Ditemukan 32718 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Minerva Nadia Putri AT; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahyani Utami, Diana M. Pakpahan
S-6982
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwianti Kanti Rahayu; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Ida Choridah
S-7521
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maya Kartika; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Rahmat Suherwin
S-6828
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuniatun; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kejadian penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara manusia dan perilakunya serta komponen lingkungan yang memiliki potensi penyakit. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan konsentrasi PM2.5 terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pedagang di Terminal Bus Senen. Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 219 μg/m3. Didapatkan pedagang dengan ISPA sebesar 28% dari 93 sampel. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan kejadian ISPA (p=0,027). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara paparan PM2.5 , umur, status gizi, status merokok dan durasi kerja. Selanjutnya diperlukan pemantauan uji emisi kendaraan dan pemantauan kualitas udara.
Read More
S-9975
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marissa Apriyeni Rotua Lumban Raja; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Zakianis, Diah Wati
S-8725
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Efi Kurniatiningsih; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Ema Hermawati, Leo Hariono
Abstrak:
Konsentrasi PM2,5 dalam ruang mempengaruhi kesehatan apabila terhirup oleh manusia terutama pada kelompok rentan seperti balita. Balita yang tinggal dalam rumah dengan konsentrasi PM2.5 tidak memenuhi syarat memiliki risiko terhadap kejadian gejala ISPA. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional pada balita diwilayah kerja Puskesmas Mekarmukti yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di desa Mekarmukti, Pasirgombong dan desa Wangunharja sebanyak 130 orang. Penentuan gejala ISPA pada balita berdasarkan hasil wawancara dan observasi menggunakan kuesioner sedangkan pengukuran konsentrasi PM2,5 dalam ruang menggunakan Haz dustEPAM 5000.Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan gejala ISPA pada balita (8,47 ; 3,52-20,36). Faktor lain yang mempengaruhi adalah statusmerokok (1,38; 0,58-3,26), jenis kelamin (1,22; 0,58-2,55), status gizi (1,64; 0,56-4,84), suhu (2,48; 0,97-6,32) dan kelembaban (1,96; 0,89-4,34). Analisis multivariat menunjukkan bahwa balita yang tinggal dalam rumah dengan konsentrasi PM2,5 tidak memenuhi syarat memiliki risiko 15,71 kali mengalami gejala ISPA setelah dikontrol dengan variabel kelembaban dan pendapatan orang tua. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara konsentrasi PM2.5 dengan kejadian gejala ISPA pada balita. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian dan pencegahan terhadap efek PM2.5 dengan konseling kesehatan lingkungan dan peningkatan promosi kesehatan terkait faktor risiko gejala ISPA pada balita
Read More
T-6447
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutmainnah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
S-12268
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sekar Agustin; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Dwinda Ramadhoni
S-7287
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Surjanto; Pemb. I Made Djaja, Fatma Lestari; Peng. Rachmadi Purwana, Wahyu Pito Supeni, Nety Widayati
T-2533
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ruri Widowati; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Didik Supriyono
S-8312
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
