 2019-2021 with a retrospective cohort design and obtained a weighted sample size of 824,592 participants. The analysis was conducted using the Cox Proportional Hazard test. The results showed that participants with liver disease had a higher cumulative event probability and liver cancer risk compared to participants without liver disease (CEP 1.61%; 95% CI 0.08% - 3.14%; AHR 98.5; 95% CI 40.6 - 239.4). Based on the type and number of liver diseases, participants with chronic hepatitis (AHR 153.9; 95% CI 32.3 - 690.7) and more than 2 types of liver disease (AHR 140.1; 95% CI 18.5 - 1061.7) had the highest risk of liver cancer compared to other categories. The study concluded that people with liver disease, especially chronic hepatitis, have a very high risk of developing liver cancer. Therefore, there is a need for national liver cancer surveillance in this population group to prevent liver disease from developing into liver cancer.
Read More
S-11377
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggia Erma Rini; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Syahrizal Syarif, Joedo Prihartono, Husein Hasbyi
T-4047
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ery Setiawan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Kurnia Sari, Maya Trisiswati
Abstrak: Peningkatan signifikan pada tren insiden penyakit HIV dan AIDS baik dalam tingkat global maupun Indonesia saat ini terjadi pada kelompok Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). Hal ini dapat menjadi suatu isu kritis ketika Kelompok LSL dapat menjadi jembatan transmisi baru melalui hubungan heteroseksual dan transmisi perinatal dari ibu ke anak. Kondisi ini disebabkan oleh karakteristik sebagian besar LSL yang juga melakukan hubungan seksual dengan lain jenis (wanita) atau bahkan telah mempunyai istri secara legal (biseksual). Berbagai program dan pendekatan telah banyak dilakukan oleh pemerintah maupun LSM, namun demikian hal tersebut masih belum dapat diikuti oleh penurunan yang signifikan terhadap prevalensi HIV dan AIDS khususnya pada kelompok populasi Kunci LSL. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini ditujukan untuk melakukan penilaian tentang keberlangsungan program LSL ke depan dengan ditinjau dari sisi manajemen program melalui metode penelitian kualitatif dengan unit analisis pada program. Hasil wawancara mendalam menjelaskan bahwa secara praktik, manajemen pelaksanaan yang dilakukan sudah cukup baik atau sesuai dengan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan, namun demikian apabila ditinjau dari sisi sustainibilitas program ke depan terdapat beberapa fokus perhatian seperti sustainibilitas pembiayaan, ketepatan estimasi target, dan kebijakan khusus penanggulangan LSL.
 

 
The significant increase in the incidence trends of HIV and AIDS in both the global level and Indonesia is currently happening in the group Men who have sex with men (MSM). This would be a critical issue when the MSM group can be a new bridge heterosexual transmission and perinatal transmission from mother to child. This condition is caused by the characteristics of most of the MSM who also have sex with another type (female) or even have had a legal wife (bisexual). Various programs and approaches have been carried out by governments and NGOs, however, it still can not be followed by a significant decrease in the prevalence of HIV and AIDS, especially in the MSM population group keys. In connection with this, this study aimed to assess the sustainability of the MSM program forward with a review of the management of the program via qualitative research methods in program analysis unit. The results of in-depth interviews explained that in practice, the implementation of the management done well enough or in accordance with the guidelines that have been set, but Accordingly to sustainability context there are several focus attention such as sustainability financing, the accuracy of estimates of the target, and specific policy for MSM prevention.
Read More
S-8483
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Aprilicia; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati Adnan, Juferdy Kurniawan, Kemal Fariz Kalista
Abstrak: Latar Belakang. COVID-19 mempunyai manifestasi klinis utama di saluran pernapasan. Selain pernapasan, manifestasi COVID-19 juga ditemukan di hati. Gangguan fungsi hati pada pasien COVID-19 ditandai dengan peningkatan enzim alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), dan bilirubin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan gangguan fungsi hati terhadap kesintasan pasien COVID-19 di RS Cipto Mangunkusumo. Metode. Desain penelitian ini kohort retrospektif. Populasi adalah pasien rawat inap dewasa dengan konfirmasi COVID-19 periode Oktober 2020 hingga Januari 2021. Analisis survival dengan Kaplan Meier digunakan untuk mengetahui kesintasan. Analisis Regresi Cox Extended digunakan untuk mengetahui hubungan kausal gangguan fungsi hati terhadap kesintasan pasien COVID-19 Kesimpulan. Adanya gangguan fungsi hati pada 14 hari masa awal pengamatan berkontribusi terhadap kesintasan pasien COVID-19.
Read More
T-6240
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Felix Riryanto Widjaja, Teguh Karjadi
JInMA-Vol.61/No.10
Jakarta : IDI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdelrahman M S Alnweiri; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Hadianti Adlani
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi pada fungsi hati yang sering dijumpai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara peningkatan enzim transaminase hati hati (SGOT/SGPT) dan lama hari rawat inap (LOS) pada pasien dewasa DBD di RS Ummi Bogor selama periode Januari 2021–Desember 2023. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik kasus-kontrol berdasarkan data rekam medis. Variabel utama meliputi status peningkatan kadar SGOT/SGPT, lama rawat inap, komorbiditas, dan penggunaan obat hepatoprotektor. Analisis statistik mencakup uji Chi-square bivariat dan regresi logistik multivariat. Dari 786 pasien DBD, 329 (41,9%) mengalami peningkatan enzim transaminase hati hati. Rata-rata lama rawat inap pada pasien dengan peningkatan enzim transaminase hati hati adalah sekitar 5 hari, sedangkan kelompok tanpa peningkatan sekitar 4 hari (p < 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa peningkatan enzim transaminase hati hati secara mandiri berhubungan signifikan dengan lama rawat inap lebih lama (adjusted odds ratio 1,42; 95% CI 1,05–1,94). Komorbiditas dan tidak menerima terapi hepatoprotektor juga terbukti berhubungan signifikan dengan perpanjangan lama rawat inap. Temuan ini mengindikasikan bahwa gangguan fungsi hati pada pasien DBD berkaitan dengan masa rawat inap yang lebih panjang. Diharapkan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan hati sejak awal dapat meningkatkan hasil perawatan pasien.

Dengue fever remains a significant public health problem in Indonesia, and hepatic complications are frequently observed. This study aimed to analyze the relationship between elevated liver enzymes (SGOT/SGPT) and length of hospital stay (LOS) in adult dengue patients at UMMI Bogor Hospital from January 2021 to December 2023. We conducted a retrospective case-control study using medical records. The main variables included elevated SGOT/SGPT levels, length of stay, comorbidities, and hepatoprotective therapy. Statistical analysis involved bivariate Chi-square tests and multivariate logistic regression. Of the 786 dengue patients, 329 (41.9%) had elevated liver enzymes. The mean LOS was about 5 days for patients with elevated enzymes, compared to about 4 days for those without elevation (p < 0.05). Multivariate analysis showed that elevated liver enzymes remained independently associated with longer hospital stays (adjusted OR 1.42; 95% CI 1.05–1.94). In addition, comorbidities and lack of hepatoprotective therapy were also significantly associated with longer LOS. These findings suggest that liver involvement in dengue is linked to extended hospital stays. Early detection and management of hepatic dysfunction upon admission may improve patient outcomes.
Read More
T-7462
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Hudoyo ... [et al.]
JTI Vol.4, No.2
Jakarta : Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive