Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32044 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pradnya Paramita; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achmadi, Tribudi, Suprijanto Rijadi, Hafizurrachman, Setyo Hari Wijanto, Soewarta Kosen, Sutoto
D-266
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Hartono; Promotor: AMal C. Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Djunadi, Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Tri Erri Astoeti, Sowarta Kosen, Ronnie Rivany
D-248
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emma Rachmawati; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Adang Bachtiar
D-263
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dihartawan; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Baiduri Widanarko, Besral; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Sjahrul Meizar Nasri, Ririh Yudhastuti, Alfajri Ismail
Abstrak:
Keselamatan pasien di rumah sakit Indonesia masih menghadapi paradoks kepatuhan, ditunjukkan oleh kesenjangan antara standar regulasi Permenkes No. 66 Tahun 2016 dengan kinerja High-Reliability Organization yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan membangun model pengukuran yang mengintegrasikan Human Factors Engineering, Manajemen Risiko rumah sakit, dan Kematangan HRO. Pendekatan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares pada 152 responden rumah sakit tipe C terakreditasi di Indonesia, melalui tiga jalur hipotetis: H1 (pengaruh Human Factors terhadap Manajemen Risiko), H2 (pengaruh Manajemen Risiko terhadap Kematangan HRO), dan H3 (pengaruh Human Factors terhadap Kematangan HRO). Hasil menunjukkan bahwa jalur Human Factors menuju Manajemen Risiko signifikan dengan β = 0,641 (p < 0,001; f² = 0,696; R² = 0,411). Jalur Manajemen Risiko menuju Kematangan HRO merupakan jalur terkuat dengan β = 0,786 (p < 0,001; f² = 0,834). Pengaruh langsung Human Factors menuju HRO tidak signifikan (β = −0,058; p = 0,453), namun indirect effect melalui Manajemen Risiko terbukti signifikan (β = 0,504; p < 0,001), mengonfirmasi peran mediasi penuh yang konsisten dengan logika Swiss Cheese Model. Total efek Human Factors terhadap Kematangan HRO Maturity adalah 0,446 (p < 0,001) dengan R² = 0,563. Temuan ini menopang argumentasi bahwa delapan pilar standar SMK3RS merupakan pendorong utama peningkatan kematangan HRO, sementara investasi pada faktor manusia hanya akan efektif bila disertai pelembagaan struktural dalam sistem manajemen risiko rumah sakit. Saran aplikatif meliputi penguatan tiered huddle harian, pembentukan Alarm Stewardship Committee, dan transformasi Just Culture untuk memperkuat pelaporan nyaris celaka.

Patient safety in Indonesian hospitals encounters a compliance paradox, marked by a discrepancy between the regulatory standards established by Ministerial Regulation No. 66 of 2016 and the insufficient performance of High-Reliability Organizations. This study aimed to develop a measuring model that synthesizes Human Factors Engineering, Hospital Risk Management, and High Reliability Organization Maturity. The methodology employed Structural Equation Modeling–Partial Least Squares on 152 participants from accredited Type C hospitals in Indonesia, investigating three proposed pathways: H1 (Human Factors positively relate to Hospital Risk Management), H2 (Hospital Risk Management positively relates to HRO Maturity), and H3 (Human Factors positively relate to HRO Maturity). The findings demonstrated that the HFE relationship with the HRM pathway is significant (β = 0.641; p < 0.001; f² = 0.696; R² = 0.411). The connection between HRM and HRO maturity trajectory was highly significant (β = 0.786; p < 0.001; f² = 0.834). The direct impact of Human Factors on HRO was not statistically significant (β = −0.058; p = 0.453); however, the indirect effect through HRM was considerable (β = 0.504; p < 0.001), indicating total mediation consistent with the Swiss Cheese Model reasoning. The aggregate effect of Human Factors on HRO Maturity was 0.446 (p < 0.001), with R² = 0.563. The findings confirm that the eight pillars of the national Hospital OHS Standard are the principal means of advancing HRO maturity; however, investments in human factors yield effectiveness only when combined with structural changes in the hospital risk management system. Proposed measures encompass strengthening routine tiered huddles, establishing an Alarm Stewardship Committee, and advancing Just Culture to enhance near-miss reporting.
Read More
D-652
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fery Rahman; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Junadi, Budi Wiweko; Penguji: Anhari Achadi, Ahmad Syafiq, Sutanto, Trihono, Zulfikar As'ad
Abstrak:
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa perpustakaan perlu dilibatkan dalam pengembangan kurikulum; materi pendidikan pemakai perpustakaan harus dikembangkan sesuai dengan komponen-komponen yang ada dalam information literacy; perpustakaan juga harus menyediakan sarana dan fasilitas yang mendukungpeningkatan literacy mahasiswa. Perkembangan dunia saat ini sudah memasuki revolusi industri 4.0 yang merupakan fenomena dimana terjadinya kolaborasi antara teknologi siber dengan teknologi otomatisasi. Hal ini membuka peluang bagi praktisi kedokteran dan masyarakat untuk melakukan konsultasi kesehatan, diagnosa praktik kedokteran dalam ruang virtual, tanpa mengurangi esensi pelayanan kesehatan yang biasa dikenal dengan Telemedisin. Beberapa manfaat Telemedisin dalam pelayanan yaitu efektifitas dan efisiensi dalam Pelayanan kesehatan tanpa batasan jarak geografis, pasien juga dapat menghemat waktu dan ongkos biaya perjalanan, serta meningkatkan akses ke Pelayanan kesehatan. Telemedisin juga dimanfaatkan oleh sesama praktisi kesehatan dalam mendapatkan saran atau rencana pengobatan lanjutan bagi seorang pasien. Pemanfaatan selama pandemik COVID-19 dirasakan paling nyata yakni mampu menyediakan pelayanan kesehatan dari jarak jauh karena mengurangi paparan virus SARS-CoV-2. Dengan manfaat yang nyata terutama dalam hal aksesibilitas dan kenyamanan, Telemedisin juga menimbulkan permasalahan terkait implementasi, keamanan data, dan kepuasan pasien. Banyak negara belum mengembangkan kerangka peraturan yang menyeluruh, hal ini juga yang menghambat adopsi Telemedisin dalam sistem pelayanan kesehatan. Di Indonesia, peraturan Permenkes No. 20/2019 masih dianggap umum, namun tidak menjawab persoalan menyeluruh seperti adanya resiko hukum, ketidakjelasan skema pembiayaan, kebijakan lain untuk keberlangsungan Telemedisin yang efektif, luas dan etis. Tujuan penelitian ini menganalisis model pelayanan Telemedisin di Rumah Sakit jejaring Nahdlatul Ulama. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan Interpretatif Deskriptif. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode wawancara mendalam dari 14 pimpinan rumah sakit jejaring NU, Dokter pelaksana, pimpinan Asosiasi yang menaungi seluruh anggota RS NU serta Kepala Dinas Kesehatan. Informasi-informasi yang diperoleh digunakan untuk dianalisis secara komprehensif guna mendapatkan faktor-faktor determinan yang mempengaruhi penerapan layanan Telemedisin di RS. Model layanan Telemedisin pada RS – RS jejaring NU didapatkan jenis Telemedisin berupa telekonsultasi dan teleradiologi dengan basis yang digunakan adalah WhatsApp / hotline RS, Ponsel pribadi serta aplikasi tambahan seperti zoom meeting dan google-meeting. Faktor yang mempengaruhi layanan ini antara lain adanya pembuatan SOP oleh pimpinan RS, Infrastruktur internet yang memadai (> 200 Mbps), Adanya Rekam Medis Elektronik (RME) yang terintegrasi dengan layanan Telemedisin, literasi Telemedisin dan kompetensi tenaga kesehatan, Diperlukan juga pemetaan pangsa pasar / kebutuhan masyarakat serta Pembayaran jasa medis yang layak dan berkesesuaian, sehingga tidak menimbulkan resistensi dari kalangan tenaga kesehatan. Sedangkan untuk penetapan unit yang memberikan pembinaan dan pengawasan (binwas) perlu ada keseragaman berdasarkan peraturan yang berlaku

Current world developments have entered industrial revolution 4.0, which is a phenomenon where collaboration occurs between cyber technology and automation technology. This opens up opportunities for medical practitioners and the public to carry out health consultations, medical practice diagnoses in virtual space, without reducing the essence of health services commonly known as Telemedicine. Some of the benefits of Telemedicine in services are effectiveness and efficiency in health services without geographical distance restrictions, patients can also save time and travel costs, as well as increase access to health services. Telemedicine is also used by fellow health practitioners to get advice or further treatment plans for a patient. The most obvious use during the COVID-19 pandemic is being able to provide health services remotely because it reduces exposure to the SARS-CoV-2 virus. With obvious benefits especially in terms of accessibility and convenience, telemedicine also raises problems related to implementation, data security and patient satisfaction. Many countries have not developed a comprehensive regulatory framework, which also hinders the adoption of telemedicine in the health care system. In Indonesia, Minister of Health regulation no. 20/2019 is still considered general, but does not address comprehensive issues such as legal risks, unclear financing schemes, other policies for the continuation of effective, widespread and ethical telemedicine. The aim of this research is to analyze the telemedicine service model at the Nahdlatul Ulama network of hospitals. The research design used is descriptive qualitative with a descriptive interpretive approach. This qualitative research used in-depth interview methods with 14 leaders of NU network hospitals, implementing doctors, leaders of the Association which oversees all members of NU Hospitals and the Head of the Health Service. The information obtained is used for comprehensive analysis to obtain determinant factors that influence the implementation of telemedicine services in hospitals. The telemedicine service model at NU network hospitals is telemedicine in the form of teleconsultation and teleradiology with the basis used being WhatsApp / hospital hotline, personal cell phone and additional applications such as zoom meetings and google-meeting. Factors that influence this service include the creation of SOPs by hospital leaders, adequate internet infrastructure (> 200 Mbps), the existence of an Electronic Medical Record (EMR) that is integrated with telemedicine services, telemedicine literacy and competency of health workers, market share mapping is also needed. community needs and adequate and appropriate payment for medical services, so as not to cause resistance from health workers. Meanwhile, for the determination of units that provide guidance and supervision, there needs to be uniformity based on applicable regulations
Read More
D-540
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Guspianto; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Purnawan Junadi, Amal C. Sjaaf; Tim Penguji: Anhari Achadi, Dian Ayubi, Soewarta Kosen, Dumilah Ayuningtyas, Harimat Hendarwan
D-311
Depok : FKM UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atik Nurwahyuni; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Junadi, Budi Hidayat, Penguji: Hasbullah Thabrany, Akmah Taher, Trihono, Soewarta Kosen, Mardiati Nadjib, John C. Langbrunner
D-354
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Citra Cinta Asyura Nasution; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Adang Bachtiar, Besral; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Sutoto, Emma Rachmawati, Viera Wardhani
Abstrak:

Keselamatan pasien merupakan kewajiban rumah sakit dan bagian integral dari akreditasi sejak 2008. Namun, berbagai permasalahan masih sering ditemukan, sehingga keberlanjutan perbaikan menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain convergent parallel. Data kuantitatif berasal dari Riset Fasilitas Kesehatan 2019 (523 rumah sakit) dan data akreditasi (917 rumah sakit), dianalisis menggunakan uji chi-square, regresi logistik, dan analisis jalur. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen dari enam rumah sakit, dinas kesehatan provinsi, dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) wilayah di Sumatera Utara dan Bali, dengan total 95 informan. Analisis tematik menggunakan perangkat NVivo, dengan kerangka Malcolm Baldrige dan model implementasi Van Meter-Van Horn, meliputi ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus tenaga kerja, fokus operasi, fokus pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, komunikasi antar organisasi, serta peran akreditasi. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa pelaporan insiden keselamatan pasien berhubungan signifikan dengan lokasi (Jawa-Bali), status akreditasi, jumlah tempat tidur (> 200), kelas rumah sakit (A dan B), evaluasi pelayanan, audit internal, serta keaktifan komite keselamatan pasien dan pengendalian infeksi. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa implementasi kebijakan keselamatan pasien sudah berjalan, namun bervariasi tergantung kepemilikan dan ketersediaan sumber daya. Semua dimensi yang diteliti berpotensi menjadi faktor pendukung maupun penghambat tergantung pengelolaannya. Kepemimpinan yang kuat, fasilitas yang memadai, serta budaya keselamatan yang ditanamkan secara konsisten memperkuat implementasi, sedangkan lemahnya komitmen dan keterbatasan dana menjadi kendala. Hambatan juga muncul dalam pelaporan insiden, baik dari sisi organisasi maupun individu. Penelitian ini menghasilkan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien yang mencakup integrasi keselamatan pasien dalam perencanaan strategis, penguatan kepemimpinan, peningkatan kapasitas staf, alokasi anggaran memadai, monitoring dan evaluasi berkelanjutan, serta pelibatan pasien. Model ini diharapkan dapat mendorong peningkatan keselamatan pasien secara menyeluruh dan berkelanjutan di rumah sakit.


 

Patient safety is a mandatory obligation for hospitals and has been an integral part of hospital accreditation since 2008. However, various patient safety issues are still frequently found, making the sustainability of improvements a major challenge. This study aims to formulate a conceptual model of patient safety improvement strategies. A mixed-methods approach with a convergent parallel design was employed. Quantitative data were obtained from the 2019 Rifaskes (523 hospitals) and accreditation records (917 hospitals), and analyzed using chi-square tests, logistic regression, and path analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and document reviews from six hospitals, provincial health offices, and the Indonesian Hospital Association (PERSI) in North Sumatra and Bali Provinces, involving a total of 95 informants. Thematic analysis was conducted using NVivo software, guided by the Malcolm Baldrige framework and the Van Meter–Van Horn policy implementation model. Quantitative findings showed that the reporting of patient safety incidents was significantly associated with location (Java–Bali), accreditation status, bed capacity (>200 beds), hospital class (A and B), presence of service evaluations, internal audits, and the activity of patient safety and infection control committees. Qualitative results indicated that while policy implementation was underway, it varied depending on hospital ownership and available resources. All dimensions could act as either enablers or barriers depending on how they were managed. Strong leadership and adequate facilities enhanced implementation, while weak commitment and limited funding were key constraints. Incident reporting also faced challenges at both organizational and individual levels. This study produced a conceptual model for improving patient safety through the integration of safety into strategic planning, strengthened leadership, staff capacity building, sufficient budget allocation, continuous monitoring and evaluation, and enhanced patient engagement. The model is expected to support comprehensive and sustainable patient safety improvements in hospitals

Read More
D-580
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jusuf Kristianto; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Tribudi, Agus Suwandono, Soewarta Kosen, Dian Ayubi
D-262
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive