Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39467 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Habsah; Pembimbing: Yvonne M. Indrawani; Penguji: Nurfi Afriansyah, Ratu Ayu Dewi Sartika
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Mi basah merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat
 
karena praktis, mudah diolah serta dapat disajikan dengan cepat. Kadar airnya
 
dapat mencapai 52% sehingga daya tahan simpannya relatif singkat. Boraks dan
 
formalin adalah bahan pengawet yang menjadi pilihan untuk mengawetkan mi
 
basah agar tahan lama, padahal sebenarnya penggunaannya dalam makanan
 
dilarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengetahuan pedagang
 
berpengaruh terhadap perilaku penambahan boraks dan formalin pada mi basah.
 
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross
 
sectional dan percobaan uji boraks dan formalin pada mi basah (mentah dan
 
matang) dilakukan di laboratorium gizi FKM UI. Gambaran karakteristik
 
pedagang di kantin sebanyak 55% berumur 41-65 tahun, 55% adalah laki-laki,
 
55% berpendidikan SMA, pada kelompok pedagang mi mentah dan matang
 
mempunyai rata-rata pengetahuan 74% meliputi pengetahuan mengenai BTP,
 
boraks dan formalin. Berdasarkan 20 sampel yang diperiksa, ditemukan 4 sampel
 
mi mentah positif mengandung boraks dan 7 mi matang positif mengandung
 
boraks dan formalin. Berdasarkan pengamatan ciri fisiknya, mi basah yang
 
mengandung boraks dan formalin mempunyai ciri yaitu teksturnya kenyal, lebih
 
mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus, bau menyengat, tahan disimpan
 
dalam suhu kamar. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar
 
pedagang mi basah sudah mengerti tentang boraks dan formalin. Walaupun
 
demikian, masih banyak pedagang yang tetap menggunakannya, meskipun
 
penggunaan boraks dan formalin dalam makanan dilarang.
 

 
Abstract
 
 
Wet noodles is type food often consumed by people everyday because it is
 
daily practice, easily processed and can be served quickly. It contains water in
 
which can reach 52%, so that the durability is relative short. Borax and formalin
 
are preservative of choice for preserving wet for durability, when in fact they use
 
is prohibited in food. The aims of this study was determine whether knowledge of
 
wet noodle sellers affected the bahaviot of addition of borax and formalin in wet
 
noodles. This study is a quantitative study using cross sectional design. The result
 
of this study showed most characteristic features of respondents age 41-65 years
 
45%, 55% male, 55% high school education, good knowledge of food additives
 
46% for fresh noodle respondents and 56 for wet noodle respondents, being
 
knowledgeable about borax 100% for fresh and wet noodle respondents, good
 
knowledge of formalin 28,6% for wet noodles respondents. Based on 20 samples
 
af wet noodles are examined, 4 fresh noodles found contain borax and 7 wet
 
noodles contain borax and formalin. Based on abservation of physical
 
characteristics, wet noodles containing borax and formalin has a chewy texture,
 
more shiny, not sticky, and not broken easily. Pungent odor and can be retained
 
on temperature room. Conclusion this study proves level of knowledge of
 
behavior and from results of laboratory tests showed the persistence of wet
 
noodles seller sell wet noodles was contain borax and formalin.
 
Read More
S-7369
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neneng Bisyaroh; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahyani Budi Utami, Ikeu Tanziha, Abu Amar
Abstrak: Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap tubuhtergantung konsentrasi yang dicapai. Karena kadar tertinggi dicapai pada waktudiekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkandengan organ lain. Dosis fatal boraks antara 0,1-0,5 g/kg berat badan. Banyaklaporan kasus mengenai bahaya keracunan boraks. Insidens keracunan terjadidimana saja diakibatkan menelan pangan yang tidak aman. Boraks harus dicegahkarena kandungan toksitasnya. Penjelasan dan kesadaran tentang bahaya borakssangat diperlukan karena sangat mudahnya konsumen terpapar boraks melaluimakanan.Tujuan utama penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi perilaku penggunaan boraks pada pedagang bakso di KotaTangerang Selatan Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain case controldengan jumlah sampel sebanyak 150 penjual yang memproduksi bakso sendiri.Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2016.Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antarafaktor predipsosisi dengan perilaku penggunaan boraks, yaitu P value pelatihansebesar 0,960, P value pengetahuan = 0.539, dan P value sikap = 0.464. Faktorpenguat yang berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks adalahpembinaan, P= karena nilai P= 0.045, Odd Ratio (OR) = 2.528 (95% CI : 1.091-5.858). Hal ini menunjukkan bahwa responden yang mendapatkan pembinaan,2.528 kali lebih untuk tidak menggunakan boraks dibandingkan denganresponden yang tidak mendapatkan pembinaan. Dari hasil analisis multivariatsecara keseluruhan, maka penggunaan boraks pada responden dapat diperkirakandengan ketersediaan boraks dan pembinaan. Pembinaan akan menurunkanpenggunaan boraks sebesar 2.198.Saran yang dapat diberikan yaitu, perlu dilakukan peningkatan pembinaandan pemerintah mengawasi lebih ketat peredaran bahan makanan terlarangterutama boraks.Kata kunci : boraks, perilaku, pedagang, bakso.
Borax is toxic to all cells. The effect on the body depends on theconcentration achieved. Because the highest levels achieved on time excreted thekidney is the organ most affected compared to other organs. Borax fatal dose ofbetween 0.1-0.5 g / kg body weight. Many case reports of poisoning hazard borax.The incidence of poisoning occur anywhere due to swallowing food insecure.Borax must be prevented because the content of toxcity. Explanation andawareness about the dangers of borax is indispensable because it is so easyconsumer exposure through food contain borax.The main purpose of research is to determine the factors that affect thebehavior of the use of borax from meatballs traders in South Tangerang City Year2016. This study used a case control design with a sample size of 150 sellers whoproduce their own meatballs. This study was conducted in April-June, 2016.The results of this study showed no statistically significant associationbetween the use of behavioral factors predipose with borax, namely the trainingvariable has P value = 0,960, P value of knowledge = 0539, and P value ofattitudes = 0.464. Reinforcing factors relating to the behavior of the use of boraxis coaching, P value = 0.045, odds ratio (OR) = 2,528 (95% CI: 1091-5858). Thisindicates that respondents who receive coaching, 2,528 times more for not usingborax compared with respondents who did not receive coaching. Multivariateanalysis as a whole, then the use of borax in the respondent can be predicted bythe availability of borax and coaching. Coaching will reduce the use of borax by2.198. Advice can be given that, there should be an increase in guidance andtougher of government to monitor illicit circulation of foodstuffs especially borax.Keywords: borax, behavior, meatballs, traadders.
Read More
T-4665
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Intania Sofianita; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Kusharisupeni, Ella Nurlela Hadi, Resty Kiantini, Erry Sriyanti
T-3197
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abi Agistiawin; Pembimbing: Kusharisupeni Djojosujono; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Syamsuddin
S-8362
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktavia Anindita; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Iskandar Zulkarnaen
S-6217
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rista Azzulfa; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sugiatmi
Abstrak:

Mi instan adalah salah satu makanan yang populer di dunia, terutama kawasan Asia. Menurut World Instant Noodles Association (WINA) pada tahun 2023, Indonesia menduduki posisi kedua permintaan mi instan tertinggi. Masa remaja merupakan masa peralihan yang memiliki banyak perubahan dalam aspek kehidupan, termasuk mengenai pemilihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konsumsi mi instan berdasarkan perilaku membaca label ING, pengaruh teman sebaya dan faktor lainnya pada siswa SMAN 34 Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah 125 responden yang ditentukan melalui metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian SQ-FFQ dan kuesioner oleh responden di sekolah. Pengolahan dan
analisis data dilakukan menggunakan program Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan 64,8% siswa di SMA memiliki konsumsi mi instan yang tinggi (≥ 1 kali/minggu). Analisis lanjutan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara persepsi harga produk dan pengaruh teman sebaya dengan konsumsi mi instan. Berdasarkan hasil penelitian, siswa disarankan untuk bijak konsumsi mi instan dengan memperhatikan frekuensi, jumlah mi instan yang dikonsumsi, serta penambahan bahan makanan seperti protein dan sayur. Sekolah dan orang tua juga memiliki peran yang penting untuk mengawasi serta mengarahkan remaja dalam pemilihan makanan yang baik.


Instant noodles are one of the most popular foods in the world, especially in Asia. According to the World Instant Noodles Association (WINA) in 2023, Indonesia ranked the second highest demand for instant noodles. Adolescence is a transitional period that has many changes in aspects of life, including food choices. This study aims to determine differences in instant noodle consumption based on ING label reading behavior, peer influence and other factors among students of SMAN 34 Jakarta. This research used a cross-sectional study design with a quantitative approach. The sample in this study was 125 respondents who were determined through the purposive sampling method. Data collection was conducted by filling out the SQ-FFQ and questionnaires by respondents at school. Data processing and analysis were conducted using Microsoft Excel and IBM SPSS Statistics programs. The results showed that 64,8% of students in high school had high instant noodle consumption (≥ 1 time/week). Further analysis showed that there was a significant proportion difference between perceived product price and peer influence with instant noodle consumption. Based on the results of the study, students are advised to consume instant noodles wisely by paying attention to the frequency, the amount of instant noodles consumed, and the addition of food ingredients such as protein and vegetables. Schools and parents also have an important role to supervise and direct adolescents in choosing good food.

Read More
S-11955
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikha Deviyanti Puspita; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Asih Setiarini, Itje Aisah Ranida, Rahmawati
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk melihat retensi pengetahuan, sikap, dan perilaku pasca pelatihan gizi seimbang pada tahun 2012 dengan jumlah responden penelitian sebanyak 669 orang yang terdiri dari siswa kelas 5 dan 6 dari 10 SD terpilih di Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2012, menggunakan metode campuran (mixed methode) atau mengkombinasikan kualitatif dan kuantitatif dengan desain crossectional. Analisis yang digunakan adalah Uji T dan analisa kualitatif. Hasil penelitian ini ialah terdapat perbedaan perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi seimbang Post test I dan Post test II terhadap pengetahuan total gizi seimbang (p=0,000), pengetahuan sumber zat gizi (p=0,000), pengetahuan fungsi zat gizi (p=0,000), sikap total gizi seimbang (p=0,000), sikap konsumsi (p=0,000), sikap tabu dan persepsi (p=0,000), sikap olah raga dan air putih (p=0,000), praktik gizi seimbang (p=0,000), perilaku sarapan (p=0,000), dan perilaku frekuensi (p=0,001). Sikap dan perilaku gizi seimbang Post test II terhadap pendidikan Ayah (p=0,000). Pengetahuan gizi seimbang Post test II terhadap pekerjaan Ibu (p=0,000). Serta, perubahan perilaku total gizi seimbang Post test II terhadap pendidikan Ibu (p=0,000). Selain itu, paparan informasi gizi seimbang yang dilakukan 1 semester 2 kali oleh guru mempengaruhi retensi pengetahuan dan sikap ke arah positif, sedangkan untuk aspek perilaku belum sepenuhnya terlihat. Siswa kelas 5 dan 6 mempunyai retensi baik setelah 16 bulan diberikan intervensi pengetahuan dan sikap gizi seimbang, namun untuk retensi perilaku belum sepenuhnya terlihat perubahan ke arah positif. Agar retensi perilaku gizi seimbang dapat meningkat, maka direkomendasikan untuk menambah frekuensi pembelajaran melalui media yang mudah diingat siswa secara berkesinambungan di lingkungan SD maupun orangtua siswa dan membuat pedoman membaca Pedoman Gizi Seimbang.


 This aims study to see the retention of knowledge, attitudes, and behavior of after nutrition balanced education in 2012 with the number of survey respondents as many as 669 people consisting of students in grade 5 and 6 of the 10 selected Elementary Schools in the Depok city, West Java. The study was conducted in March through May 2012, using mixed methods or a combination of qualitative and quantitative with crossectional design. The analysis used T test and qualitative analysis. The results of this study is that there are differences significant in changes in knowledge, attitudes, and behavior of balanced nutrition post test I and post test II for total balanced nutrition knowledge (p = 0.000), knowledge of nutrient sources (p = 0.000), knowledge of nutrient function (p = 0.000), total balanced nutrition attitude (p = 0.000), consumption attitudes (p = 0.000), taboo attitudes and perceptions (p = 0.000), attitude and water sports (p = 0.000), the practice of balanced nutrition (p = 0.000 ), the behavior of breakfast (p = 0.000), and the behavior of the frequency (p = 0.001). Attitudes and behavior of balanced nutrition post test II's for education father (p = 0.000). Balanced nutrition knowledge post test II to work mother (p = 0.000). As well, total behavior change post test II balanced nutrition for mother education (p = 0.000). In addition, exposure to information balanced nutrition made 1 semester 2 times by the teacher affects the retention of knowledge and attitude towards positive, while for the behavioral aspects not yet fully visible. Students grades 5 and 6 have good retention after 16 months of intervention provided balanced nutrition knowledge and attitudes, but for the retention behavior is not fully visible change in the positive direction. So that the retention behavior of balanced nutrition can be improved, it is recommended to increase the frequency of learning through the media that is easy to remember the students on an ongoing basis within the school and the parents of students and make reading the guidelines Balanced Nutrition Guidelines.

Read More
T-3623
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristin Helena Ratnaningsih; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Adhi Darmawan Tato
S-9482
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ito Leiliana Warnani Harahap; Pemb. Fatmah; Penguji: Trini Sudiarti, Ahmad Syafiq, Hardinsyah, Een Nuraeni
T-3943
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridho Fathan Anandri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Eti Rohati
Abstrak:
Latar belakang: Prevalensi anemia pada remaja putri Indonesia berumur 5-14 tahun adalah 16,3%. Akan tetapi, berdasarkan penelitian terkait kepatuhan minum TTD, dari 274 remaja putri Kota Depok menunjukan bahwa masih 54,4% remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD. Tingginya prevalensi anemia pada remaja dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, sikap, dan perilaku yang tepat mengenai anemia. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media komik strip dan leaflet terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait penccegahan anemia pada pengguna Instagram pada siswi SMPN Depok terpilih tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimental yang melibatkan 70 responden. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan adanya perubahan pengetahuan pada masing-masing kelompok, dengan peningkatan pengetahuan yang paling tinggi pada kelompok komik strip. Namun, peningkatan sikap dan perilaku hanya didapatkan pada kelompok komik strip. Kesimpulan: Komik strip pada penelitian ini mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait pencegahan anemia lebih baik dibandingkan leaflet.

Background: The prevalence of anemia in Indonesian adolescent girls aged 5-14 years is 16.3%. However, based on research related to adherence to drinking TTD, of 274 teenage girls in Depok City, it shows that 54.4% of teenage girls do not consume TTD. The high prevalence of anemia in adolescents can be caused by a lack of knowledge, attitudes and appropriate behavior regarding nutrition. Objective: The aim of this research is to determine the effect of comic strip and leaflet media on knowledge, attitudes and behavior related to preventing anemia among Instagram users among female students at SMPN 13 Depok and SMPN 5 Depok in 2024. Method: This research uses a quasi-experimental research design with primary data obtained from 70 respondents. Results: The results of this study showed that there was a change in knowledge in each group, with the highest change in knowledge in the comic strip group. However, changes in attitudes and behavior were only found in the comic strip group. Conclusion: Comic strips in this study were able to increase knowledge, attitudes and behavior related to anemia prevention better than leaflets.
Read More
S-11670
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive