Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36313 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tjandra Yoga Aditama, Priyadi Wijanarko
JRI Vol.16, No.1
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 1996
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Simamora; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Yunis Tri Miko Wahyono, M. Arifin Nawas
S-6798
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.47, No.12, Des. 1997, hal. 624-627
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.47, No.7, Juli 1997, hal. 322-329
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nani Sukasediati ... [et al.]
Bulitkes Vol.27, No.3&4
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 1999/2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priyanti Soepandi; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mardiati Nadjib, Prastuti C. Soewondo, Erlina Burhan, Dyah Armi Riana
Abstrak:

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang hasil pengobatan dan variasi biaya TBMDR/ XDR di RSUP Persahabatan Jakarta dengan menggunakan strategi Programatic Management Drug Resistance Tuberculosis (PMDT), yang memerlukan jangka waktu pengobatan yang lama 18-24 bulan serta memerlukan biaya yang sangat tinggi. Tujuan umum adalah mengetahui hasil pengobatan dan variabel-variabel biaya TB-MDR/XDR. Penelitian ini adalalah penelitian operasional dengan metode campuran kuantitatif dan kualitatif. Sampel adalah semua pasien TB-MDR/XDR yang mulai diobati Agustus 2009 sampai 31 Desember 2010, berjumlah 104 pasien. Hasil pada penelitian ini lama pengobatan TB-XDR lebih panjang dan angka keberhasilan (lengkap dan sembuh) lebih rendah yaitu 42,9 % dan 80,9% jika dibandingakan dengan TB-MDR, tetapi angka keberhasilan ini jauh lebih tinggi dari angka keberhasilan di dunia. Biaya pasien sampai sembuh dan lengkap pada pasien TB-XDR Rp 91.704.767,33 lebih tinggi dari TB-MDR Rp 72.260.081,73. Biaya pasien TB-XDR yang meninggal Rp 63.246.069,- lebih tinggi dari TB-MDR Rp 34.142.692,44. Hal ini juga terjadi pada total biaya pengobatan TB-XDR dengan efek samping ringan lebih tinggi biayanya dari pada pasien TB-MDR. Penambahan lama pengobatan mempunyai peluang peningkatan biaya sebesar Rp 115.205,- per hari Jenis kelamin laki-laki yang bertempat tinggal di Jakarta Timur dengan lama pengobatan kurang dari 569 hari memiliki peluang 1.7 kali lebih tinggi mengalami kesembuhan dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan, yang bertempat tinggal di daerah dan lama pengobatan yang sama. Kesimpulan : Angka keberhasilan pada TB-MDR dan TB-XDR pada penelitian ini lebih tinggi dari angka keberhasilan di dunia . Biaya total pengobatan TBXDR jauh lebih tinggi dari TB-XDR dan terdapat keeratan hubungan antara variabel biaya pengobatan dengan lama pengobatan.

ABSTRACT This research captured the Programmatic Management of Drug resistant Tuberculosis (PMDT) at Persahabatan Hospital, Jakarta which required long treatment duration which is 18-24 months and especially the treatment outcome and variation cost. The study aimed to know regarding the treatment outcome as well as cost variaties of MDR/XDR-TB patients. This is a operational research using a mixture of quantitative and qualitative methods. The samples were all treated MDR/XDR-TB patients who started treatment from August 2009 until December 31, 2010. Total number of sample were 104 patients. The results of this study revealed that duration of treatment for XDR-TB patients is longer than MDR-TB patients with lower success rate which are 42,9% and 80,9% respectively and was statistically significant. However this result is relatively higher than reports from many countries in the world. The cost per patient for those who cured and completed treatment was US$ 9,357 and US$ 7,373 for the XDR-TB patients and MDR-TB patients respectively which was statistically significant. The cost spent for XDR-TB patients who died during treatment was higher compare to MDR-TB ones, US$ 6,453 and US$ 3,484 respectively. The same finding was similar higher when comparing the total cost of mild side effect for XDR-TB and MDR-TB. Additional time for length of treatment would give the probability of spending US$ 11,75 per day. Male patients who live in East Jakarta with length of treatment was less than 569 days have the chance to cured 1.7 fold compare to females patient with the same condition in term of length of stay and residencial. Conclusion: Success Rate of MDR/XDR-TB in this study is higher than those being reported worldwide. Cost for XDR-TB is extremely high than for MDR-TB. There is an association found between cost and length of treatment.

Read More
B-1570
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotman Sinaga ... [et al.]
CDK No.127
Jakarta : Kalbe Farma, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Rogayah; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Mieke Savitri, Amal Chalik Sjaaf, Sardikin Giriputro, Dyah Ami Riana
Abstrak: Telah dilakukan penelitian mutu pelalyanan Programatic Management Drug ResistanceTuberculosis (PMDT) di RSUP Persahabatan. Tujuan umum: mengetahui mutu pelayananstrategi PMDT di RSUP Persahabatan. Penelitian ini dilakukan dengan disain penelitiandengan metode kualitatif yaitu menggali informan dengan wawancara mendalam dan telaahdokumen. Sampel adalah pasien TB-MDR September 2009 sampai 31 Desember 2011.Hasil penelitian: pasien yang berobat di poli DOTS Plus berjumlah 814 pasien didapatkan319 (39,2%) pasien TB-MDR, pasien melakukan pengobatan sebanyak 231 (72,4%) pasiendan tidak kembali ke rumah sebanyak 88 (27.6%). Pada penelitian ini dokter dan perawatsudah memenuhi syarat, dana pengobatan masih mendapat bantuan, kebijakan RSsudah dilaksanakan, sarana dan prasarana sesuai PPI TB, laboratorium sudahtersetifikasi WHO hanya masih terjadi kendala hasil pemeriksaan uji resisitensidengan media padat (Ogawa/LJ), MGIT lebih dari 45 hari pada tahun 2009 sampaidengan tahun 2011, hal ini menyebabkan salah satu keterlambatan pengobatan. Pasienyang telah didiagnosis TB MDR masih didapatkan yang menunda pengobatan (delayedtreatment) sebesar 156 pasien (67,5%), dengan lama penundaan 2 minggu - >12 bulan.Penangan pasien mangkir masih belum tercatat dengan baik, Angka keberhasilanpengobatan pasien sembuh/komplit didapatkan 60,2%, putus berobat 15,2%, meninggal 16 %,gagal 1,3% serta on treatment 6,9%. Pasien sembuh/komplit merasakan pengobatan di rumahsakit terjadi kemudahan dalam mengambil obat karena dapat diluar jam kerja dan dapat salingbertukar pengalaman dengan sesama penderita. Pasien penundaan pengobatan karena perlukesiapan diri dan dukungan keluarga untuk pengobatan selama 2 tahun. Pasien putus berobatmerasakan pengobatan menganggu aktivitas, perlu biaya, dan tidak mendapat dukungan darikeluarga. Pelayanan satelit belum maksimal, masih didapatkan memberikanpelayanan pengobatan lanjutan. Edukasi yang masih dirasakan kurang untuk pasiendan keluarga.Kesimpulan: Mutu pelayanan dinilai dari angka keberhasilan pengobatan, pada penilitian inididapatkan angka keberhasilan pengobatan 60,2 %, angka ini belum mencapai target PMDTNasional. Hal ini dapat disebabkan edukasi yang masih kurang dan layanan satelit puskesmasyang belum maksimal.Kata kunci ;Mutu pelayanan , TB-MDR, PMDT
Read More
B-1588
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resi Natalia Turnip; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Dumilah Ayuningtyas, Kazarni
Abstrak: Masalah utama dari program remunerasi berbasis kinerja adalah desain danpenerapannya yang tidak efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisiskualitas pola pembayaran insentif finansial berdasarkan pendapat dan pengalamandokter, untuk dapat menjadi masukan yang dapat mendorong perbaikan dankeberhasilan implementasi pola pembayarannya terkait peningkatan kualitaspelayanan kesehatan di RSUP Persahabatan tahun 2016. Penelitian menggunakanpendekatan kualitatif jenis Rapid Assessment Procedure dan pengambilan datadilakukan pada Juni 2016. Populasi penelitian ini adalah seluruh tenaga dokteryang bekerja di RSUP Persahabatan. Sampel terdiri dari para dokter yang telahmendapatkan insentif finansial dan melakukan pelayanan kesehatan secaralangsung kepada pasien selama >2tahun serta pihak manajemen yang terkaitpenetapan insentif finansial dokter. Data diperoleh dengan wawancara mendalamdan FGD. Analisis data dilakukan menggunakan catatan pinggir dan rekamansuara dan dirangkum berdasarkan topik masing-masing sesuai pertanyaan. Hasilyang diperoleh adalah pola pembayaran insentif finansial berdasarkan kinerjaberpengaruh terhadap perbaikan sikap dan perilaku dokter. Keselarasan internalyang mempertimbangkan isi dan nilai jabatan, dokter bertahan karena status PNS,besar selisih insentif dengan diluar tidak terlalu besar, dan kesempatan praktekpribadi. RS harus melakukan inovasi dan evaluasi terus menerus untuk melibatkanpartisipasi penuh dokter dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan.Kata Kunci :Insentif Finansial, Dokter, Kinerja, Pola Pembayaran
The main problem of performance-based remuneration program design andimplementation is ineffective. This study aimed to analyze the quality of thepayment scheme of financial incentives based on the opinions and experience ofphysicians, to be input to drive improvement and successful implementation ofpayment patterns related financial incentives to improve the quality of health carein Persahabatan Hospital in 2016. The study used a qualitative approach to thetype of Rapid Assessment Procedure and the data collection was conducted inJune 2016. The study population was the whole of doctors who work inPersahabatan Hospital. The sample consisted of doctors who have receivedfinancial incentives and conduct health services directly to patients at least for 2years and management related to setting financial incentives doctors. Dataobtained by in-depth interviews and focus group discussions. Data analysis wasperformed using marginal notes and voice recordings and summarized by topiceach corresponding question. The result is a pattern of financial incentivepayments based on the performance improvement effect on attitudes and behaviorof physicians. Internal aligment that consider the content and the value of office,doctor persist because of the status of civil servants, a big difference in incentivesto outside is not too big, and opportunity in private practice. Management mustinnovate and continuous evaluation to involve the full participation of physiciansin improving the quality of service.Keywords :Financial incentives, doctor, Performance, Payment Patterns
Read More
T-4764
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indo. (MKMI), XXII, No.12, Januari, 1994, hal. 765-771
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive