Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25678 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.47, No.4, Apr. 1997, hal. 167-174
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.52, No.11, Nop. 2002: hal. 398-402
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
615.1 KAT f
[s.l.] : Jakarta : Salemba Medika, 2001, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.2, XXX, Pebr. 2004, hal. 107-111, ( Cat. ada di bendel 2000 - 2005 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reggy L. Lefrandt
Medika-No.2, XXX
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amran; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Nasrin Kodim, Bambang Budi Siswanto, Yoga Yuniadi, Triyunis Miko Wahyono
Abstrak:

Gagal jantung merupakan salah satu jenis penyakit jantung dengan insiden, prevalen serta mortalitas yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keteraturan berobat terhadap kesintasan lima tahun penderita gagal jantung kongestif (GJK). Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Sampel sebanyak 402 orang penderita baru GJK yang didiagnosis antara tahun 2001 s.d. 2002 dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Ditemukan penderita GJK yang meninggal selama lima tahun follow up adalah 78 orang (19,4%). Probabilitas kesintasan penderita GJK adalah sebesar 88,65% (tahun pertama), 80,11%(tahun ke dua). 72.22% (tahun ke tiga), 63,75% (tahun ke empat) dan 54,41% (tahun ke lima). Penderita GJK yang tidak teratur berobat mempunyai risiko kematian lebih tinggi dari pada yang berobat teratur. Pada analisis Cox regression keteraturan berobat merupakan yariabel independen pada kesintasan penderita GJK (HR:1,95; 95% Cl: 1.23-3.11). Faktor-faktor Iain yang juga bermakna terhadap kesintasan penderita GJK adalah Ejection Fraction (HR:1,91; 95% Cl:1,18-3,08), Diabetes Melitus (HR:1,85; 95% Cl:1,08-3,18). Beberapa variabel pada penelitian ini hubungannya tidak bermakna terhadap kesintasan penderita GJK yaitu: umur, rokok,functional, riwayat PJK , hipertensi , kreatinin dan tindakan pengobatan. Keteraturan berobat terbukti mempengaruhi probabilitas kesintasan penderita GJK. Penderita GJK disarankan untuk senantiasa melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara teratur.


 

Heart failure is one of cardiovascular disease which incidence, prevalence and mortality remain height and increased. The purpose of this study was to evaluate the effect of routine medical evaluation (compliance) on five year survival rate of patients hospitalized due to congestive heart failure. The Study design used in this study is retrospective cohort with 402 patients of newly diagnosis congestive heart failure (CHF) admitted in year 2000 to 2001 at National Cardiovascular Center - Harapan Kita, Jakarta. During 5 year follow-up, 78 patients died. Survival at 1 to 5 years was in order of 88,65%, 80,11%, 72,22%, 63,75%, and 54,41%, respectively. CHF patients who did not underwent routine medical evaluation had higher prognostic of death than CHF patients who had medical evaluation routinely. By Cox regression analyses, the independent predictors of mortality were routine evaluation (HR:1,95; 95% CI: 1.23-3.11). low ejection fraction (HR:1,91; 95% CI:1,18-3,08), and diabetes mellitus (HR:1,85; 95%CI:1,08-3,18). Other predictors were not statistically significant, i.e: age, gender, smoking, functional class, coronary heart disease, creatinine, and the medication. The status of compliance is an independent predictor of survival for patients with CHF, besides low ejection tiaction and diabetes mellitus. These evaluation, like the other research, suggested the importance of compliance in the treatment of CHF.

Read More
T-2541
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farmacia, Vol.XIV, No.8, Maret 2015, hal. 42-43
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
MJKI No.4
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berkala Ilmu kedokteran, Vol.38, No.2, 2006, hal. 51-63
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cyntiya Rahmawati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mardiati Nadjib, Agusdini Banun, Djamal Abdul Muis
Abstrak: Latar belakang:Hipertensimerupakan salah satu faktor risiko gagal jantung kongestif. Di rawat inap RSUD Pasar Rebo pada tahun 2014, gagal jantung kongestif masuk dalam 10 penyakit terbanyak, dengan biaya total yang cukup besar dan terdapat selisih tarif antara tarif RS dengan tarif JKN, sehingga perlu dilakukan analisis minimalisasi biaya salah satunya pada obat antihipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memilih alternatif yang lebih cost- minimize antara ramipril-spironolakton dengan valsartan pada pengobatan gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo tahun 2014. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifberupa analisis cross-sectional retrospektif. Penelitian dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata biaya total dua alternatif pengobatan gagal jantung kongestif, yaitu ramipril-spironolakton dengan valsartan dengan menggunakan perspektif Rumah Sakit. Komponen biaya langsung medis yang dihitung adalah biaya obat, biaya jasa dokter dan biaya rawat inap. Sedangkan efektivitas dipastikan memiliki efek yang setara. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pasien gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo tahun 2014 didapatkan bahwa: (1) Nilairata-rata biaya total penggunaan kombinasi obat ramipril-spironolakton sebesar Rp.2.527.743; (2) Rata-rata biaya total penggunaan obat valsartan sebesar Rp.2.430.923; (3) Obat ramipril-spironolakton efektivitasnya tidak berbeda signifikan atau setara dengan obat valsartan; (4) Adanya penghematan pada rata- rata biaya total obat valsartan sebesar Rp.96.820 per pasien; (5) Adanya penghematan pada biaya rawat inap obat valsartan sebesar Rp.299.031 per pasien. Kesimpulan: Obat valsartan memberikan nilai rupiah yang terendah dan menjadi pilihan yang lebih cost-minimize dibandingkan obat ramipril-spironolakton pada pasien gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo Tahun 2014. Kata kunci: Analisis minimalisasi biaya,ramipril - spironolakton, valsartan, gagal jantung kongestif, RSUD Pasar Rebo
Read More
T-4368
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive