Ditemukan 27478 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maj. Kedokt Indon. Vol.60, No.11, Nov. 2010, hal. 521-525
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bagya Mujianto ... [et al.]
BPK Vol.33, No.4
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Neneng Bisyaroh; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahyani Budi Utami, Ikeu Tanziha, Abu Amar
Abstrak:
Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap tubuhtergantung konsentrasi yang dicapai. Karena kadar tertinggi dicapai pada waktudiekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkandengan organ lain. Dosis fatal boraks antara 0,1-0,5 g/kg berat badan. Banyaklaporan kasus mengenai bahaya keracunan boraks. Insidens keracunan terjadidimana saja diakibatkan menelan pangan yang tidak aman. Boraks harus dicegahkarena kandungan toksitasnya. Penjelasan dan kesadaran tentang bahaya borakssangat diperlukan karena sangat mudahnya konsumen terpapar boraks melaluimakanan.Tujuan utama penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi perilaku penggunaan boraks pada pedagang bakso di KotaTangerang Selatan Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain case controldengan jumlah sampel sebanyak 150 penjual yang memproduksi bakso sendiri.Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2016.Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antarafaktor predipsosisi dengan perilaku penggunaan boraks, yaitu P value pelatihansebesar 0,960, P value pengetahuan = 0.539, dan P value sikap = 0.464. Faktorpenguat yang berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks adalahpembinaan, P= karena nilai P= 0.045, Odd Ratio (OR) = 2.528 (95% CI : 1.091-5.858). Hal ini menunjukkan bahwa responden yang mendapatkan pembinaan,2.528 kali lebih untuk tidak menggunakan boraks dibandingkan denganresponden yang tidak mendapatkan pembinaan. Dari hasil analisis multivariatsecara keseluruhan, maka penggunaan boraks pada responden dapat diperkirakandengan ketersediaan boraks dan pembinaan. Pembinaan akan menurunkanpenggunaan boraks sebesar 2.198.Saran yang dapat diberikan yaitu, perlu dilakukan peningkatan pembinaandan pemerintah mengawasi lebih ketat peredaran bahan makanan terlarangterutama boraks.Kata kunci : boraks, perilaku, pedagang, bakso.
Borax is toxic to all cells. The effect on the body depends on theconcentration achieved. Because the highest levels achieved on time excreted thekidney is the organ most affected compared to other organs. Borax fatal dose ofbetween 0.1-0.5 g / kg body weight. Many case reports of poisoning hazard borax.The incidence of poisoning occur anywhere due to swallowing food insecure.Borax must be prevented because the content of toxcity. Explanation andawareness about the dangers of borax is indispensable because it is so easyconsumer exposure through food contain borax.The main purpose of research is to determine the factors that affect thebehavior of the use of borax from meatballs traders in South Tangerang City Year2016. This study used a case control design with a sample size of 150 sellers whoproduce their own meatballs. This study was conducted in April-June, 2016.The results of this study showed no statistically significant associationbetween the use of behavioral factors predipose with borax, namely the trainingvariable has P value = 0,960, P value of knowledge = 0539, and P value ofattitudes = 0.464. Reinforcing factors relating to the behavior of the use of boraxis coaching, P value = 0.045, odds ratio (OR) = 2,528 (95% CI: 1091-5858). Thisindicates that respondents who receive coaching, 2,528 times more for not usingborax compared with respondents who did not receive coaching. Multivariateanalysis as a whole, then the use of borax in the respondent can be predicted bythe availability of borax and coaching. Coaching will reduce the use of borax by2.198. Advice can be given that, there should be an increase in guidance andtougher of government to monitor illicit circulation of foodstuffs especially borax.Keywords: borax, behavior, meatballs, traadders.
Read More
Borax is toxic to all cells. The effect on the body depends on theconcentration achieved. Because the highest levels achieved on time excreted thekidney is the organ most affected compared to other organs. Borax fatal dose ofbetween 0.1-0.5 g / kg body weight. Many case reports of poisoning hazard borax.The incidence of poisoning occur anywhere due to swallowing food insecure.Borax must be prevented because the content of toxcity. Explanation andawareness about the dangers of borax is indispensable because it is so easyconsumer exposure through food contain borax.The main purpose of research is to determine the factors that affect thebehavior of the use of borax from meatballs traders in South Tangerang City Year2016. This study used a case control design with a sample size of 150 sellers whoproduce their own meatballs. This study was conducted in April-June, 2016.The results of this study showed no statistically significant associationbetween the use of behavioral factors predipose with borax, namely the trainingvariable has P value = 0,960, P value of knowledge = 0539, and P value ofattitudes = 0.464. Reinforcing factors relating to the behavior of the use of boraxis coaching, P value = 0.045, odds ratio (OR) = 2,528 (95% CI: 1091-5858). Thisindicates that respondents who receive coaching, 2,528 times more for not usingborax compared with respondents who did not receive coaching. Multivariateanalysis as a whole, then the use of borax in the respondent can be predicted bythe availability of borax and coaching. Coaching will reduce the use of borax by2.198. Advice can be given that, there should be an increase in guidance andtougher of government to monitor illicit circulation of foodstuffs especially borax.Keywords: borax, behavior, meatballs, traadders.
T-4665
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bagya Mujianto; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral
Abstrak:
Read More
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/Menkes/IX 1988, Asam Borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan temyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk sehingga menjadi lebih kenyal dan lebih disukai konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks pada bakso oleh pedagang. Tempat penelitian di Kecamatan Pondok Gede-Bekasi tahun 2003. Populasi pada studi Cross Sectional ini adalah seluruh pedagang bakso yang menetap dan seluruh pedagang bakso yang keliling di area komplek perumahan di wilayah penelitian. Kriteria inklusi sampel adalah pedagang yang membuat bakso sendiri dengan jenis bakso adalah bakso daging sapi. Variabel yang diamati adalah perilaku penggunaan boraks, umur, tingkat pendidikan, pengetahuan tentang bahan tambahan makanan, sikap terhadap penggunaan boraks, lama berdagang, besar modal, pemberian pembinaan dan pemberian pengawasan. Responden yang diamati berjumlah 175 orang terdiri dari 100 orang pedagang menetap dan 75 orang pedagang keliling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa proporsi penggunaan boraks pada pedagang menetap sebesar 38% (CI 90%: 28,49-45,97) dan pada pedagang keliling sebesar 28% (CI 90%: 17,77-38,23) telah diuji secara statistik kedua proporsi tersebut tidak berbeda. Setelah dilakukan analisis Regresi Logistik Ganda pada α=0,1 dari 8 variabel yang diduga berhubungan dengan penggunaan boraks, ditemukan pada pedagang menetap hanya 3 variabel yang berpengaruh yaitu sikap responden terhadap penggunaan boraks, lama dagang dan pemberian pembinaan. Sedangkan pada pedagang keliling variabel penentu tersebut adalah umur responden dan pemberian pembinaan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks pada penelitian ini adalah faktor penguat, yaitu pemberian pembinaan, baik untuk pedagang menetap maupun pada pedagang keliling. Pada pedagang menetap diperoleh nilai OR=2,433 (CI:90% 1,108-5,342) yang artinya pedagang yang tidak diberi pembinaan cenderung menggunakan boraks sebesar 2,43 kali dibandingkan dengan pedagang yang telah diberi pembinaan. Pada pedagang keliling diperoleh nilai OR=5,420 (CI:90% 1,529-19,216) yang artinya pedagang yang tidak diberi pembinaan cenderung menggunakan boraks sebesar 5,42 kali dibandingkan dengan pedagang yang telah diberi pembinaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyarankan kepada kalangan Akademis dan Peneliti perlunya dilakukan penelitian sejenis dengan sampel yang lebih komprehensif tidak sebatas pada perilaku penggunaan boraks tetapi lebih luas keperilaku penggunaan bahan tambahan makanan lainnya yang jelas dilarang oleh pemerintah tetapi masih banyak digunakan oleh masyarakat dan dicarikan zat pengganti selain boraks yang tidak merugikan konsumen dari segi kesehatan, mudah didapat dengan harga yang terjangkau oleh pedagang kecil/jajanan. Kepada instansi terkait perlu diintensifkan upaya pembinaan dan pengawasan terhadap pedagang jajanan. Kepada masyarakat diharapkan waspada tentang masih banyak bakso yang beredar menggunakan boraks. Dimohon para pedagang tidak menggunakan boraks. Daftar bacaan : 55 (1978-2003)
Based on Health Ministry of Republic of Indonesia regulation No722/Menkes/IX/1988, Borat Acid and its compound is one of food additives that prohibited in food product, because borax acid and its compound is carcinogenic. Although it is hazardous to human health, its usage still remain high rate by community as added material in food as preservative, also to enhance texture of bakso (meatball) and kerupuk so more elastic and enjoyable to consumer. This study objective is to find out factors that related to borax usage behavior on bakso by seller. This study conducted in Sub District of Pondok Gede, Bekasi year of 2003. Population in this cross sectional study is all bakso sellers in housing area of study area. Inclusion criteria are seller who makes bakso on they own and kind of bakso is bakso from beef meat. Observed variables are borax usage behavior, age, education level, knowledge of food additives, attitude to borax usage, selling experience, capital, given education, and monitoring. Respondents observed are 175 sellers; consist of 100 staying sellers and 75 moving sellers. Results of this study showed that proportion of borax usage in staying sellers is 38% (CI 90%:28,49-45,97) and moving sellers is 28% (CI 90%:17,77-38,23) statistically these proportions not different. After analyzed by multi logistic regression at aA),l from eight variables that suspected related to borax usage, in staying sellers only three variables that influencing, these are; sellers attitude to borax usage, selling experience, and given education. While in moving sellers influencing variables are age and given education. The most dominant factors which related to behavior of borax usage in this study is strengthened factor, that are good education that given to all sellers. In staying sellers OR value is 2,433 (CI:90% 1,108-5,342) which mean seller who never received education tend to use borax 2,43 times compare to those who has received education. In moving sellers OR value is 5,420 (C1:90% 1,529-19,216) which mean sellers who never received education tend to use borax 5,42 times than those who has received education. Based on these results, this study recommends to academia and researcher to conduct similar study with more comprehensive sample, not limited to borax use but wider to other food additives that prohibit for consumption and still being used by community then find the alternatives that easy to seek and inexpensive. It needs educational and monitoring to all street food sellers and to community to be careful in consumption bakso, because there is a lot of bakso still added with borax. Bibliography: 55 (1978-2003)
T-1710
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fany Saymona Fauzi; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Sukanda
Abstrak:
Berdasarkan pengujian parameter boraks dan formalin yang dilakukan BadanPengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2011 terhadap Pangan JajananAnak Sekolah (PJAS), terdapat 94 (2,93%) yang mengandung boraks dan 43(1,34%) mengandung formalin. Kantin yang berada di lingkungan kampusmemiliki potensi besar untuk melakukan praktik kecurangan penggunaan bahantambahan pangan. Menggunakan desain penelitian cross sectional dan pengujiansecara kualitatif di laboratorium. Pemeriksaan kandungan bahan kimia padamakanan, peneliti melakukan pemeriksaan di Laboratorium Kimia Fakultas MIPAUniversitas Indonesia. Berdasarkan hasil pemeriksaan uji laboratorium boraks danformalin pada makanan sebanyak 77 sampel di dapatkan hasil 3 sampel makananpositif mengandung bahan kimia boraks dan 69 sampel makanan yang positifmengandung bahan kimia formalin. responden dengan tingkat pengetahuankurang (≤ 55%) dengan makanan yang positif mengandung bahan kimia formalinadalah sebanyak 60 (93,8%) dan negatif formalin hanya sebanyak 4 (6,3%).Sedangkan pada tingkat pengetahuan baik (>55%) di dapatkan hasil positifmakanan yang mengandung formalin sebanyak 9 (69,2%) dan negatif formalinadalah 4 (30,8%). Dilihat berdasarkan p-value = 0,024, OR =6,667 dan CI 95% =1,411-31,502 yang menunjukkan tingkat pengetahuan kurang tersebut memilikihubungan yang sognifikan terhadap adanya kandungan bahan kimia formalin didalam makanan yang dijual oleh responden.
Kata kunci: Bahan Tambahan Pangan, Boraks, Formalin.
Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) performed a series of experimentson borax and formaldehyde on School Food Snack (PJAS) in 2011. There were 94(2.93%) of foods containing borax and 43 (1.34%) of foods containingformaldehyde. The canteen has a great potential of fraudulent practices in usingfood additives. Using cross sectional research design and qualitative testing inidentifying chemical substances in foods, researchers conducted a laboratoriumresearch at the Chemistry Laboratory in Faculty of Mathematics and NaturalSciences, University of Indonesia. The results obtained from laboratoryexaminations found that among 77 samples, there were 3 food-samples containborax chemicals and 69 food-samples contain formaldehyde chemicals.Respondents with low level of knowledge (≤ 55%) are likely to be related withformaldehyde chemicals 60 (93.8%) while only 4 (6.3%) respondents arenegatively correlated with formaldehyde. In addition, among the respondents withhigh level of knowledge (> 55%), 9 (69,2%) of them is found to have food withformaldehyde and only 4 respondents are negative (30,8%). Based on p-value =0,024, OR = 6,667 and 95% CI = 1,411-31,502, this research indicates that thelevel of knowledge has a cognitive relationship to the presence of formalinechemicals in sale of foods.Keywords: Food Additives, Borax, Formalin.
Read More
Kata kunci: Bahan Tambahan Pangan, Boraks, Formalin.
Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) performed a series of experimentson borax and formaldehyde on School Food Snack (PJAS) in 2011. There were 94(2.93%) of foods containing borax and 43 (1.34%) of foods containingformaldehyde. The canteen has a great potential of fraudulent practices in usingfood additives. Using cross sectional research design and qualitative testing inidentifying chemical substances in foods, researchers conducted a laboratoriumresearch at the Chemistry Laboratory in Faculty of Mathematics and NaturalSciences, University of Indonesia. The results obtained from laboratoryexaminations found that among 77 samples, there were 3 food-samples containborax chemicals and 69 food-samples contain formaldehyde chemicals.Respondents with low level of knowledge (≤ 55%) are likely to be related withformaldehyde chemicals 60 (93.8%) while only 4 (6.3%) respondents arenegatively correlated with formaldehyde. In addition, among the respondents withhigh level of knowledge (> 55%), 9 (69,2%) of them is found to have food withformaldehyde and only 4 respondents are negative (30,8%). Based on p-value =0,024, OR = 6,667 and 95% CI = 1,411-31,502, this research indicates that thelevel of knowledge has a cognitive relationship to the presence of formalinechemicals in sale of foods.Keywords: Food Additives, Borax, Formalin.
S-9506
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Masroel Siregar; Pembimbing: Does Sampoerno, Sudarto Ronoatmodjo
A-103
Jakarta : FKM UI, 1978
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Harjanto
MJKI No.3
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Evy Misrawaty Purba; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Rina F. Bahar
S-6567
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erni Rahmawati; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Bambang Wispriyono, Diah Mulyawati Utari, Yanti Kamayanti Latifa, Lia Amalia
Abstrak:
Keamanan pangan merupakan elemen penting dalam upaya meningkatkan kesehatan. Halal adalah bagian dari keamanan pangan bagi umat muslim. Oleh karena itu perlu pemilihan produk pangan yang halal, disamping bebas dari cemaran. Bakso sapi merupakan salah satu produk yang berisiko tinggi, ditinjau dari aspek kualitas bahan maupun kehalalan. Perilaku konsumen dalam pemilihan produk pangan dapat mempengaruhi kesehatan, karena konsumen merupakan penentu produk pangan yang akan dikonsumsi. Ibu memiliki peran penting produk pangan yang dikonsumsi oleh anggota keluarga. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu muslim dalam membeli bakso sapi yang halal dan thoyyib di Jakarta dan Depok tahun 2017. Desain penelitian menggunakan cross sectional, dengan wawancara kepada 396 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, pengetahuan, sikap, harga, letak produk, dan atribut produk berhubungan signifikan dengan perilaku membeli produk bakso sapi yang halal dan thoyyib di Jakarta. Sementara di Depok, atribut produk dan sikap berhubungan signifikan dengan perilaku. Hasil analisis multivariat untuk Jakarta dan Depok menunjukkan bahwa atribut produk merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku. Peningkatan sosialisasi pangan aman dan halal, pemberdayaan tokoh agama, pemberdayaan peran ibu sebagai agen of change, serta pembinaan ke produsen, pedagang, dan petugas pasar diperlukan untuk meningkatkan praktik membeli bakso sapi yang halal dan thoyyib. Kata kunci : perilaku pembelian, ibu muslim, bakso sapi, halal, thoyyib Food safety is an important element in efforts to improve health. Halal is part of product safety for moslems. Therefore it is necessary to choose a halal food product, beside free from contamination. Beef meatballs is one of high risk products, in terms of quality of material and halal aspects. Selection of food products can affect health, because consumers are being a determinant of food products to be consumed. Mothers have an important role of food products consumed by family. This study aims to analysed factors associated with behaviour of moslem mothers in buying halal and thoyyib beef meatballs in Jakarta and Depok in 2017. The study design used cross sectional, with interview to 396 respondents. The results showed that education, knowledge, attitudes, price, product location, and product attribute are associated with the behaviour in buying halal and thoyyib beef meatball in Jakarta. While in Depok, product attribute and attitude are associated with that behaviour. Multivariate analysis of Jakarta and Depok showed that product attribute is a dominant factor associated with that behaviour. Increased safe and halal food socialization, empowerment of religious leaders, empowerment of mother role as agent of change, as well as guidance to producers, traders, and market officers are needed to improve practice of buying halal and thoyyib beef meatballs. Keywords : consumer behavior, moslem mother, beef meatballs, halal, thoyyib
Read More
T-4994
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aman Nasution
LP 614.47 NAS l
Medan : FK USU, 1988
Laporan Penelitian Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
