Ditemukan 3796 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hartati Kurniadi
CDK No.135, 2002
Jakarta : Kalbe Farma, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yunita Eka Sary; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Yuniar Sukmawati, Priska Saragih
Abstrak:
World Drug Report, laporan tahunan United Nation Office on Drug and Crime (UNODC) 2018 menyebutkan bahwa pada tahun 2016 dari sekitar 275 juta penduduk dunia atau 5, 6 % dari populasi global yang berusia 15-64 tahun menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (NAPZA) sekali dalam hidup mereka. Sekitar 31 jutanya adalah penyalahguna narkoba yang mungkin memerlukan perawatan. Tanggung jawab terpenting dari pemberi pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit adalah memberikan asuhan dan pelayanan pasien yang efektif dan aman. Panduan praktik klinis yang tertuang dalam clinical pathway merupakan salah satu upaya untuk menjamin kualitas perawatan pada pasien. Clinical pathway adalah salah satu alat manajemen perawatan yang banyak dipakai oleh pemberi layanan kesehatan dimana clinical pathway berpotensi mengurangi variasi layanan yang tidak perlu sehingga dapat meningkatkan outcome klinis dan juga penghematan pemakaian sumber daya (finansial). Penerapan Clinical pathway pada terapi detoksifikasi penyalahgunaan NAPZA/adiksi berpotensi memberi peluang untuk meningkatkan kualitas perawatan dengan biaya yang sama. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan rumah sakit memanfaatkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi penambahan variasi dalam perawatan dan memudahkan evaluasi pelayanan yang diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membuat sebuah prototipe clinical pathway berbasis elektronik untuk perawatan pasien penyalahguna NAPZA dengan berbasis web. Perancangan sistem dilakukan dengan menggunakan metode prototipe dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada pengguna sistem dan observasi. Hasil dari penelitian ini adalah terbangunnya prototipe sistem yang dapat memberikan informasi tingkat kepatuhan PPA dan merekam variasi yang ada selama perawatan
Read More
T-5719
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyu Radityo Utomo; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Puput Oktamianti, Vetty Yulianty Permansari, Fauzi Masjhur, Nuryalis
Abstrak:
Tesis ini membahas model Integrated Care Pathway (ICP) perawatan pasiendengan penyalahgunaan NAPZA putus zat opioid sebagai salah satu kasus.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasilpenelitian menunjukkan koordinasi, komunikasi, kesinambungan dan kolaborasipelayanan pasien putus zat opioid belum berjalan optimal yang melibatkanberbagai unsur disiplin keilmuan pada pelayanan yang diberikan. Model ICPyang diusulkan agar dikembangkan kembali dengan melibatkan berbagai multidisiplin ilmu yang terlibat di dalam pelayanan pasien dengan penyalahgunaanNAPZA putus zat opioid di RSKO Jakarta melalui sebuah kegiatan FGD yangmelibatkan lebih banyak tenaga kesehatan yang terkait dengan layanan sehinggadapat menghasilkan ICP yang sesuai dengan kebutuhan.Kata kunci: ICP, NAPZA, putus zat opioid
This thesis discusses the model of Integrated Care Pathway (ICP) treatment ofpatients with drug abuse of opioid withdrawal as one case. This study is aqualitative study with a descriptive design. The results show coordination,communication, and collaboration continuity of patient care opioid withdrawalhas not run optimally involving various elements of scientific disciplines on theservice provided. ICP models are proposed for re-developed with the involvementof a variety of multi-disciplines involved in the care of patients with drug abuse ofopioid withdrawal in RSKO Jakarta through an FGD activities that involve morehealth workers associated with the service so that it can produce the ICP inaccordance with the requirements .Keywords: ICP, drug, opioid withdrawal
Read More
This thesis discusses the model of Integrated Care Pathway (ICP) treatment ofpatients with drug abuse of opioid withdrawal as one case. This study is aqualitative study with a descriptive design. The results show coordination,communication, and collaboration continuity of patient care opioid withdrawalhas not run optimally involving various elements of scientific disciplines on theservice provided. ICP models are proposed for re-developed with the involvementof a variety of multi-disciplines involved in the care of patients with drug abuse ofopioid withdrawal in RSKO Jakarta through an FGD activities that involve morehealth workers associated with the service so that it can produce the ICP inaccordance with the requirements .Keywords: ICP, drug, opioid withdrawal
B-1693
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Departemen Kesehatan
362.11 IND b
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 1995
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuniar Sukmawati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Pujiyanto, Diah Setia Utami, Riza Sarasvita
B-1601
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Al Bachri Husin
CDK No.136 (2002)
Jakarta : Kalbe Farma, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
C. Lianna Yovita; Pembimbing: Sujana Jatiputra
S-614
Depok : FKM UI, 1992
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dadang Hawari
JDIK Vol.2, No.2
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meita Ilyana; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Evi Martha, Hervita Diatri, Chandra Rudyanto
Abstrak:
Sebagian besar kasus COVID -19 saat ini memiliki gejala ringan dan tidak bergejala serta adanya potensi reaktivasi pada pasien pasca rawat di rumah sakit mendasari pentingnya pemantauan kepatuhan keluarga dalam mengimplementasikan protokol perawatan pasien pasca rawat COVID-19 di rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kepatuhan keluarga terhadap protokol perawatan pasien pasca rawat COVID-19 di rumah dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja (usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dukungan petugas kesehatan, dukungan pelaku rawat pengganti) yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada 72 pasien pasca rawat COVID-19 di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Pengumpulan data dilakukan melalui daring bersama tim COMIC RSCM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memiliki kepatuhan cukup baik dalam menerapkan protokol perawatan pasien di rumah dengan rata-rata score 81 dari skala 100. Diketahui diantara faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan pelaku rawat pengganti, faktor pengetahuan (p-value=0,004) dan ketersediaan fasilitas (pvalue=0,012) merupakan faktor dominan yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan keluarga dalam menerapkan protokol perawatan pasien pasca rawat COVID19 di rumah. Responden yang memiliki pengetahuan baik berpotensi 5,312 kali untuk memiliki kepatuhan yang tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang. Selain itu, responden yang memiliki ruangan khusus dengan ventilasi baik juga berpotensi 5,2 kali untuk dapat menerapkan pedoman pencegahan penularan COVID-19 selama merawat pasien di rumah, dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki ruangan khusus. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa secara umum kepatuhan keluarga dalam menerapkan protokol perawatan COVID-19 di rumah sudah baik dan faktor pengetahuan serta ketersediaan fasilitas memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi kepatuhan tersebut.
Read More
T-6028
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Laurentius Aswin Pramono; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Imam Subekti, Hamzah Shatri; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Ratna Djuwita, Sabarinah, Felicia Kurniawan
Abstrak:
Read More
Pendahuluan Kanker tiroid seringkali disalahpahami sebagai kanker yang baik karena kesintasannya yang panjang. Oleh karena itu, pasien kanker tiroid jarang mendapat perhatian dan penilaian kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif pada pasien kanker tiroid pasca-operasi dan faktor-faktor yang berhubungan. Metode Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit St Carolus terhadap 204 subjek kanker tiroid. Dilakukan wawancara menggunakan kuesioner ThyCaQoL (Thyroid Cancer Quality of Life), PNPC (Problems and Needs for Palliative Care), and SPICT (Supportive and Palliative Care Indicator Tools). Selanjutnya, dilakukan wawancara mendalam terhadap 10 subjek terpilih untuk mengeksplorasi kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji kai kuadrat, regresi logistik, dan regresi poisson. Hasil Sebanyak 67 dari 204 subjek (32,8%) mengalami penurunan kualitas hidup, dengan disfonia menetap sebagai faktor yang berhubungan. Durasi penyakit > 5 tahun memiliki kecenderungan kualitas hidup yang lebih baik. Sebanyak 24 dari 204 subjek (11,8%) memiliki kebutuhan perawatan paliatif. Kanker stadium IV, keluhan luka bekas operasi, refrakter radioablasi, dan penggunaan terapi target sebagai faktor-faktor yang berhubungan dengan kebutuhan perawatan paliatif. Kebutuhan perawatan paliatif berhubungan dengan kualitas hidup yang buruk. Kesimpulan Penelitian ini menemukan 1 dari 3 pasien kanker tiroid mengalami penurunan kualitas hidup dan 1 dari 8 pasien kanker tiroid memiliki kebutuhan perawatan paliatif. Identifikasi dan model prediksi membantu klinisi memprioritaskan pasien yang dikonsultasikan untuk mendapatkan perawatan paliatif yang adekuat.
Introduction Thyroid cancer is often mislead as the “good cancer” since its overall survival rate is relatively high. Therefore, thyroid cancer patients are rarely evaluated for quality of life and the need for palliative care. Objective The aim of the study is to assess the quality of life and need for palliative care in post-operative thyroid cancer patients and its related factors. Methods A cross-sectional study was conducted at Cipto Mangunkusumo Hospital and St Carolus Hospital Jakarta which interviewed 204 thyroid cancer patients with ThyCaQoL (Thyroid Cancer Quality of Life), PNPC (Problems and Needs for Palliative Care), and SPICT (Supportive and Palliative Care Indicator Tools) Questionnaires, from whom we also perform in-depth interview to 10 patients to explore the quality of life and need for palliative care. Descriptive statistics, chi square, logistic regression, and poisson regression were conducted to analyze the data. Results About 67 from 204 subjects (32.8%) experience decrease quality of life with permanent dysphonia as related factors. Disease duration of more than 5 years has better quality of life. About 24 from 204 subjects (11.8%) have need for palliative care with stage IV cancer, surgical scar complain, radio-iodine refractory, and targeted therapy with tyrosine kinase inhibitor as related factors. Need for palliative care associated with quality of life. Conclusion This study obtain 1 out of 3 thyroid cancer patients experience decrease quality of life and 1 out of 8 thyroid cancer patients have need for palliative care. Identification and prediction model can help clinicians to prioritize which patients need approach for adequate palliative care.
D-532
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
