Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28148 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kes. Masy. Indonesia (MKMI), XXIII, No.1, 1995: hal. 24-28
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Hastuti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Adi Drajat Noerwarsana, Ida Bagus Manuaba
Abstrak: International Atomic Energy Agency (IAEA) mengeluarkan rekomendasi kepada badan pengawas untuk menunjuk Petugas Proteksi Radiasi (PPR) yang berkompeten di radiologi diagnostik dan intervensional (RDI). Penelitian bertujuan mengetahui kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) PPR, faktor yang berpengaruh, indikator pengetahuan, keterampilan dan sikap yang signifikan serta hubungan antar variabel pengetahuan, keterampilan dan sikap. Rancangan penelitian rancangan cross sectional bersifat deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 41,6 % PPR memiliki tingkat kompetensi rata rata 69,0 dengan kategori sedang. Faktor mempengaruhi pengetahuan adalah latar belakang pendidikan, pekerjaan selain sebagai PPR di RS, perlengkapan keselamatan radiasi, paparan informasi, frekuensi rekualifikasi, pelatihan serta komitmen pemegang izin. Faktor mempengaruhi keterampilan adalah peminatan studi/jurusan, pekerjaan selain sebagai PPR di RS, perlengkapan keselamatan radiasi, sumber informasi, frekuensi rekualifikasi, pelatihan serta komitmen pemegang izin. Faktor yang mempengaruhi sikap adalah tingkat pendidikan, peminatan studi/jurusan, umur, seberapa sering bekerja dengan radiasi, perlengkapan dan komitmen pemegang izin. Hasil uji multivariat diperoleh indikator pengetahuan yang signifikan adalah pengetahuan tentang konsep verifikasi kesesuaian dan kepatuhan persyaratan dan standar proteksi dan keselamatan radiasi. Indikator keterampilan yang signifikan adalah keterampilan menyusun dokumen program proteksi dan keselamatan radiasi dan Indikator sikap signifikan adalah pro aktif mendorong dokter radiologi untuk menetapkan kriteria pemeriksaan yang boleh, yang dilarang dan yang perlu konsultasi dokter. Pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap keterampilan, pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan keterampilan berpengaruh signifikan terhadap sikap. Hasil penelitian menyarankan adanya perbaikan pada unit kompetensi, persyaratan sertifikasi, mekanisme penyegaran, pembuatan SKKNI PPR dan pelatihan berkelanjutan bagi PPR di fasilitas RDI
Read More
T-6419
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Angga Hadi Nugraha; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Hendra, Didik Triwibowo, Deddy Syam
T-4039
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Setiadi; Pembimbing: Wawan Irawan; Penguji: Tata Soemitra, Supriyanto
Abstrak:

Peningkatan kompetensi karyawan sekarang menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menjaga kemampuan berkompetisi guna menghadapi tantangan bisnis dalam era perdagangan babas yang akan segera datang. Undang-undang Ketenagalistrikan (baru) akan mengatur kompetisi antar pelaku bisnis tenaga listrik seperti PT PLN (Persero), swasta, termasuk koperasi dan BUMN yang lain. Melalui pembahasan bersama institusi terkait, maka Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral secara bertahap mempersiapkan standarisasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan.Analisis kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kompetensi K3 pada Pengawas pada beberapa Unit pengelola instalasi yang dipilih untuk melakukan penelitian yang dapat mewakili kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero), sekaligus untuk menggambarkan tingkat kompetensi pada kegiatan pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik.Dengan menggunakan referensi elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja dari kompetensi K3 umum (generik) untuk Pengawas (NOHSC, Australia) sebagai instrumen penelitian, dilakukan wawancara kepada para Pengawas serta kuisioner kepada para Pelaksana, kelompok kerja pengelola instalasi dan kepada para Pejabat pengelola instalasi, diperoleh bahwa rata-rata tingkat kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) dapat diklasifikasikan antara "rendah" sampai "kurang dari cukup", di mana pada kegiatan pembangkitan lebih baik dari pada kegiatan transmisi dan pada kegiatan transmisi lebih baik dari pada kegiatan distribusi.Saran pembinaan untuk meningkatkan kompetensi dengan menambah wawasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap K3 pada Pengawas, keharusan terdapatnya komitmen yang kuat terhadap K3 dari top manajemen (dukungan manajemen) dan memperhatikan tempat kerja (tantangan kegiatan atau pengaruh lingkungan).


 

The Analysis on Occupational Safety and Health Competency for Supevisor of Electric Energy Supply in PT PLN (Persero)Employee competency improvement is now becoming the important issues for corporations to maintain its competitive ability to meet business challenges for incoming free trade era. The (new) Electricity Act regulates the competition of electricity business players such as PT PLN (Persero), the private sector including ccoperative and other state owned corporations. Through agreements with related institutions, The Department of Mine and Energy is progressively set the standards to be used for technician competencies in electricity.The analysis on occupational health and safety (OHS) competency for Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) aims at identifying the competency level of OHS of Supervisors in a number of units chosen to investigate matters that may represent the activities of electricity supply in PT PLN, while also describing the competency levels in electricity generation, transmission and distribution.With reference to the competency elements and performance criteria for generic OHS c^mnPfencies for Supervisors (NOHSC, Australia) as research tool, interviews were conducted with Supervisors and questionnaires were given to Working groups who directly in charge for instalation maintenance administering installation and the respected Officers. The result obtained indicates that the average competency level of OHS among Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) can be classified ranging from "low" to "inadequate", whereas electricity generating activities scored higher than transmission activities, and distribution activities have the lowest score among them.Suggestions to improve competency include supplementary information of OHS knowledge, skill and attitude of Supervisors, need a strong commitment from the top management on OHS (managerial support) and awareness of the work location (in term of challenging activities and or environmental influence).

Read More
T-1355
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Irianti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Robiana Modjo, Yusef Dwi Jayadi, Devie Fitri Octaviani
Abstrak:
Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tinggi, tetapi kualitas pengungkapan K3 dalam laporan keberlanjutan perusahaan belum banyak dievaluasi. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas pengungkapan K3 pada perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas pengungkapan tersebut. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori terhadap laporan keberlanjutan, laporan tahunan, dan laporan keuangan dari 28 emiten kelapa sawit selama periode 2022–2024. Kualitas pengungkapan diukur menggunakan indeks yang dikembangkan berdasarkan standar GRI 403:2018 dan POJK No. 51/POJK.03/2017. Analisis kuantitatif dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat, dilanjutkan analisis tematik kualitatif terhadap narasi pengungkapan K3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kualitas pengungkapan K3 sebesar 61,25 dengan variasi antarperusahaan yang besar. Pengungkapan didominasi informasi kebijakan, sistem, dan program (leading indicators), sementara data hasil aktual seperti angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (lagging indicators) masih terbatas. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kerangka pelaporan, external assurance, dan leverage memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kualitas pengungkapan K3. Sebaliknya, ukuran perusahaan, profitabilitas, kepemilikan institusional, dan independensi dewan komisaris tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas pengungkapan K3 lebih ditentukan oleh tata kelola pelaporan, kredibilitas informasi, dan akuntabilitas eksternal daripada karakteristik ekonomi perusahaan. Penguatan standar pelaporan K3 nasional dan mekanisme verifikasi independen diperlukan untuk mendorong pengungkapan K3 yang lebih substantif.

The palm oil industry is one of the sectors with a high level of occupational health and safety (OSH) risk, yet the quality of OSH disclosure in corporate sustainability reports remains underexamined. This study aims to assess the quality of OSH disclosure among palm oil companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) and to identify the factors associated with disclosure quality. The study employs a mixed-methods explanatory sequential design, examining the sustainability reports, annual reports, and financial statements of 28 palm oil issuers over the 2022–2024 period. Disclosure quality is measured using an index developed based on GRI 403:2018 and POJK No. 51/POJK.03/2017. Quantitative data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses, followed by a qualitative thematic analysis of the OSH disclosure narratives. The results show that the average OSH disclosure quality was 61.25, with considerable variation across companies. Disclosures were dominated by information on policies, systems, and programs (leading indicators), whereas actual outcome data, such as work-related accident and occupational disease figures (lagging indicators), remained limited. The multivariate analysis reveals that reporting framework, external assurance, and leverage are positively and significantly associated with OSH disclosure quality, whereas firm size, profitability, institutional ownership, and board of commissioners' independence show no significant association. These findings indicate that the quality of OSH disclosure is determined more by reporting governance, information credibility, and external accountability than by firms' economic characteristics. Strengthening national OSH reporting standards and independent assurance mechanisms are needed to promote more substantive OSH disclosure.
Read More
T-7708
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Safari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Hendra, Moh. Hadiyin, Imam Syafi`i
Abstrak: Tingginya penggunaan pesawat angkat dan angkut di industri manufaktur dan pelabuhan angkutan barang membutuhkan peningkatan pengawasan dan pembinaan dalam pamakaiannya. Dari hasil laporan kasus membuktikan tingkat kecelakaan bidang pesawat angkat dan angkut masih terus terjadi. Faktor minimnya kompetensi pengawas ketenagakerjaan bidang K3 spesialis pesawat angkat dan angkut serta kurangnya jumlah pengawas menambah permasalahan pesawat angkat dan angkut semakin bertambah. Peningkatan kualitas dan kuantitas pengawas K3 spesialis pesawat angkat dan angkut merupakan suatu solusi yaitu melalui diklat berbasis kompetensi / Competence Based Training (CBT) sesuai Standar Kompetensi Kerja (SKKNI) Pengawas Ketenagakerjaan. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif dan analitik melalui data primer hasil observasi dan wawancara serta data sekunder dari literatur dan Kementerian Ketenagakerjaan. Penelitian ini menggambarkan kondisi pelaksanaan diklat fungsional pengawas saat ini dan dibandingkan dengan hasil pengembangan diklat berpola CBT, dengan melibatkan 3 pilar pendukung yaitu Lembaga diklat, lembaga sertifikasi dan dunia usaha/industri. Kata kunci: Diklat CBT, Pengawas K3, Pesawat angkat dan angkut, Standar kompetensi, Lembaga diklat, Lembaga sertifikasi.

The high use of lifting and transport equipment in manufacturing and freight ports requires increased supervision and guidance in their use. From the results of the case report proves the level of accidents in the field of lifting and transport equipment is still going on. The lack of competence of labor inspector in OSH of lift and transport equipment as well as the lack of supervisors increased the problem of lifting and transport equipment. Improving the quality and quantity of Inspectors Occupational Safety specialist of lifting and transport equipment is a solution that is through Competence Based Training (CBT) in accordance with the Competency Standards (SKKNI) of Labor inspector. The research was conducted with descriptive and analytic design through primary data of observation and interview and secondary data from literature and document from Ministry of Manpower. This study describes the condition of the implementation of functional training of current inspector and compared with the development of CBT patterned training, involving 3 supporting pillars namely Training Institute, certification body and business / industry. Keywords: CBT Training, Inspector of OHS, Lifting and Transport Equipment, Competency Standard (SKKNI), Training institution, Certification institution.
Read More
T-4951
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rayhan Ramadhan; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Shabrina Audinia
Abstrak:
Compassion Fatigue (CF) merupakan kondisi kelelahan emosional dan stres yang direpresentasikan oleh Burnout (BO) dan Secondary Traumatic Stress (STS). Mahasiswa Profesi Ners berpotensi mengalami CF melalui pendidikan praktik klinik intensif pada berbagai setting pelayanan kesehatan. Namun, di Indonesia penelitian mengenai CF pada Mahasiswa Profesi Ners masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi tingkat BO dan STS, serta hubungan antara faktor lingkungan kerja dan tugas atau pekerjaan praktik klinik, faktor klien atau pasien, dan faktor karakteristik individu dengan masing-masing BO dan STS pada Mahasiswa Profesi Ners Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling pada Mahasiswa Profesi Ners Universitas Indonesia Tahun 2026 yang memenuhi kriteria inklusi, dengan jumlah responden akhir sebanyak 41 orang. Data dikumpulkan menggunakan instrumen baku seperti Professional Quality of Life Scale versi 5 (ProQOL V), Connor-Davidson Resilience Scale versi 10 item (CD-RISC-10), General Self-Efficacy Scale (GSES), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Hasil penelitian menemukan bahwa pada distribusi tingkat BO relatif seimbang antara kategori BO yang lebih rendah (51,2%) dan kategori BO yang lebih yang lebih tinggi (48,8%). Selain itu, pada distribusi tingkat STS sebagian besar responden (82,9%) berada pada kategori sedang. Keduanya menunjukan keberadaan BO dan STS sebagai representasi CF pada Mahasiswa Profesi Ners Universitas Indonesia Tahun 2026. Ditemukan juga faktor yang berhubungan signifikan dengan BO, yaitu faktor klien atau pasien berupa frekuensi pengalaman menyaksikan atau merawat klien atau pasien yang sekarat atau meninggal dunia (p = 0,045; OR = 3,792) dan faktor karakteristik individu berupa lama praktik klinik (p = 0,023; OR = 4,643) serta resiliensi psikologis (p = 0,010; OR = 5,833). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara ketiga faktor dengan STS.

Compassion Fatigue (CF) is a condition of emotional exhaustion and stress represented by Burnout (BO) and Secondary Traumatic Stress (STS). Nursing Professional Program Students are potentially at risk of experiencing CF through intensive clinical practice education across various healthcare settings. However, in Indonesia, research on CF among Nursing Professional Program Students remains very limited. This study aims to analyze the distribution levels of BO and STS, as well as the relationships between work environment and clinical practice task or job factors, client or patient factors, and individual characteristic factors with BO and STS, respectively, among Nursing Professional Program students at Universitas Indonesia in 2026. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a total sampling technique among Nursing Professional Program students at Universitas Indonesia in 2026 who met the inclusion criteria, resulting in a final sample of 41 respondents. Data were collected using standardized instruments, namely the Professional Quality of Life Scale version 5 (ProQOL V), the Connor-Davidson Resilience Scale 10 item version (CD-RISC-10), the General Self-Efficacy Scale (GSES), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). The results found that the distribution of BO levels was relatively balanced between the lower BO category (51.2%) and the higher BO category (48.8%). In addition, the distribution of STS levels showed that the majority of respondents (82.9%) fell into the moderate category. Both findings indicate the presence of BO and STS as representations of CF among Nursing Professional Program students at Universitas Indonesia in 2026. The study also found factors significantly associated with BO, namely the client or patient factor in the form of frequency of experience witnessing or caring for dying or deceased clients or patients (p = 0.045; OR = 3.792), and individual characteristic factors in the form of length of clinical practice (p = 0.023; OR = 4.643) and psychological resilience (p = 0.010; OR = 5.833). Meanwhile, no statistically significant relationship was found between the three factors and STS.
Read More
S-12408
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melur Augustina Nilawardhani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Yuni Kusminanti
S-4853
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
L. Meily Kurniawidjaja
613.6 KUR t
Jakarta : Universitas Indonesia, 2012
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Valentina; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Elsye As Safira dan Rahmat Romadhon
Abstrak:
Sejak tahun 2012, salah satu Perusahaan Migas memiliki permasalahan kualitas udara yang belum dapat teratasi hingga saat ini, yaitu kelembaban relative (RH) yang tinggi dan pertumbuhan mikrobiologi (jamur dan bakteri) di dalam ruangan pada bangunan akomodasi dan perkantoran. Hingga akhirnya modifikasi sistem HVAC, perbaikan bangunan bocor dan pemasangan UV-C light telah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi efektivitas pengendalian sistem tata udara dalam mengatasi permasalahan kualitas udara. Desain penelitian adalah cross sectional kuantitatif dengan analisis uji statistik. Penelitian dilakukan dengan statistik deskriptif dan uji komparasi pada parameter IAQ dan gejala SBS sebelum dan setelah modifikasi. Parameter IAQ meliputi temperatur, RH, air movement, VOC, CO2, O2, serta total jamur dan bakteri di udara dan permukaan. Agar dapat memberikan rekomendasi yang tepat dilakukan pula uji korelasi untuk menganalisis pengaruh antara parameter fisik dan kimia terhadap pertumbuhan mikrobiologi, serta pengaruh thermoregulation behavior dan aktivitas penghuni terhadap kondisi kualitas udara dan gejala keluhan SBS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara setelah modifikasi (HVAC dan UV-C light) mengalami perbaikan kondisi yang signifikan pada parameter RH, bakteri dan jamur di udara, bakteri dan jamur di permukaan. Thermoregulation behavior, aktivitas penghuni dan gejala SBS memiliki perubahan yang baik setelah modifikasi. Kelembaban relatif (RH), CO2 dan O2 signifikan mempengaruhi pertumbuhan mikrobiologi (jamur dan bakteri) di dalam ruangan. Aktivitas penghuni dan thermoregulation behavior secara signifikan mempengaruhi kondisi kualitas udara dan gejala keluhan SBS. Modifikasi HVAC dan perbaikan bangunan bocor terbukti efektif dalam menurunkan RH di dalam ruangan. Pemasangan UV-C light pada sistem HVAC dan UV-C light portable terbukti efektif untuk mendisinfeksi jamur dan bakteri di udara, jamur di permukaan diffuser dan sistem HVAC di bangunan akomodasi dan perkantoran. Pengendalian sistem tata udara (HVAC dan UV-C light) secara signifikan dapat memperbaiki permasalahan kualitas udara, namun kondisi ini harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan untuk mencapai kondisi sesuai dengan standar KUDR. Rekomendasi mitigasi yang diberikan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kualitas udara tersebut. Kata kunci: Indoor Air Quality (IAQ), jamur/mold, sistem HVAC, RH, UV-C light

Since 2012, an Oil and Gas Company has Indoor Air Quality (IAQ) problems that have not been resolved until now, such as the high relative humidity (RH) and microbiological growth (mold and bacteria) indoors in accommodation and office buildings. Finally, the HVAC system modifications, leaking building repairs and UV-C light installation have been implemented. Therefore, an evaluation of the effectiveness of HVAC system control is needed in addressing IAQ problems. Research design is a quantitative cross sectional study with statistical analysis. The study was conducted with descriptive statistics and statistical comparative tests on IAQ parameters and SBS symptoms before and after modification. The IAQ parameters include temperature, RH, air movement, VOC, CO2, O2, total mold and total bacteria in ambient air and surface area. In order to provide appropriate recommendations, statistical correlation tests were conducted to analyze the influence between physical and chemical IAQ parameters on microbiological growth, as well as the influence of thermoregulation behaviour and occupant activity on air quality conditions and SBS symptoms. The study results showed that IAQ conditions after modification (HVAC and UV-C light) has significant improvements in RH, bacteria and mold in ambient air, bacteria and fungi on the surface. Thermoregulation behaviour, occupant activity and SBS symptoms have good changes after modification. RH, CO2 and O2 significantly affect the microbiological growth (mold and bacteria) indoors. Occupant activity and thermoregulation behaviour significantly affected IAQ conditions and SBS symptoms. HVAC modifications and leaky building repairs have proven effective in lowering RH indoors. Installation of UV-C light on HVAC systems and portable UV-C light has proven effective for disinfecting airborne molds and bacteria, mold on diffuser surfaces and HVAC systems in accommodation and office buildings. Modification of HVAC systems and UV-C light can significantly improve IAQ problems, but these conditions must always be maintained and improved to achieve acceptable conditions based on IAQ standards. Mitigation recommendations are expected to solve the air quality problem. Key words: HVAC system, Indoor Air Quality (IAQ), mold, RH, UV-C light
Read More
T-7525
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive