Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21192 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tan Malaka
JEN Ed.3
Jakarta : [s.n.], 1993
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Husnan, Agus Soedarjadi, R. Kumalaningrum
004.16 HUS p
Bandung : Angkasa, 1986
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yurizal Rahman; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramadhan, Eko Pudjadi, Lina Warlina
T-3409
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jur. Manajemen & Adm. Rumah Sakit Indo; Vol.2, No.2, April 2000, Hal. 79-87, ( Cat ada di bendel 1999 - 2000 ) ( 2002 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achir Yani S. Hamid
JMARSI Vol.2, No.2
Depok : FKM UI, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Majalah Dokter Keluarga (MDK), vol.4, No.10, Sept. 1985. hal. 473-477
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martina Caisar Ferananda; Pembimbing: Mila Tejamaya, Hendra, Agung Supriyadi
Abstrak:
Karsinogen merupakan efek toksik yang mengarah pada terjadinya peristiwa karsinogenesis hingga timbul kanker. Tingginya angka penggunaan bahan kimia di industri yang terbukti karsinogenik bagi manusia tentunya akan berpotensi memunculkan dampak negatif kepada kesehatan pekerja. Peraturan Nilai Ambang Batas (NAB) di Indonesia dibuat sebagai upaya melindung kesehatan pekerja. Namun di Indonesia terdapat dua standar mandatori, dimana keberadaan lebih dari satu standar di Indonesia menyulitkan perusahaan dalam hal pemenuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan Nilai Ambang Batas bahan kimia yang bersifat karsinogen dan klasifikasi karsinogen. Unit analisis penelitian ini adalah peraturan Nilai Ambang Batas Kimia di Indonesia yaitu Permenaker 5 tahun 2018 dan Permenker 70 tahun 2016. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif. Pada perbandingan antara dua peraturan terdapat 2 bahan kimia yang memiliki notasi klasifikasi karsinogen berbeda yaitu Chromium metal and insol. salts (sebagai Cr) pada Peremenaker (A4) dan pada Permenkes (A1) serta didapatkan substansi kimia Diazomethane pada Peremenaker notasi (A2) namun tidak diatur di Permenkes. Terdapat 6 substansi kimia yang memiliki konsentrasi NAB yang berbeda diantaranya adalah benzotrichloride (tidak diatur dalam Permenaker dan Permenkes NAB-STEL 0.1 mg/m3), Benzo (a) pyrene (tidak diatur dalam Permenaker dan Permenkes NAB-TWA 0.2 mg/m3), beryllium and beryllium compounds as be (Permenkes NAB-TWA 0.00005 mg/m3 dan Permenkes NAB-TWA 0.002 mg/m3), Formaldehyde (Permenkes NAB-STEL 0.3 ppm dan Permenkes NAB-TWA 0.5 ppm), Silica crytaline - alpha quartz and cristobalite (Permenkes NAB-STEL 0.025 mg/m3 dan Permenkes NAB-TWA 0.1 mg/m3).

Carcinogens are toxic effects that lead to carcinogenic events leading to cancer. The high rate of use of chemicals in industry that are proven to be carcinogenic to humans will certainly have the potential to have a negative impact on the health of workers. Threshold Value Regulations (NAV) in Indonesia were made as an effort to protect the health of workers. However, in Indonesia there are two mandatory standards, where the existence of more than one standard in Indonesia makes it difficult for companies to fulfill them. This study aims to examine the comparison of the Threshold Limit Values of chemicals that are carcinogens and the classification of carcinogens. The unit of analysis for this research is the regulation of Chemical Threshold Limit Values in Indonesia, namely Permenaker 5 of 2018 and Permenker 70 of 2016. This research was conducted using a descriptive method. In the comparison between the two regulations, there are 2 chemicals that have different carcinogen classification notations, namely Chromium metal and insol. salts (as Cr) in Peremenaker (A4) and in Permenkes (A1) and the chemical substance Diazomethane is found in Peremenaker notation (A2) but it is not regulated in Permenkes. There are 6 chemical substances that have different NAB concentrations including benzotrichloride (not regulated in the Permenaker and Permenkes NAB-STEL 0.1 mg/m3), Benzo (a) pyrene (not regulated in the Permenaker and Permenkes NAB-TWA 0.2 mg/m3), beryllium and beryllium compounds as be (Permenkes NAB-TWA 0.00005 mg/m3 and Permenkes NAB-TWA 0.002 mg/m3), Formaldehyde (Permenkes NAB-STEL 0.3 ppm and Permenkes NAB-TWA 0.5 ppm), Silica crytaline - alpha quartz and cristobalite (Permenkes NAB-STEL 0.025 mg/m3 and Permenkes NAB-TWA 0.1 mg/m3).
Read More
T-6790
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Koesmi, Rahajoe S.
LP 614.7 RAH p
Surabaya : Departemen Kesehatan, 1990
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
World Health Organization; alih bahasa, Palupi Widyastuti, Monica Ester
363.179 BAH b
Jakarta : EGC, 2005
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Prisar Tsabitha; PembimbingL: Al Asyary; Penguji: Dewi Susanna, Ni'matulloh
Abstrak:
Perjalanan bisnis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan auditor di PT X sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Testing, Inspection, and Certification (TIC). Mobilitas tinggi yang dituntut dari auditor berpotensi menimbulkan berbagai risiko terhadap keselamatan, kesehatan fisik dan mental, serta keseimbangan sosial, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi kualitas hasil audit. Namun, sejauh ini belum dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi mitigasi risiko keselamatan, kesehatan, dan lingkungan kerja (K3L) dalam konteks perjalanan bisnis auditor. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi mitigasi risiko K3L pada perjalanan bisnis di PT X berdasarkan persepsi auditor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang dipilih secara purposive, meliputi auditor, auditor senior, dan head of division yang terlibat dalam perjalanan bisnis. Triangulasi sumber digunakan untuk memastikan validitas data, dengan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen internal perusahaan dan observasi pelaksanaan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun PT X telah memiliki beberapa prosedur terkait mitigasi risiko, seperti pemantauan K3L dan penanganan keadaan darurat, implementasinya belum spesifik untuk konteks perjalanan bisnis. Sebagian besar auditor belum mengetahui dan memahami prosedur tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara kebijakan formal dan praktik di lapangan. Perusahaan telah memenuhi aspek logistik dasar seperti transportasi dan akomodasi, namun belum menyediakan pelatihan risiko yang memadai, edukasi pra perjalanan, serta pemantauan kesehatan sebelum dan sesudah perjalanan. Auditor juga mengalami kelelahan, gangguan tidur, stres, dan keterbatasan waktu bersama keluarga akibat intensitas perjalanan yang tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi mitigasi risiko K3L di PT X masih bersifat reaktif dan belum terintegrasi secara sistematis ke dalam siklus perjalanan bisnis. Perusahaan disarankan untuk mengembangkan sistem mitigasi risiko yang kontekstual untuk setiap destinasi, meningkatkan sosialisasi dan pelatihan berbasis risiko, serta menyediakan mekanisme pemulihan pasca-perjalanan. Selain itu, keterlibatan auditor dalam penyusunan kebijakan serta dukungan terhadap kesehatan mental juga perlu ditingkatkan guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.


Business travel is an inseparable part of the auditors' work at PT X, a multinational company operating in the field of Testing, Inspection, and Certification (TIC). The high mobility required from auditors poses various risks to their safety, physical and mental health, and social balance, which may indirectly affect the quality of audit results. However, a comprehensive evaluation of the implementation of occupational safety, health, and environmental (SHE) risk mitigation in the context of business travel has not yet been conducted. This study aims to evaluate the implementation of SHE policies related to business travel at PT X based on auditors' perceptions. This research employed a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with five purposively selected informants, including senior auditors, internal auditors, and division heads involved in business travel. Data validity was ensured through source triangulation by comparing interview results with internal company documents and field observations. The findings indicate that although PT X has several procedures related to risk mitigation—such as SHE performance monitoring and emergency response—their implementation is not specifically tailored to the business travel context. Most auditors are either unaware of or do not access these documents, resulting in a gap between formal policy and actual practice. The company has fulfilled basic logistical aspects such as transportation and accommodation, but lacks adequate risk-based training, pre-departure education, and health monitoring before and after travel. Auditors reported experiencing fatigue, sleep disturbances, stress, and reduced family time due to the high frequency of travel. The study concludes that the implementation of SHE risk mitigation at PT X remains reactive and is not yet systematically integrated into the business travel cycle. It is recommended that the company develop contextual risk assessments for each destination, enhance policy communication and risk-based training, and implement post-travel recovery mechanisms. Moreover, greater involvement of auditors in policy development and the provision of mental health support are essential to create a safer, healthier, and more sustainable work environment.
Read More
S-12036
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive