Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12978 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
CB: A 1090
[s.l.] : Jakarta: Depkes; 2004, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan
070.595 IND p
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2007
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.17, No.3, Juli, 2014 : hal. 285-296. ( ket. ada di bendel 2013 - 2014 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andy Leny Susyanty, Sudibyo Supardi, Max Joseph Herman, Heny Lestary
BPSK Vol.17, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.11, No.1, Jan. 2008: hal. 19-32, (cat. ada di bendel 2008-2009)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul.Pen. Sistem Kes. (Bulitsiskes), Vol.14, No.1, Jan. 2011, hal: 49-58
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiawan; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Jaslis Ilyas, Ede Surya Darmawan, Syahrul Aminullah, Bermansyah
Abstrak:

Pembangunan kesehatan adalah proses yang terus menerus dan progresif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan di berlakukannya Amandemen I - IV UU Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, tujuan negara sudah semakin jelas di mana secara eksplisit menempatkan kesehatan sebagai bagian dari kesejahteraan rakyat yang. harus tersedia merata. Konsekwensinya daerah-daerah harus mengalokasikan pendanaan.. yang lebih besar terhadap sektor kesehatan. Pendanaan kesehatan merupakan kunci utama dalam suatu sistem kesehatan di berbagai negara. Penelitian Oleh WHO di Indonesia yang selama bertahun-tahun prihatin bahwa masalah kesehatan di Indonesia mengalami kemandegan akibat pendanaan, sebagai salah satu masukan (input) yang penting kurang mendapat perhatian. Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi dengan jumlah anggaran kesehatan yang masih rendah di tambah lagi dengan belum teratasinya beberapa masalah kesehatan, penting dilakukan analisis pembiayaan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang peta pembiayaan kesehatan bersumber pemerintah di Dinas kesehatan Kabupaten Muaro Jambi tahun 2006. Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan desain deskriptif operasional di bidang analisis pembiayaan kesehatan Masyarakat yang bersumber dari pemerintah di Dinas Kesehatan, Puskesmas dan Gudang Farmasi dalam wilayah Kabupaten Muaro Jambi, Penelitian ini adalah telaah dokumen Dalam DASK yang di kelompokan menurut, sumber, provider, Fungsi biaya, program Prioritas dan realiasasi angearan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa total anggaran untuk pembiayaan kesehatan masyarakat bersumber pemerintah sebesar Rp 21,052,017,064,- dan nilai per kapita adalah Rp 71,104,11,- per tahun, yang bersumber dari APBD Kabupaten Rp 13,448,602,038 (65 %), Pinjaman Luar Negeri/Bantuan Luar Negeri PLN/BLN adalah sebesar Rp 4,300,000,000,- (21%) dan APBN sebesar Rp 3,015,000,000,(15 %). Dari 7 Provider, Bagian Tata Usaha mendapat porst terbesar Rp 7,013,652,601,- (34%) sedangkan terkecil alokasi biaya Bidang Pelayanan Kesehatan dasar Rp 919,380,000,- (4%). Pengelompokan menurut biaya pelayanan kesehatan yang terbesar adalah suporting Rp 12,770,145,438,- (62%). Fungs) pembiayaan Line Htem dengan alokasi dana terbesar adalah biaya Operasional yaitu Rp 16.121,935,838,(78%). Pembiayaan program kesehatan alokasi terbesar adalah program kesehatan kuratif Rp, 6,543,320,200,- (32%). Pembiayan 9 program kesehatan prioritas sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) alokasi terbesar untuk program pelayanan kesehatan dasar sejumlah Rp 4,695,774,960,- (23%). Realisasi dana yang sudah di alokasikan adalah sejumlah 92% terdiri dari: Dana yang bersumber APBN 99%, realisasi anggaran bersumber APBD adalah 98%, dana yang besumber dari BLN/PLN mempunyai realisasi dana terrendah hanya 68% dani total alokasi anggaran. Di sarankan bagi pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dalam menyusun kebijakan pembiayaan sektor kesehatan kiranya lebih memperhatikan distribusi per Provider, Program prioritas dan standar pelayanan minimal bidang kesehatan maupun distribusi sesuai fungsi pembiayaan pelayanan kesehatan. Hal ini harus di ikuti dengan peningkatan pembiayan sektor kesehatan terutama untuk pelayanan publik untuk menunjang visi dan misi kesehatan serta visi Pemerintah daerah Kabupaten Muaro Jambi tercapai. Dinas Kesehatan perlu memaksimalkan penyusunan Disirict Health Account (DHA) sehingga diperoleh bahan evaluasi dan penentuan alokasi pembiayaan program yang lebih memudahkan dalam pengelompokan pembiayaan kesehatan Masyarakat. Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Daerah lebih meningkatkan advokasi kepada Pemerintah Daerah, DPRD dan sektor swasta serta masyarakat dalam memobilisasi sumber pembiayaan kesehatan.


Development of health is progressive and continuous process to increase degree of health of public. With in the doing of Amendment I - [VY UU Dasar Negara Republic Indonesia year 1945, purpose of state have been progressively clear where explicitly place health as part of prosperity of people to be be available flatten. The consequence of allocation areas have to financing of larger oneses to health sectors. Financing of health is main key in health system in various states. According To Thabrani H" Research By WHO in Indonesia which during through years concerned that problem of health in Indonesia experience stag as result of financing, as one of input ( input) important less getting attention " The purpose of this research is to know about defrayal of health from duty of health government of Sub-Province Muaro Jambi year 2006. This research type is descriptive operational research design in deftayal analysis of Public health which stemming from government in health of duty, Puskesmas (public health centre) and Pharmacy warehouse in Sub-Province of Muaro Jambi, this research is DASK document study which grouped according, source, provider, cost function, Priority program and budget realization. This research result show that total budget for defrayal of public health from government equal to Rp 21,052,017,064,,- and assess per capita is Rp 71,104,11,- per year, from Sub-Province District Revenue Plan (APBD) Rp 13,448,602,038 (65%), Foreign Loan /Foreign Aid (PLN/BLN) is equal to Rp 4.300,000,000,- (21%) and State Revenue Plan (APBN) equal to Rp 3,015,000,000,- (15%). From 7 Provider, Arranging Effort get the biggest portion Rp 7,013,652,601,- (- 34%), smallest cost allocation is Base Health Service Rp 919,380,000,- (- 4%). Subdividing according to the service health budget the biggest is supporting Rp 12,770,145,438,- (- 62%). Line Item defrayal function with the biggest fund allocation is Operational expense that is Rp 16,121,935,838,- (78%). The biggest allocation health program defrayal is curative Medicare Rp 6,543,320,200, (32%). Defrayal of 9 priorities Medicare according to Minimum Standard Service (SPM) the biggest allocation for base health service program is Rp 4.695.774.960, (23%). Fund Realization which allocated was 92% consisted: Fund from APBN 99%, budget realization from APBD 98%, fund from BLN/PLN have low fund realization which is only 68% from total budget allocation. In suggesting for government of Sub-Province of Muaro Jambi in compiling policy of health defrayal sector presumably more pay attention to distribution per Provider, Priority program and Minimum Standard Service and also distribution according health service defrayal function. This thing must follow with increasing of health defrayal sector especially public service for supporting health mission and vision and also to reach the vision of Sub-Province Muaro Jambi Government. Duty of Health enquires to maximize compilation of District Health Account (DHA) so that can obtained a material for evaluation and determination of defrayal allocation of program which more facilitate in subdividing of health public defrayal. Duty of Health and district hospital needs more advocating to local government, private sector and Local Parliament and also public in mobilization source of health defrayal.

Read More
T-2554
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Fatimah; Pembimbing: Prastuti Soewindo; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Kurniansyah, Said Rahadian
Abstrak:
Belanja kesehatan adalah jenis belanja daerah yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota dalam bidang kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah diperoleh gambaran belanja kesehatan secara komprehensif yang akan digunakan untuk mempertajam alokasi belanja kesehatan, dan menjadi evaluasi terhadap belanja kesehatan yang dapat memberikan indikator kesehatan yang meningkat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengumpulkan dana alokasi dari pendanaan kesehatan yang bersumber pemerintah. Hasil penelitian sumber pembiayaan dari jumlah yang dialokasikan APBD maka dana yang dikeluarkan telah memadai, hal ini terlihat dari persentase jumlah yang diperoleh sebesar 12,8 % pada tahun 2019. Pengelola dalam sektor kesehatan menunjukan adanya pengelola yang didominasi oleh Rumah Sakit sebesar 39,94%, Dinas Kesehatan 34,44% dan puskesmas 25,62 %. Berdasarkan jenis fungsi pelayanan kuratif hanya mencapai 24,5%. Jika melihat proporsi terhadap fungsi, program dan mata anggaran yang dibiayai, maka akan diperoleh operasional lebih banyak digunakan untuk belanja gaji dari pada untuk biaya program upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan individu. Kesimpulan : Belanja kesehatan dominan dialokasikan untuk belanja kesehatan tidak langsung, pemerataan terhadap program kuratif sangat rendah.

Health expenditure is a type of regional expenditure used to fund the implementation of government initiatives and programs in the health sector that fall under the jurisdiction of provinces or districts/cities. This research aims to provide a comprehensive overview of public health expenditure in order to inform the allocation of resources and evaluate the effectiveness of these expenditures in improving health outcomes. This research employs a descriptive research design, using data on government funding for health initiatives. The results of the study show that the source of financing is from the amount allocated by the APBD, the funds spent are adequate, this can be seen from the percentage of the amount obtained by 12.8% in 2019. Managers in the health sector show that there are managers who are dominated by hospitals amounting to 39, 94%, Health Office 34.44% and Health Center 25.62%. Based on the type of curative service function only reached 24.5%.However, a closer examination of the funded functions, programs, and budget items reveals that a greater proportion of funding is allocated towards operational costs, specifically salary expenditure, rather than program costs for public and individual health efforts. Overall, this research finds that a significant proportion of health spending is directed towards indirect expenditures, resulting in low levels of equity in funding for curative programs.
Read More
T-6536
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanti Saputri; Pembimbing: Adi Sasongko
M-1082
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setia Wati Asmelda; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Dewi Sartika, Sy
Abstrak:
Pendanaan kesehatan yang memadai, efektif, dan efisien berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada konteks desentralisasi ketika pemerintah daerah memiliki kewenangan luas dalam pengelolaan anggaran sektor kesehatan. Anggaran Kesehatan Kota Padang tahun 2023 meningkat dibanding tahun sebelumnya, namun indikator utama seperti angka kematian ibu dan bayi belum menunjukkan perbaikan. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan, ketepatan sasaran, dan efektivitas belanja kesehatan publik. Penelitian ini bertujuan menggambarkan dan menganalisis belanja kesehatan publik di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2023 menggunakan pendekatan District Health Account (DHA) pada berbagai dimensi, serta menelaah secara khusus belanja program Kesehatan Ibu dan Anak sebagai evaluasi pendanaan terhadap capaian indikator kesehatan. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan DHA yang mengklasifikasikan pengeluaran kesehatan berdasarkan sumber pembiayaan, pengelola pembiayaan, penyedia pelayanan, program kesehatan, jenis kegiatan, mata anggaran, jenjang kegiatan, dan penerima manfaat, dengan data sekunder dari dokumen anggaran dan realisasi belanja kesehatan tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan belanja kesehatan publik masih terkonsentrasi pada sumber dan pengelola tertentu, dengan porsi besar pada belanja operasional dan belanja pada kegiatan langsung. Alokasi untuk kegiatan promotif dan preventif, termasuk program Kesehatan Ibu dan Anak, belum sejalan dengan tingginya beban kematian ibu dan bayi. Distribusi belanja antar penyedia layanan dan jenjang kegiatan juga belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan pada layanan kesehatan primer dan kelompok berisiko. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pemanfaatan DHA secara rutin untuk perencanaan dan evaluasi pembiayaan kesehatan daerah, penyesuaian komposisi belanja agar lebih berorientasi promotif dan preventif, serta peningkatan prioritas anggaran bagi program Kesehatan Ibu dan Anak.

Adequate, effective, and efficient health financing plays an important role in improving population health in a decentralized context where local governments have broad authority over health sector budget management. The health budget of Padang City in 2023 increased compared to the previous year, yet key indicators such as maternal and infant mortality have not improved. This raises questions regarding the adequacy, targeting, and effectiveness of public health expenditure. This study aims to describe and analyze public health expenditure at the Padang City Health Office in 2023 using the District Health Account (DHA) approach across various dimensions, and to specifically examine expenditure on Maternal and Child Health (MCH) programs as an evaluation of financing in relation to health indicators. The study uses a quantitative descriptive design with the DHA approach, which classifies health expenditure by source of financing, financing agent, service provider, health program, type of activity, budget line, level of activity, and beneficiary group, using secondary data from the 2023 health budget and expenditure realization documents. The results show that public health expenditure remains concentrated in specific sources and agents, with a large proportion allocated to operational and direct activity expenditure. Allocations for promotive and preventive activities, including MCH programs, are not yet aligned with the high burden of maternal and infant mortality. The distribution of expenditure across service providers and levels of activity also does not fully reflect the needs of primary health care and high risk groups. The study recommends strengthening the routine use of DHA for planning and evaluating local health financing, adjusting the composition of expenditure to be more oriented toward promotive and preventive efforts, and increasing budget priority for Maternal and Child Health programs.
Read More
S-12393
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive