Ditemukan 20703 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XIX, No. 8, Jan. 1991, hal. 473-478, ( Cat. ada di bendel 1991-2001 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maj. Kesmas Indonesia (MKMI), th. XIX, No.8, 1991, hal. 473-478
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maj. Kesmas. Indo. (MKMI), XXII, No.9, Oktober, 1994, hal. 570-572
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
S.R. Muktiningsih
CDF-No.17
Jakarta : [s.n.] :
1993
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wita Pribadi
CDK No.18 (1980)
Jakarta : Kalbe Farma, 1980
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Susilo Damarini; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Helda, Besral; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Krianto, Sri Hartati Dewi Reksodiputro, Hartono Gunardi, Setyadewi Lusyati, Indra Supradewi
Abstrak:
Read More
Kelahiran bayi prematur (lahir sebelum 37 minggu) cenderung diikuti dengan berbagai masalah seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), peningkatan infeksi dan komplikasi, serta infeksi neonatal. Hal ini dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan neurologis dan pertumbuhan fisik pada anak usia dini. Stimulasi pijat bayi dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai kelompok umur. Stimulasi diberikan oleh orang tua atau keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh stimulasi pijat bayi oleh keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur di Bengkulu. Pendekatan kuantitatif yang diikuti dengan riset kualitatif. Intervensi berupa stimulasi pijat bayi prematur oleh anggota keluarga dengan frekuensi 3 kali sehari selama 8 minggu. Sampel adalah keluarga bayi prematur dengan usia post-menstruasi 34-36 minggu yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan di Bengkulu. Telah dipilih sebanyak 51 bayi pada kelompok intervensi dan 53 bayi pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan dari tanggal 25 April 2018 sampai 30 Desember 2019. Analisis data menggunakan GLM-RM analisis pengukuran yang dilakukan berulang-ulang pada subyek yang sama untuk menilai efek stimulasi pijat bayi terhadap tumbuh kembang bayi prematur dengan mengontrol variabel pengganggu. timulasi pijat bayi oleh keluarga secara teratur dan rutin meningkatkan pertumbuhan dan merangsang perkembangan motorik bayi prematur menjadi lebih baik setelah dikontrol variabel covariat jenis kelamin, asupan bayi dan bebas infeksi. Disertai asupan ASI yang optimal stimulasi pijat bayi memiliki efek postif terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kepada Dinas Kesehatan disarankan tenaga kesehatan Puskesmas dan bidan agar lebih memperhatikan tumbuh kembang bayi prematur diwilayah kerjannya dan menerapkan stimulasi pijat bayi oleh keluarga pada semua bayi prematur
D-420
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hadiarto Mangunnegoro, Dianiati Kusumo Sutoyo
MHPKKK Vol.XXIII, No.3
Jakarta : Departemen Tenaga Kerja, 1990
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Rahayu Nadhiroh; Promotor: Kusharisupeni Djokosujono; Kopromotor: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratna Djuwita, Hartono Gunardi, Besral, Anies Irawati, Irwan Julianto
Abstrak:
Read More
Pendahuluan Prevalensi perokok dalam keluarga dan anemia pada ibu hamil cukup tinggi di Indonesia. Perlu dikaji dampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak bila kedua paparan tersebut, asap rokok dan anemia kehamilan, terjadi pada bayi di awal 6 bulan kehidupannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan anemia kehamilan dan asap rokok terhadap pertumbuhan linier dan perkembangan bayi usia 6 bulan. Metode Penelitian menggunakan desain kohort prospektif, selama 2016-2019. Sebanyak163 ibu-bayi menjadi sampel penelitian untuk outcome pertumbuhan linier dan 63 ibu-bayi untuk outcome perkembangan. Ibu hamil yang terdaftar di 7 puskesmas di Jakarta, diikuti hingga bayi yang dilahirkan berusia 6 bulan. Pertumbuhan linier menggunakan dua indikator: perbandingan delta panjang badan (PB) subyek terhadap delta PB median z-score (0-6 bulan); dan PB menurut umur (PB/U) usia 6 bulan. Perkembangan bayi menggunakan skor komposit dari skala kognitif, bahasa dan motorik. Analisis menggunakan General Linier Model. Hasil Mean skor pertumbuhan linier (%) dan (PB/U) bayi 6 bulan adalah 105,7 dan -0,2. Sepertiga ibu hamil mengalami anemia, sepertiga bayi terpapar asap rokok dan kurang dari 10% bayi terpapar keduanya. Bayi dengan paparan kombinasi anemia kehamilan dan asap rokok memiliki skor pertumbuhan linier (%) lebih rendah 11,4 (p=0,008) dan PB/U 0,8 (p=0,014) dibandingkan bayi tanpa paparan. Mean skor komposit perkembangan kognitif adalah 105, bahasa 106,5 dan motorik 89,4. Seperempat bayi mengalami perkembangan motorik at risk. Bayi 6 bulan dengan paparan kombinasi memiliki skor kognitif lebih rendah 3,0 poin, skor bahasa lebih tinggi 12,8 poin, dan skor motorik lebih rendah 6,8 poin dibandingkan bayi tanpa paparan, namun tidak signifikan. Kesimpulan Paparan kombinasi anemia kehamilan dan asap rokok berpengaruh terhadap rendahnya skor pertumbuhan linier dan terdapat kecenderungan terhadap rendahnya skor perkembangan terutama skala motorik pada bayi usia 6 bulan. Integrasi program pengendalian rokok dengan program kesehatan ibu anak khususnya pada ibu hamil dan bayi bawah 2 tahun perlu dilakukan dalam upaya memenuhi target penurunan stunting di Indonesia.
D-422
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eti Rohati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Tenny Swara Rifai, Ina Yuniati
T-3374
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eti Rohati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Tenny Swara Rifai, Ina Yuniati
T-3341
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
