Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26731 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Medika, No.4, XXVIII, April 2002, hal. 219-223, ( Cat. ada di bendel 2000 - 2005 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rasmawati; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Yovsyah, Yogi Prabowo, Ns S F Teguh Wardaya
Abstrak: Latar Belakang: Sepsis merupakan disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respon tubuh terhadap infeksi (Singer et al., 2016). Sepsis menyebabkan mikroganisme menghasilkan toksin atau zat beracun di dalam darah dan memunculkan manifestasi dari mikroganisme tersebut seperti demam, leukositosis, dan terganggunya sistem sirkulasi yang membutuhkan penanganan dengan segera (Singer, Deutschman, Seymour, 2016). Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah yang disebabkan kelainan dalam sekresi insulin,kerja insulin atau kedua-duanya (PERKENI, 2015). Pasien dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki peningkatan resiko terjadi infeksi dan sepsis sekitar 20,1-22,7 % dari semua pasien sepsis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dan mortalitas sepsis di IGD RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017. Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah kohort retrospekstif menggunakan data rekam medis pasien sepsis. Sampel penelitian adalah pasien sepsis usia ≥ 18 tahun di IGD RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017 berdomisili di Jabodetabek, yaitu sebanyak 357 pasien. Hasil Penelitian: Hubungan antara DM tipe 2 dan mortalitas sepsis memiliki hubungan signifikan dengan RR sebesar 0,55 (95% CI: 0,35 - 0,87) sedangkan RR adjusted sebesar 0,75 setelah dianalisis multivariat tidak signifikan berbeda dengan RR crude pada analisis bivariate sebesar 0,55 yang berarti kedua analisis tersebut membuktikan bahwa hubungan DM tipe 2 dengan mortalitas bersifat protektif
Read More
T-5625
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muchamad Mufied; Pembimbing: Amal C. Sjaaf
B-147
Depok : FKM UI, 1996
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Weny Wiharsini; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Raty Ayu Dewi Sartika, Evi Martha, Fitri Hudayani, Rodlia
Abstrak: Pelayanan asuhan gizi yang bermutu yaitu terpenuhinya langkah-langkah mulai dari pengkajian (asesmen), diagnosis, intervensi, monitoring dan evaluasi. Ukuran kualitas digambarkan melalui evaluasi keberhasilan asuhan gizi dan kepatuhan tenaga gizi melaksanakan PAGT. Hasil telusur asuhan gizi pada pasien rawat inap yang dilaksanakan Instalasi Gizi dan Produksi Makanan (IGPM) di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada bulan maret tahun 2021 terhadap 40 pasien rawat inap didapatkan hasil baru 43% rekam medis dengan dokumentasi monitoring evaluasi asuhan gizi lengkap, masih ditemukan ketidaksesuaian dalam dokumentasi asuhan gizi pada pasien rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu asuhan gizi pada pasien rawat inap di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan JuniJuli tahun 2021, dengan jenis penelitian mix methode dengan desain penelitian explanatory pada variabel mutu asuhan gizi, motivasi, kerjasama tim dan komitmen. Sample pada penelitian kuantitatif yaitu nutrisionis dietisien yang dilakukan telusur asuhan gizi berjumlah 21 orang dan penelitian kualitatif pada variabel manajemen SDM, pendidikan pelatihan kompetensi menggunakan 8 informan. Hasil penelitian menunjukkan asuhan gizi pada pasien rawat inap di RSCM sudah cukup baik, meskipun masih ditemukan beberapa ketidaksesuain dalam dokumentasi dan langkah asuhan seperti belum ada rencana jangka waktu monitoring dan evaluasi pada dokumentasi sebesar 36,5%, dan asesmen gizi tidak tepat waktu (>1x24 jam) sebesar 21,6%, dalam hal motivasi, kerjasama-kolaborasi dan komitmen petugas dalam penerapan asuhan gizi cukup baik, manajemen SDM dikelola sangat baik mulai dari perencanaan tenaga, orientasi dan bimbingan pegawai baru, hingga pemberian kewenangan sudah cukup baik, namun untuk sistem jenjang karir yang baru terbentuk belum dapat diaplikasikan. Pendidikan, pelatihan dan kompetensi tenaga nutrisionisdietisien dikelola dan direncanakan dengan sangat baik oleh Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Perlu dibuat suatu sistem, untuk meningkatkan kepatuhan dalam dokumentasi seperti evaluasi formulir untuk mempermudah dan mempersingkan waktu pengisian dokumentasi asuhan dan pemerataan Hospital Information System (HIS) pada semua ruang rawat
Quality nutritional care services are fulfilled steps ranging from assessment, diagnosis, intervention, monitoring and evaluation. Quality measures are illustrated through the evaluation of the success of nutritional care and compliance of nutrition personnel carrying out PAGT. The results of nutrition care search in inpatients conducted Nutrition installation and Food Production (IGPM) at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo in March 2021 against 40 inpatients obtained new results 43% medical records with documentation monitoring the evaluation of complete nutritional care, still found discrepancies in nutritional care documentation in inpatients. This study aims to analyze the quality of nutritional care in inpatients at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. This research was conducted in June-July 2021, with a type of mix methode research with explanatory research design on nutritional quality variables, motivation, teamwork and commitment. Samples in quantitative research, namely dietetic nutritionists conducted by 21 people and qualitative research on hr management variables, competency training education using 8 informants. The results showed that nutritional care in inpatients in RSCM was quite good, although there were still some discrepancies in documentation and foster care measures such as there was no monitoring and evaluation period plan on the documentation of 36.5%, and the nutritional assessment was not on time (>1x24 hours) of 21.6%, in terms of motivation, collaboration and commitment of officers in the application of nutritional care is quite good , HR management is managed very well ranging from energy planning, orientation and guidance of new employees, to the granting of authority is good enough, but for the newly formed career level system can not be applied. The education, training and competence of nutritionist-dietitian personnel is managed and very well planned by the Nutrition Installation and Food Production of RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. A system is needed, to improve compliance in documentation such as form evaluations to facilitate and streamline the time of filling out foster documentation and equalization of Hospital Information System (HIS) in all wards
Read More
T-6159
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mandala Noras
MJKI No.8
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anna Ngatmira; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Trini Sudiarti, Ratu Ayu Dewi Sartika, Suharyati, Itje Aisah Ranida
Abstrak:

ABSTRAK

Sisa makanan merupakan salah satu indikator dalam pelayanan gizi khususnyapenyelenggaraan makanan. Dengan pelayanan makanan yang memuaskan selerapasien tanpa mengurangi nilai gizi merupakan terapi diet yang dibutuhkan dalampenyembuhan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen,dengan membagi sampel menjadi kelompok control dengan mendapatkanmakanan dengan standar porsi diet rumah sakit 2300 kkal dan kelompokperlakuan mendapat standar porsi diet sesuai kebutuhan 1700 kkal. Penelitian inidilakukan pada 34 responden, 17 kelompok control dan 17 kelompok perlakuan.Penelitian dilakukan pada pasien bedah perempuan dengan diet makanan biasa,usia 18-59 tahun, di ruang perawatan RSCM . Pengumpulan data sisa makanandengan system food weighing selama 4 hari. Analisis bivarian menggunakan uji bedadua mean T test independendandependen.Terdapat rata – rata sisa makanan padakelompok control sebanyak 206,37 gram dan kelompok perlakuan sebanyak 117.59 gramper orang per hari. Sisa makanan terbesar disumbangkan dari makanan pokok sebesar41,52% dan sayur sebanyak 24.15% pada kontrol dan 32.87% untuk makanan pokok dan21.81% untuk sayuran pada kelompok perlakuan dari total sisa makanan. Sisa makanankelompok kontrol sebanyak 17.65% masuk dalam katagori banyak (>20%)..Penelitianserupa dapat dilakukan pada kelompok pasien yang mendapatkan makanan lunak danpada kelompok pasien yang tidak berdiet khusus.

ABSTRACT

In nutritional services, waste plate becoming one particular indicator, especiallyin the food provisions for the patient. Food provisions that can satisfy patientstaste without compromising the nutritional value is a dietary therapy required inthe treatment of the patients itself. This is a quasi-experimental study, by dividingthe sample into the control group who received 2300 kcal standard dietaryhospital food portion and the treatment group who received standard dietservings as needed 1700 kcal. This study conducted on 34 respondents, both forthe control group as well as for the treatment group consists of 17 patients. Thestudy was conducted to female surgical patients with normal diet, age 18-59years, at Dr. CiptoMangunkusumo General Hospitals treatment room. The wasteplatedata collection performed by using the food weighing systems for 4 days.Two different mean independent and dependent T-test is used as the bivariateanalysis for this study. There is an average of the waste plate per person per dayas much as 206,37 grams in the control group and 117,59 grams in the treatmentgroup. The biggest waste plate comes from the staple foods and vegetables,respectively 41.52% and 24.15% in controls group and the treatment group was32.87% and 21.81% from the the total of leftover food. Waste plate in the controlgroup as much as 17.65% are included in a lot category (> 20%). Similar studiescan be performed on a group of patients who received bland foods and in thegroup of patients who did not having specific diet.

Read More
T-3998
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Aldis Ruslialdi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Gandi Agusniadi
Abstrak: HIV/AIDS berdampak kepada peningkatan kerentanan terkena infeksi penyakitlain yang berujung kepada kematian. Menurut UNAIDS, Indonesia termasuk kedalam daftar negara dengan kematian akibat AIDS tidak mengalami penurunan ataulaju penurunannya kurang dari 25%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor atau determinan utama yang berhubungan dengan kematian berkaitan AIDS pada pasien HIV/AIDS di unit rawat inap Rumah SakitCipto Mangunkusumo pada tahun 2008-2012. Sampel penelitian ini sebanyak 207pasien. Data pasien diambil dengan memanfaatkan data rekam medis pasien untukmelihat variabel independen yang terdiri dari jenis kelamin, umur, pekerjaan, kadarCD4, faktor risiko penularan, jumlah penyakit yang diderita, status gizi, riwayatgangguan syaraf pusat, riwayat konsumsi obat ARV, dan kondisi psikologis untuknantinya dihubungkan dengan status kematian pasien HIV/AIDS. Analisis datadilakukan hingga analisis multivariat dengan model prediksi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kematian AIDS sebesar 28,5%. Dari hasil analisis multivariatdidapatkan 4 variabel yang berhubungan dengan kematian AIDS, yaitu status gizikurang dari normal (OR=4,75) dengan 95% CI (2,278-9,917), riwayat gangguansyaraf pusat (OR=1,82) dengan 95%CI (1,025-3,251), jumlah penyakit yang dideritalebih dari 5 penyakit (OR=4,09) dengan 95%CI (1,854-9,043), dan kadar CD4. KadarCD4 menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kematian AIDS dengan nilai ORsebesar 5,9 dengan 95%CI 2,096-17,106. Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan upaya peningkatan awarenessakan pentingnya kontrol kadar CD4 darah untuk pasien HIV/AIDS dan upaya pendukung lainnya untuk mencegah kematian AIDS seperti peningkatan kualitas gizi pasien AIDS, skrining dan deteksidini gangguan syaraf pusat, dan pencegahan komplikasi penyakit. Kata kunci: HIV/AIDS, Kematian, kadar CD4, determinan utama
HIV/AIDS impact to increased susceptibility to other diseases infections whichlead to death. The death of AIDS is also a problem, especially in Indonesia.According to UNAIDS, Indonesia is included in the list of countries where deathsfrom AIDS do not decline or rate of less than 25% of his descent. This research isobservational research, design with cross sectional. This research aims to know thedescription and the main factors which related to mortality of AIDS HIV/AIDS ininpatient unit RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo in 2008-2012. The sample of thisresearch are 207 patients. Data collected by utilizing the patient's medical record datato see the independent variables consisted of gender, age, job, CD4 levels, risk factorsof transmission, the amount of illness suffered, nutritional status, history of centralnervous disorders, drug consumption history ARV consumption, and psychologicalconditions to be linked with the status of a patient's death related with HIV/AIDS.The data analysis done to multivariate analysis with prediction model. The resultsshowed that the AIDS death prevalence reach up to 28.5%. The results ofMultivariate analysis obtained 4 variables related to the death of AIDS, poornutritional status (OR=4,75) with 95% CI (2,278-9,917), central nervous disorderhistory (OR=1,82) with 95% CI (1,025-3,251), the number of illnesses suffered morethan 5 disease (OR=4,09) with 95% CI (1,854-9,043), and CD4 levels. CD4 levelsbecame the most influential factors towards AIDS deaths with a value of 5, 9 OR and95% CI (2,096-17,106). From the results can be recommended the efforts toincreased awareness toward control CD4 blood levels for HIV/AIDS patients andother supporting efforts to prevent deaths of AIDS such as improved quality ofnutrition AIDS patients, screening and early detection of central nervous disorders,and prevention of complications of the disease.Keywords: HIV/AIDS, Death, CD4 level, main determinant
Read More
S-8097
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Sabrina Dwipayanti; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Hervita Diatri, Fajar Ariyanti
Abstrak:
Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan elemen penting dalam upaya mitigasi risiko yang dapat dicegah dalam layanan kesehatan. RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan pelaporan insiden melalui metode manual dan elektronik (e-Report), namun implementasinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi sistem pelaporan insiden di RSCM dengan pendekatan kualitatif, menggunakan kerangka Donabedian (struktur–proses–hasil) dan strategi perbaikan berbasis Plan–Do–Study–Act (PDSA). Hasil menunjukkan bahwa sistem e-Report belum memenuhi kebutuhan pengguna karena antarmuka tidak intuitif dan tidak tersedianya fitur pelacakan, notifikasi, serta umpan balik. Fragmentasi kanal pelaporan, dominasi laporan manual, serta persepsi bahwa pelaporan adalah beban administratif turut memperlemah budaya pelaporan. Di samping itu, proses tindak lanjut insiden dinilai tidak transparan dan jarang dikomunikasikan kepada pelapor, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap efektivitas sistem. Temuan ini menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengembangan sistem pelaporan yang terpusat, mudah digunakan, dan didukung pelatihan berbasis unit serta kebijakan pelaporan satu pintu. Pendekatan PDSA digunakan untuk merancang strategi perbaikan sistem yang lebih responsif dan berkelanjutan dalam rangka mendukung peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.


The patient safety incident reporting system is a critical component in mitigating preventable risks within healthcare services. Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital (RSCM) has implemented both manual and electronic (e-Report) methods for reporting incidents. However, its implementation remains suboptimal. This study aims to evaluate the implementation of the incident reporting system at RSCM using a qualitative approach, guided by the Donabedian framework (structure–process–outcome) and the Plan–Do–Study–Act (PDSA) improvement cycle. The findings reveal that the current e-Report system does not sufficiently meet user needs due to an unintuitive interface and the absence of key functionalities such as report tracking, automated notifications, and feedback mechanisms. Additionally, fragmented reporting channels, a predominance of manual submissions, and the perception of reporting as a bureaucratic burden have contributed to a weakened safety culture. The follow-up process is also perceived as lacking transparency and is rarely communicated back to reporters, further reducing trust in the system. These challenges form the basis for recommendations to develop a centralized, user-friendly, and integrated reporting system, supported by unit-based training and a single-channel reporting policy. The PDSA cycle is applied as a strategic framework to design a more responsive and sustainable system that enhances both service quality and patient safety at RSCM.
Read More
T-7401
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fara Fauzia; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ratna Djuwita, Radiyati Umi Partan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Sudarto Ronoatmodjo, Trisari Anggondowati, Laniyati Hamijoyo
Abstrak:

Pendahuluan. Artritis reumatoid (AR) adalah peradangan kronik autoimun yang terutama melibatkan persendian secara bilateral dan simetris. Walaupun memiliki prevalensi yang rendah namun jika tidak diterapi secara adekuat maka akan menimbulkan masalah persendian yang bersifat permanen, kecacatan dan gangguan fungsi sendi sehingga menimbulkan dampak secara ekonomi dan sosial pada individu yang mengalaminya. Penyakit AR ini tidak dapat disembuhkan namun penyakit ini harus tetap ditatalaksana untuk mencegah progresifitas dari penyakit itu sendiri dan saat ini  prediksi kegagalan atau keberhasilan terapi MTX belum pernah  dilakukan di Indonesia terutama pengembangan terhadap suatu sistem skoring yang aplikatif, hal ini menjadi  landasan  untuk melakukan analisis faktor-faktor yang memengaruhi kegagalan pengobatan metotreksat pada pasien AR dalam hal ini dalam skala rumah sakit yang menyesuaikan dengan kondisi di Indonesia dan melakukan pengembangan sistem skoring prediktor terhadap kegagalan monoterapi metotreksat. Metode. Penelitian menggunakan desain studi kohort retrospektif yang menggunakan data rekam medis elektronik (RME) pasien poli reumatologi penyakit dalam RSCM pada kurun waktu Oktober 2020 - September 2023. Dilakukan analisis deskriptif dan bivariat dengan menggunakan analisis chi-square yang dilanjutkan dengan analisis multivariat dengan analisis model Generalized Linear Model (GLM) dengan family Poisson untuk mendapatkan nilai koefisien, RR dengan interval kepercayaan 95% dari variabel independen terhadap kegagalan terapi monoterapi metotreksat yang dilanjutkan proses eliminasi variabel melalui metode backward. Hasil. Penelitian ini mendapatkan jumlah sampel sebanyak 215 subyek setelah melalui seleksi kriteria inklusi dan eksklusi, dan didapatkan hasil bahwa jumlah sendi nyeri ≥ 6 memiliki RR 1,52 (CI 95% 1,09-2,16), obesitas memiliki RR 1,41 (CI 95% 1,04-1,24), faktor peradangan LED memiliki RR 2,21 (CI 95%1,07-4,10) dan derajat aktifitas penyakit yang tinggi dengan RR 1,36 (CI 95% 1,03-1,79) adalah variabel yang memengaruhi kegagalan monoterapi metotreksat. Pada pembentukan skoring didapatkan skoring TOLD memiliki nilai kalibrasi dari Hosmer-Lemeshow goodness of fit sebesar 0,29 dan nilai diskriminasi area under curve (AUC) pada kurva receiver operating characteristics (ROC) sebesar 0,71 (CI 95% 0,65-0,78; p-value 0,03). Kesimpulan. Jumlah sendi nyeri ≥ 6, obesitas, faktor peradangan LED dan derajat aktifitas penyakit yang tinggi adalah variabel yang memengaruhi kegagalan monoterapi metotreksat dan pembentukan skoring prediksi TOLD memiliki nilai diskriminasi dan kalibrasi yang cukup baik


 

Introduction. Rheumatoid arthritis (RA) is a chronic autoimmune inflammation that mainly involves the joints bilaterally and symmetrically. Even though it has a low prevalence, if it is not treated adequately, it will cause permanent joint problems, disability and impaired joint function, causing economic and social impacts on the individuals who experience it. RA disease cannot be cured but this disease must still be managed to prevent progression of the disease itself and currently predictions of failure or success of MTX therapy have never been carried out in Indonesia, especially the development of an applicable scoring system, this is the basis for conducting analysis of factors that influence methotrexate treatment failure in RA patients, in this case on a hospital scale that adapts to conditions in Indonesia and develops a predictor scoring system for failure of methotrexate monotherapy. Methods. The study used a retrospective cohort study design using electronic medical record (RME) data from patients in the RSCM internal medicine rheumatology clinic in the period October 2020 - September 2023. Descriptive and bivariate analysis was carried out using chi-square analysis followed by multivariate analysis using Generalized model analysis. Linear Model (GLM) with the Poisson family to obtain coefficient values, RR with a 95% confidence interval of the independent variable for failure of methotrexate monotherapy therapy, followed by a variable elimination process using the backward method. Results. This study obtained a sample size of 215 subjects after going through selection criteria for inclusion and exclusion, and the results showed that the number of painful joints ≥ 6 had an RR of 1.52 (CI 95% 1.09-2.16), obesity had an RR of 1.41 (CI 95% 1.04-1.24), inflammatory factor ESR had RR 2.21 (CI 95% 1.07-4.10) and high degree of disease activity with RR 1.36 (CI 95% 1.03 -1.79) are variables that influences the failure of methotrexate monotherapy. In forming the scoring, it was found that TOLD scoring had a calibration value from the Hosmer-Lemeshow goodness of fit of 0.29 and an area under curve (AUC) discrimination value on the receiver operating characteristics (ROC) curve of 0.71 (CI 95% 0.65-0 .78; p-value 0.03). Conclusion. The number of painful joints ≥ 6, obesity, ESR inflammatory factors and a high degree of disease activity are variables that influence the failure of methotrexate monotherapy and the formation of TOLD prediction scoring has quite good discrimination and calibration values.

Read More
D-545
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cissie Nugraha; Pembimbing: Mary Wangsarahardja; Penguji: H. M Hafizurrachman, Wresti Indriatmi
Abstrak:
Rumah sakit harus selalu berusaha untu.k meningkatkan mutu pelayanannya kepada pasien untuk menjadi yang terbaik di era globalisasi saat ini, Salah satu upaya untuk mengukut mutu pelayanan kesebatan adalah dengan mengukur kepuasan pasien. Saat ini beJum ada instrumen yang sahih dan handal untuk mengukur kepuasan pasien di lnsta1asi Rawat Jalan Poliklinik Kulit dan Kelamin RSCM. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan instrumen yang sahih dan handa1, untuk mendapatkan gambaran karakteristik pasien dan tingkat kepuasan pasien. Jenis penelitian berupa kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan metode systemaric random sampling, Metode pengukuran kepuasan dengan menggunakan konsep ServQual. Penelitian ini menghasilkan instrumen yang sahih dan handal untuk mengukur kepuasan pasien, dengan nilai corrected item total correlation dan Crombach S alpha > 0,361, dan mempunyai bubungan yang kuat dan sempurna (r > 0.5). Sebagian besar responden memiliki persepsi baik terhadsp cilta RS (68,4%). persepsi mabal terhadap tarif(89,55%), ingin kembali berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSCM (86,5%) dan ingin merekomendasikan kepada teman atau keluarga (84,2%). Responden yang puas adalab 18,8% dan yang Hdak puas adalah 81.2%. Nilai kapuasan tertinggi didapat pada aspek empati (0,84) dan teretulah pada aspek ketanggapan (0,80). Diperlihatkan juga adanya bubungan antara persepsi responden terhadap citra RS dengan tingkat kapuason (p=0.036), kepuasan dengan keinginan berobat kembali (p=0.024), kepuasan dengan keinginan merekomendasikan (p=O,Ol3), persepsi terhadap citra RS dengan keinginan berobat kembali (p=O,OOO), persepsi terhadap klinik RS dengan keinginan merekomendasikan klinik.
Read More
B-1008
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive