Ditemukan 28813 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Penelitian ini mengamati efek mendengarkan musik, membaca bahan bacaan dan menonton televisi terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani pembedahan yang dilakukan di kamar persiapan ruang operasi RS Surya Husadha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji klinis untuk membedakan efek perlakuan, selain kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam ke pasien. Ketiga perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini bisa dikatakan sebagai suatu produk inovatif layanan prabedah. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan terjadinya penurunan tingkat kecemasan yang dibuktikan dengan menurunnya tekanan darah dan denyut nadi pasien. Kebanyakan pasien juga menyatakan rasa nyaman dan dari pertimbangan biayamanfaat disimpulkan bahwa produk inovatif layanan prabedah ini layak untuk dikembangkan di RS Surya Husadha. Kata kunci; kecemasan, produk inovatif layanan prabedah.
The study observed the effect of the provision of music, reading literature and watching television on reducing levels of anxiety of the patients who will undergo surgery. The research was performed at the preparation room of operating theater at Surya Husadha Hospital. The three treatments administered in this study can be regarded as an innovative product of preoperative care. This study applied a quantitative approach by using the design of clinical trials. In addition, qualitative approach was also applied by conducting interviews to the patients. The results of this study showed a significant relationship between treatmenrt groups with a decrease in the levels of anxiety as evidenced by the decrease in blood pressure and pulse of the patients. Most patients also stated that they felt more relaxed. In addition, from the cost-benefit considerations it can be concluded that this innovative product of preoperative care is proper to be developed at Surya Husadha Hospital. Key words : anxiety, innovative product of preoperative care
Unit rawat jalan adalah suatu bagian dari rumah sakit yang merupakan pintu atau media pertama untuk kontak dan berinteraksi dengan pengguna jasa atau pasien. Data kunjungan unit rawat jalan poliklinik RSU Surya Husadha Denpasar menunjukkan bahwa belum tercapainya target yang ditetapkan rumah sakit, dan juga menurunnya jumlah kunjungan tahun 2011 dibanding tahun 2010 dan 2009. Untuk itu perlu dilakukan pengukuran kinerja. Dipilihlah balanced scorecard karena dapat memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap kinerja rumah sakit. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dengan menggunakan data sekunder hasil survei kepuasan pelanggan dan data primer angket kepuasan karyawan. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Dari penelitian ini diperoleh gambaran bahwa perspektif keuangan menunjukkan hasil yang baik dimana pendapatan meningkat dan CRR melebihi 100 %. Perspektif pelanggan cukup baik dimana tingkat kepuasan pelanggan melebihi standar Depkes yaitu 90 %. Perspektif proses bisnis internal menunjukkan hasil yang cukup karena RSU Surya Husadha Denpasar sudah memiliki protap dan memiliki mekanisme pengawasan, akan tetapi masih ada rujukan serta kurangnya fasilitas yang dimiliki. Terakhir perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memiliki nilai kurang karena tingkat kepuasan pegawainya masih rendah yaitu kurang dari 90 % standar Depkes.
Outpatient Unit is a part of the hospital which is the first media to contact and interact with the service user or patient. Data visits in unit outpatient clinic Surya Husadha Denpasar General Hospital showed that the achievement of the targets set have not been home sick, and also decreased the number of visits in 2011 than in 2010 and 2009. For it is necessary for performance measurement. Balanced scorecard was chosen because it can provide a comprehensive picture of hospital performance. The research was conducted with quantitative and qualitative approach, using secondary data from customer satisfaction surveys and primary data questionnaire employee satisfaction. Conducted a qualitative approach with in-depth interviews. From this study indicated that the financial perspective has shown good results where revenue increased over 100% and CRR. Customer perspective well enough where the level of customer satisfaction exceeds 90% of the MOH standards. Internal business process perspective showed adequate results for Surya Husadha Hospital Denpasar already have SOPs and have a monitoring mechanism, but there are still references as well as the lack of facilities owned. Finally learning and growth perspective has less value because of the level of employee satisfaction is still low at less than 90% MOH standards.
Dalam era globalisasi tumbuhnya rumah sakit menyebabkan terjadinya kompetisi antar rumah sakit yang makin keras untuk dapat merebut pasar yang semakin terbuka lebar. Hal ini mendorong pihak rumah rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat menjadi alat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi mutu pelayanan yang diberikan, yaitu dengan melakukan analisis perhitungan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan tindakan appendiktomi akut di kamar operasi rumah sakit X dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian operational research dan bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder rumah sakit tahun 2010 di RS X Jakarta. Metode perhitungan biaya menggunakan metode ABC (Activity Based Costing) dan distribusi sederhana. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya langsung dengan menghitung biaya dari kegiatan yang terjadi menggunakan cost driver berdasarkan waktu kegiatan. Metode distribusi sederhana untuk mengalokasikan biaya tidak langsung yang secara tidak langsung terlibat dalam pelayanan appendiktomi dengan melakukan pendistribusian biaya dari unit penunjang ke unit produksi (kamar operasi). Biaya satuan aktual appendiktomi sebesar Rp. 5.344.551,48,- dan biaya satuan normatif sebesar Rp. 5.312.912,-. Biaya operasional jasa medis dan paramedis merupakan biaya yang terbesar.
In an era of growing globalization of the hospital which led to competition among hospitals is increasingly more difficult to capture the wide open market. This prompted the hospital as well as the stakeholders to quantify how much the real cost of services is needed, and could be a reference tool in health care financing without reducing the quality of service provided by analyzing the cost calculation. The objective of this study is to determine the amount of unit cost in acute appendectomy surgery at operating room of hospital X by calculating the direct costs and indirect costs. This research type is operational research and descriptive analysis by using secondary data from hospital X Jakarta for the year 2010. Methods of cost calculation are ABC (Activity Based Costing) and simple distribution. ABC method is used for allocating direct costs by calculating the cost of activities that occur using time-based cost driver activity. Simple distribution method is used for allocating indirect costs that are not directly involved in appendectomy service by distribution of unit costs which supports the production unit (operating room). Actual unit cost of appendectomy surgery is Rp. 5.344.551,48, - and normative unit cost is Rp. 5.312.912, -. Operational costs of medical and paramedical consumable materials become the largest consumption.
Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil pemeriksaan angka kuman yang positif jamur dan bakteri stapilococcus sp di Ruang Bedah Rumah Sakit X. Meskipun intervensi terhadap fisik bangunan sudah dilakukan untuk menghilangkan jamur dan bakteri, namun pada pemeriksaan ulang setelah dilakukan intervensi hasil pemeriksaan angka kuman masih positif bakteri stapilococcus sp. Dari hasil temuan ini penulis mengkaitkan adanya kesalahan pada tata ruang dan lingkungan kamar bedah Rumah Sakit X. Faktor lain yang menyebabkan kajian terhadap tata ruang dan lingkungan kamar bedah ini menjadi penting untuk dilakukan adalah adanya motivasi dari pihak manajemen untuk melakukan pengembangan Unit Kamar Bedah dalam waktu dekat yang disesuaikan dengan standar pelayanan kamar bedah yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Oleh karenanya sebuah kajian awal perlu dilakukan untuk mengetahui pada bagian mana saja yang perlu dilakukan revisi terhadap tata ruang dan lingkungan di Unit Kamar Bedah sehingga dalam pelaksanaan pengembangan dapat berjalan efektif, efisien dan tepat sasaran. Rancangan penelitian yang dipilih adalah pendekatan kualitatif dengan i menggunakan analisis komparatif yang dilakukan dengan cara menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan terhadap kondisi tata ruang dan lingkungan kamar bedah yang dibandingkan dengan pedoman, peraturan dan standar pelayanan kamar bedah yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ada 6 (enam) standar tata ruang dan lingkungan yang digunakan untuk melakukan penilaian yaitu 1) standar zoning, 2) standar bentuk, karakteristik dan komposisi, 3) standar hubungan antar ruang, 4) standar alur, proses dan tata letak, 5) standar fungsi dan aktivitas, 6) standar prasarana serta ditambah 1 (satu) standar pendukung yaitu 7) standar peralatan. Pencapaian persentase (%) pemenuhan tiap standarnya dihitung dengan membandingkan jumlah parameter yang memenuhi standar dengan total parameter yang dipersyaratkan dikalikan 100 %. Dari hasil penilaian ini selanjutnya dilakukan analisa isi (content analysis) dan konsensus bersama dengan stake holder Rumah Sakit X untuk menghasilkan beberapa rekomendasi terhadap pemecahan masalah terkait dengan tata ruang dan lingkungan kamar bedah. Akhir dari penelitian ini telah disimpulkan beberapa rekomendasi berdasarkan hasil pencapaian pemenuhan tiap standar dan hasil konsensus dengan stake holder Rumah Sakit X pada bagian mana saja yang menjadi prioritas untuk dilakukan pengembangan terkait dengan tata ruang dan lingkungan kamar bedah yang dibagi berdasarkan term waktu target realisasi yaitu : 1. Kegiatan pengembangan yang dapat dilakukan dalam waktu dekat (target realisasi bulan Juli 2011) 2. Kegiatan pengembangan yang dapat dilakukan 2 – 3 bulan kedepan (target realisasi Agustus – September 2011) 3. Dan Kegiatan pengembangan yang dapat dilakukan 3 – 4 bulan kedepan (target realisasi Oktober – Desember 2011) Kata Kunci : Tata Ruang dan Lingkungan, Kamar Bedah
The research is motivated from the results of a positive germ numbers of fungi and bacteria stapilococcus sp in Departement of Surgerry from X Hospital. Despite the intervention of the physical building has been done to eliminate fungi and bacteria, but on re-examination after the examination results of the intervention rate is still positive bacteria germs stapilococcus sp. From these findings the authors relate the presence of errors in environmental and spatial from Departement of Surgerry. Another factor that led to the study of environment and spatial anlysis is becoming an important thing to do is the motivation of the management to do the Departement of Surgerry development in the near future that are tailored to the operating room service standards set by the Indonesian Ministry of Health. Therefore an initial assessment needs to be done to find out on which part needs to be done and revisions to the spatial environment in Departement of Surgerry in the implementation of development so it can run effectively, efficiently and on target. The study design chosen was a qualitative approach using comparative analysis is done by finding similarities and differences of environmental and spatial conditions of the operating room compared with the guidelines, regulations and standards for operating room services are set by the Ministry of Health Republic of Indonesia. There are 6 (six) environmental and spatial standards that are used to assess: 1) zoning standards, 2) form, characteristics and composition standard 3) the standard relationship between space, 4) workflow, process and lay out standard 5) functions and activities standard 6) infrastructure standard as well as plus 1 (one) standard that is supporting 7) standard equipment. Attainment percentage (%) compliance with each standard is calculated by comparing the number of parameters that meet the standards required for a total of parameters multiplied by 100%. From the results of this assessment is then performed content analysis (content analysis) and consensus with stakeholders, X Hospital to produce some recommendations towards solving problems associated with environmental and spatial operating room. End of this research has concluded several recommendations based on the achievement of each standard compliance and the results of consensus with stakeholders X Hospital on which parts are the priorities to be done related to spatial development and operating room environments that are shared by the realization that term target time : 1. Development activities thar can be done in the near future (target realization of July 2011 2. Development activities that can be performed 2-3 months (target realization of August-September 2011 3. And development activities that can be performed 3-4 months (target realization of October-December 2011 Keyword: The Environment and Spatial Planning, Departement of Surgerry
ABSTRACT Name : Rama Garditya Study Program : Hospital Administration Study Thesis : Analysis of Delays in Neurosurgery Operating Room Service at The National Brain Center Hospital Background : Medical services at a central surgical installation require a large amount of money and involve human resources (HR) from various fields of knowledge including medical and non-medical human resources. Delays in the operating room causes increased costs and impacts patient safety. Methods: This study aims to analyze the service time using quantitative and qualitative method with a retrospective design. Quantitative data was obtained from a document review with a sample of 547 cases of neurosurgery (358 cases of cranial surgery, 189 cases of spinal surgery), while qualitative data was obtained through in-depth interviews with eight research informants. Data analysis was carried out quantitatively with the Mann Whitney test. Result: Delays found in the neurosurgery operating room service for cranial surgery and spinal surgery was 54 minutes and 48 minutes respectively. There were differences in clinical time, non-clinical time, and non-clinical time delay between cranial and spinal surgery. Delays in the OR were caused by human resource factors, equipment, and hospital policies. Conclusion: Delays in RSPON IBS operating room services occur in the stages of the anesthesia process, installation of intraoperative nerve monitoring, patient positioning, patient draping, and surgery. Delays in RSPON IBS operating room services were caused by human resource factors, infrastructure, and policies Keywords: delay, operating room, clinical time, non-clinical time, HR, infrastructure, policy
