Ditemukan 15062 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Syahrudji Naseh, M. Hasyimi
MPPK Vol.VI, No.01
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1996
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahrudji Naseh
MPPK Vol.V, No.03
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1995
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indana Bintan Dzakiyyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Hera Nurlita
Abstrak:
Minuman ringan berpemanis adalah beberapa jenis minuman manis berkalori yangketika dibeli sudah siap diminum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbedaan rata-rata konsumsi minuman ringan berpemanis pada siswa SMAN 48Jakarta Timur berdasarkan jenis kelamin, keterpaparan media massa, aksesibilitas,ketersediaan, pengaruh keluarga, pengaruh teman, pengetahuan gizi, sikap,aktivitas fisik, kebiasaan membawa air mineral, dan uang jajan. Penelitian iniadalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional yang dilakukanpada 168 sampel yang dipilih mengunakan metode quota sampling. Instrumen yangdigunakan, yaitu kuesioner (self-administered) dan alat peraga botol berbagaiukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi minuman ringanberpemanis secara umum, yaitu sebanyak 245,7 mL/hari. Rata-rata konsumsiminuman ringan berpemanis berdasarkan jenisnya secara berurutan dari yangterbanyak, yaitu minuman jenis teh/kopi (152,7 mL/hari), berperisa buah (77,1mL/hari), berperisa tanpa kandungan sari buah (65,7 mL/hari), sport (56,9mL/hari), karbonasi berkalori (42,2 mL/hari), dan energi (10,0 mL/hari). Hasilanalisis menggunakan uji t independen menunjukkan terdapat perbedaan yangsignifikan pada rata-rata konsumsi minuman ringan berpemanis berdasarkan jeniskelamin, keterpaparan media massa, ketersediaan minuman ringan berpemanis,pengaruh teman, dan sikap terhadap minuman ringan. Diperlukannya dukungandari berbagai pihak berwenang terkait kebijakan penjualan minuman ringanberpemanis dan penyediaan air mineral di tempat umum, khususnya sekolah.Kata kunci:minuman ringan berpemanis, siswa SMA, jenis kelamin, keterpaparan mediamassa, ketersediaan, pengaruh teman, sikap.
Read More
S-9216
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marsella Syah Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Read More
Anemia gizi besi (AGB) masih menjadi masalah gizi mikro yang umum dialami oleh remaja perempuan di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi AGB adalah dengan mewajibkan fortifikasi zat besi pada tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada siswi SMAN 34 Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 65 siswi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu sebesar 4,19 ± 1,58 mg/hari (27,93% dari AKG). Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara frekuensi jajan, uang jajan, pengaruh teman, dan ketersediaan makanan berbahan tepung terigu dengan asupan zat besi (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor berpengaruh terhadap kontribusi pangan berbahan tepung terigu terhadap kecukupan zat besi.
Iron deficiency anemia (IDA) remains a prevalent micronutrient deficiency among adolescent girls in Indonesia. One of the government’s strategies to address IDA is mandatory iron fortification in wheat flour. This study aimed to analyze the differences in average iron intake from wheat-based foods based on influencing factors among female students at SMAN 34 Jakarta in 2025. A cross-sectional design was used with a total of 65 respondents. The results showed that the average iron intake from wheat-based foods was 4.19 ± 1.58 mg/day, which only meets 27.93% of the recommended dietary allowance (RDA). Significant differences were found in iron intake based on snacking frequency, amount of pocket money, peer influence, and availability of wheat-based foods at home (p < 0.05). It can be concluded that both internal and external factors influence iron adequacy from wheat-based foods among adolescents.
S-11893
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahrudji Naseh
MPPK Vol.V, No.4
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1995
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farisa Milla S; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusdinar Achmad, Nurfi Afriansyah
Abstrak:
Kalsium merupakan zat gizi yang berperan penting dalam pertumbuhan. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan kalsium berdasarkan frekuensi konsumsi susu, frekuensi konsumsi sumber kalsium lain, preferensi rasa susu, kebiasaan sarapan, aktivitas fisik, jenis kelamin, pengetahuan mengenai kalsium, dan uang saku. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan dilakukan pada 120 siswa SMP Islam PB Soedirman Jakarta Timur selama bulan April 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan asupan kalsium diukur dengan wawancara food recall 2x24 jam. Data dianalisis dengan menggunakan uji t-test independent. Hasil penelitian ini menunjukkan 46% memiliki asupan kalsium kurang dengan rata-rata asupan kalsium 428± 340,3 mg. Analisis bivariat menunjukkan terdapat perbedaan asupan kalsium yang signifikan berdasarkan frekuensi konsumsi susu, preferensi rasa susu, jenis kelamin, dan pengetahuan mengenai kalsium. Kata kunci : Kalsium, asupan kalsium, remaja, konsumsi susu, preferensi rasa
Calcium plays a central role in human's growth. This research aims to explore and determine the differences of calcium intake based on milk consumption frequency, other calcium-rich foods sources frequency, milk-taste preferences, breakfast habit, physical activity, sex, calcium-related knowledge, and pocket money. This research adapts cross-sectional design with a total of 120 students of PB Soedirman Islamic Junior High School in West Jakarta during April 2016. Data was collected using questionnaire and food recall (2x24 hours) method to measure calcium intake. The data was analyzed using t-test independent test. The results showed that 46% of the students had calcium intake below 924 mg/day and the average calcium intake was 428±340.3 mg. Bivariate analysis results showed significant mean-difference of calcium intake based on milk consumption frequency, milk taste preference, sex, and calcium-related knowledge. Keywords : Calcium, calcium-intake, adolescent, milk consumption, taste preference
Read More
Calcium plays a central role in human's growth. This research aims to explore and determine the differences of calcium intake based on milk consumption frequency, other calcium-rich foods sources frequency, milk-taste preferences, breakfast habit, physical activity, sex, calcium-related knowledge, and pocket money. This research adapts cross-sectional design with a total of 120 students of PB Soedirman Islamic Junior High School in West Jakarta during April 2016. Data was collected using questionnaire and food recall (2x24 hours) method to measure calcium intake. The data was analyzed using t-test independent test. The results showed that 46% of the students had calcium intake below 924 mg/day and the average calcium intake was 428±340.3 mg. Bivariate analysis results showed significant mean-difference of calcium intake based on milk consumption frequency, milk taste preference, sex, and calcium-related knowledge. Keywords : Calcium, calcium-intake, adolescent, milk consumption, taste preference
S-9086
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhira Idelya Adrian; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak:
Read More
Konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang tinggi pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit kardiovaskular hingga usia dewasa. Penelitian mengenai konsumsi MBDK pada remaja di Indonesia masih banyak berbasis frekuensi, sedangkan pengukuran dalam satuan volume masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata konsumsi MBDK berdasarkan faktor-faktor yang berhubungan pada siswa SMAN 81 Jakarta Timur tahun 2026. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional ini melibatkan 199 siswa yang dipilih melalui convenience sampling. Konsumsi MBDK diukur menggunakan kuesioner BEVQ-15 dan dianalisis dengan uji Mann-Whitney U. Rata-rata konsumsi MBDK sebesar 349,58±422,87 mL/hari dengan median 184,38 mL/hari. Terdapat perbedaan konsumsi yang bermakna berdasarkan jenis kelamin, sikap terhadap MBDK, self-efficacy, kemampuan membaca label gizi, serta pengaruh konten dan iklan (p < 0,05), sedangkan uang jajan, pengetahuan terhadap MBDK dan label, status gizi, pengaruh teman sebaya, dan aksesibilitas MBDK tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p > 0,05). Dapat disimpulkan bahwa faktor individu serta paparan konten dan iklan di media digital berkaitan dengan perbedaan konsumsi MBDK pada remaja.
High consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs) among adolescents is a public health concern, as it is associated with an increased risk of obesity, type 2 diabetes mellitus, and cardiovascular diseases in adulthood. Research on SSB consumption among adolescents in Indonesia has mostly focused on frequency-based measures, while volume-based assessment remains limited. This study aimed to analyze differences in the average consumption of SSBs according to associated factors among students at SMAN 81 East Jakarta in 2026. This observational study employed a cross-sectional design and involved 199 students selected through convenience sampling. SSB consumption was measured using the BEVQ-15 questionnaire and analyzed using the Mann–Whitney U test. The average SSB consumption was 349.58 ± 422.87 mL/day, with a median of 184.38 mL/day. Significant differences in SSB consumption were observed according to gender, attitudes toward SSBs, self-efficacy, nutrition label literacy, and exposure to digital content and advertisements (p < 0.05), whereas no significant differences were found according to pocket money, knowledge of SSBs and nutrition labels, nutritional status, peer influence, or SSB accessibility (p > 0.05). It can be concluded that individual factors, as well as exposure to digital content and advertisements, are associated with differences in SSB consumption among adolescents.
S-12412
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prita Cipta Sari; Pemb. Hendrik Manarang Taurany; Penguji: Jaslis Ilyas, Sugma Agung Purboyo
S-5281
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aprillia Sriduma Tambunan; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, La Ode
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung biaya rata-rata 10 diagnosa penyakit terbanyak dan termahal peserta Program Pelayanan Kesehatan Karawang Sehat di Kabupaten Karawang periode Januari-Desember 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari data klaim Program Pelayanan Kesehatan Karawang Sehat. Analisis yang dilakukan adalah analisis Univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta laki-laki mendapatkan pelayanan rawat inap terbanyak yaitu 50,4% dari seluruh klaim. Rata-rata umur peserta yang mendapatkan pelayanan rawat inap adalah 33,41 tahun dan rata-rata lama hari rawat adalah 4,86 hari. Typhoid Fever merupakan penyakit rawat inap terbanyak, penyakit rawat inap termahal yaitu Hydrocephalus, unspecified dengan biaya Rp213.576.000,00. Biaya rata-rata perawatan paling besar peserta Program Pelayanan Kesehatan Karawang Sehat periode Januari - Desember 2018 pada 10 penyakit rawat inap terbanyak adalah penyakit Tuberculosis of lung, confirmed by unspecified means yaitu sebesar Rp5.393.807,55 dan pada 10 penyakit rawat inap termahal adalah Presence of cerebrospinal fluid drainage device yaitu sebesar Rp34.804.500,00. Saran untuk Program Pelayanan Kesehatan Karawang Sehat adalah melakukan kegiatan promotif dan preventif pada penyakit-penyakit rawat inap yang terbanyak terjadi pada peserta Program Pelayanan Kesehatan Karawang Sehat. Melakukan pemeriksaan berulang terhadap klaim 10 diagnosa penyakit rawat inap termahal dengan jumlah kasus yang besar untuk menghindari terjadinya pembengkakan biaya dan fraud. Melakukan kerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil untuk mengatasi data kependudukan penduduk miskin Kabupaten Karawang, sehingga dapat diintegrasikan ke dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional.
This study aims to calculate top 10 diagnosis of disease and top 10 expensive disease inpatient care among participants of the Healthy Karawang Health Service Program in Karawang Regency, January-December 2018. This research is a quantitative descriptive study using a cross sectional design. The data used in this study are secondary data obtained from the claims data of the Karawang Sehat Health Service Program. The analysis carried out was Univariate analysis. The results of this study indicate that the male participants received the most inpatient services, namely 50.4% of all claims. The average age of participants who received inpatient services was 33.41 years and the average length of stay was 4.86 days. Typhoid Fever is the most hospitalized disease, the most expensive inpatient disease, Hydrocephalus, unspecified at a cost of Rp213.576.000,00. The highest average cost of care for participants in the Healthy Karawang Health Service Program for the period of January - December 2018 in the 10 most inpatient diseases was Tuberculosis of Lung, confirmed by unspecified means which was Rp5.393.807,55 and in the 10 most expensive inpatient diseases Presence of cerebrospinal fluid drainage device is Rp34.804.500,00. Suggestions for the Karawang Sehat Health Service Program are to carry out promotive and preventive activities in hospitalized diseases, which mostly occur in the participants of the Healthy Karawang Health Service Program. Conduct repeated checks on claims of 10 most expensive inpatient diagnoses with a large number of cases to avoid the occurrence of cost overruns and fraud. Collaborating with the Social Service and Population and Civil Registry Service to address the population data of the poor population of Karawang Regency, so that it can be integrated into the National Health Insurance scheme.
Read More
This study aims to calculate top 10 diagnosis of disease and top 10 expensive disease inpatient care among participants of the Healthy Karawang Health Service Program in Karawang Regency, January-December 2018. This research is a quantitative descriptive study using a cross sectional design. The data used in this study are secondary data obtained from the claims data of the Karawang Sehat Health Service Program. The analysis carried out was Univariate analysis. The results of this study indicate that the male participants received the most inpatient services, namely 50.4% of all claims. The average age of participants who received inpatient services was 33.41 years and the average length of stay was 4.86 days. Typhoid Fever is the most hospitalized disease, the most expensive inpatient disease, Hydrocephalus, unspecified at a cost of Rp213.576.000,00. The highest average cost of care for participants in the Healthy Karawang Health Service Program for the period of January - December 2018 in the 10 most inpatient diseases was Tuberculosis of Lung, confirmed by unspecified means which was Rp5.393.807,55 and in the 10 most expensive inpatient diseases Presence of cerebrospinal fluid drainage device is Rp34.804.500,00. Suggestions for the Karawang Sehat Health Service Program are to carry out promotive and preventive activities in hospitalized diseases, which mostly occur in the participants of the Healthy Karawang Health Service Program. Conduct repeated checks on claims of 10 most expensive inpatient diagnoses with a large number of cases to avoid the occurrence of cost overruns and fraud. Collaborating with the Social Service and Population and Civil Registry Service to address the population data of the poor population of Karawang Regency, so that it can be integrated into the National Health Insurance scheme.
S-9916
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indang Trihandini, Inna Aprianti
001.4 TRI p
Purbaingga : CV Eurika Media Aksara, 2024
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
