Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33924 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tomy Mismahendra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Chandra Satrya, Doni Hikmat Ramdhan, Agus Triyono
Abstrak:

Mall X adalah pusat perbelanjaan yang terletak di kawasan strategis Sudirman Centre Bussiness District (SCBD) Sudirman. Di desain secara modern pusat perbelanjaan ini memiliki areal parkir bawah tanah untuk mensiasati keterbatasan lahan yang dimiliki. Dengan banyaknya pekerja yang bekerja di area parkir basement dan kemungkinan terjadinya akumulasi gas karbon monoksida yang berasal dari kendaraan yang berada di basement, maka lokasi basement Mall X tepat untuk dijadikan lokasi penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar karbon monoksida di udara dengan kadar karbon monoksida dalam darah (HbCO) pada petugas parkir basement P2 Mall X. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain kros seksional. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan signifikan (P value = 0,007) antara kadar karbon monoksida di udara dengan kadar karbon monoksida dalam darah (HbCO) petugas parkir basement P2 Mall X. Kata Kunci : basement, Karbon Monoksida, Karbon Monoksida dalam darah (HbCO).


 X Mall is a shopping centre located at strategic area Sudirman Centre Business District (SCBD) Sudirman. Designed with modern style, this shopping centre has a basement parking area to comply with area limitation. This shopping centre is a perfect place to held a research, because it has a lot of workers who work in the basement area and the accumulation possibilities of carbon monoxide (CO) in the basement area. The purpose of this research is to measure the correlation between carbon monoxide (CO) in air concentration with carbon monoxide in blood (HbCO) concentration at X Mall P2 basement parking man. This research is a quantitative research with cross sectional design. This research resulting a fact that there is a significant correlation (P value = 0,007) between carbon monoxide (CO) in air concentration with carbon monoxide in blood (HbCO) concentration at X Mall P2 basement parking man. Key Words : basement, Carbon Monoxide, Carbon Monoxide in Blood (HbCO)

Read More
T-3656
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Rosida; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Ellen Happy Forever
S-6336
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tabina Martiza Alam; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Andika Achmad Prasetia
Abstrak:
Penggunaan rokok di masyarakat sudah dianggap sebagai suatu kebiasaan normal. Global Youth Tobacco Survey menemukan bahwa prevalensi merokok pada anak usia kurang dari 20 tahun tercatat sebesar 75% dengan rincian 23,1% mulai di usia 10-14 tahun dan 52,1% mulai di usia 15-19 tahun. Badan Pusat Statistik menunjukkan prevalensi merokok tembakau pada penduduk usia 15 tahun ke atas terus mengalami peningkatan setiap tahun. Sebagai upaya peningkatan pencegahan dan pengendalian masalah merokok pada remaja, Kementerian Kesehatan membuat rangkaian program Skrining Perilaku Merokok Pada Anak Usia Sekolah (SPMAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku merokok dan skrining kadar CO smoker pada anak usia sekolah di wilayah kerja UPTD Puskesmas Beji Tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian observasional deskriptif. Pada penelitian ini semua populasi pada data laporan program dijadikan subyek penelitian, yaitu sebesar 313 responden. Dari penelitian ini, sebanyak 65 responden (20,8%) menggunakan rokok dan sebanyak 31 responden (9,9%) memiliki kadar CO yang berbahaya. Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dengan memberikan edukasi kepada warga sekolah dan orang tua siswa terkait bahaya merokok sehingga dapat membuat warga sekolah dan orang tua siswa lebih paham dan mulai menghindari perilaku merokok baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.

Cigarette use in society is considered a normal habit. Global Youth Tobacco Survey found that the prevalence of smoking in children aged less than 20 years was recorded at 75% with details of 23.1% starting at the age of 10-14 years and 52.1% starting at the age of 15-19 years. The Central Bureau of Statistics shows the prevalence of tobacco smoking in the aged population 15 years and above continues to increase every year. To improve the prevention and control of smoking problems in adolescents, the Ministry of Health created a series of Smoking Behavior Screening for School-Age Children (SPMAS) programs. This study aims to determine the description of smoking behavior and screen for CO levels of smokers in school-age children in the Beji Community Health Center UPTD working area in 2023. The research method used was quantitative with a descriptive observational research design. In this study, all populations in the program report data were used as research subjects, namely 313 respondents. From this study, 65 respondents (20.8%) used cigarettes and 31 respondents (9.9%) had dangerous CO levels. For this reason, efforts need to be made to increase awareness by providing education to school residents and parents of students regarding the dangers of smoking so that school residents and parents of students can understand more and start avoiding smoking behavior both in the school environment and at home.
Read More
S-11848
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Tahta Kurniawan; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
S-9210
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Elisabet Butarbutar; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Syahrul Efendi Panjaitan, Rudi Saptary
Abstrak: Diesel particulate matter baik fine maupun ultrafine particulate berkontribusi terhadap pajanan personal harian pekerja. Pajanan diesel particulate matter dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka waktu panjang dapat mengganggu kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut antara lain menyebabkan perubahan glukosa, HbA1c dan lipid. Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang bertujuan menganalisis pajanan diesel particulate matter yang dikaitkan dengan peningkatan HbA1c dalam darah. Sampel penelitian adalah petugas uji mekanis berjumlah 18 orang dan 13 petugas administrasi di Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor Cilincing dan 18 kelompok pembanding. Adapun variable penelitian adalah pajanan diesel particulate matter, kadar HbA1c, usia, Indeks Masa Tubuh (IMT), lama kerja, dan kebiasaan merokok. Pengukuran pajanan particulate matter menggunakan pompa Leland legacy dan Sioutas cascade impactor dan perhitungan konsentrasi pajanan menggunakan metode gravimetric. Penimbangan filter debu hasil sampling menggunakan alat Neraca Mikro Mettler Toledo. Pengukuran kadar HbA1c dalam darah bekerja sama dengan Laboratorium Kesehatan. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berkorelasi positif antara konsentrasi pajanan personal PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 dan PM0.25 dengan tingkat kadar HbA1c dalam darah. Kata Kunci : Diesel Particulate Matter (PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 dan PM0.25), HbA1c, Pusat Pengujian Kendaraan Bermotor Diesel particulate matter both fine and ultrafine particulate contribute to daily personal exposure of workers. Exposure to diesel particulate matter in the short term and in the long term can disrupt health. These health problems include changes in glucose, HbA1c and lipids. This study is an analytical study that aims to analyze the exposure of diesel particulate matter associated with increased HbA1c in the blood. The samples were mechanical test officer totaling 18 people and 13 administrative officers in Cilincing Motor Vehicle Testing Unit and 18 comparison groups. The research variables are diesel particulate matter exposure, HbA1c level, age, body mass index (BMI), length of service, and smoking habit. Measurement of particulate matter exposure using Leland legacy and Sioutas cascade impactor pumps and calculation of exposure concentration using gravimetric method. Weighing of sampling dust filter using Mettler Toledo Micro Balance tool. Measurements of HbA1c levels in the blood work in conjunction with the Health Laboratory. The results showed a strong and positively correlated relationship between the personal exposure concentrations of PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 and PM0.25 with levels of HbA1c in the blood. Keywords: Diesel Particulate Matter (PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 and PM0.25), HbA1c, Motor Vehicle Testing Center
Read More
T-5036
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Utami Pramudyastuti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dewi Susana, Eko Pujdadi
S-6193
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Kusumawardhani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Fatchuri
S-9012
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Sri Lestari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dewi Susanna, Bunawas
S-6157
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selfi Mayasari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Wahyudin
S-7581
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Hartono; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri
Abstrak: Bahan kimia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkaitan dengan pengendalian penyakit, peningkatan produktivitas pertanian, ekstraksi berbagai bahan mineral di pertambangan, keperluan untuk rumah tangga dan sebagainya.
Bahan kimia menimbulkan keterbahayaan pada lingkungan kerja dan pekerja itu sendiri. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengamanan bahan kimia, harus dilakukan untuk melindungi pekerja dari efek yang merugikan. Pekerja harus mendapatkan perlindungan dari dampak yang diakibatkan oleh bahanbahan kimia di tempat kerja.
Laboratorium merupakan suatu tempat dimana banyak dilakukan kegiatan yang menggunakan bahan-bahan kimia. Potensi bahaya yang ditimbulkan antara lain bersifat toksik atau beracun, iritan, karsinogenik, korosif, mudah terbakar dan meledak.
Untuk mengetahui paparan bahan kimia di ternpat kerja, dalam hal ini merkuri, penulis melakukan penelitian dengan obyek penelitian adalah pekerja di Balai Laboratorium Kesehatan Bandar Lampung. Pengukuran kadar merkuri menggunakan spektrofotometri serapan atom, dengan spesimen yang diambil adalah rambut pekerja.
Hubungan paparan merkuri dengan kadar merkuri pada rambut pekerja laboratorium melibatkan variabel lamanya masa kerja, umur pekerja dan kadar merkuri diudara ruang kerja. Kadar merkuri pada rambut pekerja, dibandingkan dengan rata-rata tertinggi kadar merkuri di rambut pads komunitas yang dikeluarkan oleh WHO, yaitu sebesar 2,0 ppm.
Dari sejumlah 49 orang pekerja laboratorium, yang memenuhi kriteria sebagai sampel hanya 45 orang, dimana yang bekerja dibagian teknis sebanyak 29 orang, sedangkan yang bekerja dibagian non teknis sebanyak 16 orang.
Diperoleh hasil pengukuran kadar merkuri di udara ruang kerja laboratorium masih dibawah nilai ambang batas ( NAB ), tetapi paparan yang terus menerus akan mengakibatkan akumulasi merkuri didalam tubuh, walaupun konsentrasinya dibawah nilai ambang batas.
Hasil analisis bivariat terhadap variabel lamanya masa kerja, umur pekerja dan kadar merkuri diudara ruang kerja bagian teknis didapatkan hubungan yang signifikan antara variabel tersebut dengan kadar merkuri pada rambut pekerja.
Pada hasil akhir dari analisis regresi multivariate tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel dependent dan independent Hal ini disebabkan karena ukuran sampel yang kecil dan distribusi data penelitian yang tidak normal.

Chemicals agent can not be separated with human's life. The benefit of the materials is to increase public's welfare especially that is related to disease control, agricultural productivity, mineral extract in mining, household's necessity and so on.
Chemicals agent may endanger the workers, work environment_ Therefore, materials' management and safety must be carried out for the sake of workers' protection from side effect. The workers need to be protected from the effects that cause by the materials in their work places.
Laboratory is a place where many activities using chemicals agent are conducted. Harmful potentials are caused by toxic agents, irritant, carcinogenic, corrosive chemicals, flammable and explosives substances.
To know the exposured of chemical materials in the work places, especially mercury, the writer conducted a research where the laboratory personnel of Bandar Lampung Health Laboratory were the object of the research. The measurement of the mercury level was by using Atomic Absorption Spectrophotometry, and the specimen materials taken were personnel's hair.
The relationship of mercury's exposure to the level of mercury within the laboratory's personnel hair involved length of work variable, personnel's age and level of mercury within the air in the working room. Mercury's level within the and level of mercury within the air in the working room. Mercury's level within the workers' hair were compared with the highest average mercury level within the hair in the community, that issued by WHO is 2.0 part per million.
From 49 laboratory's personnel, those fulfill the sample's criteria were 45, who 29 of them worked in technical section, and 16 others worked in non-technical section.
The obtained result from the measurement of mercury level in the working room at the laboratory remained below Threshold Limit Value (TLV). However, continual mercury's exposure may result mercury accumulation within the body, though its concentration was below the TLV.
The result of bivariat analysis from the variables of length of work, workers' age, and mercury level within the air in the technical section working room showed that there was a significant relationship between the variables and mercury level within workers' hair.
On the final result from multivariate regression analysis, not be obtained fairly significant relationship between dependent and independent variables. This problems caused by sample size was so small and spreading for data was not proportional.
Read More
T-1615
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive