Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31130 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
I Made Djaja
LP 363.11 DJA p
Jakarta : FKM UI, 1988
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Utomo
LP 616.9863 UTO p
Jakarta : FKM UI, 1981
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachmatiah Sedar; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf
S-345
Jakarta : FKM UI, 1980
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Ramadhina Putri; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Ernyasih
Abstrak:
Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit penyebab kematian terbanyak ketiga di dunia. Prevalensi penyakit ISPA di Indonesia sebesar 25,5% dan sebesar 21% penyebab kematian pekerja industri adalah akibat penyakit pernapasan. Pertambangan batu bara merupakan industri pemanfaatan kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listrik negara. PT X merupakan kontraktor pertambangan batu bara yang melakukan jasa pengelolaan wilayah pertambangan. Meningkatnya aktivitas operasional pertambangan diiringi dengan peningkatan paparan debu selama operasional tambang batu bara berlangsung berpotensi sebagai penyebab ISPA pada pekerja. Desain studi yang digunakan adalah kasus kontrol dengan total sampel sebesar 110 responden. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu pekerja tambang batu bara dan karakteristik lingkungan kerja dengan kejadian ISPA pada pekerja. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan. Analisis yang digunakan adalah unvariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan variabel konsentrasi PM10 berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA (OR=3,49; 0,53 – 22,93) setelah dikontrol oleh variabel confounding yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Perusahaan disarankan meningkatkan upaya pencegahan dengan cara mengoptimalkan pemeriksaan penyakit pernapasan dan edukasi kesehatan dan keselamatan kerja serta melakukan upaya pengendalian, baik dalam hal penggunaan APD, administratif, maupun engineering control.

Acute Respiratory Infections (ARIs) ranked as the third most common causes of mortality globally. ARIs represent a public health problem in Indonesia with a prevalence rate of 25.5%, and 21% of deaths among industrial workers are due to respiratory diseases. Coal mining is an industry that utilizes Indonesia's natural resources to meet the country's electricity needs. PT X, a contractor in coal mining area management services, plays a crucial role in this industry. The escalation of mining operations elevates the risk of ARIs in workers due to heightened exposure to mining dust. This research used a case-control study design with 110 respondents. The research aimed to determine the relationship between the workers’ characteristics and the work environment to the incidence of ARIs in workers. Data collection was carried out by interviews using questionnaires and environmental measurements. The analysis used is univariate, bivariate, and multivariate. PM10 concentration was significantly related to the incidence of ARIs (OR=3.49; 0.53 – 22.93) after being controlled by confounding variables: air temperature, humidity, and wind speed. Company is urged to intensify preventive action by optimizing respiratory disease examinations, providing occupational health and safety education, and implementing controls, either the use of Personal Protective Equipment (PPE), administrative controls, and engineering controls.
Read More
S-11598
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danang Kurniawan Anggoro; Pembimbing: Indri Hapsari; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Irma Setiawaty Wulandari, Yuni Kusminti
Abstrak: Industri tambang merupakan salah satu industri yang mempunyai potensi bahayatinggi yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, dimana menempati urutanjumlah kecelakaan tertinggi bila dibandingkan dengan sektor lain. PT. Smerupakan kontraktor tambang permukaan yang telah menerapkan SistemManajemen Integrasi, namun hasil observasi menunjukkan banyaknyapelanggaran dan ketidakpedulian terhadap permasalahan keselamatan dankesehatan kerja. Perlu dilakukan kajian persepsi risiko pada pekerja sektortambang permukaan sebagai upaya pengendalian risiko kecelakaan kerja. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran persepsi risiko keselamatan dankesehatan kerja menggunakan pendekatan psikometri. Desain penelitian crosssectional, menggunakan kuesioner, analisis data menggunakan univariat danbivariat. Hasil penelitian menunjukkan gambaran persepsi risiko keselamatan dankesehatan kerja pada kategori seimbang antara persepsi risiko baik dan persepsirisiko buruk. Persepsi risiko baik terdapat pada dimensi kesegeraan dampak,keparahan konsekuensi dan pengendalian risiko. Sedangkan persepsi burukterdapat pada dimensi kesukarelaan terhadap risiko, pemahaman risikoberdasarkan pengalaman, potensi dampak, reaksi yang ditimbulkan, pengetahuanterhadap risiko dan kebaruan risiko. Disarankan bagi PT. S untuk melakukanupaya promotif melalui pelatihan yang terencana, memaksimalkan forumm safetytalk dan toolbox meeeting, meningkatkan pengawasan kerja melalui inspeksi,pembuatan rencana kerja yang sistematis dan terperinci serta menerapkan sistemhadiah dan hukuman.
Kata kunci : Persepsi Risiko, Psikometri, Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Read More
T-4552
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caluella Valanta; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Toha Fahrudin
Abstrak:
Sindrom metabolik (SM) adalah gabungan dari beberapa kondisi gangguan metabolisme yang ditandai dengan obesitas sentral, hipertrigliserida, kadar high density lipoprotein (HDL) rendah, kadar gula darah puasa (GDP) tinggi, serta hipertensi. Kejadian sindrom metabolik secara global diperkirakan akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan pertambahan usia penduduk. Banyak hal yang dapat memengaruhi kejadian SM pada pekerja, seperti usia, pola hidup, pola kerja, tempat tinggal, dan lain-lain. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko SM di PT X. PT X sebagai salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur telah melakukan deteksi awal dari proporsi karyawan yang mengalami obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, dan pre-diabetes, namun belum melakukan deteksi yang komprehensif terhadap kejadian SM. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan hasil medical check up pekerja. Penelitian ini mengumpulkan 213 responden yang merupakan karyawan PT X beserta enam PJP. Hasil analisis menunjukkan sebanyak lima responden (2,3%) mengalami SM. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian SM di PT X adalah aktivitas fisik (p-value = 0,004; OR = 12,98) dan pola makan (p-value = 0,037; OR = 2,029). Meskipun proporsi kejadian sindrom metabolik cukup kecil, tidak menutup kemungkinan adanya risiko yang belum terdeteksi sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut kepada seluruh pekerja. Evaluasi terhadap aktivitas fisik dan pola makan karyawan juga diperlukan untuk menurunkan risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome (MS) is a cluster of metabolic disorders including abdominal (central) obesity, hypertriglyceridemia, low high-density lipoprotein (HDL) level, high fasting blood glucose level, and high blood pressure. The prevalence of MS increases globally due to technology developments, lifestyle changes, and an aging population. Many factors are associated with the occurrence of MS in workers including age, lifestyle, job, residence, and many more. Therefore, this research was conducted to find the risk factors of MS in PT X. PT X as one of the coal mining companies in East Kalimantan have screened its employees for obesity, high total cholesterol levels, hypertension, and pre-diabetes. However, the company has not yet determined the number of MS cases that have happened among its employees. Research was conducted using cross-sectional study design with a quantitative approach. Data was collected using questionnaire, interview, and medical check-up reports. This research collected 213 respondents including PT X and service companies. Among them, five respondents (2,3%) were identified as having MS. Risk factors that showed significant correlations with the occurrence of MS are physical activity (p-value = 0,004; OR = 12,98) and diet (p-value = 0,037; OR = 2,029). Despite the low percentage of MS cases, there is a possibility that some risks were not covered in this research. Therefore, it is recommended to conduct a thorough examination to all employees. Evaluating the intensity of physical activity and dietary habits is necessary to reduce the risk of MS.
Read More
S-11503
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tanaya Sulanjari Kusumaningtyas; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:

Latar Belakang: Sektor pertambangan merupakan sektor yang memiliki risiko yang tinggi sehingga perlu adanya implementasi K3, tak hanya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja namun juga untuk menjaga produktivitas kerja sehingga roda bisnis akan terus berjalan. Selain kecelakaan kerja, penyakit tidak menular juga dapat menurunkan produktivitas kerja dikarenakan absenteisme dan loss work time. Penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskulas merupakan penyakit yang menyumbang angka kematian terbesar di seluruh dunia. Kedua penyakit tersebut dapat muncul pada seseorang yang memiliki sindrom metabolik. Di Indonesia, terdapat beberapa penelitian mengenai sindrom metabolik dengan angka prevalensi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z.
Metode: Desain dari penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari hasil MCU karyawan. Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah faktor individu (usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit keluarga); faktor perilaku (aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol); dan faktor (pajanan bising, pajanan panas, dan pajanan debu).
Hasil: Sebanyak 34 pekerja (9,3%) memiliki sindrom metabolik. Obesitas sentral (35,4%), kadar trigliserida tinggi (27,2%), dan hipertensi (26,4%) merupakan tiga komponen tertinggi yang dimiliki pekerja. Hasil analisis menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel faktor individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z (p-value > 0,05)
Kesimpulan: Walaupun prevalensi sindrom metabolik dari penelitian ini adalah 9,3%, banyak dari pekerja yang memiliki 1-2 komponen sindrom metabolik yang mana komponen tersebut dapat mempengaruhi perkembangan komponen baru. Oleh karena itu, tetap perlu adanya program kesehatan untuk dapat menjaga ataupun menekan angka komponen dari sindrom metabolik tersebut.


Background: The mining sector is a high risk sector that needs the implementation of SHE, not only to ensure the safety and health of the workers but also to maintain work productivity so that business operations can continue. In addition to workplace incidents, non-communicable diseases can also lower work productivity by absenteism and loss work time. Non-communicable diseases such as diabetes and cardiovascular disease account for the highest number of deaths worldwide. Both of those diseases can occur in people who has metabolic syndrome. In Indonesia, there are a few studies about metabolic syndrome with varying prevalence rates. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome among coal mine workers in PT Z. Methods: This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The data collection for this study was conducted using secondary data from the results of the employees’ medical check up. The variables for this study consists of individual factors (age, sex, and family medical history); behavioral factors (physical activity, smoking habbits, and alcohol consumption); and environmental factors (noise exposure, heat exposure, and dust exposure). Results: A total of 34 workers (9,3%) have metabolic syndrome. Central obesity (35,4%),  high triglyceride (27,2%), and hypertention (26,4%) are the three highest component of the metabolic syndrome that the workers have. Analysis results indicate that no significant assosiaction was found between individual, behavioral, and environmental factors and the incidence of metabolic syndrome among coal miners at PT Z (p-value > 0.05). Conclusion: Although the prevalence of metabolic syndrome in this study was 9.3%, many of the workers had 1–2 components of metabolic syndrome, which could influence the development of new components. Therefore, health programs are still needed to maintain or reduce the prevalence of these components of metabolic syndrome.

Read More
S-12473
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arya Pandu Mahardhika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Taqwa Logika Utama
Abstrak:
Sindrom metabolik menurut Joint Interim Statement (JIS) merupakan kumpulan faktor risiko yang saling terkait untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang ditandai oleh adanya 3 dari 5 faktor risiko, yaitu obesitas sentral, kadar trigliserida tinggi, HDL kolesterol rendah, hipertensi, dan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja, tempat tinggal), faktor perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur), dan faktor gentik (usia, riwayat penyakit keluarga) dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner secara online dan data komponen sindrom metabolik diperoleh dari hasil Medical Check Up (MCU). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 105 responden, 22 responden (21%) mengalami sindrom metabolik. Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY adalah usia (p-value = 0,001), sedangkan lokasi kerja, tempat tinggal, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur, dan riwayat penyakit keluarga tidak berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY.


Metabolic syndrome, according to the Joint Interim Statement (JIS), is a cluster of interrelated risk factors for cardiovascular disease and type 2 diabetes, characterized by the presence of at least three out of five specific conditions: central obesity, elevated triglyceride levels, low HDL cholesterol, hypertension, and hyperglycemia. This study aims to analyze the relationship between risk factors for metabolic syndrome, including environmental factors (work location and place of residence), behavioral factors (smoking habits, physical activity, eating pattern, and sleep duration), and genetic factors (age and family history of disease), with the incidence of metabolic syndrome among mine workers at PT XY, East Kalimantan. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Primary data were collected through online questionnaires, while data on metabolic syndrome components were obtained from Medical Check-Up (MCU) results. The analysis revealed that among 105 respondents, 22 (21%) had metabolic syndrome. Among the assessed risk factors, only age was significantly associated with the incidence of metabolic syndrome (p = 0.001). Other factors, such as work location, place of residence, smoking habits, physical activity, eating pattern, sleep duration, and family history of disease, showed no significant association.
Read More
S-12095
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Putu Emanita Parameswari; Pembimbing: Robiana Modjol; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Eko Prasetio Indarto S.
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan gangguan dalam proses metabolisme tubuh yang secara langsung meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja dan tempat tinggal), faktor genetik (jenis kelamin, suku/etnis, usia, dan riwayat penyakit orang tua), dan faktor perilaku (kebiasaan merokok dan aktivitas fisik) pada pekerja tambang di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara daring. Prevalensi sindrom metabolik dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria International Diabetes Federation (IDF). Dari sebanyak 111 orang pekerja yang menjadi responden penelitian, didapatkan 27 (24,3%) orang pekerja mengalami sindrom metabolik. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p – value = 0,039) dan riwayat penyakit orang tua (p – value = 0,009) dengan kejadian sindrom metabolik. Kata kunci: Sindrom metabolik, Pekerja Tambang, Faktor Risiko Sindrom Metabolik, International Diabetes Federation (IDF)

Metabolic syndrome is an accumulation from several disorders in the body's metabolic processes that directly increases the risk of cardiovascular diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and stroke. This study aims to analyze the relationship between metabolic syndrome risk factors which include environmental factors (work location and place of residence), genetic factors (gender, ethnicity, age, and parental disease history), and behavioral factors (smoking habits and physical activity) on mining workers at PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). This study used a cross-sectional method and data collection was carried out by distributing online questionnaires. The prevalence of metabolic syndrome in this study was determined based on International Diabetes Federation (IDF) criteria. From 111 workers who became research respondents, it was found that 27 (24.3%) workers had metabolic syndrome. In addition, there was a significant relationship between gender (p–value = 0.039) and parental disease history (p–value = 0.009) with the incidence of metabolic syndrome. Keywords: Metabolic syndrome, mine workers, Metabolic syndrome risk factors, International Diabetes Federation (IDF)
Read More
S-11241
Depok : FKM UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive