Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33344 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sugiharti, Heny Lestary
JKR Vol.2, No.1
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maylan Wulandari; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Yovsyah; Penguji: Mieke Savitri, Wira Hartiti, Ning Sulistiyowati
Abstrak: ABSTRAK Tingginya presentase keluhan kesehatan pada lansia di Indonesia pada tahun 2014 yaitu 52,67%. Hal tersebut menunjukkan bahwa keluhan kesehatan di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Adanya penurunan fungsi berbagai sistem organ pada lansia dan akibat dari faktor lain memperburuk keluhan kesehatan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan kesehatan pada lansia di Indonesia tahun 2015. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis lanjut data sekunder Susenas Kor 2015. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 94.326 lansia. Sampel diambil secara total sampling. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui lansia yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 46.202 lansia (49%). Faktor yang berhubungan dengan kejadian keluhan kesehatan pada lansia yaitu usia ≥ 80 tahun (POR=1,17), usia 70-79 tahun (POR=1,18); jenis kelamin perempuan (POR=0,82), status perkawinan hidup tanpa pasangan (POR=1,08); pendidikan tidak pernah bersekolah/tidak tamat SD (POR=1,68), pendidikan rendah (POR=1,41), pendidikan sedang (POR=1,12); sudah tidak bekerja (POR=1,38); daerah tempat tinggal perdesaan (POR=1,04); merokok (POR=0,89) dan memiliki jaminan kesehatan (POR=1,24). Status ekonomi tidak berhubungan dengan terjadinya keluhan kesehatan pada lansia. Nilai EF% tertinggi pada faktor pendidikan (tidak pernah sekolah atau tidak tamat SD 38,56% dan berpendidikan rendah 26,78%) dan faktor pekerjaan (sudah tidak bekerja 14,78%). Sedangkan nilai PF% tertinggi pada faktor pendidikan (tidak pernah sekolah atau tidak tamat SD 59,65% dan berpendidikan rendah 35,02%) dan faktor pekerjaan (sudah tidak bekerja 14,38%). Kata kunci : keluhan kesehatan, lansia, penuaan, susenas The high percentage of health complaints in Indonesian elderly in 2014 is 52.67%. This shown that health complaints in Indonesia still be a public health problem. Decreased of multiple organ systems in the elderly and the consequences of other factors maked health complaints increased in the Indonesian elderly. The purpose of this study was to determine the factors associated with health complaints in the Indonesian elderly viii Universitas Indonesia in 2015. This study was analyze the secondary data of Susenas Kor 2015. This study used a cross sectional design with 94,326 sample. Samples were taken in total sampling. The result showed that 46,202 elderly (49%) the elderly had health complaints. Factors associated with the incidence of health complaints in the elderly are age ≥ 80 years (POR = 1.17), age 70-79 years (POR = 1.18); sex female (POR = 0.82), life without spouse (POR = 1.08); education never attended school / did not complete primary school (POR = 1.68), low education (POR = 1.41), medium education (POR = 1.12); is not working (POR = 1.38); rural area (POR = 1.04); smoking (POR = 0.89) and have health insurance (POR = 1.24). Economic status is not related to the occurrence of health complaints in the elderly. The highest EF% were education factor (never attended school or did not complete elementary school 38.56% and low educated 26.78%) and work factor (not working 14.78%). While the highest PF% were education factor (never attended school or did not complete primary school 59.65% and low education 35.02%) and work factors (already not working 14.38%). Key words : health complaints, elderly, ageing, susenas
Read More
T-5415
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yvonne Suzy Handajani; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Ko-promotor: Tri Budi W Rahardjo, Sudijanto Kamso; Hasbullah Thabrani; Sasanto Wibisono, Hary Isbagio, Kusharisupeni, Agus Suwandono, Lindawati Kusdhany
D-197
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sugiharti; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Fatmah; Kristanti, Ch.M., Julianty Pradono
Abstrak: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang bertujuan untuk mengetahui determinan diabilitas pada lanjut usia di Indonesia, khususnya mengenai ketidakmampuan melakukan kegiatan membersihkan seluruh tubuh seperti mandi dan mengenakan pakaian, dengan menggunakan data Riskesdas tahun 2007.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan disabilitas pada lanjut usia di Indonesia adalah tempat tinggal, umur, status kawin, pendidikan, penyakit jantung, diabetes, gangguan sendi, hipertensi, merokok, status ekonomi, dan aktifitas fisik.
 
Faktor yang paling dominan hubungannya dengan kejadian disabilitas pada lanjut usia adalah aktifitas fisik. Untuk meningkatkan aktifitas fisik lanjut usia disarankan untuk aktif dalam mengikuti kegiatan kelompok lanjut usia seperti kegiatan olahraga, pertemuan kekeluargaan dan rekreasi.
 

This research used cross-sectional design that aimed to identify disability determinants in Indonesia, in relation with inability for bathing and dressing, by using Basic Health Research Data in 2007.
 
The results of study showed that determinants of disability among elderly in Indonesia were urban and rural, age, marital status, education, heart disease, diabetes, musculoskeletal disorders, hypertension, smoking habit, economic status and physical activity.
 
The most dominant determinants of disability among elderly were lack of physical activity. To increase physical activity is recommended for elderly people active in participating in the elderly group activities such as sports activities, family meetings and recreation.
Read More
T-3156
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liza Meutia; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Sudijanto Kamso, Dede Anwar Musadad, Dian Kurnia Rabbani
Abstrak:
Permasalahan disabilitas terus meningkat seiring dengan bertambahnya beban penyakit. Peningkatan jumlah penduduk yang mengalami disabilitas telah menyebabkan kekhawatiran terhadap beban sosial dan ekonomi, yang diakibatkan karena menurunnya kualitas kesehatan masyarakat yang disebabkan karena penyakit. Secara global, pada tahun 2017 terdapat sekitar 2,4 milyar penduduk di dunia yang mengalami disabilitas. Peningkatan disabilitas tersebut, 80% disebabkan penyakit tidak menular. Sindrom metabolik menjadi salah satu fokus dalam berbagai penelitian tentang faktor risiko disabilitas. Hal ini disebabkan karena sindrom metabolik merupakan sekelompok kelainan metabolik dan vaskular yang menjadi sinyal dini terhadap peningkatan potensi terjadi disabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara sindrom metabolik dengan kejadian disabilitas pada penduduk usia produktif (18-59) tahun di Indonesia. Penelitian cross sectional ini dilakukan terhadap 19250 responden yang telah diwawancara dalam Riskesdas 2018, dan dianalisis dengan metode kompleks survey. Responden dalam penelitian ini mayoritas berusia dewasa antara 26-59 tahun, dengan responden berjenis kelamin wanita lebih banyak dibandingkan pria. Responden terbanyak adalah responden yang bekerja, dan jarang mengkomsumsi makanan berisiko. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas adalah 25% dan prevalensi sindrom metabolik 27,3%. Prevalensi sindrom metabolik yang mengalami disabilitas adalah 27,4%. Selanjutnya diketahui bahwa sindrom metabolik berhubungan signifikan dengan kejadian disabilitas tanpa ada variabel kovariat yang dapat mengganggu efek tersebut. Untuk mencegah terjadinya disabilitas, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian timbulnya berbagai komponen sindrom metabolik pada usia produktif perlu lebih diperhatikan, sehingga dapat ditingkatkan kualitas penduduk usia produktif yang menjadi harapan bahkan tulang punggung baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarganya.

Disability problems continuing to increase along with the increasing burden of disease. The increase in the number of people with disabilities has caused concern about the social and economic burden, which is caused by the decline in the quality of public health caused by disease. Globally, in 2017 there are around 2.4 billion people in the world who experience disabilities. 80% of the increase in disability is due to non-communicable diseases. Metabolic syndrome has become one of the focuses in various studies on risk factors for disability. This is because the metabolic syndrome is a group of metabolic and vascular disorders which are an early signal of an increased potential for disability. The purpose of this study was to see the relationship between metabolic syndrome and the incidence of disability among the productive age population (18-59) years in Indonesia. This cross-sectional study was conducted on 19,250 respondents who had been interviewed in the 2018 Riskesdas, and analyzed using the complex survey method. The majority of respondents in this study were adults aged between 26-59 years, with more female than male respondents. Most respondents are work, and rarely consume risky foods. The results of the analysis show that the prevalence of disability is 25% and the prevalence of metabolic syndrome is 27.3%. The prevalence of metabolic syndrome with disabilities is 27.4%. Furthermore, it is known that metabolic syndrome is significantly related to the incidence of disability without any covariate variables that can interfere with this effect. To prevent the occurrence of disability, various efforts to prevent and control the occurrence of various components of the metabolic syndrome at productive age need to be given more attention, so that the quality of the productive age population can be improved, which is even the backbone of both themselves and their families.
Read More
T-6830
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Halimah Siregar; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Helda, Harimat Hendrawan
Abstrak:
Obesitas adalah proses akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan seseorang. Obesitas dapat diketahui dengan pengukuran indeks massa tubuh (IMT) yaitu berat badan seseorang (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badannya (dalam meter). Seseorang dengan IMT 25 atau lebih dikategorikan mengalami obesitas menurut klasifikasi obesitas Asia Pasifik. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui hubungan obesitas terhadap kejadian disabilitas pada lansia diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2018. Variable pada penelitian ini ialah Obesitas, disabilitas, usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, stres, asma, hipertensi dan penyakit jantung. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dengan desain cross sectional Populasi penelitian ini ialah lansia diabetes mellitus (pernah di diagnose dokter dan atau sedang mengkonsumsi obat DM). Minimal jumlah sampel penelitian ini sebesar 1233 responden lansia diabetes mellitus. Penelitian ini dianalisis sampai tahap multivariat menggunakan Regressi Logistik. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara obesitas dengan kejadian disabilitas pada lansia diabetes mellitus di Indonesia tahun 2018. rtinya, lansia obesitas dengan rentang usia 75-90 tahun memiliki peluang 2.509 kali dibandingkan lansia tidak obesitas dengan rentang usia 60-74tahun. Peningkatan capaian program posbindu PTM, agar sedini mungkin ditemukan factor risiko obesitas untuk segera dicegah.

Obesity is a process of abnormal or excessive fat accumulation that can harm a person's health. Obesity can be determined by measuring the body mass index (BMI), which is a person's body weight (in kilograms) divided by the square of their height (in meters). A person with a BMI of 25 or more is categorized as obese according of Asia Pacific obesity classification.  Objective of this study was to determine the relationship of obesity to get incidence of disability in the elderly who has diabetes mellitus in Indonesia in 2018. Variables in this study were obesity, disability, age, sex, physical activity, stress, asthma, hypertension and heart disease. This study using secondary data from Basic Health Research (Riskesdas) 2018 with cross sectional design. The population of this study was the elderly who has diabetes mellitus (ever diagnosed by a doctor and or currently taking DM drugs). The minimum number of samples in this study was 1233 elderly respondents who has diabetes mellitus. This study was analyzed till the multivariate stage used of Logistic Regression. The results of this study found was a significant relationship between obesity to get incidence of disability in elderly who has diabetes mellitus in Indonesia in 2018 with a POR value of 2.509 (95% CI; 1.136 - 5,539). The meaning is, obese for elderly with an age range of 75-90 years have a 2,509 times chance compared to the non-obese elderly with an age range of 60-74 years. Increasing the achievement of program posbindu PTM, so that as early to find risk factors obesity to be prevented immediately.

Read More
T-5923
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lamria Pangaribuan, Tin Afifah, Sarimawar Djaja
MKP Vol.12, No.2
Jakarta : PPK Universitas Katolik Atma Jaya, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosefin Simanjuntak; Pembimbing: Sujana Jatiputra
S-2391
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Boedhi-Darmojo
Medika, No. 2
Jakarta : [s.n.] : 1991
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwiretno Yuliarti; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Anis Irawati, Trini Sudiarti, Fatmah, Nanik Widayani
T-2594
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive