Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19313 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kabar Kesmas (IKM), Vol.II, No.8, 2004, hal. 28-30, ( cat. ada di bendel 2001/ 2004 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kabar Ilmu Kesmas (KIK), Vol.2, No.8, 2004, hal. 28-30, ( Cat. ada di bendel 2001 - 2003 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indo. (MKMI), XXII, No.7, Agustus, 1994, hal. 391-402
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Dwi Susanti; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Amal Chalik Sjaaf, Mulyadi Muchtiar, Mochammad Bukhori Muslim
Abstrak: Rumah sakit (RS) Syariah adalah RS yang melaksanakan semua aktivitas, baik pelayanan pasien maupun pengelolaan manajemennya berdasarkan pada prinsip-prinsip Maqashid Al-Syari?ah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indikator mutu dan standar pelayanan minimal RS Syariah terhadap kinerja pelayanan Medical Check-Up (MCU) di RS YARSI Jakarta. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran (mixed methods research) secara cross-sectional. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kepatuhan petugas melakukan identifikasi pasien, kepatuhan petugas melaksanakan cuci tangan 6 langkah 5 momen, hijab (kerudung, baju pasien, atau kain) untuk pasien, pemasangan EKG sesuai gender, mengingatkan waktu salat ke pasien, dan gharar (ketidakpastian) mempunyai hubungan terhadap kinerja pelayanan MCU setelah sertifikasi Syariah di RS YARSI Jakarta berupa memperpanjang waktu pelayanan MCU, mencegah terjadinya infeksi kepada pasien MCU, tercegah dari kontaminasi, mengurangi keraguan dalam tindakan, tepat waktu, dan tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Disarankan kepada RS YARSI Jakarta, khususnya di instalasi MCU agar alur pelayanan pasien MCU diikuti oleh seluruh petugas MCU, dilakukan pengarahan secara berkala untuk keseragaman pelayanan MCU, dan pemberian rewards/punishments kepada petugas MCU.
Sharia hospital is a hospital that carries out all activities, both patient care and management based on the principles of Maqashid Al-Shari'ah. This study aims to determine the relationship between quality indicators and minimum service standards of Sharia Hospital on the performance of Medical Check-Up (MCU) services at YARSI Hospital Jakarta. The design used in this research is a mixed methods research in a cross-sectional way. From the results of the study, it was found that the compliance of officers in identifying patients, compliance by officers in washing hands 6 steps 5 moments, hijab (veil, patient clothes, or cloth) for patients, installation of an ECG according to gender, reminding patients to pray, and gharar (uncertainty) had a relationship with the performance of MCU services after Sharia certification at YARSI Hospital Jakarta in the form of extending MCU service time, preventing infection to MCU patients, preventing contamination, reducing doubts in action, being on time, and no parties feeling aggrieved. It is recommended to YARSI Hospital Jakarta, especially at the MCU installation so that the flow of MCU patient care is followed by all MCU officers, regular briefings for uniformity of MCU services, and giving rewards/punishments to MCU officers.
Read More
B-2297
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luluk Ernawati; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Yahmin Setiawan, Budi Setiawan Djamhoer
Abstrak: Maqashid syariah adalah konsep mengenal, memahami serta memetik hikmah yang terkandung dalam Alquran dan Alhadist yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia agar manusia selalu berada dijalanNYA. Pelaksanaan maqhasid syariah dalam pelayanan kesehatan dapat dilihat dari kepatuhan kepada hukum-hukum islam dalam tata kelola Rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Rumah sakit islam sultan agung telah melaksanakan prinsip maqhasid syariah dalam setiap aktifitas sejak ditetapkan menjadi Rumah sakit syariah tahun 2016. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan Standar pelayanan minimal Rumah sakit syariah dan Indikator mutu wajib syariah terhadap pelaksanaan maqhasid syariah di Rumah sakit Islam Sultan Agung Semarang. Desain penelitian ini menggunakan mixed methods dengan pendekatan studi secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara standar pelayanan minimal rumah sakit syariah dan indikator mutu wajib syariah dengan pelaksanaan maqhasid syariah. dan jadwal operasi menjadi faktor paling dominan terhadap pelaksanaan maqhasid syariah. Disarankan Rumah sakit perlu memantau dari segi pengetahuan pasien untuk mengetahui sejauh mana mereka paham tentang penerapan Rumah sakit syariah, meningkatkan edukasi secara maksimal oleh petugas kesehatan serta perlu menambahkan general infomed concent khusus syariah bagi pasien untuk mengetahui hak dan kewajiban pasien secara syariah
Maqashid sharia is the concept of recognizing, understanding and reaping the wisdom contained in the Alquran and Alhadist that Allah SWT sent to humanity so that humans are always on their way. The implementation of maqhasid sharia in health services can be seen from adherence to Islamic laws in the management of hospitals or other health services. The great Sultan Islamic Hospital has implemented the principle of maqhasid sharia in every activity since it was established as a sharia hospital in 2016. The study was conducted to determine the extent of the relationship between the minimum service standards of Sharia Hospital and Shariah Compulsory Quality Indicators on the implementation of Islamic prayer at the Islamic Hospital Sultan Agung Semarang. The design of this study uses mixed methods with a quantitative and qualitative study approach. Data analysis in univariate, bivariate and multivariate. The results of the study indicate that there is a relationship between the minimum service standards of sharia hospitals and mandatory sharia quality indicators with the implementation of the Islamic Shariah law. and the operating schedule is the most dominant factor in the implementation of the Maqhasid Sharia. It is recommended that the Hospital need to monitor the patient's knowledge to determine the extent to which they understand the application of sharia hospitals, to improve education optimally by health workers and to add a Shariah-specific general infomed concent to patients to know the rights and obligations of patients in sharia
Read More
T-5542
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahdalena; Pembimbing: Kemal Nazzarudin Siregar
S-3465
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendi Imam Ramadhan; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Dewi Susanna, Bambang Aditya Nugraha Adiasputra
Abstrak:
Perkembangan perkotaan yang pesat menuntut penerapan prinsip keberlanjutan yang terukur dan terstandar. ISO 37120:2018 menyediakan kerangka pelaporan indikator kinerja kota berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan (readiness) Kota Depok dalam menerapkan standar pelaporan ISO 37120:2018 menggunakan metode gap analysis, dengan fokus pada indikator tematik kesehatan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari dokumen resmi Pemerintah Kota Depok dan instansi terkait. Penilaian kesiapan dilakukan dengan membandingkan kondisi eksisting indikator terhadap persyaratan ISO 37120:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapan keberlanjutan Kota Depok masih belum optimal, dengan nilai readiness sebesar 48,89%. Sebanyak 62,5% indikator utama tidak dapat dinilai akibat keterbatasan data dan pelaporan, sementara sebagian indikator lainnya masih berada di bawah standar internasional. Kesenjangan utama terletak pada lemahnya tata kelola pelaporan, ketiadaan regulasi pendukung, serta keterbatasan infrastruktur kesehatan lingkungan, khususnya pada pengelolaan limbah padat, air limbah, dan penyediaan air minum aman. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan regulasi, kelembagaan, dan infrastruktur sebagai prasyarat peningkatan keberlanjutan Kota Depok.

Rapid urban development necessitates the implementation of measurable and standardized sustainability principles. ISO 37120:2018 provides an international framework for reporting urban sustainability performance indicators. This study aims to assess the level of readiness of Depok City in implementing the ISO 37120:2018 reporting standard using a gap analysis approach, with a focus on environmental health thematic indicators. This research employs a descriptive quantitative approach utilizing secondary data obtained from official documents of the Depok City Government and related institutions. The readiness assessment was conducted by comparing existing indicator conditions with the requirements of ISO 37120:2018. The results indicate that the sustainability readiness of Depok City remains suboptimal, with an overall readiness score of 48.89%. A total of 62.5% of the core indicators could not be assessed due to limitations in data availability and reporting, while several other indicators remain below international benchmark standards. The most significant gaps were identified in weak reporting governance, the absence of supporting local regulations, and insufficient environmental health infrastructure, particularly in solid waste management, wastewater management, and the provision of safe drinking water. This study underscores the need for strengthened regulations, institutional capacity, and infrastructure development as essential prerequisites for enhancing the sustainability of Depok City.
Read More
S-12172
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
CB: P 1702
[s.l.] : Jakarta: IDI; 1998, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
CB: P 1702
[s.l.] : Jakarta: Depkes; 2001, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Raka Jeni; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Amal Chalik Sjaaf, TB. Firmansyah B. Rifai, Albert Maramis
Abstrak: Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan pemerintah kepada rumah sakit yang telahmemenuhi standar yang telah ditetapkan. Akreditasi rumah sakit di Indonesiadilaksanakan untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap standar akreditasi. Di RSUDharma Yadnya sudah melaksanakan akreditasi 4 standar : Pencegahan danPengendalian Infeksi, Kualifikasi dan Pendidikan Staf, Hak Pasien dan Keluarga danSasaran Keselamatan Pasien. Pada standar PPI paling banyak meninggalkanPerencanaan Perbaikan Strategis (PPS) yaitu sebanyak 23 item dari 11 elemen penilaiandibandingkan dengan tiga standar lainnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalahuntuk diketahui proses pelaksanaan perbaikan 23 item dan hambatan yang ditemukan.Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan datawawancara mendalan dan telaah dokumen, dengan 4 orang partisipan. Hasil penelitianini menunjukkan pada re-survey pertama tahun 2016 terselesaikan 5 elemen penilaian,re-survey kedua tahun 2017 terselesaikan 16 elemen penilaian dan menyisakan 2elemen penilaian yang belum tercapai yaitu pada pemenuhan sarana ruang isolasidengan ruangan bertekanan negatif dan filtrasi HEPA. Dengan kendala harga alat danpemeliharaan yang mahal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk membangunbangunan rumah sakit yang baru apalagi untuk keperluan investasi, harusmemperhatikan arsitektur rumah sakit yang ditentukan oleh standar akreditasi rumahsakit.
Hospital accreditation is the government's recognition to hospitals that have met theestablished standards. Hospital accreditation in Indonesia is conducted to assess hospitalcompliance with accreditation standards. Dharma Yadnya Hospital have implemented 4accreditation standard: Infection Prevention and Control, Qualification and StaffEducation, Patient and Family Rights and International Patient Safety Goals. At mostinfection prevention and control standards leave strategic improvement planning asmany as 23 items from 11 assessment elements compared with three other standards.The purpose of this research is to know the implementation process to improve 23assessment element and obstacles found. The method of this research is qualitativeresearch, using deep interview and document review technique, with 4 participants. Theresult of this study showed that in the first re-survey of 2016 completed 5 elements ofassessment, the second re-survey of 2017 completed 16 elements of assessment andleaving 2 elements of assessment that have not been achieved, that is the fulfillment ofisolation facilities with negative pressure rooms, and HEPA filtration. With expensivetool and maintenance cost constraints. This research concluded that to build a newhospital building especially for investment purposes, must pay attention to hospitalarchitecture which determined by hospital accreditation standard.
Read More
B-2024
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive