Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30656 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Virna Wita; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak:

Dalam era globalisasi tumbuhnya rumah sakit menyebabkan terjadinya kompetisi antar rumah sakit yang makin keras untuk dapat merebut pasar yang semakin terbuka lebar. Hal ini mendorong pihak rumah rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat menjadi alat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi mutu pelayanan yang diberikan, yaitu dengan melakukan analisis perhitungan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan tindakan appendiktomi akut di kamar operasi rumah sakit X dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian operational research dan bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder rumah sakit tahun 2010 di RS X Jakarta. Metode perhitungan biaya menggunakan metode ABC (Activity Based Costing) dan distribusi sederhana. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya langsung dengan menghitung biaya dari kegiatan yang terjadi menggunakan cost driver berdasarkan waktu kegiatan. Metode distribusi sederhana untuk mengalokasikan biaya tidak langsung yang secara tidak langsung terlibat dalam pelayanan appendiktomi dengan melakukan pendistribusian biaya dari unit penunjang ke unit produksi (kamar operasi). Biaya satuan aktual appendiktomi sebesar Rp. 5.344.551,48,- dan biaya satuan normatif sebesar Rp. 5.312.912,-. Biaya operasional jasa medis dan paramedis merupakan biaya yang terbesar.


 In an era of growing globalization of the hospital which led to competition among hospitals is increasingly more difficult to capture the wide open market. This prompted the hospital as well as the stakeholders to quantify how much the real cost of services is needed, and could be a reference tool in health care financing without reducing the quality of service provided by analyzing the cost calculation. The objective of this study is to determine the amount of unit cost in acute appendectomy surgery at operating room of hospital X by calculating the direct costs and indirect costs. This research type is operational research and descriptive analysis by using secondary data from hospital X Jakarta for the year 2010. Methods of cost calculation are ABC (Activity Based Costing) and simple distribution. ABC method is used for allocating direct costs by calculating the cost of activities that occur using time-based cost driver activity. Simple distribution method is used for allocating indirect costs that are not directly involved in appendectomy service by distribution of unit costs which supports the production unit (operating room). Actual unit cost of appendectomy surgery is Rp. 5.344.551,48, - and normative unit cost is Rp. 5.312.912, -. Operational costs of medical and paramedical consumable materials become the largest consumption.

Read More
B-1399
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sophia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Hevi Widi Hastuti, Svetlana S. Paruntu
Abstrak: ABSTRAK Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai peta jalan (roadmap) menuju jaminan kesehatan semesta / Universal Health Coverage (UHC) di tahun 2019, seluruh penduduk menjadi peserta Jaminan Kesehatan. Untuk itu Rumkital Dr. Mintohardjo harus selalu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu karena jumlah pasien BPJS Kesehatan yang di rawat inap semakin meningkat setiap tahunnya. Analisis biaya merupakan tindakan strategis yang sangat perlu dilakukan karena saat ini rumah sakit telah menjadi suatu lembaga sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya satuan tindakan bedah appendiktomi di kamar operasi Rumkital Dr. Mintohardjo tahun 2017 dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung. Penelitian ini merupakan operational research yang bersifat deskriptif, melakukan analisis biaya satuan tindakan appendiktomi di kamar operasi tahun 2017. Metode analisis yang digunakan adalah metode distribusi sederhana. Hasil penelitian yaitu biaya investasi tindakan appendiktomi sebesar Rp 26.280.456,- atau 5,2% dari biaya total tindakan appendiktomi. Biaya operasional merupakan biaya yang paling besar dibandingkan dengan biaya investasi dan biaya pemeliharaan yaitu sebesar Rp 420.142.348,- atau 83,7% dari biaya total tindakan appendiktomi dan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.992.830,- atau 0,4%, Alokasi biaya unit penunjang untuk tindakan appendiktomi sebesar Rp 52.313.904,- atau 10,4% dan alokasi biaya tidak langsung lainnya sebesar Rp 1.430.090,- atau 0,3%. Total biaya tindakan appendiktomi sebesar Rp 502.159.628,- Biaya satuan aktual tindakan appendiktomi sebesar Rp 3.025.058,-. Cost Recovery Rate (CRR) sebesar 109,07%. Perhitungan biaya satuan merupakan strategi awal dari setiap perhitungan tarif pelayanan. Kata Kunci : Biaya satuan, tindakan bedah appendiktomi. metode distribusi sederhana ABSTRACT National Health Insurance (JKN) participation in accordance with the roadmap to universal health insurance / Universal Health Coverage (UHC) in 2019, all residents become participants of Health Insurance. For that Rumkital Dr. Mintohardjo must always provide quality health services because the number of BPJS Health patients hospitalized increases every year. Cost analysis is a strategic action that is very necessary because at this time the hospital has become a socio-economic institution. This study aims to analyze the unit cost of appendectomy surgery in operating room Dr. Mintohardjo Navy Hospital in 2017 by calculating direct and indirect costs. This research is a descriptive operational research, analyzes the unit cost of appendectomy in the operating room in 2017. The analytical method used is a simple distribution method. The results of the study are the investment costs of appendectomy is Rp. 26,280,456, or 5.2% of the total cost of appendectomy. Operational costs are the biggest costs compared to investment costs and maintenance costs, which amounted to Rp 420,142,348, or 83.7% of the total cost of appendectomy and maintenance costs is Rp 1,992,830, - or 0.4%, cost allocation supporting units for appendectomy is Rp. 52,313,904, - or 10.4% and allocation of other indirect costs amounting to Rp 1,430,090, - or 0.3%. The total cost of appendectomy is Rp. 502,159,628, - the actual unit cost of appendectomy is Rp. 3,025,058. Cost Recovery Rate (CRR) which amount to 109,07%. Unit cost calculation is the initial strategy of each service tariff calculation. Keywords : Unit cost, appendectomy surgery, simple distribution method
Read More
B-2055
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Muchlis; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Puji Triastuti, Dwi Hesti Hendarti
Abstrak: Efisiensi dengan kendali mutu dan kendali biaya dapat dilakukan oleh rumah sakitdengan menerapkan perhitungan cost of treatment berbasis clinical pathway.Dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional yang dimulai pada 1 Januari2014, penerapan tarif INA CBG yang dikelola oleh BPJS Kesehatan menimbulkanpolemik bagi pihak rumah sakit, karena dari beberapa kasus, tarif yangdiberlakukan mengalami selisih tarif. Selisih tarif juga terjadi pada tarif antarkelas perawatan. Melihat hal tersebut penulis melakukan penelitian di rumah sakitumum Kabupaten Tangerang pada bulan April tahun 2014. Penelitian ini bertujuanuntuk mendapatkan cost of treatment berbasis clinical pathway tindakan bedahapendiktomi serta menganalisis perbedaan biaya antar kelas perawatan sekaligusmembandingkan dengan tarif rumah sakit dan tarif INA CBG . Jenis penelitian iniadalah kuantitatif dengan pendekatan kualitatif melalui pengambilan data secaracross sectional. Dari hasil penelitian didapatkan perbedaan harga yang harusdibayar untuk pelayanan yang sama (cost Shifting) pada perhitungan cost oftreatment berbasis clinical pathway perbedaan biaya yang harus dibebankankepada pasien maupun pihak penjamin adalah biaya akomodasi kamar perawatansaja. Perbedaan biaya antar kelas adalah sebagai berikut : biaya pengobatanKelas II ke biaya pengobatan kelas I sebesar 3% dan biaya pengobatan kelas II kebiaya pengobatan kelas III sebesar 3%. Dengan adanya perhitungan ini, rumahsakit dan BPJS diharapkan memiliki pedoman perhitungan penetapan tarif antarkelas perawatan berdasarkan perhitungan cost of treatment berbasis clinicalpathway.
Efficiency with quality control and cost control can be done by applying thecalculation of the hospital cost of treatment based on clinical pathways.In theimplementation of the National Health Insurance beginning on January 1, 2014,application of INA rates CBG managed by Health BPJS polemical to the hospital,because of some cases, tariffs applied to experience the difference in rates.Differences also occur in tariff rates between treatment classes. Seeing this, theauthors conducted a study in Tangerang district general hospital in April 2014.This study aimed to obtain the cost of treatment based on clinical pathwaysapendiktomi surgery and analyze the difference between the cost of treatmentclasses at the same rate compares with rates hospitals and INA CBG. Thisresearch is quantitative with qualitative approach through cross sectional dataretrieval. From the results, the difference in the price paid for the same service(cost Shifting) in the calculation of the cost of treatment based on clinicalpathways difference in cost to be borne by the patient or the guarantor is the onlytreatment room accommodation costs. The difference between the cost of the classis as follows: cost of treatment of Class II to Class I medical expenses by 3% andthe cost of treatment of Class II to Class III medical expenses by 3%. Given thiscalculation, the hospital and BPJS is expected to have guideline calculations tarifftreatment between classes based on the calculation of the cost of treatment basedon clinical pathways.
Read More
B-1622
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Hamka; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Atiek S. Asmawati
B-1277
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Israny; Pembimbing: Mardiati Nadjib
B-437
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dionisius Indri Priyobodo; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Mochamamad Ridwan Indivana, Amila Megraini
Abstrak:
Dalam era JKN ini, unit cost diperlukan untuk membantu dalam mengelola keuangan rumah sakit dan bisa menambah atau mempertahankan pendapatan rumah sakit. Tonsilektomi merupakan salah satu tindakan tersering di bagian THT di banyak rumah sakit di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh biaya satuan pasien tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro dan perbandingannya dengan tarif INA-CBGs. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan variabel yaitu direct cost, indirect cost, dan biaya total pada pasien yang mendapatkan tindakan tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro. Metode perhitungan biaya ini menggunakan sistem ABC. Biaya satuan pasien yang mendapatkan tonsilektomi ringan pada kelas 1 sebesar Rp 5.585.881,24 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 5.118.600,00, kelas 2 sebesar Rp 5.361.090,46 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 4.483.600,00, dan kelas 3 sebesar Rp 5.198.101,09 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 3.848.600,00. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa secara keseluruhan biaya satuan pada tonsilektomi ringan di RS Aisyiyah Bojonegoro tahun 2022 lebih besar dibandingkan dengan tarif INA-CBGs.

In this JKN era, unit costs are needed to help manage hospital finances and can increase or maintain hospital income. Tonsillectomy is one of the most common procedures in the ENT department in many hospitals in the world. The purpose of this study was to obtain unit costs for tonsillectomy patients at Aisyiyah Bojonegoro Hospital and compare them with INA-CBGs rates. This study uses a descriptive method with variables namely direct cost, indirect cost, and total cost in patients who get tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital. This cost calculation method uses the ABC system. The unit cost of patients who received mild tonsillectomy in class 1 amounted to Rp 5.585.881,24 compared to the INA-CBGs rate of Rp 5,118,600.00, class 2 amounted to Rp 5.361.090,46 compared to the INA-CBGs rate of Rp 4,483,600.00, and class 3 amounted to Rp 5.198.101,09 compared to the INA-CBGs rate of Rp 3,848,600.00. Based on the results of this study, it was found that the overall unit cost of mild tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital in 2022 was greater than the INA-CBGs tariff
Read More
B-2446
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardiansyah; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Kurnia Sari, Pujiyanto, Dovy Djanas, Pribadi Wiranda Busro
Abstrak:
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan tujuan melakukan analisis perhitungan biaya satuan tindakan bedah jantung Coronary Artery Bypass Graft (CABG) dalam satu episode rawatan dengan metode Activity Based Costing (ABC) di RSUP DR. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr M. Djamil Padang, Waktu penelitian November-Desember 2023. Terdapat 23 sampel pada penelitian ini. Semua sampel yang ada dibuatkan simulasi aktivitasnya berdasarkan telaah berkas klaim, wawancara, serta observasi langsung untuk mendapatkan gambaran terkait komponen biaya yang memengaruhi pelayanan pasien operasi bedah jantung CABG dalam satu episode rawatan. Berdasarkan hasil analisis biaya didapatkan bahwa biaya satuan pasien operasi bedah jantung CABG di RSUP M. Djamil Padang dalam satu episode rawatan didapatkan total unit cost sebesar Rp. 141.143.737,56. Total biaya langsung Rp. 124.767.235,56 dan biaya tidak langsung adalah sebesar Rp. 16.376.502,00. Kedisiplinan dalam menjalankan clinical pathway menjadi kunci utama bagi rumah sakit untuk melakukan efektivitas pembiayaan. Jumlah operasi memiliki potensi besar untuk ditingkatkan mengingat antrian bedah jantung terbuka di RSUP M. Djamil Padang sudah mencapai enam bulan lebih. Semakin banyak operasi yang dilakukan akan berdampak positif terhadap efektivitas biaya. Beberapa BMHP, alat-alat kesehatan, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi dan pemberian obat-obatan bisa lebih diefektifkan yang berdasarkan analisis penelitian ini mampu mengefektifkan biaya sampai dengan 25-30%.

This is a descriptive study with a qualitative and quantitative design with the aim to analyze the unit cost of Coronary Artery Bypass Graft (CABG) heart surgery in one hospitalization episode using the Activity Based Costing (ABC) method at RSUP DR. M. Djamil Padang. The research was conducted at Dr M. Djamil Hospital Padang on November-December 2023 with 23 samples. All existing samples were simulated activities based on a review of claims files, interviews, and direct observation to get an idea of the cost components that influence the CABG heart surgery patients in one episode of hospitalization. Based on the cost analysis results, it was found that the unit cost for CABG heart surgery patients at M. Djamil General Hospital in Padang in one hospitalization period was Rp. 141,143,737.56. Total direct costs are Rp. 124,767,235.56 and indirect costs are Rp. 16,376,502.00. Discipline in implementing clinical pathways is the main key for hospitals to make financing effective. The number of operations has great potential to be increased considering that the queue for open heart surgery at M. Djamil Hospital in Padang has reached more than six months. The more operations performed will have a positive impact on cost effectiveness. Several disposable medical materials, medical devices, laboratory examinations, radiological examinations and administration of medicines can be made more effective, which based on the analysis of this analysis can reduce the costs until 25-30%.
Read More
B-2413
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jimmy Agung Pambudy; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Dewi Yuliawaty, Beny Hartono
Abstrak: RS Jantung Sehat merupakan rumah sakit khusus jantung swasta yang hingga saatini belum menjalin kerja-sama dengan BPJS dalam penyelenggaraan jaminankesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan tarif antara tarif rumahsakit dengan tarif yang ditetapkan oleh BPJS kesehatan. Dengan adanyakesenjangan tarif antara tarif rumah sakit Jantung Sehat dengan tarif pasien BPJS,maka rumah sakit sangat membutuhkan input dalam bentuk informasi yanglengkap, salah satunya adalah perhitungan biaya satuan (unit cost) untukpelayanan intervensi non bedah. Tujuan penelitian ini adalah menghitung biayasatuan (unit cost) di RS Jantung Sehat Jakarta dengan menghitung biaya langsungdan biaya tidak langsung yang terjadi. Jenis penelitian ini adalah analisisdeskriptif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan data primer berupawawancara dan data sekunder dari RS Jantung Sehat, penghitungan biayamenggunakan metode Activity Based Costing (ABC).Berdasarkan hasil penghitungan biaya tindakan PCI tanpa penyulit diperoleh ;Biaya satuan aktual tindakan PCI tanpa penyulit sebesar Rp. 24.984.200,22,- ;Total biaya langsung (Investasi) sebesar Rp. 67.241.952,80 ; Total biayalangsung (Operasional) sebesar Rp. 686.393.711,12 ; Total Biaya langsung(Pemeliharaan) sebesar Rp. 11.914.085,65 ; Total Biaya Penunjang (Investasi danOperasional) sebesar Rp. 18.042.818,84. CRR antara revenue pasien swastadengan biaya satuan aktual sebesar192.12% sedangkan CRR antara revenuepasien BPJS dengan biaya satuan aktual sebesar 40.91%.Kebijakan kenaikan kelas rumah sakit Jantung Sehat dan kebijakan efisiensi biayaharus ditetapkan oleh rumah sakit agar dapat melayani pasien BPJS tanpamengalami kerugian yang dapat mengancam kelangsungan hidup rumah sakit.Kata kunci : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Jantung Sehat Hospital is a private cardiac hospital that has not establishedcooperation with BPJS in the administration of health insurance until now. This iscaused by the discrepancy between tariff rates by the hospital with tariff rates thatby BPJS Health Services. Hence, the difference of tarrifs mentioned above,makes the hospital requires input in the form of complete information, which oneof the information is the cost calculation unit (unit cost) for the non-surgicalintervention services. The purpose of this study is to calculate the unit cost in theJantung Sehat Hospital Jakarta by calculating the direct and indirect cost thatoccurs. The type of this reserach is descriptive analysis, with the case studyapproach and the use of primary data in the form of interviews and secondary datafrom the Jantung Sehat Hospital. The methods of the cost calculations is usingActivity Based Costing (ABC).Based on the results of the PCI costs calculation whithout complicating, obtained;The actual unit cost measures without complication PCI is Rp 24,989,200.22 ,- ;Total Direct Costs (investment) is Rp. 67.241.952,80 ; Total Direct Cost(Operational) is Rp. 686.393.711,12 ; Total Direct Costs (Maintenance) is Rp.11.914.085,65 ; Total Costs of Support (Investment and Operational) is Rp.18.042.818,84. The CRR between private patient revenue with actual unit cost is192.12% while the percentage of CRR between BPJS Health Service patientrevenue with actual unit cost is 40.91%.The policy to increase the class of Jantung Sehat Hospital and the cost efficiencypolicy should be set by the hospital to serve BPJS Healt Service patients withoutexperiencing losses which could endanger the existence of the hospital itself.Keywords : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Read More
B-1814
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reynaldi Fattah Zakaria; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Atik Nurwahyuni, Muhammad Helmi; Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Semasa Pandemi COVID-19, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan RSKD Duren Sawit menjadi rumah sakit rujukan untuk merawat pasien COVID-19. Dan pada tahun 2022, RSKD Duren Sawit telah resmi mengadakan layanan kamar operasi. Akibat urgensi permintaan layanan kamar operasi yang lebih lengkap, penentuan tarif kamar operasi dilakukan dengan mengadaptasi tarif RSUD lain dan Peratuan Gubernur DKI Jakarta. Terdapat selisih biaya yang sangat besar antara tarif rumah sakit dan tarif klaim INA-CBGs, khususnya pada tindakan debridemen bedah yang dilakukan di kamar operasi. Salah satu faktor yang menyebabkan selisih biaya adalah belum ditetapkannya tarif tindakan debridemen berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost). Mengetahui unit-cost debridemen di kamar operasi sesuai dengan biaya per-aktivitas. Desain penelitian ini adalah cohort retrospective. Aktivitas tindakan debridemen dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan laporan operasi pasien. Kemudian melakukan perhitungan unit cost berdasarkan activity-based costing. Unit cost tindakan debridemen dengan anastesi TIVA adalah Rp. 3.189.185, dengan anastesi spinal adalah Rp. 3.169.460, dan dengan anastesi blok perifer adalah Rp. 3.305.072. Hasil perhitungan unit cost lebih rendah dibandingkan tarif rumah sakit untuk tindakan debridemen leher dan mediastinitis. Namun untuk tindakan debridemen oleh bedah umum dan bedah mulut, unit cost lebih tinggi.

During the COVID-19 Pandemic, The Government of DKI Jakarta established the Duren Sawit RSKD as a referral hospital to treat COVID-19 patients. And in 2022, RSKD Duren Sawit has officially held operating room services. Due to the urgency demand for more complete operating room services, the determination of operating room rates is carried out by adapting the other hospitals and The Governor Regulation of DKI Jakarta. There is a huge difference in costs between the hospital rates and the INA-CBGs claim rates, especially for surgical debridement performed in the operating room. One of the factors causing the difference is the undetermined cost for debridement based on the unit cost component. Knowing the unit-cost debridement in the operating room according to the cost per activity. The study design was a retrospective cohort. Debridement action activities were collected through direct observation and patient operation reports. Then perform unit cost calculations based on activity-based costing. The unit cost of debridement with TIVA anesthesia is Rp. 3.189.185, with spinal anesthesia is Rp. 3.169.460, and with peripheral block anesthesia is Rp. 3.305.072. The unit cost calculation results are lower than hospital rates for neck debridement and mediastinitis. However, for debridement by general surgery and oral surgery, the unit cost is higher.
Read More
B-2342
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Hendarwulan; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Pujiyanto. Nienne Aridayanthi Hainum, Lies Nugrohowati
Abstrak: Pemerintah telah berupaya mencegah dan mengurangi angka kejadian penyakit dengan Inpres No.1 Tahun 2017 tentang GERMAS. GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota Depok tahun 2019. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan data dikumpulkan dari 30 Puskesmas di Kota Depok. Analisis data statistik univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat dengan korelasi logistik Hasil penelitian menunjukkan 83,3% Puskesmas melaksanakan sosialisasi GERMAS dan edukasi sehat, 100% Puskesmas melakukan penyuluhan ASI ekslusif, 83.3 % Puskesmas melakukan kegiatan deteksi dini penyakit, IVA dan Ca mammae dan 80% Puskesmas melakukan kegiatan sosialisasi gemar aktivitas fisik. Ketersediaan sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana dalam pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota depok memadai, namun belum adanya petunjuk pelaksana/SK dari Dinas Kesehatan maupun SK Kepala Puskesmas untuk pelaksanaan GERMAS di Puskesmas. Saat ini petunjuk pelaksana yang dipakai sebagai pedoman kegiatan GERMAS masih mengikuti Perwal yang ada. Perencanaan dan pengorganisasiannya belum mempunyai roadmap pelaksanaan GERMAS di Puskesmas dan 70 % Puskesmas pengawasannya baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana terhadap kegiatan GERMAS (p-value<0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan terhadap kegiatan GERMAS (p-value >0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan pelaksanaan GERMAS . Analisis multivariat menunjukkan faktor yang dominan mempengaruhi kegiatan GERMAS adalah pengawasan. Puskesmas diharapkan meningkatkan sosialiasi dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan GERMAS.
Read More
B-2139
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive